A+ A A-

Penulisan Akulturasi Tionghoa Yang Agak "Jakarta-Sentris"

  • Written by  Harry Alim
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net |  Penulisan sejarah tentang akulturisasi orang Tionghoa di Indonesia, selama ini agak 'jakarta sentris' sehingga memberi kesan akulturisasi itu dimulai di jakarta dan sekitarnya saja. Dan kemudian menyebar ke bagian indonesia lainnya. Dengan pengertian demikian seakan menunjukkan bahwa akulturisasi hanya seumur jakarta kurang saja. Walaupun jakarta sebelum menjadi Batavia sudah merupakan pelabuhan, bagaimanapun belum cukup besar. Sehingga kalaupun ada komunitas Tionghoa waktu itu tentunya tidak sebanyak di Banten misalnya

Artikel Terkait :

{module [201]}

Saya sendiri lebih berpendapat bahwa akulturisasi itu sudah dimulai beberapa ratus tahun sebelumnya, dan tidak dimulai di Jakarta tetapi di kota pelabuhan yang terbesar di Jawa pada setiap jamannya, salah satunya pada periode tertentu di kota Tuban. Saya lebih berpendapat bahwa orang Tionghoa yang datang belakangan lah yang terserap kepada penggunaan 'budaya campuran yang unik' itu. Ada beberapa argumen yang saya pakai.

Penggunaan kata 'tenglang', yang merujuk ke orang dinasti Tang. Ini menunjukkan orang Tionghoa waktu itu lebih merujuk dirinya sebagai orang dinasti Tang (sekitar 600 sampai 900 masehi). Argumen ini juga menunjukkan paling tidak orang Tionghua sudah ada di Jawa mulai dari dinasti Tang ini.

Kuliner yang menjadi ciri kelompok Tionghoa peranakan yang berada di Jawa lebih mirip dengan masakan Jepang yang disebut masakan chugoku (masakan Tiongkok). Orang jepang belajar kuliner ini ketika pada masa dinasti Tang mengirim ratusan orang ke tiongkok untuk belajar segala sesuatu. Sehingga mereka menjadi 'salah satu tempat pelestari budaya dinasti Tang'. Kuliner ini dalam satu hal dua hal bisa berbeda dengan kuliner Tiongkok sekarang.

Mungkin masih ada argumen-argumen lain yang bisa ditambahkan disini, yang kebetulan penulis belum kuasai atau belum ketahui.

Disamping itu argumen bahasa hokkian yang dikatakan ikut mendukung budaya Betawi sebenarnya juga dipakai oleh hampir semua orang Tionghua peranakan di Jawa Timur misalnya. Mulai dari istilah pangkeng, sentong, kemoceng sampai penyebutan angka cetun sampai cetiauw, dari boceng sampai bogang.

Waktu itu orang-orang  seumuran ayah saya akan saling bicara dengan temannya dengan membahasakan dirinya gwa dan lawan bicaranya lu atau terkadang lie. Mereka umumnya menggunakan bahasa melayu yang ditaburi dengan istilah istilah hokkian dialek Ciangcioe. Semua istilah yang disebutkan terdahulu di dalam tulisan "Pengaruh Budaya Tionghoa Dalam Budaya Betawi"  adalah juga istilah yang biasa dipakai di lingkungan keluarga Tionghoa peranakan di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Pada masa sebelumnya kedatangan orang Tionghua dari manapun akan terserap untuk masuk kedalam kelompok peranakan ini, karena mereka tidak datang dalam jumlah yang sekaligus bisa mendukung satu komunitas. Tetapi keadaan memang berubah. Ini kemudian terlihat ketika orang Tionghua yang datang belakangan dari satu daerah tertentu cukup banyak untuk mendukung satu komunitas, mereka tidak lagi terserap ke komunitas yang sudah ada. Mereka membentuk komunitas sendiri, seperti Hokcia (fuqing), Khek dllsb.

Tetapi komunitas lama yang sudah ada di Jawa sebelumnya cukup besar dan cukup tersebar di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kenapa di Jawa Timur dan Jawa Tengah, tentu saja karena orientasi komunitas Tionghua peranakan ini adalah Surakarta dan Yogyakarta, pusat kerajaan di Jawa. Tidaklah aneh di banyak keluarga Tionghoa peranakan yang mampu waktu itu mempunyai seperangkat gamelan dan satu set wayang yang komplit.

Orang Tionghoa peranakan di Jawa bisa jadi diluar dugaan juga jadi pelestari budaya dinasti Tang. (walaupun sungguh sayang bisa jadi mati suri budaya selama 32 th bisa jadi ikut menghilangkan sebagian budaya itu juga). Penulisan yang Jakarta sentris tentu saja tidak bisa disalahkan karena memang kemudian Jakarta menjadi pusat Indonesia. Tetapi perlu disebutkan sampai dengan sebelum kemerdekaan orientasi orang Tionghoa peranakan di Jawa bagian timur (tengah dan timur), baik dalam berdagang, pendidikan dan kesenian lebih berpusat ke tiga kota ini semarang, solo dan surabaya.

salam,
harry alim

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghoa

 

Last modified onFriday, 02 November 2012 05:25
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/konten/esai/item/2482-penulisan-akulturasi-tionghoa-yang-agak-jakarta-sentris

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto