A+ A A-

Terciptanya Tiong Hoa Hwee Koan

  • Written by  Suma Mihardja
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Ang Yan Goan – Tokoh Pers Tionghoa Yang Peduli Pembangunan Bangsa Indonesia

Photo Ilustrasi : Ang Jan Goan

Sengaja saya salinkan tulisan (LIHAT LAMPIRAN) yang dibuat oleh Nio Joe Lan di bawah koordinasi Tjee Tong Lim, Tan Boen Seng, Ang Jan Goan, ANg Tjin Thay, Go Siang Tiat, Nio Joe Lan dan Mr. Souw Hong Tjoen dalam peringatan 40 tahun THHK. Sengaja juga saya tuliskan dalam langgam bahasa Indonesia modern untuk memudahkan pembaca mengenali makna yang ada di dalam tulisan tersebut, tanpa harus memutar otak duluu membaca langam lama yang banyak di antaranya kurang dikenal pada masa sekarang ini, khususnya bagi pembaca asal luar Jawa.

 

Ada bagian sangat kecil yang saya lewat (karena sangat teknis ditambah tidak merubah sistematika isi), sementara bagian yang relevan terkait hubungan THHK dengan Khongkauw (yang nantinya akan berkorelasi dengan KKH) sengaja saya tulis dengan huruf kapital.

Sebenarnya saya mau menuliskan kembali ringkasan pendapat Micchone van Rees (Kwee Tek Hoay dan Sam Kauw Hwee) dan dari Eric Oey (Santapan Rohani: Tulisan-tulisan Keagamaan Kwee Tek Hoay), serta tulisan-tulisan Charles A. Choppel dalam buku "Studying Ethnic Chinese in Indonesia"  (misalnya Khong Kauw: Confucian Religion in Indonesia, Contemporary Confucianis in Indonesia, The Origins of Confucianism as an Organized Religion in Java 1900-1923, Yoe Tjai Siang: Portrait of a Syncretist, From Christian Mission to Confucian Religion: The Nederlansche Zendingsvereeniging and the Chinese of West Java 1870-1910 dan juga Peranakan Construction of Chinese Customs in Late Colonial Java), ditambah dengan sinopsis drama "Korbannja Kong Ek" dan "Atsal Moelahnja Pergerakan Tionghoa…."

Serta tulisan kenang-kenangan dari Kwee Yat Nio (Ny. Tjoa Hin Hoey, Visakha Gunadharma) selaku anak Kwee Tek Hoay yang semuanya bisa menggambarkan bagaimana "pertarungan" antara KKH dan SKH sudah berakar sangat lama dan saling mempengaruhi dalam konstelasi keagamaan Tionghoa.

Namun karena bahannya sangat banyak dan saya agak kekurangan waktu sampai beberapa minggu ke depan, terpaksa saya urungkan dulu niat itu dan menuliskan ulang pernyataan THHK di atas dengan harapan bahwa ada pemahaman mengapa THHK pernah punya jejak yang sangat kuat.

Namun sekaligus juga kemudian pudar akibat sejumlah masalah, baik karena faktor politik di Indonesia, pengaruh eksternal yang mewarnai perang dingin (termasuk memanfaatkan instrumen agama sebagai "pengendali"), dan khususnya pengkotak-kotakkan yang dibuat oleh kalangan Tionghoa sendiri (dan kali ini justru karena agama!!! menggantikan konflik karena propinsialisme. Adakah faktor ekstern selain masalah intern? Banyak teori di baliknya).

Meski demikian, saya coba saja tuliskan simpulan saya sementara ini mengenai kajian atas KKH dan SKH:

I

Pendiri KKH memiliki korelasi erat dengan orang-orang THHK, namun mereka itu banyak yang dipengaruhi oleh gerakan teosofi abad ke-20 yang berpusat di Solo sehingga setelah menilai adanya kebutuhan mengawal THHK dengan Rujia-nya, membentuk kongregasi sendiri tahun 1918 dan menginisiasi pembentukan KKH di

Bandung, Bogor, Malang, Ciamis, dan banyak kota lain (termasuk ketika bergabung dalam KK Tjong Hwee tahun 1923 dengan Bandung sebagai pusat). Ada beberapa tokoh KKH yang sebenarnya adalah penyokong THHK sampai akhir hayatnya, namun banyak juga generasi "baru" yang merasa bahwa THHK masih kurang Khonghucu karena terlalu longgar membiarkan murid-muridnya dalam pengajaran tidak diawasisehingga menjadi "bule". Meskipun demikian, baik KKH maupun KKTjongH pada dasarnya adalah pendukung berbagai aktifitas THHK, dan bahkan memiliki akses yang sangat kuat dalam menjaga berbagai kelenteng Tionghoa di tanah Indonesia.

Selepas kemerdekaan Indonesia 1945, ada berbagai kondisi yang menyebabkan THHK mengalami keguncangan, baik karena sisa penutupan oleh Jepang di tahun 1942-an dan banyaknya tokoh THHK yang mati di tangan Jepang (salah satunya adalah Khouw Kim An), sehingga konsolidasi THHK terhambat dan menimbulkan tantangan terhadap penyatuan kembali dasar filosofis pendidikan Tionghoa di Indonesia.

Tantangan yang paling hebat muncul dari SKH yang mendirikan kongregasinya pada tahun 1953 dan mencoba mengajak kalangan Tionghoa ke dalam gerbong SKH.

Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan itu, adalah pertemuan dari sejumlah kalangan Tionghoa di Solo yang kemudian mendirikan Perserikatan Khung Chiao Hui Indonesia pada tahun 1955.

Pada kongres ke-4 tahun 1961 PKCHI diganti menjadi Lembaga Sang Khongcu Indonesia (Laski), tahun 1963 diadakan konperensi di Solo yang mengganti nama Laski menjadi Gabungan Perkumpulan Agama Khonghucu se-Indonesia (Gapaksi), lalu tahun 1964 pada kongres di Tasikmalaya, kepanjangan Gapaksi diganti menjadi Gabungan Perhimpunan Agama Khonghucu se-Indonesia (Gapaksi)

Dan kemudian saat Orde Baru, pada kongres VI tahun 1967 di Solo, nama Gapaksi diganti menjadi Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa MATAKIN memiliki konteks yang agak bebreda dengan KKH, meskipun ada sedikit pertalian sejarahnya yang sama-sama diinisiasi di Solo.

Titik pemisahnya adalah tahun 1955, di mana gerakan yang dimulai di Solo ini (meskipun sama-sama juga mendorong pendirian KKH) benar-benar berkonsentrasi ke arah pelembagaan Khongkauw, sementara KKH yang awal lebih kepada kajian Khongkauw untuk keperluan penyadaran budaya.

Meski demikian, dalam tulisan Charles A. Choppel, sudah diuraikan bagaimana KKH dipengaruhi oleh gerakan Kristenisasi sehingga untuk menjawab tantangan tersebut, KKH berpikir untuk mengadaptasi model katekumenis Nasrani dengan tetap mempertahankan sistem indoktrinasi Khonghucu (dalam bahasa lembutnya: Mengambil kepraktisan Barat, mempertahankan filosofi Tionghoa). Tidak mengherankan apabila kemudian KKH terlihat "mirip" misa di gereja, namun dengan isi yang Konghucuis, baik dalam bentuk model ruangan, kitab suci, lagu-lagu, kotbah, dsb.


 

II

Pendiri SKH terpengaruh ajaran dari Perhimpunan Theosofi yang berdiri sekitar tahun 1900. Kwee Tek Hoay mendirikan percetakan dan penerbitan Moestika di Jakarta yang kemudian dipindahkan ke Cicurug serta menjabat sebagai redaktur majalah mingguan Moestika Dharma (1932 - 1934), lalu menerbitkan majalah Sam
Kauw Gwat Po.

Pada akhir abad ke-19 tersebut berdiri Djava Buddhist Association di bawah E. Power dan Josias Van Dienst yang sebenarnya merupakan anggota International Buddhist Mission yang berpusat di Thaton Burma (beraliran Theravada).

International Buddhist Mission Java Section berdiri di Jakarta tahun 1932. Tanggal 4 Maret 1934 Bhikkhu Narada Mahathera dari Srilanka datang ke Indonesia atas undangan Kwee Tek Hoay, Ir. Mengelaar Meertens (Ketua Perhimpunan Theosofie cabang Indonesia) dan Yosias van Dienst (Deputy Director General International Buddhist Mission Java Section).

Ia menanam pohon Bodhi di pelataran Candi Borobudur dan memberikan ceramah di kelenteng-kelenteng antara lain Kwan Im Tong Jakarta. Menyambut kehadiran Narada, didirikan Batavia Buddhist Association (BBA) dengan ketuanya Kwee Tek Hoay.

BBA lebih banyak mengembangkan Ajaran Buddha Mahayana. Lalu Mei 1934 berdiri Sam Kauw Hwee di Jakarta dengan ketuanya adalah Kwee Tek Hoay.

Publikasi utamanya melalui majalah Sam Kauw Gwat Po (1934 - 1947). Cabang-cabang SKH antara lain di Kediri, Teluk Betung, Palembang, Samarinda, Makasar, Manado, Gresik, dan Bogor.

Sam Kauw Hwee di Kediri dibentuk oleh Tan Koen Swie tanggal 21 Desember 1934 yang juga menerbitkan majalah Soeara Sam Kauw Hwee. Setelah lama agak sulit berkembang, tanggal 20 Februari 1953 di Jakarta didirikan GSKI (Gabungan Sam Kauw Indonesia), sebagai hasil pengorganisasian kembali Sam Kauw Hwee dengan bergabungnya Cin Tik Hwui (Muntilan, Jawa Tengah), Sin Ming Hui bagian kebatinan (Candra Naya, Jakarta), Thian Li Hwee, Buddhis Tengger (Jawa Timur) dan lain-lain, dengan ketua umumnya The Boan An.

Kemudian pada tanggal 22 Mei 1953 GSKI menginisiasi hari Tri Suci Waisak 2497 untuk pertama kalinya di Candi Borobudur (yang diklaim sebagai kebangkitan 500 tahun Majapahit).

Mengikuti anjuran bhikku di Kong Hoa Si Mangga Besar, The Boan An menjadi bhikkhu di Burma (saya ralat keterangan yang kemarin, ternyata bukan di Thailand, namun Burma [Myanmar], namun fakta dukungan terhadap penyebaran agama Budha yang dibuktikan dengan kehadiran atase Burma dan penyambutan dari kalangan Budhis dari bangsa lain adalah nyata dan bisa dilihat dalam laporan media saat itu) dengan nama Ashin Jinnarakkhitta pada tanggal 23 Januari 1954.

Tahun 1960-an didirikan Gabungan Tridharma Indonesia yang baru dikukuhkan saat Orde Baru tanggal 16 - 18 April 1976 di Cisarua, sementara pada saat bersamaam didirikan juga PTITD (Perhimpunan Tempat Ibadat Tri Dharma) se-Jawa Timur di Lawang dengan ketuanya adalah Ong Kie Tjay.

Lalu tahun 1969 diadakan pertemuan PTITD se-Indonesia dengan ketua pertama Ong Kie Tjay. GTI membentuk Majelis Rohaniwan Tridharma Indonesia di Jakarta dengan ketua Sasanaputera Satyadharma. PTITD membentuk Majelis Rohaniawan Tri Dharma se-Indonesia di Surabaya dengan ketuanya adalah Ong Kie Tjay.

Kemudian tanggal 22 September 1979 dibentuk Martrisia (Majelis Rohaniwan Tridharma Seluruh Indonesia) di Lawang, Jawa Timur, yang merupakan peleburan (fusi) 2 (dua) Majelis Tridharma dari Jakarta dan Surabaya untuk menyesuaikan diri dengan terbentuknya WALUBI sebagai Wadah Tunggal. Ketua umum pertamanya adalah Ong Kie Tjay berikutnya Ongko Prawiro.

Dengan demikian pun terlihat bahwa SKH juga tidak sepenuhnya mengadaptasi kritikan Kwee Tek Hoay tahun 1925-an dengan serangkaian tonilnya, dan belakangan cenderung semakin ke arah Budhis (lihat nama-nama pengurusnya yang "Budhis" dan upacara-upacara mengarah ke Rupang Rulai yang dilakukan, termasuk sangat minimnya pemahaman atas nilai budaya Tionghoa. Saya pernah merasakan sendiri ketika mengadakan talkshow di Boen San Bio Tangerang dengan seorang pucuk pimpinannya pada tahun 2006 lalu).

Meskipun The Boan An sendiri mendirikan Budhayana, pada dasarnya itu lebih kepada fusi antara aliran Hinayana dan Mahayana. Dalam hal ini SKH justru lebih mirip sebuah organisasi Budha yang berciri Tionghoa ketimbang organisasi sinkretik tiga agama. Lucunya, kalangan ini pun berulang kali menyebutkan bahwa mereka tidak mencampurkan agama (lihat Anggaran Dasar Maitrisia dan perkembangannya hingga sekarang) dan karenanya tidak berkehendak sinkretik!

Kalau begitu, apakah artinya SKH dan turunannya ini adalah sejiwa dengan Sanjiao yang dianut di Tiongkok? Ini yang membingungkan, makanya SKH banyak dikritik karena sebenarnya adalah Budhisme bersalut budaya.

Hal itu lebih nyata lagi ketika bergabung dengan Walubi yang jelas-jelas beraliran Budhis (bahkan cenderung ke arah Budhisme Hinayana dengan bahasa Pali yang dipopulerkannya), meskipun Walubi sendiri sebenarnya juga tidak pernah solid karena watak aliran yang berbeda-beda yang diwadahinya (bhakan lebih-lebih ketika ada keterlibatan politik di dalamnya yang memecah Walubi kemudian).


 

III

Meskipun kajian mengenai KKH seolah-olah tidak selengkap SKH, namun sebenarnya perdebatan mengenai makna agama Tionghoa adalah berimbang dilakukan oleh orang-orang KKH maupun SKH.

Polemik yang dimuat dalam banyak koran-koran pada masa itu, bisa dikatakan sama kuat, apalagi pada persekutuan diam antara THHK dan KKH yang berpandangan bahwa untuk menguatkan persatuan dan mengurangi  ketahyulan, perlu dilakukan perimbangan antara gerakan modernisasi dengan nilai dasar Khonghucu yang menjadi jiwa hubungan kemasyarakatan Tionghoa.

Seperti sudah saya uraikan, KTH adalah pendukung THHK dan bahkan pernah menjadi pengurus di Bogor (1912-1920-an) sebelum muncul kekecewaannya sebagaimana dituliskan dalam tonil Korbannja Kong Ek. Meski demikian, terlihat bahwa buku ulasan KTH sendiri banyak menyerap unsur Ru dan Dao, namun sebaliknya justru sangat berkurang ketika SKH mulai dipimpin oleh menantunya, Tjoa Hin Hoey tersebut.

IV

Jadi, dari seluruh hubungan antara THHK, KKH dan SKH, terlihat adanya tarik-menarik yang sangat kuat. Tidak bisa dikatakan bahwa pengaruh KKH lebih lemah dibandingkan SKH. Malah ketika KKH dan SKH sama-sama mendukung suatu kebijakan tertentu, kelenteng dapat diselamatkan, bahkan dalam periode keras sepanjang tahun 1970-an. Sebaliknya, ketika saling berebut, justru kelenteng berhasil dipaksa menjadi Wihara dan kemudian diduduki oleh "Budhis non-Tionghoa".

Lucunya, di kelenteng-kelenteng PTITD juga ada gerakan diam-diam yang dibangun baik sengaja ataupun tidak, berupa pendirian altar Kuan Im (dan bahkan Rulai), baik itu di buat ruang tersendiri (biasanya di bagian belakang altar kelenteng yang awal, atau bisa juga di sampingnya), malah ada juga yang sampai mendirikan gedung sendiri!

Ada yang bilang bahwa ini taktik, namun ternyata begitu Orde Baru ditumbangkan, pada kenyataannya, terlihat bahwa gedung/ruang tambahan ini malah lebih utama.

Belum lagi di kelenteng (bahkan yang sebenarnya tidak bercorak Budhis sekalipun) yang mendirikan Dhammasala, isinya justru diisi oleh kalangan Theravada (dengan bahasa Pali, bikkhu/bante-nya menolak memberi hormat kepada tuan rumah dari kelenteng tersebut, bahkan merasa bahwa Dhammasala itu sudah menjadi miliknya).


V

Anyway, THHK, SKH dan KKH adalah setali tiga uang dalam membendung proses Baratisasi (Nasranisasi). Dokumen-dokumen ketiga lembaga ini menunjukkan bahwa ada keprihatinan besar terhadap batas-batas pembaratan, dan berharap bahwa mereka bisa mendorong gerakan untuk menghadapi nasranisasi yang sangat kuat "melahap" kalangan tradisional Tionghoa, yang harus diakui pada umumnya berada dalam kondisi lemah ekonomi dan pendidikannya.

Patut dicatat, bahwa yang dimaksud di sini bukan hanya Kristen, namun juga Katholik, yang meskipun mempergunakan cara yang lebih halus, sebenarnya memiliki efek pergantian budaya yang sangat kuat di kalangan Tionghoa, khususnya pada generasi kedua penganutnya.

Dalam hal ini, harus dicatat bahwa kerusakan THHK yang terbesar (selain dari sedikit mismanajemen dan budaya feodal yang masih melekat) adalah diakibatkan pergeseran konflik yang semula propinsialisme (dan sudah ditanggulangi THHK) menjadi ke arah agamaisme, dan dalam hal ini SKH juga memiliki peran yang kuat dalam katalisasi prosesnya.


VI

Apa yang ditulis di tahun 1940 tersebut jelas masih sangat relevan dengan kondisi sekarang. Tinggal, apakah dokumen itu hanya dijadikan artefak sejarah ataukah justru bisa menjadi bahan pelajaran berharga mengenai hubungan antara budaya, agama dan negara dalam situasi jaman yang berkembang seperti sekarang ini. Kita tunggu hasilnya.

 



Berikut saya kutipkan sedikit tulisan Micchone van Rees (KTH dan SKH), dengan sedikit penyesuaian soal nama tanpa mengubah materi tulisannya:

"SKH…didirikan KTH pada bulan Mei 1934 untuk menegaskan dan menghidupkan kembali agama Tionghoa di Hindia-Belanda dan merangsang kebangkitan kembali kebudayaan Tionghoa. SKH ini merupakan respons terhadap pertumbuhan agama Nasrani pada orang Tionghoa di Indonesia dan merupakan suatu tindak lanjut dari usaha mempertahankan agama Tionghoa yang dimulai dari didirikannya THHK pada tahun 1900. Beberapa konsep penting yang dikemukakan oleh SKH TELAH DISARANKAN OLEH THHK SEBELUMNYA DAN KEMUDIAN DIPERBAIKI OLEH KKH. Maksud KTH….untuk menciptakan suatu gerakan keagamaan yang mempunyai dasar yang luas untuk mengimbangi daya tarik agama Nasrani dan sekularisme yang semakin kuat....Micchone van Rees

Perbedaan yang paling mencolok antara gabungan baru ini dengan gerakan Konfusianisme terletak pada interpretasi terhadap agama Tionghoa.

THHK dan KKH menganggap Konfusianisme hanya sebagai agama Tionghoa, sedangkan SKH memandang agama Tionghoa sebagai sintesa dari tiga agama….

Gerakan Konfusianisme mempunyai efek yang besar terhadap aktifitas misionaris Nasrani di antara orang Tionghoa di Indoensia apda permulaan abad ini. Tetapi agama Nasrani sendiri juga mempunyai pengaruuh yang cukup berarti terhadap pembentukan Konfusianisme.

KTH mengakui ini ketika ia menulis: 'Guru-guru (THHK) tidak saja ditugaskan untuk memberi pelajaran huruf-huruf dan bahasa Tionghoa serta menenarangkan agama Konfusius, dari mereka juga diharapkan, agar dua kali sebulan pada tanggal 1 dan 15 memberi khotbah mengenai AJARAN KONFUSIUS MENURUT CONTOH SEKOLAH NASRANI, di mana agama ini digalakkan.'

Pengaruh agama Nasrani ini jelas disebabkan oleh kenyataan bahwa banyak pemimpin terkemuka gerakan THHK dididik di sekolah-sekolah misi, seperti Lie Kim Hok, tokoh utama dalam pendirian THHK, Phoa Keng Hek, [residen pertamanya dan Yoe Tjai Siang, redaktur dari sebuah mingguan Konfusianis, Li Po.

MISIONARIS NASRANI SAMA SEKALI TIDAK SIMPATIK TERHADAP GERAKAN KONFUSIANIS YANG BARU, TERUTAMA KARENA PENGIKUT-PENGIKUTNYA SENDIRI DITARIK DI SANA.

Kritik mereka terhadap THHK memaksa pemimpin-pemimpinnya menjelaskan dan menegaskan ide-ide mereka sebagai bagian dari pembelaan terhadap serangan itu. Ini merupakan suatu perkembangan yang kritis, karena posisi yang mereka ambil dalam banyak hal merupakan landasan berdirinya KKH maupuun SKH….

Kristalisasi pertama kedudukan Konfusianis diadakan pada seuatu debat dengan Tiemersma, seorang misionaris dari Nederlandse Zendingsvereeniging antara 1902 dan 1906.

Debat ini memaksa para Konfusianis untuk memberi batasan mengenai sifat Agama Tionghoa dan UNTUK MEMBENARKAN KLASIFIKASI KONFUSIANISME SEBAGAI SUATU AGAMA.

Sebagai respons terhadap artikel Tiemersma di Bentara Hindia, Louw Tjeng Giok menyusun suatu seri pertanyaan dan membentuk sebuah komisi yang terdiri dari empat orang termasuk Lie Kim Hok, untuk memberi tanggapan. Sebagai jawaban terhadap pertanyaan, "Apakah agama orang Tionghoa sebenarnya? Komisi menjawab:

'…agamanja soewatoe bangsa tentoe sekali ada berhoeboeng rapat sama adat istiadatnja bangsa itoe. Adat istiadat Tionghoa seperti jang ada tertoelis dalam kitab-kitab Soe-Si dan Hauw Keng ada diseboet "Pengadjaran dari Nabi Khong Hoe Tjoe". Dari sebab itoelah misti dianggap jang agama Tionghoa ada di dalam Pengadjaran Khong Hoe The. Tegesnja Pengadjaran Khong Hoe Tjoe ada jadi agama Tionghoa".'...Komisi Menjawab 

Komisi meneruskan penjelasan bahwa Konfusius mengaku keberadaan Thian, ekuivalen dengan Tuhan dari agama Nasrani…..tetapi aspek yang paling dasar dari agama ini adalah Hauw (kebaktian anak terhadap orang tua) yang merupakan dasar semua perilaku.

Seorang responden selama debat itu, Tan Han Soey dari Bogor menjawab pendapat Tiemersma bahwa orang-orang Tionghoa berpaling ke agama Nasrani karena tidak mempunyai agama sendiri. Ia berkomentar bahwa mereka HANYA TIDAK MEMPUNYAI PENGETAHUAN TENTANG AGAMA MEREKA SENDIRI DAN TIDAK ADA GURU YANG MENERANGKANNYA KEPADA MEREKA. LAGIPULA AGAMA NASRANI MENJANJIKAN SURGA YANG TIDAK ADA DI AGAMA LAIN.

Pada tahun 1906…, Tiemersma melaporkan suatu observasi, yang ternyata agak bersifat ramalan mengenai gerakan Konfusianis, kepada suatu pertemuan misionaris di Depok.

IA MENYATAKAN KEKAWATIRANNYA MENGENAI PENGARUH GERAKAN THEOSOFI DI HINDIA BELANDA YANG BERTAMBAH BESAR.

Rasinalisme dan Deisme yang khas Konfusianis, menurut Tiemersma, akhirnya tidak akan memuaskan….Sama halnya di Indonesia demikian Tiemersma pula, para Neo-Konfusianis yang berusaha mengusirunsur-unsur Daoisme dan Budhisme dari agama Tionghoa, akhirnya akan berpendapat bahwa Konfusianisme saja tidak cukup dan akan dihapus oleh aliran-aliran pantheistik yang disertai gerakan teosofi.
….
Lain dari THHK, KKH tidak mendapat dukungan dari masyarakat luas. Salah satu kritik yang paling kuat terhadapnya berasal dari gerakan nasionalisme sekuler yang menuduh usaha KKH melawan semangat nasioanlisme Tiongkok.

Mingguan Sin Po pernah menerbitkan satu nomor khusus mengenai KKH. Mereka mengatakan bahwa KHC bukanlah nabi dan ajarannya bukanlah agama.

Sebagai gerakan yang berhubungan dengan kerajaan di Tiongkok, demikian mingguan Sin Po, Konfusianisme tidak lagi pantas untuk jiwa demokrasi masa kini. Lagipula KKH menyajikan Konfusius seolah-olah semacam Jesus Kristus, dan mengutip ajarannya sebagaimana misionaris Nasrani juga membaca kutipan-kutipan dari kitab suci…..

Redaksi Sin Po Weekelijksche Editie berpendapat bahwa sebenarnyaa hanya sedikit orang yang Konfusianis murni dan bahwa sebagian besar rakyat Tiongkok menganut suatu agama campuran. Banyak orang Tionghoa tertarik kepada agama Nasrani karena pekerjaan misionaris yang aktif. Kalau para Konfusianis tidak
sama rajinnya dengan mereka, demikian argumentasi mereka, ajaran Konfusius akan tersingkir sama sekali….

Ada dua artikel sebagai respons terhadap serangan pertama SPWE. Tan Hwan Tjiang menulis di Pewarta Soerabaia bahwa meskipun orang dapat bicara tentang tiga agama di Tiongkok (Sam Kauw), dalam kenyataannya Budhisme dan Daosime memegang peranan kecil dibanding dengan Konfusianisme.

Yang mengatakan bahwa Konfusianisme bukan agama juga mengartikan bahwa orang Tionghoa tidak mempunyai agama. Suatu penghinaan besar, karena hanya binatang tidak mempunyai agama. KKH, demikian Tan, adalah penting untuk melindungi Konfusianisme dari serangan-serangan yang sekarang dilepaskan terhadapnya.

Seorang lain, yang menggunakan nama samaran H, berpendapatg bahwa para misionaris Nasranilah yang menyebarkan ide bahwa Konfusianisme bukan agama.

Menurut batasan mereka, hanya agama Nasranilah agama sebenarnya. Tetapi tidak ada alasan mengapa pandangan ini harus diterima. KKH diperlukan di Indonesia, kalau orang Tionghoa ingin mempertahankan "Ketionghoaan" mereka, karena banyak dari kebudayaan Tionghoa sudah lenyap.

Artikel-artikel di Khong Kauw Gwat Po, terbitan resmi KKTH memerinci dan mengembangkan banyak dari sanggahan ini…. Meskipun banyak idenya merupakan landasan untuk kehidupan sehari-hari, orang-orang tidak banyak tahu mengenai sumbernya, sehingga orang Tionghoa menjadi bahan tertawaan.

Maka itu penjelasan tentang ajaran KHC sangat diperlukan. Anggota lain dari Surabaya menulis kalau orang Tionghoa betul serius mengenai penggalakan nasioanlisme, tidak ada jalan lain daripada penegasan "agama kita - Konghucu".

Selama serangan-serangan ini KTH tetap mendukung konfusianisme. Ia merupakan salah seorang yang menulsi untuk membelanya selama perdebatan dengan Tiemersme. Akan tetapi ia tetap kritis terhadap KKH……dst .SKH tidak diterima oleh semua orang Tionghoa. Ada yang menyinggung bahwa organisasi ini hanya merupakan suatu campuran tanpa tujuan tertentu, semacam "gado-gado"….

Sepucuk surat yang diterima SKH Kediri mengandung kritik yang sama, mengatakan bahwa ketiga agama itu begitu berbeda, sehingga tidak mungkin dapat diikuti bersama-sama.

Menurut penulisannya agama yang paling pantas untuk orang Tionghoa dewasa ini adalah Konfusianisme, maka mengapa perhimpunan ini tidak memusatkan perhatiannya pada promosi ini dan menamakan dirinya KKH?

Tjia TTjiep Ling menjawab bahwa KKH telah gagal menarik banyak pengikut dan orang-orang tidak memandang Konfusianisme yang dipromosikan KKH cukup modern. Cabang yang sama juga menerima surat dari The Lian Sam dari Probolinggo yang minta penjelasan mengenai maksud dan tujuan dari SKH, karena tidak jelas baginya apa yang harus diperbuat oleh seorang yang hanya menganut salah satu agama saja. ….dst"

Bagian penjelasannya masih panjang, namun dalam hal ini saya cuma mau memperlihatkan bagaimana pengaruh KKH cukup kuat dalam membendung pembaratan.

Namun demikian, KKH memang lebih terkonsentrasi di dalam THHK seperti saya uraikan di muka dan karenanya terlihat tidak seagresif organisaisi lainnya. Terlihat bahwa serangan Tiemersma dan gerakan Teosofi sangat berbahaya (bahkan bisa jadi Tiemersma dkk juga berkepentingan untuk menghadang THHK dan KKH sehingga memfasilitasi konspirasi diam untuk menghabisi THHK dan KKH).

Dalam kacamata ini, patut dicermati bahwa kondisi taktis pada saat itu memang membutuhkan jawaban cepat sebelum semuanya benar-benar "habis".

Bukti dari kuatnya pengaruh semangat KKH (meskipun secara keorganisasian memang lemah) adalah bahwa dalam sensus-sensus yang diadakan pada tahun 1930 (Hindia Belanda) dan kemudian 1971 (Orde baru), yang mengaku sebagai penganut Khongkauw adalah sekitar 0,8% dari penduduk tersensus, sementara Hudkauw adalah 0,7% (itu pun diduga juga memasukkan kalangan Budha Jawa ke dalamnya.

SKH bisa dikatakan sebagai bagian dari kelompok Hudkauw ini mengingat aksentuasi dominan yang ditemukan dalam kotbah-kotbahnya). Yang pasti, klaim mengenai kegagalan KKH ternyata juga bisa dialamatkan kepada SKH sendiri.

Yang unik, bahkan setelah dilakukannya sensus tahun 2000 (yang meskipun banyak sekali kelemahannya, dapat dijadikan gambaran dasar perkembangan agama), ternyata penganut Budhisme juga tidak mencerminkan penggabungan kalangan Ru ke dalamnya, malahan secara persentase juga berkurang (sementara jelas, kalangan Ru belum difasilitasi dalam sensus tersebut; pada sisi lain, akses terhadap penduduk daerah yang semula tidak terdata sensus menunjukkan penambahan data penduduk non-Tionghoa yang Budhis, sehingga efeknya menunjukkan berkurangnya persentase kalangan Budhis Tionghoa, apalagi pendukung SKH.

Trayektori sensus yang saya sendiri lakukan penelitiannya di Tangerang menunjukkan bahwa kalangan muda Tionghoa ternyata merupakan pemuda Theravada {Patria} yang menunjukkan bahwa SKH di Tangerang sudah tergerus hampir habis.

Begitu juga di daerah Jawa Barat dan sebagian daerah Jawa yang lain, sebagai akibat dari kurikulum sekolah dan kebijakan selama Orde baru yang masih membekas hingga kini).

Lalu bagaimana nasib kelenteng-kelenteng yang dibudhiskan itu? Banyak yang tidak bersedia dikembalikan kepada kondisi sebelum pemaksaan era DEWI, dengan berbagai pertimbangannya. Itu juga menyisakan pertanyaan mengenai seberapa berhasilnya SKH di dalam membendung pembaratan.


Berikutnya saya sarikan kutipan dari tulisan Eric Oey (Santapan Rohani), dan karena agak panjang serta agak redundant, saya berfokus pada latar belakang KT saja:
"…..
KTH sudah tertarik kepada teosofi sejak masa mudanya dan kemudian menjadi seorang pengikut gerakan teosofis yang didirikan oleh Madamme HP Blavatsky pada tahun 1875…

KTH menjelaskan bagaimana menurutnya setiap agama dan filsafat dipengaruhi oleh lingkungan budaya serta sejarah dari bangsa penganutnya.

Islam, ia mengatakan, berkembang antara bangsa-bangsa penggembala di padang pasir yang tandus, tempat orang terpaksa memakan daging karena tak ada sayuran, mempraktekkan poligami demi meningkatkan jumlah pendudukanya, dan berpuasa selama sebulan setiap tahun agar dapat menahan berbagai macam naluri yang
menggodanya.

Demikian juga, bagi KTH, agama Nasrani mengajar belas kasihan terhadap segala umat manusia adalah reaksi terhadap "kekukukuhan" kaum paderi Yahudi serta tekanan maha hebat dari para penakluk Romawi. Dan ajaran ini justru cepat berakar dan berkembang antara budak-budak dan masyarakat golongan terhimpit pada zaman itu.

Dengan pernyataan semacam ini kita dapat memahami ketertarikan KTH terhadap fenomena-fenomena keagamaan, mistik dan gaib, serta juga kebiasan untuk membandingkan dan menyamakan keyakinan, tindakan atau tulisan keagamaan yang bagi kita nampaknya sangat berbeda.

Perbandingan ini sering nampak lucu dan aneh seperti misalnya ketika ia menyatakan bahwa Ruabiyat dari Omar Khayam menyerupai Bhagawad Gita, Tao-te Ching serta puisi dari Li Po.

Demikian juga kredo esoterik yang dikembangkan oleh kaum taswuf, baginya, sangat identik dengan pelajaran-pelajaran Taoisme dan Budhisme.

Dan kaum Derwis dari Turki, menurutnya, mempraktekkan suatu cara hidup dalam pertapaan yang sama dengan para pendeta Budha, sedangkan ajarannya mirip sekali dengan apa yang dinyatakan oleh kaum teosofis.
….
Pada saat itu berbagai kebiasaan, kepercayaan serta agama orang Tionghoa-Jawa berkembang menjadi sangat kacau dan membebankan…. Seperti yang telah dipaparkan, kebiasan meratap dan upacara pemakaman besar-besaran telah memberatkan diri mereka sendiri dengan penambahan berbagai jenis kebiasaan dari berbagai sumber lainnya.

Ia kemudian menggambarkan berbagai reformasi yang dilaksanakan oleh kaum THHK, konon sebagai "pemugaran" pelajaran-pelajaran Konfusius yang asli.

Reformasi ini meliputi penyederhanaan upacara perkawinan dan pemakaman serta pendirian-pendirian sekolah Tionghoa dengan kurikulum "modern" seperti yang telah terdapat di Tiongkok dan Jepang.

Namun perlu dicatat di sini bahwa reformasi yang dilaksanakan atas nama "Konfusius" itu diusulkan dan digerakkan oleh pemuda Tionghoa yang berpendidikan dan berorientasi Barat (Kebanyakan dari mereka lulusan dari sekolah misionaris Nasrani) yang sebenarnya mempunyai satu tujuan politik utama yaitu, peningkatan status orang Tionghoa agar menyamai hak-hak yang dinikmati orang-orang Eropa….

Dengan demikian pengertian mereka tentang sifat serta pelaksanaan reformasi "agama Tionghoa" tentu saja menganduung banyak unsur Barat yang dianggap lebih "modern" serta lebih "sesuai" dengan zamannya. Sebab akibatnya, sambil mereka berusaha membersihkan "unsur-unsur asing" dalam upacara Tionghoa, pada upacara tersebut sebenarnya juga dikenakan beberapa unsur "Nasrani" yang baru, seperti kebaktian hari Minggu dan berdoa, hymne dan khotbah yang diucapkan oleh seorang pendeta.

…KTH juga mengamati, misalnya bagaimana THHK pada mulanya melarang segala pemujaan patung Konfusius di sekolah mereka, dan bagaimana banyak di antara mereka ingin juga melihat ditutupnya semua kelenteng Tionghoa di Jakarta.

Sikap "modern" memang telah telah begitu berakar dalam masyarakat Tionghoa pada tahun 1930-an. Semakin banyak orang Tionghoa waktu itu masuk Nasrani atau yang dengan jelas menganut agnotisme, tidak lagi mempraktekkan adat kebiasaan kuno seperti pemeliharaan suatu altar nenek moyang di rumah dan persembahan sesajen, pembakaran kemenyan serta pelemparan ciam sie (balok ramalan) di depan patung-patung kuil.

Walaupun is sendiri jelas seorang terpelajar yang berorientasi Barat, KTH secara teguh membantah segala serangan tetrhadap tradisi-tradisi Tionghoa.

Seperti Kang Yuwei beberapa dekade sebelumnya, ia malah ingin melihat tradisi tersebut diperkuat dan diperbarui dengan kembali ke sumber-sumber Konfusianisme yang "asli"….namun demikian Konfusianisme sendiri nampaknya tidak merupakan sistem keagamaan yang cukup luas bagi KTH, sehingga ia memajukan suatu penggabungan "Tiga Agama" Tionghoa itu….
....
SAMA SEKALI TIDAK MENGHERANKAN JIKA PANDANGAN-PANDANGAN INI MENYERUPAI APA YANG DINYATAKAN OLEH PARA SARJANA BARAT DALAM KARANGAN MEREKA. SEPERTI KITA LIHAT, KTH SEBETULNYA MENGENAL PELAJARAN "TIGA AGAMA" DAN TEKS-TEKSNYA MELALUI KOMENTAR DAN TERJEMAHAN DALAM BAHASA INGGRIS DAN BELANDA. Di samping itu, ia juga sangat dipengaruhi oleh berbagai ide dari Lin Yutang -- seorang pengarang di Tiongkok yang juga luluus dari sekolah misionaris Nasrani. ….."

Dari tulisan ini (meskipun saya ada beberapa ketidaksepahaman dengan penulisnya), setidaknya tergambar bahwa KTH sendiri tidak sepenuhnya berhasil mentransformasikan ide Sam Kauw.

Dalam perkembangannya, ketika SKH dikelola oleh menantu dan anak perempuannya, kecenderungan menjadi Budhis sangatlah kuat.

Patut juga dicatat bahwa ide-ide Budhisme yang diserap KTH sendiri bukanlah budhisme Tionghoa, melainkan justru dari sumber-sumber lain seperti Thailand, Burma, dan India.

Tidak mengherankan apabila ulasan Budhisme yang dilakukan KTH sebenarnya berorientasi Hinayana. KTH sendiri mengutip ayat-ayat dalam bahasa Pali dan Sansekerta dari sumber yang cenderung Theravada, dan tidak terdengar bahwa dia mempergunakan sutra-sutra Mahayana Tionghoa.

Tidak heran juga bahwa di kemudian hari, SKH lebih bisa dikatakan sebagai Budhisme yang mencoba juga menyerap unsur Tionghoa, namun bukan menjadi Sam Kauw sebagaimana diuraikan oleh Lin Yutang sendiri.

Sebagai tambahan fakta unik, menarik untuk diketahui bahwa salah seorang ketua THHK adalah Gouw Khiam Kiet (1898-1979; yaitu di era 1935-1937).

Ia adalah anak dari keluarga Kristen yang pada tahun 1884 menghibahkan empat buah rumah di Patekoan sehingga bisa berdirilah Gereja bernama Tiong Hwa Kie Tok Kauw Hwee.

Selepas menjadi ketua THHK Batavia, pada tahun 1940 ia ditahbiskan sebagai pendeta Gereja Patekon itu oleh Tan Goan Tjong. Tahun 1943 dia ditangkap Jepang dan lepas tahun 1945. Tahun 1953, terjadi Peristiwa Patekoan, di mana ia beserta sejumlah pengurus dipecat dari kependetaan oleh Majelis Sinode THKTKH.

Ia melawan, dan berbuntut kericuhan sehingga sebagaian sinode mendirikan GKI di Krekot sebagai akibat perpecahan ini. Ia meninggal tahun 1979 setelah hampir 40 tahun menjalani kegiatan pendeta di Gereja Salib Tiga di Patekon.

Tulisan Charles A. Choppel sendiri agak mirip, khususnya menilai pengaruh misi Nasrani dalam munculnya reaksi atas pembaratan tadi. Saya tidak kutipan di sini karena masalah waktu.

Saya tidak bisa memberikan tanggapan lebih panjang lagi, meskipun banyak yang harus dikupas. Sampati titik ini pun saya sudah menghabiskan beberapa hari buat menulis, padahal ada PR lain yang harus saya selesaikan.

Dalam dua-tiga minggu ke depan, saya harus ke daerah untuk memulai survey awal penelitian mengenai diskriminasi dalam hal pelayanan KTP. Kalau sempat ada waktu luang, saya akan menanggapi secara global saja.

Kalau ada yang punya masalah diskriminasi/pembedaan perlakuan dalam KTP yang diakibatkan oleh persoalan ras/etnis/agama/kepercayaan/ketunaan atau terkait jenis kelamin, khususnya yang berada di daerah Jabodetabek, siap-siap saja untuk saya minta bantuan mengisi kuesioner untuk sebuah lembaga penelitian di Universitas Indonesia.

Tujuan akhirnya adalah untuk mendorong percepatan penyelesaian masalah di bidang layanan kependudukan tersebut. Terus terang, kadang saya agak pesimis dengan antusiasme dari para miliser. Saya sendiri pernah menginisiasi penyelesaian masalah kewarganegaraan dari para stateless tiga tahun yang lalu, namun bisa dikatakan tanggapannya tidak ada. Akhirnya yang masuk adalah LSM-LSM dengan kepentingannya masing-masing dan klaim-klaim yang menambah ruwet. Capek deeeh. Hehehehe.

Kebajikan tidak dibina, pelajaran tidak diperbincangkan, mendengar kebenaran namun tidak melaksanakan, terhadap hal-hal buruk tidak bersedia memperbaiki; inilah yang selalu menyedihkan hati.


Suma Mihardja


 

LAMPIRAN

Terciptanya Tiong Hoa Hwee Koan

Munculnya abad ke-20 bagi perkumpulan Tionghoa di Indonesia sangat penting dari sudut pergerakan Tionghoa. Pada waktu itu keadaan masyarakat Tionghoa di Jakarta belum memperlihatkan banyak cahaya terang, tetapi sebaliknya malah bukan sedikit bayangan gelap penghidupan etika dari kalangan Tionghoa. Selain di antara berbagai golongan Tionghoa tidak nampak kerukunan sebagaimana mestinya, disebabkan oleh propinsialisme yang seolah-olah menciptakan suatu jurang yang sukar diseberangi antara golongan Hokkian, Khe, Kongfu, dll, ditambah tentunya dengan adanya golongan Peranakan, di antara kalangan Peranakan sendiri sulit sekali diadakan suatu semangat kebersamaan. Malah di antara golongan ini, keadaan sudah sedemikian rupa sehingga ada yang menamakan dirinya "anak Patekoan", "anak Kongsi Besar", "anak Senen", dsb yang tidak lain merupakan semacam propinsialisme dalam ukuran kecil.

Perkumpulan-perkumpulan yang bekerja di dalam urusan sosial tidak ada. Di masa itu orang Tionghoa cuma punya beberapa perkumpulan Kematian, di antaranya Cu Hu Tee Beng yang memiliki gedung di seberang Kali Besar, perkumpulan mana sekarang sudah tidak ada lagi, kemudian ada Khu Sin Hap Kit yang didirikan tahun 1869 yang sampai sekarang masih terus berkembang. Lain dari itu, bisa dikatakan tanpa terlalu menyimpang, bahwa perkumpulan-perkumpulan Tionghoa lainnya cuma perkumpulan yang justru sering menimbulkan perselisihan satu dengan yang lainnya.

Keadaan sosial juga tidak bisa memberikan banyak kepuasan kepada orang yang ingin melihat kalangannya bertindak maju. Pesta perkawinan di waktu itu dari golongan elit Tionghoa, untuk contoh, begitu menghamburkan uang dan waktu, sama banyaknya dengan air yang mengalir deras di selokan. Kalau merayakan pernikahan, pesta sudah dimulai sepuluh hari di muka! Tentu saja tidak perlu diuraikan lagi, hari kawin yang sebenarnya akan dirayakan dengan serba mentereng dan mewah. Lalu, setelah acara pernikahan itu lewat, pesta…….berjalan terus! Pada hari ketiga sepasang pengantin keluaur lagi dengan disertai arak-arakan yang tidak kurang ramainya dan menakjubkan.

Kemudian setelah hari ketujuh, kembali rumah orang yang menikahkan jadi pusatnya kemewahan: hari tersebut diselenggarakan acara "Cia Cinkee" dan "Cia Ceem" dan selanjutnya hari untuk mengucapkan terima kasih (Cia Sia). Keadaan demikian tidak-bisa-tidak membuat orang-orang yang berpikiran luas dan sadar jadi tergerak untuk menggulung lengan baju untuk mengubah dan memperbaikinya. Apapula ketika itu pun Tiongkok sedang mengalami perubahan-perubahan besar. Mari kita tujukan pandangan kita ke Tiongkok. Kita akan melihat kejadian-kejadian di sana sama dengan keadaan di Jakarta sebelum didirikannya Tionghoa Hwee Koan. Di Tiongkok pada tahun 1875 mulai bertahta kaisar Kuang Hsu (Guangxi, red.), seorang kaisar yang telah mencoba melaksanakan perubahan-perubahan modern. Rencananya tersebut tidak mendapat persetujuan dari Ibu Suri Tzu Hsi (Cixi,red.). Pada tahun 1898, kaisar Kuang Hsu telah ditangkap atas perintah Kaisarina Tzu Hsi dan sejak itu Kaisar yang penuh ide modern tidak lagi banyak berarti, hingga wafatnya di tahun 1908.

Perubahan Besar Di Tiongkok

Kota-kota yang terutama mendapatkan hubungan telegraf atas prakarsa Li Hung Chang (perdana menteri, red.). Hubungan kawat pertama di Tiongkok telah terbentuk tahun 1881 antara Shanghai dan Tientsin. Berbagai jalan kereta api dibuka, misalnya antara Tangku-Tientsin dan di Formosa. Tapi terjadi juga reaksi terhadap "semangat baru" tersebut, terutama dalam bentuk kebencian terhadap orang asing, atau dalam bentuk yang lebih wacana, memberikan peringatan agar orang tidak membiarkan dirinya terlalu dipengaruhi Barat. Chang Chih Tung, seorang anggota Akademi Hanlin (semacam biro kesarjanaan, red.) pernah menuliskan "Chuen Hsioh Pian" (yang salinan Inggrisnya mempergunakan istilah "China's Only Hope") di mana ia mengakui keperluan untuk mengadakan PERUBAHAN-PERUBAHAN MENURUT MODEL BARAT, TAPI JUGA AGAR HAL INI ORANG TIDAK MELEWATI BATAS SEHINGGA TIDAK AKAN MENGINJAK-INJAK TRADISI TIONGHOA YANG SUDAH DIAKUI BERABAD-ABAD, DENGAN PENGAJARAN KHONGHUCU HARUS DIPEGANG TEGUH. (tulisan serupa diambil dari laporan Kwee Kek Beng dalam buku "Beknopt Overzicht der Chinnesche Geschiedenis", red.).

Reaksi ini dilukiskan juga oleh Ku Hung Ming dalam bukunya "The Story of a Chinese Oxford Movement". (tulisan mana diambilkan dari penuturan Kwee HingTjiat dalam buku "Doe Kapala Batoe", red.). Antara tahun 1894-1895 terjadi perang Tiongkok-Jepang yang kesudahannya lebih dari sekedar kekalahan bagi Tiongkok saja, melainkan juga membuka mata kalangan Tionghoa mengenai kelemahan Tiongkok. Kemudian orang tiba di tahun 1898, suatu tahun penting dalam sejarah modern Tiongkok. Dalam tahun inilah telah dilakukan suatu aksi yang dikenal dengan sebutan "perubahan dari tahun 1898" yang dikepalai oleh Kang Yu Wei. Menurutnya, situasi sangat tidak menyenangkan yang sedang hidapai Tiongkok pada saat itu, adalah akibat dari kondisi sosial di mana orang sudah tidak lagi mengikuti tradisi dan kesusilaan Tionghoa lampau dan karena orang tidak lagi mampu menghadapi perubahan-perubahan baru.

Menurut kalangan pendorong perubahan tersebut, peraturan pemerintahan, pelajaran dan hukum haruslah diuubah di atas dasar yang memiliki sifat Barat (modernisasi sistem, red.). Di sekolah harus diajarkan ilmu-ilmu pengetahuan yang baru dan murid-muridnya mesti dikenalkan dengan pengertian-pengertian Barat. Kaisar Kuang Hsu menyetujui pemikiran Kang Yu Wei, namun kaum kolot tidak senang dengan perubahan-perubahan yang hendak dilakukan, dan celakanya kaum ini punya pelindung tidak lain dari Ibu Suri Tzu Hsi. Sementara itu, kaum perubahan memandang Ibu Suri tidak lain adalah sutau rintangan bagi kemajuan Tiongkok, sehingga mereka berencana untuk mengurangi kekuasaan Ibu Suri.

Sayangnya semua ini dapat diketahui Ibu SUri yang kemudian bertindak mendahului: Pada tanggal 22 September 1898 Kaisar Kuang Hsu ditangkap atas perintahnya. Karena kejadian ini persis berlangsung selewat 100 hari semenjak Kaisar Kuang Hsu mengeluarkan firman perubahan yang pertama, maka gerakan perubahan di tahun 1898 tersebut disebut sebagai "Perubahan 100 hari". Kang Yu Wei sempat meloloskan diri dari bencana dengan melarikan diri dan mengembara ke luar Tiongkok. Ia bahkan pernah mengunjungi Pulau Jawa pada tahun 1903 sebagai tamu Tionghoa Hwee Koan, yaitu setelah ia menanyakan dari Penang kepada Tionghoa Hwee Koan apakah perkumpulan ini bersedia menerima kedatangannya di negeri kepulauan ini.

Sedikit waktu sebelum Tionghoa Hwee Koan di Jakarta (teks aslinya adalah Batavia, red.) didirikan, di Tiongkok terjadi huru-hara Pak Kun Tauw (Boxer, red.). Permulaannya sudah terjadi semenjak tahun 1899 di Shantung dan Chili. Keributan Pak Kun Tauw berakhir tahun 1901. Saat keadaan di Tiongkok pada masa menjelang pendirian Tionghoa Hwee Koan dipenuhi bermacam-macam kejadian, pada tahun 1900 pun adalah tahun yang luar biasa di Indonesia (teks aslinya adalah Hindia Belanda, red.), sebagaimana yang Tn. P.H. Fromberg sebutkan dalam bukunya "De Chineesche Beweging op Jawa".

Fromberg, yang merupakan sahabat Tionghoa, menamakan tahun itu "luar biasa", bukan saja karena didirikannya Tionghoa Hwee Koan, namun juga karena telah diambilnya keputusan untuk menghapuskan monopoli perdagangan candu dan pegadaian; saat pembuatan percobaan pengaturan candu dan pegadaian, monopoli jagal juga sudah dihapuskan dan dikeluarkan juga dekrit untuk mendirikan bank perkreditan tanah perkebunan. Pada waktu inilah sejumlah tokoh mendapat pemikiran untuk mendiirkan suatu perkumpulan baru di Jakarta, suatu perkumpulan "yang bersifat lain daripada yang lain" atas dasar yang luas dan dengan menyandarkan diri kepada kesusilaan Tionghoa dan terutama pengajaran Khonghucu.

Siapa yang menjadi inisiator untuk mendirikan perkumpulan baru ini, yang akan memikul kewajiban di atas pundaknya sendiri mengenai perubahan-perubahan dalam perilaku kesusilaan dan sosial dari kalangan Tionghoa, memang sulit untuk diketahui dengan pasti. Khouw Kim An, salah satu pengurus Tionghoa Hwee Koan, yang menjadi penyantun perkumpulan, mengatakan bahwa di antara orang-orang yang giat membahas pendirian perkumpulan adalah Tan Kim San, Lie Kim Hok dan Lie Hin LIam yang telah bekerja keras untuk membuat publikasi untuk perkumpulan yang hendak didirikan. Pengerak-pengerak perkumpulan yang hendak didirikan ini, di mana pergerakan Tionghoa di Jawa bisa dikatakan telah dimulai, tidak kenal lelah mengajak penduduk Tionghoa untuk ambil bagian di dalam pergerakan.

Setelah pembicaraan memperoleh kemajuan, pada suatu hari di rumah Phoa Keng Hek di daerah Mangga Besar datanglah berkunjung empat orang yang terdiri dari Tan Kim San, Oey Koen Ie, Lie Hin LIam dan seorang yang namanya tidak diingat oleh Phoa Keng Hek. Mereka menuturkan kehendak untuk mendirikan suatu perkumpulan baru dengan tujuan terutama di dalam hal kesopanan (etika, red.). Untuk menjadi Presiden dari perkumpulan, terpikir untuk mengundang Kapiten Oey Giok Koen. Para tamu meminta Phoa Keng Hek untuk juga ikut ambil bagian dalam pendirian perkumpulan dan mengundang diadakannya pertemuan di salah satu tempat di Patekoan yang sekarang masih ditempati dan menjadi milik Tionghoa Hwee Koan (ini dalam konteks tahun 1940, red.)

Akhirnya bisa diadakan suatu pertemuan pengurus. Sayangnya tidak ditemukan notulensi, namun bisa jadi pertemuan itu dilakukan pada tanggal 17 Maret 1900 atau 17 Ji Gwee 2451. Pertemuan untuk pendirian baru dihadiri Phoa Keng Hek saat sudah dimulai. Ketika ia datang, para peserta sudah mencapai agenda pemilihan pengurus. Oleh peserta pertemuan, Phoa Keng Hek kemudian diangkat menjadi Presiden dari perkumpulan Tionghoa Hwee Koan yang baru didirikan tersebut. Ia menolak dengan keras, namun dikarenakan desakan yang sangat kuat dari peserta, tidak ada jalan menghindar lagi. Lie Hin Liam pada sat itu membujuk agar ia menerima saja pengangkatan itu, karena perkumpulan yang baru dibentuk toh "tidak bisa bertahan lama."

Oey Giok Koen (kapiten Tangerang, red.) yang sebelum didirikannya perkumpulan sudah disebut-sebut akan diminta menjadi Presiden, telah menolak dengan alasan--menurut keterangan Khouw Lam Tjiang-- karena saat itu merupakan Presiden perkumpulan Kematian Cu Hu Tee Beng, sehingga tidak punya banyak waktu untuk memegang tampuk pimpinan Tionghoa Hwee Koan. Kalau dikatakan sulit untuk mengetahui dengan pasti siapa yang berinisiatif mendirikan perkumpulan ini, tidak begitu halnya dengan pendirinya. Pendiri Tionghoa Hwee Koan ada 20 orang……Mereka adalah Phoa Keng Hek (yang meninggal dunia tahun 1937 pada usia 80 tahun), Khoe A Fan, Ang Sioe Tjiang, Kapiten Oey Giok Koen, Oey Koen Ie, Tan Kong Tiat, Lie Hin Liam, Nio Hoey Oen, Phia Lip Tjay, Khouw Kim An, Tan Tian Seng, Ouw Tiauw Soey, Ow Sian Tjeng, Oen A Tjoeng, Lie Kim Hok, Khoe Siauw Eng, Khoe Hiong Pin, Khouw Lam Tjiang dan Tjoa Yoe Tek.

SIAPA YANG TELAH MENGAJUKAN USULAN UNTUK MENGGUNAKAN NAMA TIONGHOA HWEE KOAN?

Yang mengusulkan penggunaan nama ini menurut keterangan Khouw Kim An adalah Khoe Siauw Eng (menurut cerita, nantinya ikut KK Tjong Hwee, red.) Dalam nama ini terkandung rujukan bahwa perkumpulan yang baru didirikan itu HARUS MEMILIKI TUJUAN-TUJUAN MODERN, LAIN DARI PERKUMPULAN-PERKUMPULAN YANG SUDAH ADA. Ada dua peristilahan "Tiong Hoa ". Pada waktu itu istilah Tionghoa tidak banyak dipakai sebagaimana sekarang. Orang Tionghoa sebut diri sendiri "orang Tjina". Kalau membaca buku cerita Tionghoa dalam bahasa Melayu yang diterbitkan di jaman tersebut, orang sering mendapti istilah "negeri Tjina" buat Tiongkok dan "orang Tjina" buat orang Tionghoa. Juga dalam Anggaran Dasar dipakai istilah "Tjina" dan bukan "Tionghoa". Dalam perubahan Anggaran Dasar yang diterima bulat oleh oleh rapat anggota luar biasa pada tanggal 16 Januari 1928 dab disahkan dengan keputusan Sri Paduka Gubernur Jenderal tertanggal 1 Juli 1930, barulah istilah Tjina diganti dengan istilah Tionghoa. Hingga pada saat Tionghoa Hwee Koan baru didirikan dapat dikatakan bahwa namanya tersebut mengadnung sifat-sifat modern yang cocok dan sebanding dengan tujuan-tujuan modern yang hendak dicapainya. (ada catatan dari para penulis mengenai Tionghoa sebagai ungkapan umum yang sudah diterima bahkan semenjak jaman purba, red.)

Maksud didirikannya Tionghoa Hwee Koan dilukiskan dalam pasal 2 Anggaran Dasar yang berbunyi:

"Maksud perkumpulan ini untuk mengadakan dan menjalankan suatu yayasan yang mesti menanggung semua biaya sebagaimana diperlukan untuk:

  1. Bikin maju istiadat kalangan Tionghoa, sebisa-bisanya dengan mengikuti aturannya Nabi Khonghucu serta tidak bertentangan dengan adat kesusilaan, dan selanjutnya membuat maju kalangan Tionghoa pengetahuan mengenai surat-menyurat (tulisan, red.) dan bahasa.
  2. Mengadakan dan menjalankan guna memastikan apa yang disebut dalam huruf a di atas, gedung dan sebagainya untuk jadi tempat berkumpul, membicarakan pengurusan perkumpulan dan hal-hal lain untuk keperluan orang banyak, tanpa melanggar Undang-Undang negara.
  3. Mengadakan suatu penghimpunan berbagai buku, yang berguna buat pengetahuan dan pemahaman."

Jadi, pengajaran Khonghucu menempati kedudukan penting dalam tujuan Tionghoa Hwee Koan, sehingga --sebisa bisanya-- akan digunakan sebagai pedoman untuk mengadakan perubahan-perubahan dalam adat-istiadat kalangan Tionghoa. ORANG MENGAMBIL KEPUTUSAN UNTUK MENYANDARKAN DIRI KEPADA UJAR-UJAR KHONGHUCU, TIDAKLAH MENGHERANKAN, KARENA KHONGHUCU SEMENJAK LAMPAU HINGGA SEKARANG DIPANDANG SEBAGAI GURU BESAR BAGI ORANG TIONGHOA, PENGJARANNYA JUGA SUDAH MENDAPATKAN PENGHARGAAN SAMPAI DI LUAR WILAYAH TIONGKOK.

Dalam bulan Juli 1900, pengurus Tionghoa Hwee Koan menyebarkan seruan kepada masyarakat Tionghoa dalam bentuk buku kecil dengan judul "Surat Kiriman kepada Sekalian Orang Bangsa Tjina" tentang sebab-musabab pendirian Tionghoa Hwee Koan, maksud dan tujuan dan pujian kepada pengjaran Khonghucu, antara lain:

"ADA PENGAJARAN BEGITU INDAH DAN TERPUJI DAN DIBERIKAN OLEH KITA SENDIRI PUNYA NABI! MENGAPA KITA TIDAK MENCARI JALAN UNTUK MENDAPATKAN ITU?

Oleh karena mengingat bahwa di antara kita, orang Tionghoa di sini banyak yang belummengenal pengjaran Khonghucu atau petuahnya yang amat baik dan berfaedah besar, maka kami, 20 orang, sudah bersepakat untuk mendirikan satu perkumpulan yang dinamakan Tionghoa Hwee Koan.

Tujuan perkumpulan ini tersebutkan dalam Peraturan yang disahkan Sri Paduka Tuan Besar Gubernur Jenderal dengan firman bertanggal 3 Juni 1900 no. 15 dan dinyatakan juga di dalam Peraturan Perkumpulan yang nantinya akan juga diserahkan kepada Sri Paduka Tuan Besar agar disahkan. Sekarang biarlah kami tuturkan di sini, bagaimanakah niat dan harapan perkumpulan.Pertama, harapan untuk menghilangkan atau mengurangi segala kebiasaan yang memberatkan orang-orang Tionghoa dalam hal kematian dan perkawinan. Penyederhanaan ini nantinya, akan mempertimbangkan hasil rapat pengurus dan ditetapkan dengan suara terbanyak dalam rapat anggota yang akan membahas hal tersebut.

Pengharapan yang kedua, adalah sebagaimana tersebut di bawah ini:

  1. Dalam hal membuat maju alias memperbaiki adat istiadat Tionghoa, maka dengan sebisa mungkin akan diterapkan aturan yang sesuai dengan pengajaran atau petuah Nabi Khonghucu. Pengertian dengan sebisa mungkin adalah sedapat mungkin yang bisa dilakukan orang Tionghoa di Indonesia ini, dengan mengikuti pertimbangan rapat umum anggota.
  2. Dalam hal membuat maju pengetahuan atas surat-menyurat (tulis-menulis, red.) dan bahasa, akan diadakan gedung-gedung sekolah."

Demikianlah pernyataan resmi pendirian Tionghoa Hwee Koan dan maksud-maksudnya. Harus dicatat bahwa Surat Kiriman itu ditulis bulan Juli 1900, berselang 4 bulan dari saat pendirian Tionghoa Hwee Koan yang sebenarnya yaitu 17 Maret 1900 atau 17 Ji Gwee 2451, sebagaimana ditemukan dalam notulen no. 7 dari Rapat Umum Anggota pada hari Sabtu 13 April 1901 malam, pada butir II agenda, yaitu pengangkatan pengurus baru dikarenakan usia kepengurusan lama sudah lewat satu tahun. Tidak heran dalam Surat Kiriman sudah diutarakan harapan untuk mendirikan sekolah, sementara dalam Anggaran Dasar yang awal, tidak ada keterangan mengenai pendirian sekolah sebagai salah satu tujuan perkumpulan. Tentang maksud tersebut dan daya upaya untuk mencapainya, kita bisa mendapatkan keterangan resmi lebih jauh. LHW van Sandick yang waktu itu menjadi Pejabat Pengawas Dalam Negeri di bilangan luar Jawa dan Madura dan belakangan menjadi petugas Mahkamah Hindia dan kemudian meninggal di Bandung tahun 1936, ketika sedang cuti di 's Gravenhage sempat menulis surat kepada Phoa Keng Hek tertanggal 1 Agustus 1908 untuk meminta keterangan mengenai Tionghoa Hwee Koan. Untuk mendapatkan keterangan yang diinginkannya, van Sandick mengajukan 14 pertanyaan. Surat ini dibicarakan dalam rapat pengurus tanggal 15 September 1908 yang dipimpin Khoe A Fan sebagai ketua sidang. Sebagaimana kebiasaan di waktu itu, untuk menjawab pertanyaan telah dibentuk satu komisi khusus di bawah pimpinan Phoa Keng Hek dengan anggota Kan Hok Hoei (lebih dikenal sebagai HH Kan, red.) Kapiten Khouw Kim An, Letnan Lie Hin Liam, Lie Kim Hok, Tan Tjonmg Long, Ang Sioe Tjiang dan Tan Kim Bo sebagai sekretaris. Komisi ini mengajukan rancangan jawaban dan keterangan di dalam rapat anggota luar biasa t25 Oktober 1908.

Pertanyaan pertama van Sandick: Dengan maksud apa THHK didirikan? Jawab komisi adalah: "THHK didirikan untuk memajukan pengetahuan dan kesusilaan antara orang-orang Tionghoa agar mereka tidak tinggal bodoh atau berdeajat rendah." Agar lebih tegas, komisi memberikan keterangan lebih jauh atas butir jawaban tersebut. Keterangannya adalah sebagai berikut:

"SUDAH LAMA SEKALI ORANG TIONGHOA MENGINGINKAN HAL TERSEBUT, YAITU MEMAJUKAN PENGETAHUAN DAN KESUSILAAN (etika, budaya, red.). KESUSILAAN YANG TINGGI TELAH ADA DI KALANGAN TIONGHOA BAHKAN SEDAR BELUM DILAHIRKANNYA NABI KHONGHUCU, YANG PADA MASANYA TELAH PULA MEMPERBAIKI KEADAAN KITAB-KITAB ADAT KESUSILAAN SOSIAL DAN LAIN-LAIN. KALANGAN TIONGHOA SEBENARNYA CUKUP DIBUKAKAN SAJA PIKIRANNYA, AKAN MENJADI LEPAS DARI KEBODOHAN DAN KONDISI SOSIAL YANG RENDAH. INILAH YANG MENIMBULKAN GERAKAN DIDIRIKANNYA TIONG HOA HWEE KOAN."

Keterangan ini, dan juga keterangan lain, dimasukkan van Sandick dalam bukunyak"Chineezen buiten China" (Orang Tionghoa di luar Tiongkok) yang terbit tahun 1909. Begitu juga surat Phoa Keng Hek kepadanya dan Anggaran Dasar Tionghoa Hwee Koan sebagaimana sudah diubah dan disahkan dengan keputusan Sri Paduka Gubernuur Jenderal tanggal 3 Mei 1901 dan 18 Maret 1904. Apabila kita bandingkan keterangan ini dengan bunyi pasal 2 Anggaran Dasar, kita mendapati kenyataan bahwa maksud yang dilukiskan konisi dengan statuta adalah serupa. Satu kekecualian adalah di dalam keterangan dari Komisi tidak disebut-sebut "sebisa-bisanya dengan mengikuti aturannya nabi Khonghucu", namun ini sebetulnya tidak menjadikannya berbeda sedikitpun, oleh karena orang Tionghoa semuanya menghargai pengajaran yang diberikan Khonghucu. Tapi, di samping itu, kelihatannya ada maksud lain yang membuat pendiri-pendirinya bekerja keras menciptakan Tionghoa Hwee Koan. Hal ini bisa diketahui dari uraian salah seorang pendirinya, yaitu Khouw Kim An yang sekarang menjadi Majoor der Chineezen dan penyantun Tionghoa Hwee Koan.

Saat diadakan acara minum teh untuk merayakan ulang tahun ke-36 THHK pada tanggal 3 Juni 1936, Khouw Kim telah mbuat penuturn ringkas mengenai perkumpulan ini pada saat baru terlahir. Ia mengatakan, THHK semula dimaksudkan untuk merapatkan pergaulan pergaulan di antara kalangan Tionghoa tanpa membedakan propinsi atau kampung asalanya, dengan maskud juga memperbaiki kebiasaan-kebiasaan dari kalangan Tionghoa tersebut (yang dirasakan tidak baik, red.), dan selain itu juga untuk menyebarkan ajaran Khonghucu sebagai tujuan yang utama.

Apakah merapatkan pergaulan kalangan Tionghoa tanpa perbedaan propinsi atau kampung untuk memperbaiki kebiasaan-kebiasaan dari kalangan Tionghoa, juga harus dianggap sama penting dan sama besarnya dengan upaya memajukan adat istiadat dan memajukan pengetahuan kalangan Tionghoa atas surat-menyurat dan bahasa sebagaimana disebutkan dalam anggaran dasar? Sebagaimana diketahui, kalangan Tionghoa di Indonesia terdiri dari beberapa golongan seperti Hokkian, Khe, Khongfu dan sebagainya. Meskipun apabila dilihat dari kacamata kebangsaan mereka itu sama, yaitu dengan cara menyingkirkan propinsialismenya, toh kadang-kadang antara satu dan lainnya muncul hal-hal yang patut disesalkan. Merapatkan pergaulan mereka dengan tidak kenal perbedaan propinsi atau kampung, inilah yang Tionghoa Hwee Koan wajibkan ke segenap kalangan. Dengan melihat susunan pengurus pertama, orang pun bisa mendapati kenyataan bahwa meskipun tidak tertulis hitam di atas putih, adalah salah satu pertimbangan untuk diindahkan. Di dalam kepengurusan pertama, jelas duduk orang Tionghoa peranakan dan orang Tionghoa totok dari berbagai golongan. Dalam Surat Kiriman, pengurus pun menunjukkana danya dukungan dari berbagai golongan: "Lebih jauh, biarlah kita sebutkan juga di sini, bahwa di saat perkumpulan ini dijalankan, sudah ada seratus hampir 100 orang banyaknya, di antaranya ada orang Khe totok dan peranakan, Hokkian totok dan peranakan, hingga ada juga orang Kongfu yang membantu perkumpulan ini, sedangkan kita punya kepala Tionghoa,

Paduka Majoor Tio Tek Ho adalah penyantun dari perkumpulan ini. Jelas nyata bahwa berbagai kalangan sama-sama bermufakat dalam perkumpulan ini." TEGASNYA THHK ADALAH SUATU PERKUMPULAN TIONGHOA UMUM, YAITU UNTUK SEMUA GOLONGAN TIONGHOA, YANG TERUTAMA BERGERAK DALAM BIDANG KEBUDAYAAN. THHK hendak memajukan adat-istiadat kalangan Tionghoa, sebisa-bisanya dengan mengikuti ajaran Khonghucu, dan juga hendak memajukan pengetahuan surat-menyurat dan bahasa, untuk mana akan diadakan dan diselenggarakan satu rumah dan sebagainya untuk dijadikan tempat pengurus berkumpul membicarakan hal-hal terkait perkumpulan dan lainnya untuk kepentingan orang banyak, dan terlebih jauh hendak mengadakan suatu kumpulan buku-buku yang berguna bagi pengetahuan dan pemahaman, tegasnya hendak juga mendirikan perpustakaan.

Kelihatan nyata, semula THHK didirikan sebagai satu perkumpulan yang terutama bekerja untuk kesusilaan. Soal pendidikan tidak ada disebutkan dalam anggaran dasar yang pertama. Nyata pada waktu didirikan, orang tidak terpikir untuk bekerja dalam bidang pendidikan. Tionghoa Hwee Koan adalah satu perkumpulan sosial umum, yang bisa disandingkan dengan suatu kelompok belajar untuk merundingkan bermacam hal-hal kebudayaan. Kegiatan pendidikan dimulai satu tahun kemudian setelah berdirinya perkumpulan dan baru belakangan dimasukkan dalam anggaran dasar, yaitu dengan perubahan dan penambahan yang disahkan dengan keputusan Sri Paduka Gubernur Jenderal tertanggal 18 maret 1904. Begitulah, di angkasa Tionghoa telah muncul satu bintang baru, yang akan dengan segera memancarkan sinarnya yang bercahaya DAN MENARIK PERHATIAN DARI SELURUH INDONESIA, BUKAN SAJA DARI SESAMA KALANGAN TIONGHOA, NAMUN JUGA DARI KALANGAN-KALANGAN LAINNYA SEPERTI BELANDA, PRIBUMI DAN LAIN-LAIN. Tiong Hoa Hwee Koan sudah berdiri sejak tanggal 17 Maret 1900 atau 17 Ji Gwee 2451, tetapi perkumpulan ini baru terhitung resmi berdiri pada tanggal 3 Juni 1900, yaitu tanggal keluarnya keputusan dari Sri Paduka Gubenrur Jenderal yang mengakui keabsahan perkumpulan menurut apa yang ditetapkan dalam pasal 3 statuta yang berbunyi, "Perkumpulan ini didirikan untuk d29 tahun dan 11 bulan lamanya terhitung dari harian peraturan ini disahkan Sri Paduka Gubernur Jenderal, hingga perkumpulan ini memiliki hak hukum." Keputusan ini bernomor 15 dan dimuat dalam "Javasche Courant" 8 Juni 1900 no. 46 (maksudnya adalah semacam pengumuman negara, red.).

Ketika THHK baru didirikan, rupanya perkumpulan ini dipandang dengan curiga oleh Pemerintah. Di dalam statuta dimuat suatu ketentuan bahwa pengawasan akan tetap dilakukan oleh dinas yang bersangkutan, meskipun pengesahan sudah diberikan oleh Gubernur Jenderal. Tapi dalam statuta yang sudah diubah dan disahkan Sri Paduka Gubernur Jenderal tanggal 3 Mei 1901 dan dimuat dalam "Javasche Courant" 10 Mei 1901, ketentuan itu dihapus. Kecurigaan ini bisa jadi disebabkan kekawatiran bahwa perkumpulan ini akan menempuh haluan politik yang tidak diinginkan. Terbukti bahwa kecurigaan itu ternyata tidak beralasan. Sambutan pihak Tionghoa pada pendirian Tionghoa Hwee Koan pun berbeda-beda. Ada yang bergirang dengan perkumpulan yang memiliki tujuan luas ini, tetapi di lain pihak ada juga yang anti.

SIKAP ANTI TIONGHOW HWEE KOAN TERUTAMA MUNCUL DARI GOLONGAN YANG MAU BERKUKUH DENGAN KEBIASAAN-KEBIASAAN DI WAKTU ITU YANG JUSTRU HENDAK DIUBAH ORANG-ORANG YANG MENDIRIKAN TIONGHOA HWEE KOAN. JUSTRU KARENA PERUBAHAN HENDAK DILAKUKAN BERDASARKAN PENGAJARAN KHONGHUCU, GOLONGAN YANG BENCI TIONGHOA HWEE KOAN MENJULUKI PEMIMPIN-PEMINPIN DAN PENGURUS-PENGURUS THHK SEBAGAI…..ORANG-ORANG MABOK KHONGHUCU!

Di antara keburukan-keburukan dalam masyarakat Tionghoa yang terutama hendak dibasmi --menurut penuturan Khouw Kim An-- adalah perjudian. Anggota pengurus dan anggota biasa dari perkumpulan ini dilarang keras berjudi, baik di tempat umum maupun dalam rumah buat iseng-iseng. Dengan cara demikian, nampak pemisahan yang tegas di dalam pesta-pesta Tionghoa antara golongan THHK dan yang anti perkumpulan. Kalangan THHK menjauhkan diri dari kartu dan berkumpul dengan kalangannya saja, terpisah dari yang lain.

Pertentangan antara kedua golongan itu membuat kalangan yang menghendaki perubahan, yaitu pihak THHK dapat julukan "Kaum Muda", sementara mereka yang tidak setuju dengan gerakan, beroleh sebutan "Kaum Kolot"."Di antara yang bertanya ada yang bertanya tentang sne Ng dan sne Tjioe. Susah payah penulis menjelaskannya, karena mereka sudah tak mengerti bahasa Tionghoa lagi, apalagi huruf Mandarinnya. Yang perlu ditanyakan, adalah: dari kelompok dialek mana ia berasal? Apakah ia orang Hokkian atau orang Kheq? Kalau Hokkian Ng adalah Ui atau Huang dalam Mandarin, kalau Kheq Ng adalah Gou atau Wu dalam Mandarin. Jadi pertanyaan saya sne Ng bagaimana menulisnya tidak bisa dijawab tanpa keterangan tambahan. Orang sne Ng di Indonesia belum tentu satu sne. Itulah pentingnya mengetahui kelompok dialek, setelah tahu anda orang Kheq (Hakka) misalnya, baru cari dari daftar sne yang akan dimuat di milis ini, huruf mana yang dialek Kheqnya Ng. Demikian juga orang sne Tjioe. Tanya dulu, ia orang Hokkian atau Konghu? Kalau Hokkian Tjioe adalah Zhou Mandarin, kalau Konghu, Tjioe adalah Tio Hokkian atau Zhao Mandarin. Karena itu penting sekali mengetahui anda berasal dari dialek mana? Kalau sudah tidak tahu sama sekali, coba lihat panggilan di rumah sebelum zaman orba, kalau and memanggil paman asuk dan isterinya sukme, maka anda adalah orang Kheq (Hakka), kalau anda memanggil encek/ancek/acek dan isterinya encim, ancim atau acim, maka anda adalah orang Hokkian. Orang Hokchnia meskipun sangat berhasil dalam bidang ekonomi di Indonesia, tapi jumlahnya tidak banyak, dan kebanyakan menerima dialek Hokkian dalam penulisan nama. Hokchnia sne Lin Mandarin, harusnya Lieng, tapi di Indonesia kebanyakan mereka menggunakan Lim, dialek Hokkian, termasuk taipan Lim Siu Liong. Oleh karena itu ada manfaatnya mengetahui dialek asal anda meskipun anda sudah tak mampu berbicara dengan dialek itu.

Last modified onMonday, 12 August 2013 09:04
Rate this item
(1 Vote)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/konten/esai/item/55-terciptanya-tiong-hoa-hwee-koan

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto