A+ A A-

Menyikapi Perdebatan Anton Medan - Farhat Abbas

  • Written by  Huang Zhiwang
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net |Menyaksikan debat di TV One malam tadi (14 Januari 2013) membuat saya berpikir ada begitu banyak kejanggalan dan kesalahan berlogika dari perdebatan tersebut. Bermula ketika Farhat Abbas (FA) berkicau di media Tweeter dan menjadi masalah berkepanjangan ketika Anton Medan (AM) melaporkan kasus tersebut ke polisi . Topik panas ini  berujung pada acara perdebatan ditelevisi yang tentunya ditampilkan secara live dan ditonton oleh masyarakat luas.

 

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

 Yang patut diperhatikan adalah beberapa komentar yang dilayangkan oleh salah satu komentator dibangku penonton bahwa kasus FA yang intinya ini masalah KECIL , sebagai gantinya sang komentator itu menyeret isu rasis ini menjadi isu agama dengan mempersalahkan AM itu tidak tahu menahu twitter dan malah mengurusi masalah sepele seperti kasus FA ini ,  malah membawa masalah lain mengenai penghinaan terhadap Nabi. Juga sang komentator ini mengatakan bahwa sebagai bangsa seharusnya tidak sensitif terhadap kasus seperti ini. Terlihat bahwa sang komentator itu terlalu mengandalkan kepandaian berbicara untuk mendesak Anton Medan , tetapi membangun argument-argumennya dengan kesalahan berlogika dan benar-benar non-sequitur  . Sedang membahas satu topik malah membawa-bawa permasalahan ke topik lain. Kalau memang niat membahas topik lain yah mbok membuka forum perdebatan lain khusus itu. Disconnect.

Betapa lucunya dunia ini kalau segala permasalahan ditarik kemasalah agama dalam berargumen. Agama adalah masalah privasi setiap orang.  Jika kita menyebut agama dari A to Z di Indonesia maka di negara lainpun ada .

Jadi apa yang membedakan antara Indonesia dan negara lain ?   Negara Indonesia terdiri dari keragaman suku bangsa dan  budaya didalamnya. Itulah modal terbesar Indonesia yang kerap disia-siakan. Malaysia dengan bermodalkan Melayu , Tionghoa , India dan Dayak berhasil memaksimalkan keragamannya (Gambar 1) . Sementara Indonesia jauh lebih kaya –terbentang luas dari Sabang hingga Merauke –tetapi  cenderung lengah menjaga warisan kekayaan budayanya sehingga terjadi kasus sengketa budaya antara Malaysia dengan Indonesia. 

Photo Credit : http://gonuclear.blogspot.com/

Apa jadinya ketika semua warga negara dengan solidaritas kebablasan terlalu memfokuskan ke permasalahan yang terjadi diluar negri hanya karena persamaan keyakinan ? Apakah perlu umat X dan umat Y di Indonesia saling baku hantam karena konflik dan permasalahan agama diseberang lautan? Dan apakah perlu suami-istri , orang-tua dan anak  yang SEDARAH tetapi berbeda keyakinan juga baku hantam karena urusin permasalahan di antah berantah ? Apakah perlu persaudaraan sebangsa dan tanah air dinomerduakan dibawah persaudaraan seiman diseberang lautan? 

Beberapa pemikiran naïf di acara debat kemaren yang justru melemahkan pondasi NKRI.   Negara ini tidak dibangun bapak bangsa karena solidaritas agama melainkan persamaan nasib dibawah kekuasaan kolonial Belanda. Justru berbagai kasus diseberang lautan hendaknya diambil hikmahnya sebagai pembelajaran bagi bangsa ini . Belajarlah dari kasus India yang besar harus terpisah karena perbedaan agama menjadi India , Pakistan dan Bangladesh. 

Yang diperlukan bagi negara ini adalah semangat Bhinneka Tunggal Ika sebagai perekat yang dapat merangkul semua keragaman sehingga dapat berbuat semaksimal mungkin bagi bangsa ini sesuai minat dan bakatnya masing-masing. Bahwa Susi Susanti dan Alan Budikusuma berjuang bukan mengatasnamakan Tionghoa semata maupun agama semata , mereka membela negaranya dan memberikan emas pertama Olimpiade bagi Indonesia sehingga bendera Merah-Putih dapat berkibar. Di ujung timur NKRI pelajar Papua bisa mengharumkan nama Indonesia dengan prestasi khusus di perlombaan ilmiah. Singkatnya setiap komponen masyarakat terlepas dari dikotomi minoritas maupun mayoritas punya potensi untuk berkontribusi. 

Amy Chua dalam buku “Day of Empire : How Hyperpower Rise To Global Dominance and Why They Fall”  menekankan bahwa toleransi adalah kunci kekuatan sebuah bangsa mendominasi panggung dunia. Bagaimana sebuah hegemoni merangkul keragaman menurut etnisitas , warna kulit , bahasa , budaya sehingga pada gilirannya komponen masyarakat itu akan berkontribusi .  

Memang untuk menjadi bangsa yang besar tidaklah mudah dan memerlukan jiwa besar . Jiwa yang besar justru mudah bertoleransi  terhadap keragaman sebagai suatu aset bukan sebagai komoditas untuk mencari sensasi belaka . Dan seharusnya mengerti bahwa kebencian SARA malah akan menjerumuskan bangsa kedalam konflik memperebutkan pepesan kosong.

Dalam kondisi chaos kekuasaan dan kekayaan sebesar apapun tidak bakal sanggup lagi menentramkan . Kita harus belajar bahwa kebencian Hitler dengan orasi-orasi hate speechnya memang mengantarkan dirinya sebagai Fuhrer dan memang sempat melejitkan bangsa Jerman menjadi salah satu kekuatan Eropa yang begitu menakutkan . Tetapi kekuasaan seperti itu adalah kekuasaan yang keropos  dan tidak berumur panjang. 

Masyarakat Indonesia harus lebih cerdas dalam menyikapi kasus perkasus dan jangan terjerumus mencampur baurkan ke permasalahan agama , suku bangsa atau apapun itu yang diluar konteks kasus. Pembiaran seperti ini akan terwariskan ke generasi berikutnya dan berikutnya , semakin tertinggal dari negara-negara lain karena membazirkan energi untuk itu.

Bahwa kasus FA juga hendak diskalakan menjadi kasus besar dan kecil itu hanya retorika semata dimana kasus besar saja belum tertuntaskan . Saya jadi teringat betapa menyentuhnya drama “Hero” di Jepang , dimana kasus seorang ibu kehilangan dua ekor ayam saja ditangani dengan serius. Ingat , hanya dua ekor ayam dan bukan korupsi 30 miliar ! Kalau di acara debat kemaren mungkin sikap polisi yang mengurus masalah maling ayam  seperti ini malah disebut kurang kerjaan.

Siapapun capres mendatang harus menjaga sikap dan perkataannya. Ingatlah bahwa seorang RI-1 akan memimpin bukan saja rakyat yang seiman dengannya tapi memimpin rakyat dalam negaranya sendiri . Musashi dalam “Go Rin No Shu” mengatakan bahwa tidak ada bedanya antara tukang kayu dengan pemimpin negara. Tukang kayu memilih bahan dan struktur agar rumah yang dibangun menjadi kokoh demikian pula seorang calon presiden atau presiden incumbent juga memilih SDM dan kebijakan yang dapat mengokohkan negara.

Pada prinsipnya , menyinggung suku bangsa apapun harus dikritik dengan keras karena membahayakan semangat persatuan dalam  NKRI . Bahwa jika terjadi kasus serupa yang menyinggung etnis X dan agama Y untuk X,Y sembarang tetaplah haruslah dikritik tanpa membeda-bedakan kasus besar dan kasus kecil , tanpa membedakan bahwa si dia itu seiman maupun tidak.  Pembelaan yang tidak proporsional  malah menjadi tontonan yang tidak mendidik .

Kemanapun mendekatkan diri pada satu persamaan tetap akan ada perbedaan , vice versa , kemanapun menjauhkan diri pada satu perbedaan tetap ada persamaan. Tidak ada yang benar-benar mutlak dan harus diprioritaskan .Solusi terbaik adalah kembali ke semangat Bhinneka Tunggal Ika .

Huang Zhiwang

 

 

Last modified onSunday, 20 January 2013 09:21
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/konten/esai/item/2633-menyikapi-perdebatan-anton-medan-farhat-abbas

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto