A+ A A-

Bilamana Budaya Tanpa Bergerak dan Tanpa Masyarakat

  • Written by  Suma Mihardja
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Dalam kebudayaan, ada komponen-komponen inert seperti sistem kepercayaan, sistem pendidikan, bahasa, kesenian, sistem pengetahuan, adat-istiadat dan sistem hukum(untuk mempermudah klasifikasi saja). Semua komponen itu hanya bisa berkaitan kalau disatukan dengan apa yang dinamakan masyarakat. Budaya tanpa masyarakatbagaikan ilmu di ruang hampa. Orang cuma omong-omong doang, tanpa ada yang dikerjakan. Kalau sudah begitu, budaya menjadi kehilangan makna, cuma sekedar foto imajiner, buku novel atau film fiksi.

 

Sehubungan dengan itu, saya  hendak mengatakan bahwa budaya tanpa gerak adalah budaya dalam ruang tanpa gravitasi. Dalam hal ini, kalau muncul gerakan budaya, saya sih bukan sekedar mensyukuri, tapi malah mengharapkan. Percuma memberi pengetahuan ketika itu hanya sekedar menjadi pengetahuan. Kalau dalam dunia seni, l'art pour l'art. Le cuture pour le cuture. Jelas ini tidak mungkin.

 Budaya itu ada karena ada manusia pendukungnya, ada masyarakat yang dikenali sebagai pengusung budaya tersebut. Dalam hal ini, meskipun tidak terang-terangan ditulis, mailing-list Budaya Tionghoa  adalah juga mailing-list  untuk mempromosikan sikap budaya yang benar. Kalau tidak (dalam arti hanya sekedar pengetahuan), lebih baik buka website saja, tidak perlu ada diskusi kebudayaan (padahal diskusi kebudayaan adalah tawaran sikap atas kebudayaan).

Dalam kenyataannya toh banyak Pendeta Kristen di Amerika yang menulis buku soal Budaya Tionghoa. Mereka juga punya pengetahuan soal Budaya Tionghoa. Kenapa tidak dengar dari mereka saja. Tentu ada bedanya. Mereka cuma berpengetahuan, tapi kemungkinan sangat besar sekali tidak mempraktekkan dan karenanya juga tidak berinteraksi dengan masalah kebudayaan Tionghoa. Seperti orang Jepang membicarakan apa itu sukiyaki namun hanya tahu rasanya dari cerita orang, lihat rupanya dari foto atau melihat cara masaknya dari film.

Apakah hanya sekedar itu fungsi mailing list? Bagaimana dengan kebudayaan Inca Kuno? Yaa, itulah yang namanya kalau cuma sekedar pengetahuan, salah-salah sama seperti kita membicarakan apakah yang namanya kebudayaan Atlantis yang dibicarakan Plato itu? Ada dalam pengetahuan, tapi tidak terasa ada. Makanya ketika membicarakan bubur La Ba, toh harus dilakukan juga gathering untuk mencicipi apa yang namanya bubur La Ba. Itu juga kan sudah termasuk tindakan nyata. Kalau tidak, yang tahu bubur La Ba benar-benar kan hanya yang menjelaskannya (dengan asumsi dia memang tahu dan benar-benar merasakannya). Kalau tidak maka mailing-list  ini seperti Sukiyaki khayalan itu.

Saya sendiri memahami (meskipun saya tidak kenal satu-satu anggota milis ini, apalagi milis ini juga bisa dibaca oleh mereka yang bukan anggota), bahwa pemerhati milis Budaya Tionghoa bukan cuma Tionghoa. Mereka yang tidak tertarik untuk menjadi Tionghoa, yaa, silakan saja untuk tahu apa itu Budaya Tionghoa, tidak ada larangan , malah direkomendasikan juga oleh saya untuk mengenal dan memahami sehingga tidak terjadi kesalahpahaman antar pengusung budaya yang berbeda.

Namun demikian, mengingat jejak Orba yang sudah sedemikian kuat bercokol mengacaukan relung sanubari kalangan Tionghoa, saya  sangat berharap bahwa kalangan Tionghoa (yang kebingungan dengan Ketionghoaannya) mau sadar bahwa mereka punya (dulunya) budaya tersendiri yang khas dan bisa menggunakannya kembali tanpa harus malu, takut apalagi ngeri. Adakah yang salah dengan penghidupan kembali budaya Tionghoa ini? Kan tidak! Kalaupun ada yang perlu disesuaikan dengan jaman, Budaya Tionghoa sendiri sedari dulu juga selalu menyesuaikan diri dengan jaman. Tapi kalau hanya sekedar jadi bahan pengetahuan saja? Saya hanya ingin mengatakan : sayang kalau hanya sekedar jadi pengetahuan di dalam kepala.

Saya orang yang percaya bahwa teori/pengetahuan hanya berharga ketika disimbosiskan dalam kehidupan, menjadi aksi/kegiatan berbudaya. Tidak heran apabila dalam sejumlah diskusi saya, Sultan Hamengku Buwono X pun menekankan bahwa untuk melawan kemunduran sosial, maka GERAKAN BUDAYA itu perlu. Orang Jawa (yang masih mengaku Jawa) tapi tidak mau tahu apa itu budaya Jawa, sebenarnya sudah kelunturan. Keprihatinan itu yang mendorong  Sultan Hamengku Buwono X untuk mendorong adanya gerakan budaya, minimal sosialisasi, harap-harap (dan bukan sekedar syukur-syukur) membekas dan berfungsi.

Dalam konteks Budaya Tionghoa, tentunya seperti saya singgung di atas, Budaya Tionghoa tidak hidup di dalam ruang hampa, namun terpengaruh oleh kondisi sosial (paling tidak dalam konteks Indonesia). Bayangkan, misalnya satu ketika terjadi kembali kerusuhan seperti tahun 1998 yang menyudutkan kalangan Tionghoa sebagai kambing hitam, apakah mailing list  ini menjadi terlarang untuk menggalang solidaritas dan menuntut negara untuk menghentikan stigmatisasi terhadap Tionghoa? Bagi saya, ini tetap sangat sah dan dimungkinkan.

Koridornya adalah kita bicara dalam konteks Budaya Tionghoa yang memang cukup luas aspeknya itu. Malah, misalnya, ketika ada kasus hipotetis terjadi korban perusakan massal yang terbukti hanya ditujukan kepada kelenteng Tionghoa sebagai bentuk ramifikasi kebencian rasial, bolehkah milis ini menggalang class action untuk mendesak negara melakukan pengusutan kasus tersebut?

Saya pikir boleh-boleh saja, selama koridor berfungsinya mailing-list  ini tetap dijaga (misalnya adanya press release di MBT ini mengenai keberatan atas politisasi yang dilakukan oleh MetroTV berkenaan dengan adanya sejumlah pengusaha besar Tionghoa yang terkena korupsi, kemudian mengenai ACFTA, apakah itu harus dicegah?). Yang penting, ada alasan rasionalnya, yaitu berkaitan dengan permasalahan Budaya Tionghoa.

Dari pengalaman saya berinteraksi dengan banyak kelompok termarginalisasi lainnya, masalah laten Tionghoa dan mereka juga sama, doktrin terlalu berhati-hati. Bahwa tidak semua orang adalah aktifis, itu alamiah. Tapi tidak ada larangan untuk bicara, asal jangan terlalu melantur.

Track record juga penting. Sebagaimana diketahui, kemampuan intelektual tiap orang itu tidak sama. Bayangkan bilamana ada seorang yang tiba-tiba muncul, dengan berbagai teori canggihnya yang dibungkus rumus-rumus intelijen yang "tidak dipahami orang biasa" mengisahkan bahwa dia menyaksikan sendiri terjadinya pergerakan perusuh bermotif rasial di daerah Kramat Jati dan minta para miliser bersiap-siap untuk menyelamatkan nyawanya. Kita mau percaya atau tidak? Bagaimana kalu itu benar? Bagaimana kalau itu salah? Dari mana kepercayaan itu muncul? Kan dari track recordnya, orang itu dikenal baik atau tidak, suka membuual atau tidak, suka berbohong atau tidak (seperti kisah anak penggemabal domba yang suka berteriak-teriak serigala). Saya sih tidak menafikan bahwa orang tidak dikenal juga bisa saja bicaranya benar, tepat dan mengena. Tapi, proses sebagai manusia kan bukan robotik.

Ambil cerita, kalau anda diajak oleh katakanlah pak X untuk datang ke Mauk pagi-pagi buta pake motor dia untuk merawat sebuah rumah yang di tiang-tiangnya ada puisi-puisi yang dibuat oleh seorang siu cay yang waktu itu kabur ke Selatan (yang anggaplah, menarik minat kita untuk mengetahuinya). Apa yang akan kita nilai mengenai pak X ini, sementara misalnya kita tahu bahwa Mauk itu sepi dan bisa jadi pagi-pagi buta banyak begalnya. Salah satu unsurnya tentu bukan apakah omongan pak X itu logis atau tidak, benar atau tidak. Yang kita nilai kan salah satunya adalah karakter pak X. Misalkan anda kenal lama pak X ini, penilaian juga akan menilai apakah pak X ini suka bohong atau membual atau tidak? Banyak orang yang omongannya manis, meyakinkan, logis dan sekaligus menggugah. Tapi karena anda tahu lama bahwa kelakuannya tidak seperti yang diomongkan, mau tidak mau track record juga akan menjadi perhatian.

Kalau cuma membuka wawasan dan menambah pengetahuan, seperti pepatah lama (dan tidak bisa diulang), bagaikan pohon yang membesar dan meninggi, menyerap semua
bahan untuknya, tapi tidak berbuah atau berbagi (meskipun kiasan ini belum pas). Tentunya akan lebih baik kalau pengetahuan itu bisa disebarkan, dan kalau pengetahuan itu baik dan bisa diterapkan, yaa, tentunya harus diterapkan. Masakcuma disimpan di kepala saja? Saya jadi ingat para kelana di hutan bambu hijau.

Meskipun mereka kabarnya cuma berdiskusi di antara mereka, toh mereka membuat puisi juga. Dengan demikian, ajakan untuk bertindak tidaklah salah dengan milis ini. Belajar dan selalu dilatih, tidakkah itu menyenangkan? Kawan-kawan datang dari tempat jauh, tidakkah itu membahagiakan? Sekalipun orang tidak mau tahu, tidak menyesali; bukankah ini sikap seorang budiman?

(Suma Mihardja)

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua

Last modified onWednesday, 05 September 2012 16:34
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/konten/esai/item/415-bilamana-budaya-tanpa-bergerak-dan-tanpa-masyarakat

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto