A+ A A-

Pancasila dan Budaya Tionghoa

  • Written by  Xuan Tong
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Kong Zi tidak pernah mengatakan harus berkiblat pada negri leluhur, tapi mengabdilah pada negara tempat kamu tinggal dan menjadi warga negaranya dan jagalah. Arti kata guo yang berarti adalah tembok wilayah, satu orang memegang tombak sudah bermakna harus menjaga keutuhan wilayah atau negara.

Budaya-Tionghoa.Net | Jika kita menilik sejarah lahirnya Pancasila, ternyata berubah-rubah dan juga ada kompromi-kompromi yang menurut saya dilakukan oleh orang-orang beragama yang bersendikan Tuhan Yang Maha Esa. Sepanjang yang saya dapatkan dari hasil pencarian ternyata ada hal yang menarik perhatian saya.



Usulan ini diajukan pada tanggal 29 Mei 1945, kemudian pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno mengajukan usul mengenai calon dasar negara yang terdiri atas lima hal, yaitu:

  1. Nasionalisme (Kebangsaan Indonesia)
  2. Internasionalisme (Perikemanusiaan)
  3. Mufakat atau Demokrasi
  4. Kesejahteraan Sosial
  5. Ketuhanan yang Berkebudayaan

Sekali lagi, menurut saya jika kita mau meneliti sejarah lahirnya Pancasila, ternyata ada kompromi dan pandangan-pandangan keTuhanan yang berasal dari budaya Timur Tengah tempat lahirnya agama yang kita sebut agama Samawi. Sungguh menyedihkan sekali, bagaimana porsi agama atau kepercayaan suku-suku yang ada di Nusantara ini, sebagai contoh kepercayaan atau agama Sunda Wiwitan, Kaharingan, Kejawen dan masih banyak lainnya.

Dengan adanya Pancasila yang kemudian mengakui lima agama ( cat:sekarang menjadi enam ), bagaimana posisi agama-agama suku-suku tersebut ? Apakah harus mengatakan bahwa apa yang dipercayai adalah bukan agama tapi kepercayaan ?  Jika anda hendak mengatakan bahwa Pancasila adalah nilai-nilai yang digali dari Nusantara ini, mohon tanya apakah kerajaan Sriwijaya, Tarumanegara sudah mengenal konsep Monotheism atau masih berkonsep Polytheism ?

Jika kita melihat dan membaca apa yang saya copy paste diatas dari yang dipikirkan Soekarno pada butir ke lima yaitu 5. Ketuhanan yang Berkebudayaan,  menurut pandangan anda, bisakah pandangan Soekarno mencakup semua aliran kepercayaan atau agama-agama ( Saya lebih suka menggunakan istilah agama dibandingkan dengan aliran kepercayaan yang menurut saya merendahkan derajat apa yang diyakini oleh suku-suku yang ada ) suku-suku yang ada di seluruh Nusantara setara dengan lima agama yang diakui oleh negara ?


Bukankah dengan apa yang saya kutip itu adalah suatu pemikiran luhur dari Soekarno untuk menampung semua agama baik yang bersifat Monotheism dan Polytheism ? Bukankah itu suatu toleransi yang amat luar biasa ? Bisakah Soekarno memahami apa yang dimaksud Bhinneka Tunggal Ika ?
Jadi apa yang diutarakan oleh sdr.Joao Kho tentang Bhinneka Tunggal Ika, sungguh saya amat suka karena mengandung makna yang luas, tidak sekedar berbicara bermacam-macam tapi satu jua.
Lengkapnya adalah

Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinn�ki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal,
Bhinn�ka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Terjemahan:

  • Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.
  • Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?
  • Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal
  • Terpecah belahlah itu, tetapi satu jualah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.

http://id.wikipedia.org/wiki/Bhinneka_Tunggal_Ika

Bisa anda bayangkan pada jaman itu leluhur bangsa Indonesia sudah mengenal toleransi dalam menghargai apa yang mereka percayai, sedangkan pada masa itu hingga abad 21 ini, mereka yang mengaku berkeTuhanan Yang Maha Esa selalu berperang demi Tuhannya mereka. Karena itu, Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan bangsa Indonesia yang harus dijunjung tinggi. Bukan sebaliknya, anda menggunakan kata Pancasila untuk menohok orang lain yang tidak sepaham akan Tuhan yang anda yakini.Apakah ajaran luhur seperti itu ada dalam agama yang anda yakini ?

Jika anda membawa nama Soekarno untuk Pancasila, maka menurut beliau,  Pancasila bisa diperas menjadi satu yaitu gotong royong, dan gotong royong sudah merupakan budaya Tionghoa dan juga budaya di suku-suku yang ada di Nusantara ini, terlepas apakah mereka beragama Polytheism atau Monotheism.

Saya bisa menuangkan apa yang terkait dalam Pancasila ada dalam budaya Tionghoa.

Dalam Ketuhanan Yang Maha Esa , Tentang Tuhan dalam budaya Tionghoa atau mau digunakan kata Gaya Misterius (Istilah father Van Schie ini amat tepat menurut saya ), sudah dijelaskan berkali-kali di diforum ini. Dan konsep keTuhanan budaya Tionghoa itu seperti konsep budaya India maupun Yunani pra penghancuran agamanya oleh agama lain. Bahkan beberapa pandangan ada mirip-mirip dengan agama-agama yang diyakini di sebagian Eropa. Untuk jelasnya, jika saya ada kesempatan akan saya bahas kemiripan-kemiripan yang ada.

Dalam Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab , Budaya Tionghoa mengenal kata "ren" yang berarti adalah kemanusiaan. Bahkan kata keadilan dan beradab sudah tertuang dalam banyak aliran filsafatnya.

Dalam Persatuan Indonesia , adalah salah pandangan beberapa orang Tionghoa yang kebetulan beragama lain ( Ini bukan bertujuan meributkan agama, tapi fakta yang tertulis dalam sejarah ) pada masa ORLA yang beranggapan bahwa agama Khong Hucu berkiblat pada negri leluhur. Kong Zi tidak pernah mengatakan harus berkiblat pada negri leluhur, tapi mengabdilah pada negara tempat kamu tinggal dan menjadi warga negaranya dan jagalah. Arti kata guo yang berarti adalah tembok wilayah, satu orang memegang tombak sudah bermakna harus menjaga keutuhan wilayah atau negara. Jika anda perhatikan, jauh sebelum konsep republik Indonesia sudah ada banyak tokoh-tokoh Tionghoa yang berjuang bahu membahu dengan tokoh-tokoh suku lain menentang penjajahan Belanda.

Dalam Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan , dapat dibaca konsep Ru Jiao terhadap masalah negara dan masyarakat, niscaya bisa melihatnya dengan jelas. Dan anda bisa mensearching di milist ini.

Dalam Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia , bisa dilihat konsep min yi shi wei tian yang menurut saya dapat diartikan seperti itu, juga prinsip menghargai sesama yang diajarkan Kong Zi. Dan itu juga ada di milist ini.

Hormat Saya

Xuan Tong

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/konten/esai/item/635-pancasila-dan-budaya-tionghoa

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto