A+ A A-

Opini : Nuansa Politik Dan Kemalasan Di Tibet

  • Written by  Harry Adinegara
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net |  Baru saja aku bertamu sambil menikmati hidangan tuan rumah. Sahabatku orang Tiongkok asal Qingdao dan sempat berbincang panjang lebar persoalan hiruk-pikuk perkara Tibet dan Olimpiade Beijing 2008.

Artikel Terkait:

{module [201]}

Setelah aku jelaskan bahwa banyak negara Barat itu punya sifat hipokrit yang dia(sahabatku) setujui, malahan sahabatku ini menambahi se-suatu yang rupanya bisa dianggap adalah realita mengenai apa yang bisa kita temui di Tibet.
 
Pertama: orang Tibet atau Tibetan itu adalah bangsa yang malas. Kenapa dia bilang begini, lalu sahabatku melanjutkan ini karena ,...kedua: karena agama Tibetan atau Buddhisme versi Tibet yang membuat dan  tanpa disadari orang Tibet jadi punya watak pemalas.
 
Coba berapa persen dari penduduk Tibet yang jadi biksu, segedubrak banyaknya. Bahkan dari kecilpun anak-anak Tibet sudah dicuciotak  agar jadi atau punya angan-angan tujuan hidup untuk jadi biksu. Karena sebelum Tibet di-merdekakan oleh Tiongkok, Tibet adalah negara feodal. Bentuk pemerintah feodal ini bukan saja kaum elit yang berkuasa tapi juga para ulama Tibet.


Betapa miskinnya Tibet karena hasil diperas habis-habisan oleh para elit dan para Lhama ,  maka satu-satunya jalan yang tanpa disadari--rakyat Tibet punya kecenderungan untuk jadi atau bertujuan jadi ulama Buddhist. Ini paling gampang tanpa banyak kerja keras dapat hidup enak, ....at the expense dari rakyat yang di perbudak untuk meladeni para elit dan ulama Buddhist.

Ratusan atau bahkan ribuan tahun keadaan timpang ini berjalan sehingga watak rakyatnya jadi pemalas, tidak kreatif, tujuannya(satu2nya) ya mau jadi ulama Buddhist. Karena dengan begitu mereka tidak perlu kerja keras dan terima kehidupan ini dengan cara makan/minum prodeo.
 
Sekarang karena budaya China yang masuk ke Tibet maka kegoncangan sosial terjadi. Masih banyak anasir feodal dan para pemalas cari jalan untuk bikin huru hara. Tentunya kesempatan ini tidak dilewatkan oleh kekuatan luar untuk memancing di air keruh.
 
Jadi watak pemalas ini banyak timbul karena pengaruh agama Buddhist versi Tibet ini. Lihat saja mau memasuki kuil mereka harus merangkak seperti ular. Inilah contoh dimana agama Buddhist versi Dalai Lama ini memang punya tendensi menjadikan orang seperti budak dan teguh menerima nasib.
 
Harry Adinegara

 

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua | Facebook Group Budaya Tionghoa | Facebook Group Tionghoa Bersatu

 

Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/konten/esai/item/2537-opini--nuansa-politik-dan-kemalasan-di-tibet

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto