A+ A A-

Budaya Tersinggung

  • Written by  Liang U
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Bangsa kita mempunyai masalah yaitu "mudah tersinggung". Dimasa Orde Baru atau sekitar periode  Lee Kuan Yew atau Goh Chok Tong , pernah suatu ketika ada wartawan luar negri yang memuat foto lima orang pemimpin ASEAN yang baru melangsungkan rapat plus seorang berpakaian buruh disampingnya sehingga yang tertangkap kamera berjumlah enam orang. Potret itu kemudian dimuat di koran Singapura. Saya ketika itu masih berkerja di Indonesia dan masih mengingat bahwa tidak ada negara lain yang protes kecuali Indonesia yang mencak-mencak.

 

Tak kurang dari Yang Mulia Bapak Mentri Penerangan Harmoko memprotes keras kalau presiden Soeharto disejajarkan dengan seorang buruh dan dianggap sebagai penghinaan bangsa. Demikian juga dengan DPR yang tidak kalah sibuk , bahkan ada yang meminta hubungan diplomatik dengan Singapura diputuskan hanya karena masalah itu.

Saya menjadi bingung , apakah seorang buruh begitu hina ? Mereka adalah manusia juga yang kebetulan posisi dalam masyarakat tidak setinggi seorang presiden . Tapi bukankah semua orang sama didepan hukum ?

Dinegara kita kalau ada sedikit saja kritik dari luar terutama dari negara tetangga Singapura dan Malaysia , langsung kita marah , memprotes , DPR meminta memutuskan hubungan diplomatik dan para pemuda berdemonstrasi dan sebagainya. Kita hanya ingin dipuji tapi tidak mau dikritik. Kuman diseberan lautan tampak , dipelupuk mata sendiri tidak kelihatan. Bagaimana kita mampu bersaing? Apa memang tujuan kita ingin terpuruk terus?

Belum lama Lee Kuan Yew mengkritik kelambanan DPR dalam menangani SEZ (Spesial Economic Zones) di Batam dan Bintan. Para anggota DPR tersinggung mereka mengkritik Singapura habis-habisan , what is next ? SEZ yang dimulai di RRT , sekarang mau dicontoh berbagai negara termasuk India , Russia dan Indonesia -- telah berhasil merubah Shenzhen dari kampung yang sepi nan gersang dan miskin , menjadi salah satu kota modern di dunia. Mengapa Indonesia takut mencontohnya?

 

Kita melihat RRT sebelum reformasi juga mempunyai sifat yang mirip. Siapa saja, terutama wartawan, yang menulis keadaan negatif tentang negerinya, lalu masuk black list dan tak diberi izin masuk lagi. Akibatnya seperti kita, bahkan lebih buruk lagi, ekonomi terpuruk hampir ambruk. Tapi dengan cepat mereka reformasi, sekarang orang yang suka menulis macam-macam kritikan di koran, kalau mau datang ke sana boleh saja, tak ada black list.

Di Singapura konsulat RRT tak dijaga, pintu depan terbuka lebar , pertama saya mau minta visa, jadi bingung celingukan sendiri. Masa harus nyelonong masuk, nanti bahkan ditahan. Ternyata melihat ada tamu yang baru datang masuk begitu saja, saya ikut masuk, jauh ke dalam bangunan langsung sampai ke tempat bagian visa. Tanpa ditanya, tanpa meninggalkan KTP, tanpa menulis nama, masuk saja seperti ke rumah sendiri. Itu menandakan mereka sudah percaya diri, tak takut ada yang mensabot, sebab tak punya musuh.

Akibatnya turis membludak, ekonomi melonjak-lonjak, meskipun tentu ada effek negatifnya, terutama perbedaan kaya dan miskin, yang pernah saya uraikan pada kesempatan yang lalu. Di sana anda ngomong apapun tak ada yang mengganggu, tak ada yang lapor, asal jangan menggerakkan masa untuk demonstrasi tanpa izin.

Saya pernah tinggal di Amerika Serikat selama tiga tahun. Saya mengakui di sana demokrasi berjalan baik, anda boleh melakukan apa saja yang anda sukai, tapi hukum tetap dijaga ketat. Bawa mobil harus ekstra hati-hati, takut menubruk orang, karena hukumannya luar biasa beratnya. Di Indonesia kita bebas parkir, bebas mengemudi, mau motong, mau ke jalur kanan, mau menyerobot lampu merah, akibatnya macet di mana-mana. Apakah itu lebih demokrasi?

Tapi jangan lupa kedalam Amerika Serikat demokrasi ,  keluar mereka tidak demokrasi lagi. Tidak mendapat dukungan di PBB, Irak diserang terus. Siapa tidak ikut mereka adalah musuh. "With us or again us" kata Bush. Turut saya atau jadi musuh saya. Turut saya berarti ke mana tentara AS menyerang harus ikut, kalau tidak anda adalah musuh. Ini bukan diktator kata mereka, hanya unilateral.

Sadarlah, terutama para bapak di atas, terutama di DPR, tugas anda bukan mengganggu jalannya pemerintahan, tapi mendorong lajunya pemerintahan dengan membuat perundang-undangan yang dapat memajukan ekonomi dan keamanan. Jangan hanya berpolitik, agar terpilih lagi dalam pemilu yad. Dulu Tiongkok diberi gelar si sakit dari Timur, gelar itu jangan kita ambil alih, kasihan rakyat.

Salam
Liang U , 28335

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua

Last modified onSunday, 16 September 2012 13:13
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/konten/esai/item/2349-budaya-tersinggung

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Tionghoa

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto