A+ A A-

Sejarah Perkembangan dan Seluk Beluk Agama Tao [1] - Masa Klasik Taoisme

  • Written by  Ivan Taniputera + Xuan Tong
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Confusianisme juga membahas mengenai Tao ini. Hanya saja masing- masing ahli filsafat memiliki pengertian yang berlainan. Di Tiongkok, Taoisme merupakan salah dari apa yang dinamakan "Tiga Ajaran" (bersama-sama dengan Buddhisme dan Konfusianisme). Taoisme mengalami perubahan secara bertahap secara perlahan dan merupakan penyatuan yang terus menerus antara berbagai macam aliran pemikiran kuno.

 

Artikel Terkait:

{module [201]}

 Periode awal Asal usul tradisi shamanistik (3000 ?800 SM)

Kita tidak mengetahui tanggal yang pasti mengenai kelahiran Taoisme, dan tanda-tanda keberadaan unsur-unsur luar yang diserap tidak pernah lenyap darinya. Apabila kita memandang unsur-unsur luar yang memperkaya Taoisme (yang diperoleh melalui inspirasi-inspirasi baru), maka kita akan melihat betapa terbukanya agama ini.
Taoisme
adalah agama yang selalu mengalami perkembangan dan evolusi, sehingga selain sulit untuk menentukan waktu kelahirannya, juga sulit untuk menentukan batas-batasnya. Sehingga Livia Kohn mengatakan: "Taoisme tidak pernah merupakan suatu agama yang terpadu, dan terbentuk dari kombinasi [berbagai] ajaran yang didasarkan atas beraneka macam sumber asli" (lihat buku karyanya yang berjudul "Taoist Mystical Philosophy: The Scripture of Western Ascension," Albany: State University of New York Press, 1991)

Meskipun tidak dapat menentukan tanggal yang pasti dari kelahiran Taoisme, namun untuk mengetahui asal muasalnya kita dapat kembali pada 5000 tahun yang lalu, tatkala sekelompok suku berdiam di tepi Sungai Kuning (Huang He) di Tiongkok Utara. Suku bangsa ini masih belum memiliki identitas kebangsaan. Mata pencaharian sehari- hari mereka adalah berburu, memancing, memelihara ternak, serta bercocok tanam gandum dan padi-padian. Pada masa itu mereka masih harus menaklukkan kekuatan-kekuatan alam, seperti amukan Sungai Kuning atau hewan-hewan buas yang memangsa ternak mereka. Legenda menyebutkan mengenai pemimpin-pemimpin mereka (kepala suku) yang memiliki kekuatan gaib luar biasa, di mana pemimpin- pemimpin tersebut mampu menaklukkan kekuatan gaib serta banjir Sungai Kuning.

Salah satu pemimpin tersebut adalah Yu. Legenda mengatakan bahwa Yu tidak memiliki ibu dan ia muncul secara langsung dari tubuh ayahnya yang bernama Kun. Saat itu Kun ditugaskan oleh pemimpin suku bernama Shun, untuk menanggulangi banjir Sungai Kuning. Ketika gagal Kun dihukum mati dan mayatnya dibiarkan tergeletak pada sisi gunung. Sementara itu selama tiga
tahun, Yu berada dalam tubuh ayahnya yang sudah meninggal. Ajaibnya, ternyata Kun dapat hidup kembali dan menjelma menjadi seekor beruang coklat, ia membelah perutnya sendiri dan mengelurkan putranya, Yu.

Dengan segera, Yu berubah menjadi beruang pula dan legenda mengatakan bahwa selama hidupnya Yu berubah-ubah wujudnya antara manusia dan beruang. Pada masa Dinasti Zhou, kira-kira seribu tahun setelah masa Yu yang legendaris, para pendeta masih berpakaian kulit beruang dan menari-nari seperti beruang untuk menghormati Yu yang Agung.

Kalau bicara beruang ,masih ada hubungan dengan marga Huang Di yaitu Xiong dan kerajaannya disebut Xiong juga alias beruang.

Kisah selanjutnya menyebutkan keberhasilan Yu di dalam menyelesaikan tugas yang gagal diselesaikan oleh ayahnya, yakni menanggulangi banjir. Keberhasilan ini dikarenakan ia diberi sebuah buku berjudul Shuijing (Kitab Kekuatan atas Air) oleh para makhluk- makhluk suci. Dikisahkan pula bahwa Yu mengadakan perjalanan secara teratur ke langit untuk mempelajari sesuatu dari para makhluk-makhluk kedewaan yang berdiam di angkasa (celestial spirit). Yu tidak hanya dapat berubah menjadi binatang, namun ia mengerti pula bahasa mereka.
Shun, sebagai pemimpin pada masa itu pada akhirnya menyerahkan kekuasaannya pada Yu.

Ketika banjir telah berhasil ditanggulangi, Yu melihat seekor kura-kura merangkak keluar dari sungai. Pada punggungnya terdapat gambar yang disebut dengan Loshu Bagua, yang menggambarkan perubahan serta transformasi yang terjadi di alam semesta ini. Pola ini menjadi dasar bagi teknik peramalan di Tiongkok pada masa-masa selanjutnya hingga kini.

Legenda-legenda yang dihubungkan dengan Yu memperlihatkan bahwa ia merupakan seorang shaman. Mircea Eliade dalam studinya mengenai shamanisme menyebutkan hal-hal berikut, yang merupakan pengalaman spiritual umum seorang shaman: terbang ke langit, melakukan tarian untuk mendatangkan kekuatan (seperti yang dilakukan dukun Indian Amerika serta suku-suku di Afrika), penerimaan pesan- pesan dari para makhluk suci, kemampuan untuk berbicara dengan hewan, kekuatan atas unsur-unsur alam, penyembuhan, serta pengetahuan mengenai tanaman obat-obatan.

Pada kenyataannya, masyarakat Tiongkok kuno pada jaman ini memiliki sekelompok orang yang disebut "wu." Tugas mereka menyerupai tugas-tugas seorang shaman. Dari fakta-fakta di atas, yakni legenda tentang Yu serta keberadaan para "wu", kita dapat menyimpulkan bahwa agama asli Bangsa Tionghoa adalah sejenis shamanisme. Ajaran yang tergolong shamanisme ini merupakan akar bagi perkembangan pemikiran- pemikiran berikutnya.

Hal lain yang bisa kita gali adalah para pemimpin suku (yang berikutnya menjadi para kaisar ?lihat bab 1 mengenai sejarah Tiongkok) juga merupakan seorang shaman. Tugas seorang shaman ini kemudian makin berkembang, pada masa Dinasti Zhou tugas mereka adalah: memanggil roh-roh halus, menafsirkan mimpi, membaca tanda-tanda untuk peramalan, memanggil hujan, menyembukan, serta menafsirkan makna peristiwa-peristiwa yang terjadi di angkasa (misalnya nampaknya komet atau bintang jatuh).


Masa Klasik (700 ?220 SM)

(i) Latar belakang awal, Lao Zi dan Tao Te Cing

Kini kita meninggalkan jaman legenda dan memasuki masa sejarah. Kita tiba pada masa seribu tahun setelah Yu, di mana pada masa itu Tiongkok dikuasai oleh Dinasti Zhou. Saat itu, kaisar tidak lagi merangkap sebagai seorang shaman, melainkan ia mendelegasikan tugasnya pada sekelompok orang yang digaji oleh kerajaan. Kaisar hanya hadir pada dua upacara keagamaan terpenting saja, yakni Upacara Mulai Bercocok Tanam Musim Semi dan Upacara Berterima kasih Musim Gugur.

Dinasti Zhou menganut sistim feodal, yakni orang-orang yang pernah berjasa pada raja diberi gelar kebangsawanan secara turun temurun serta tanah-tanah kekuasaan. Jadi timbullah para bangsawan yang memerintah wilayah-wilayan mereka sendiri, namun tetap bertanggung jawab pada kaisar. Para bangsawan tersebut bertugas sebagai kepanjangan tangan kaisar di wilayah mereka dan bertugas untuk menahan serangan suku barbar di perbatasan. Selama kaisar merupakan pemimpin yang cakap dan kuat, sistim feodal ini dapat berjalan lancar. Pada tahun 770 SM, Dinasti Zhou terpecah menjadi banyak negara-negara feodal yang saling berperang, di mana masing-masing negeri feodal tersebut sebelumnya telah dikuasai para bangsawan secara turun temurun.

Periode Peperangan ini disebut Periode Musim Semi dan Rontok (770 - 476 SM) dan selanjutnya disebut dengan Masa Perang Antar Negeri (475-221 SM), tatkala negara-negara terkuat tinggal tersisa tujuh negara. Para Periode Musim Semi dan Rontok ini lahirlah para filosof besar, seperti Lao Zi yang terlah disinggung pada bab 1.

Lao Zi secara umum diakui sebagai pendiri dari Taoisme. Riwayat singkat Beliau telah dibahas pada bab 1, sehingga pada kesempatan kali ini tidak akan dibahas kembali. Sebagaimana yang kita ketahui, Beliau mewariskan sebuah kitab yang disebut dengan Tao Te Cing. Kini kita akan membahas secara garis besar isi Tao Te Cing tersebut.

Bersambung

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua

 

 

 

Last modified onWednesday, 10 October 2012 06:37
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/konten/esai/item/734-sejarah-perkembangan-dan-seluk-beluk-agama-tao-1-masa-klasik-taoisme

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto