A+ A A-

Diskusi Tentang Agama

  • Written by  Hai Hai
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

 Budaya-Tionghoa.Net | Diskusi tentang agama sudah berlangsung berkali-kali dalam millis ini, namun semuanya selalu berakhir di antah brantah, bahkan kesepakatan untuk tidak sepakat pun tidak pernah dicapai. Hal demikian nampaknya bukan monopoli millis budaya_tionghua saja. Banyak millis-millis lain yang diskusi agamanya justru berakhir dengan saling maki. Kenapa hal demikian terjadi? Bukankah semua diskusi itu dimulai dengan tujuan untuk mencari solusi, kenapa justru berakhir dengan situasi yang jauh lebih mengenaskan dibandingkan ketika memulainya?

 

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

 Banyak orang yang tidak mau terlibat dalam debat atau diskusi tentang agama dengan alasan bahwa agama adalah keyakinan yang mustahil didiskusikan apalagi didiskusikan, mereka lalu mengajukan bukti-bukti baik berupa doktrin-doktrin agama yang saling bertentangan maupun contoh-contoh akhir dari diskusi-diskusi yang pernah dilakukan. Benarkah topik agama mustahil didiskusikan oleh dua atau lebih orang yang memeluk agama yang berbeda?

Berikut ini adalah contoh topik-topik diskusi tentang agama yang hangat didiskusikan adalah:

Kenapa sebuah agama disebut agama?Ajaran suatu agama.Prilaku pemeluk suatu agama.Ajaran sesat suatu agama.Agama lain di mata pemeluk agama tertentu.

Pemeluk agama lain di mata pemeluk agama tertentu.Membandingkan ajaran dua agama yang berbeda.
Mungkinkah contoh-contoh topik tersebut di atas didiskusikan antar pemeluk agama yang berbeda? Secara logika semua topik-topik tersebut di atas bisa didiskusikan, namun kenapa diskusi-diskusi tentang topik-topik tersebut di atas selalu berkembang menjadi luar biasa panas dan berakhir di antah brantah serta menimbulkan luka di hati orang-orang yang mendiskusikannya?


Menurut saya, hal itu terjadi karena diskusi-diskusi dengan topik-topik tersebut di atas dilakukan dengan cara yang salah. Selama ini diskusi-diskusi dengan topik-topik tersebut di atas dilakukan tanpa menentukan BATAS-BATAS yang jelas dan tegas sehingga akhirnya berkembang tak terkendali. Tanpa pembatasan yang jelas dan tegas mustahil dapat melakukan diskusi dengan SISTEMATIS, karena sebelum suatu hal tuntas, kita sudah terlibat dalam hal lainnya.

Kesalahan kedua terjadi karena kita tidak menentukan STANDARD atau UKURAN sebagai dasar kebenaran dalam diskusi tersebut. Setiap agama memiliki ajaran sucinya. Pada sebagian agama ajaran suci tersebut tercatat dalam kitab sucinya, namun pada agama lain ajaran itu diajarkan secara
lisan. Bila kita mendiskusikan topik diskusi no 2-6 dari contoh topik tersebut di atas, maka diskusi harus dimulai dengan menjadikan ajaran suci dari agama yang bersangkutan sebagai STANDARD kebenaran hingga tuntas baru dilanjutkan dengan menggunakan standard lainya. Bila sistematika demikian tidak diikuti, maka mustahil kita dapat melakukan diskusi tentang agama dengan benar.

Kesalahan ketiga karena para peserta diskusi tidak berani terjun secara tuntas ke dalam diskusi tersebut. Saya teringat salah salah ayat dalam kitab Mengzi yang mengutip ucapan Kongzi berikut ini:

Mereka yang melewati gerbangku, namun tidak mau masuk ke rumahku, aku tidak menyesalinya. mereka hanya orang yang mencari perhatian untuk mendapat pujian di kampung halamannya. orang yang mencari perhatian untuk mendapat pujian di kampung halamannya, adalah pencuri kebajikan. Mengzi VIIB:37:7 - Jin Xin


Walaupun yakin diri sendiri bukan orang yang dimaksudkan oleh Kongzi, namun umumnya kita berprasangka bahwa orang lain demikian. Kebanyakan umat beragama tidak mau memasuki ajaran agama orang lain secara tuntas karena dua alasan. Pertama, dia takut menemukan kebenaran dalam agama orang lain sehingga menggoyahkan iman atas agama yang dianutnya. Kedua, dia sudah memahami ajaran agama orang lain dengan baik sehingga merasa tidak perlu memasukinya lagi dengan tuntas. Umumnya umat agama demikian juga tidak mengizinkan pemeluk agama lain masuk secara tuntas ke dalam ajaran agamanya karena dua alasan. Pertama, dia takut orang lain tersebut menemukan ketidak sempurnaan di dalam ajaran agama yang dianutnya sehingga menggoyahkan imannya atas agama yang dianutnya. Kedua, dia berprasangka umat agama lain mustahil mampu memahami ajaran agama yang dianutnya dengan benar.

Kebanyakan pemeluk agama tidak memahami ajaran agamanya dengan baik. Umumnya mereka merasa cukup dengan meyakini doktrin-doktrin yang diajarkan tanpa mempertanyakannya apalagi mempelajarinya secara langsung dari kitab sucinya. Sebagian pemeluk agama bahkan yakin bahwa mempertanyakan doktrin-doktrin agama yang mereka anut adalah dosa. Itu sebabnya ketika umat agama lain mempertanyakannya, mereka marah dan merasa wajib untuk membelanya dengan segala cara.

Kebanyakan pemeluk agama tidak memahami ajaran agama orang lain dengan cara yang benar sehingga memiliki pemahaman yang tidak terjamin kebenarannya, namun merasa yakin dirinya memahami ajaran agama lain dengan benar. Bahkan ketika diberitahu tentang ajaran yang benar dia justru kekeh jumekeh menganggap pengetahuannyalah yang paling benar.


Apabila kita tidak memahami ajaran agama kita dengan benar, mustahil kita dapat melakukan diskusi agama dengan benar, tentang agama kita sekalipun. Apabila kita tidak mau memahami ajaran agama orang lain dengan benar, maka mustahil kita dapat melakukan diskusi tentang agama orang lain dengan benar.

Untuk dapat melakukan diskusi agama dengan benar, maka selain menentukan batas-batas dan standard kebenaran yang jelas dan tegas, kita juga harus memiliki pemahaman yang benar atas agama kita dan memiliki pemahaman yang benar atas agama yang didiskusikan, minimal mau memahami dengan benar agama yang didiskusikan. Tanpa syarat-syarat demikian, mustahil diskusi tentang agama dapat dilakukan dengan benar.

Contoh, ketika pemeluk agama lain mempertanyakan suatu hal di dalam agama kita, bukankah langkah bijaksana yang harus dilakukan adalah mempertimbangkannya? Bukankah itu merupakan kesempatan bagi kita untuk memberikan informasi yang benar tentang ajaran agama kita kepada orang tersebut? Mungkin pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang lupa kita pertanyakan tentang agama kita selama ini? Alih-alih menimbang pertanyaan tersebut dengan bijaksana dan melihatnya sebagai peluang, kita justru langsung menyerang balik. Hal itu karena kita berprasangka, menyangkanya sedang menyerang agama kita dan menganggapnya sebagai musuh.


Contoh, ketika sekelompok orang menyebarkan ajaran agamanya dengan menjelek-jelekkan ajaran agama orang lain, kita tidak pernah mempertanyakan apakah prilaku mereka sesuai dengan ajaran suci agama mereka?

Kita langsung meyakini bahwa itulah prilaku yang diajarkan oleh agama orang-orang itu. Walaupun sebagian teman-teman kita yang beragama sama dengan kelompok itu tidak setuju dengan prilaku demikian, namun karena pemahaman agamanya yang terbatas, mereka tidak mampu menyatakan dengan jelas dan tegas ajaran suci agamanya yang mana yang telah dilanggar oleh kelompok itu. Karena tidak mendapatkan penjelasan yang jelas dan tegas, maka kita tetap pada pendapat bahwa ajaran agama itu tidak baik karena mengajarkan pengikutnya menyebarkan agama dengan menjelek-jelekkan agama orang lain.

Contoh, ketika sekelompok orang berprilaku melanggar hukum negara sambil mengibarkan panji-panji agamanya, kita tidak pernah mempertanyakan apakah prilaku mereka sesuai dengan ajaran suci agama mereka?

Kita langsung meyakini bahwa itulah prilaku yang diajarkan oleh agama orang-orang itu. Walaupun sebagian teman-teman kita yang beragama sama dengan kelompok itu tidak setuju dengan prilaku demikian, namun karena pemahaman agamanya yang terbatas, mereka tidak mampu menyatakan dengan jelas dan tegas ajaran suci agamanya yang mana yang telah dilanggar oleh kelompok itu. Karena
tidak mendapatkan penjelasan yang jelas dan tegas, maka kita tetap pada pendapat bahwa ajaran agama itu tidak baik karena mengajarkan pengikutnya untuk melanggar hukum negara.


Contoh, ketika kita menyetujui pendapat sekelompok orang yang menyatakan sebuah agama bukan agama dengan alasan agama tersebut tidak memiliki kitab suci, hanya mengajarkan etika; tidak memiliki nabi, hanya memiliki guru besar; tidak mengajarkan tentang kehidupan kekal, hanya mengajarkan tentang etika pergaulan. Walaupun penganut agama itu menyatakan bahwa agama yang dianutnya adalah agama, namun karena pemahamannya yang terbatas, maka dia tidak dapat menjelaskannya dengan jelas dan tegas, maka kita tetap menganggap agamanya bukan agama, demi sopan santun dan jiwa besar, kita menyebutnya aliran kepercayaan, namun dalam hati kita tetap yakin bahwa itu bukan agama. Dalam kondisi demikian apa yang harus kita lakukan? Langkah yang paling bijaksana adalah kita mempelajari ajaran suci agama itu juga mempelajari standard apa yang harus dipenuhi oleh sebuah agama untuk disebut agama?

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua

 

Rate this item
(0 votes)

Related items

back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/konten/esai/item/2451-diskusi-tentang-agama

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto