A+ A A-

Kehidupan Kami Di Hongkong (1972-1973) [1] - Mengenal Kehidupan Adalah Bijaksana

  • Written by  Dr Han Hwie-Song
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Orang Belanda mengatakan: ”lebih baik teman yang dekat (di rumah) daripada famili yang jauh (dari tempat tinggal kita).” Pepatah ini sangat cocok dengan pengalaman orang yang meninggalkan keluarganya dan datang ke tempat yang baru atau dengan kata lain seorang imigran.

Artikel Terkait :

{module [201]}

Orang yang kenal kehidupan adalah bijaksana
Orang yang mengenal dirinya juga bijaksana
Orang yang memenangkan dirinya adalah kuat
Orang yang senang adalah kaya
Orang meskipun badannya lemah,
tetapi mengikuti Tao dapat menikmati penghidupan
dan panjang usia (Lao Zhi)

Pada permulaan bulan Oktober 1972 kami keluar dari RRT dan sampai di Hongkong. Di Hongkong, aku diterima oleh seorang teman, bapak Tan Hoan Swie yang dahulu aktif di Baperki. Pak Tan, seorang Hokkian, pengusahawan di Jakarta, karena peralihan pemerintahan pulang ke RRT. Beliau sebagai seorang Totok dan sering mengunjungi anaknya di RRT mengetahui dengan jelas, apa yang nanti dia kerjakan sebagai ex-pedagang yang tinggal di RRT .

Banyak pedagang pedagang, bekas pimpinan ormas Tionghoa yang karena berbagai alesan Weiguo (kembali ke negara leluhur), disamping kepandaian mengurus usahanya, tidak mempunyai pendidikan teknis yang chusus, gaji yang rendah dan harus mendengarkan perintah atasannya, maka bagai mereka lebih baik tinggal di Hongkong dan menjual barang-barang Made in China, yang kemudian dijual di Hongkong atau diekspor ke Nanyang (Asia tenggara). Weiguo dari pemimpin pemimpin Tionghoa dari Indonesia yang kebanyakan adalah orang totok dan usahawan terjadi pada tahun 1966, karena perkumpulan-perkumpulan mereka ditutup oleh pemerintah Orba. Waktu itu juga kebetulan periode RBKP (Revolusi Besar Kebudayaan Proletar). Karena nasionalisme dipandang penting oleh pemerintah Mao Ze-Dong, maka mereka diberi jatah untuk menjual barang-barang buatan RRT di Hongkong. Saudara Tan adalah salah satu dari pedagang-pedagang ini. Beliau mempunyai kantor di Queen’s Road di sentral pulau Hongkong. Di Hongkong, Beliau menjual kertas-kertas buatan Tiongkok untuk segala keperluan.

Aku dengan keluargaku pada waktu Chuguo (keluar negeri) ke Hongkong, dibantu keluarga Tan dan tinggal di apartemennya di Baomati (Causeway Bay) bersama dengan keluarganya. Aku dan istriku diberi satu kamar yang dahulu ditinggali oleh putrinya, dan dengan kedatanganku dia tidur di tanah di ruangan tamu bersama dengan ketiga anak saya. Kalau tidak ditolong oleh Pak Tan, aku tidak berani Chuguo (keluar negeri) ke Hongkong, karena aku bukan bujangan, di belakangku masih ada empat orang keluargaku. Dan pengalamanku di RRT dulu sebagai dokter dari Indonesia dengan lima orang baru kira-kira delapan bulan, berkat bantuan Sdr. Wang Sen-ming aku baru bisa mendapatkan pekerjaan, padahal dapur harus terus berasap. Untung di Tiongkok aku masih mempunyai adik dan adik-adik istriku. Baru dua hari di rumah keluarga Tan, karena ramainya suara ambulans atau mobil kebakaran, putraku yang besar lari tanpa melihat bahwa pintunya itu semua terbuat dari kaca. Maka kacanya pecah dan melukai mata kirinya. Aku dan istriku bingung karena tidak mempunyai uang untuk ke rumah sakit dan lagi kita tidak tahu dimana letak rumah sakitnya. Celakanya aku juga tidak tahu nomor telepon kantor saudara Tan. Untungnya aku membawa alat-alat operasi dari RRT berupa jarum, benang dan suntikan. Tetapi aku tidak membawa suntikan bius, maka aku bicarakan dengan putraku yang waktu itu baru berumur 9 tahun, agar dia tidak bergerak agar jangan sampai jarum menusuk bola matanya. Aku bersihkan pecahan kaca yang kecil-kecil itu dengan pinset dan tangan dan kemudian aku jahit. Putraku menangis tanpa suara, tetapi tetap tidak bergerak. Setelah selesai kusuntik dia dengan penisilin agar tidak infeksi. Kemudia aku merangkulnya sambil mengalirkan air mata, ikut merasakan kesakitan yang dia derita akibat keputusanku. Suntikan aku kerjakan setiap hari sampai tiga hari dan untungnya tidak sampai terjadi infeksi. Ternyata pembersihan itu tidak semuanya bersih dari pecahan kaca, karena enam tahun kemudian di Holland, keluarlah pecahan kaca dari matanya, untungnya tidak sampai menganggu matanya. Sepulangnya keluarga Tan, mereka juga menyayangkan bahwa mereka tidak memberti nomor telepon pada kita. Esoknya karena mereka pulang sudah mulai petang, baru diganti kacanya. Satu pengalaman yang tidak nyaman, karena berbagai perasahan timbul dihatiku pada waktu itu, sebagai seorang suami, ayah dan pendatang baru dua hari di rumah orang dan negeri yang asing. Suatu kejadian yang tak akan pernah terlupakan.

Karena aku dahulu banyak bekerja untuk masyarakat Tionghoa, maka aku mempunyai banyak teman-teman bekas pemimpin Hua Chiao yang  kusebut diatas. Seminggu kami tinggal di Hongkong aku berdiskusi dengan istriku apa yang aku kerjakan untuk penghidupan di Hongkong. Kami putuskan satu satunya jalan ialah untuk mengerjakan keahlianku akupuntur disana. Karena aku tidak mempunyai rumah maka aku mengunjungi penderita-penderita di rumahnya. Mula-mula aku dipanggil oleh seorang teman, karena hasilnya baik, mereka mempromosikanku pada teman-temanya. Pasiën-pasiën yang memanggil aku makin meningkat dari hari ke hari. Aku berangkat pagi hari jam 09.00 dan pulang sore jam 18.00. Aku makan Hamburger di sentral setiap makan siang, kalau pasiënku jauh dari kota, maka aku makan pangsit mie. Lambat laun aku kemudian banyak mempunyai pasiën tetap, keluarga dari share broker dahulu asal Surabaya dan seorang Indo Belanda yang bekarja di KPM (perkapalan Belanda), Pak Johan. Nyonya Johan mempunyai restauran Indonesia yang ternama di Kowloon. Pelan-pelan aku juga mendapatkan pasiën orang totok Hongkong. Untungnya dahulu aku membawa jarum akupunctur cukup banyak dan alat listrik saku sewaktu aku meninggalkan kota Shanghai. Sebelum memulai akupuntur, aku selalu minta pada keluarga si pasiën untuk merebus jarum akupuntur selama 15 menit, karena pada itu waktu belum ada jarum yang chusus dipakai untuk sekali saja. Hampir semua pasiën ku kerjakan dengan electro-acupunctur. Istriku berbelanja di pasar dan masak dirumah untuk keluarga kami dan juga untuk keluarga Tan. Karena aku sudah mendapatkan penghasilan maka ongkos lauk pauk kita yang tanggung dan kita tidak mau diganti oleh Nyonya Tan yang selalu baik terhadap kami.

Sebulan kemudian istriku berkata padaku:”mari kita cari rumah, tinggal dirumah orang, meskipun mereka baik terhadap kita tokh terlalu lama tidak enak, apalagi anaknya ditidurkan di ruang makan bersama anak-anak kita.. Mereka sudah sangat baik telah menolong kita pada hari-hari pertama yang merupakan waktu yang sulit bagi seorang pendatang baru., tetapi sekarang kau sudah mendapatkan penghasilan, lebih baik mempunyai rumah sendiri. Dipandang orang luar juga lebih baik dan bagi kita juga lebih bebas, meskipun kita harus berhemat.” Aku jawab sambil  mengangguk-angguk: “aku setuju dengan pikiranmu. Besok aku tanya-tanya apakah ada flat kosong yang disewakan.”

Penghidupan di Hongkong memiliki kesulitan-kesulitan yang lain dari pada di RRT. Di Hongkong lebih bebas namun perbedaan antara si kaya dan si miskin sangat menonjol. Pegawai toko bisa melihat dari pakeannya kliënnya, modenya dari RRT atau dari Hongkong, kalau kita pakai jas dengan potongan RRT, maka tidak begitu diladeni, karena dianggap tidak mempunyai uang. Dahulu aku memfokuskan diri pada bidang pekerjaanku sebagai dokter, sekarang aku lebih kritis memandang kehidupan, karena aku sekarang lebih sadar bahwa aku adalah seorang bapak dan juga suami. Aku harus berjuang demi penghidupan keluargaku dan hari depan anak-anakku. Bidang pekerjaanku jelas penting tetapi masa depan keluarga adalah nomor satu. Aku dan istriku menganut kultur Konghucu yang kuat, kita menganggap bahwa sukses dalam karier adalah tujuan setiap orang, tetapi yang terbaik adalah apabila anak-anak kita bisa mendapatkan kedudukan yang baik di dunia ini dan dapat naik tangga sosial yang setinggi mungkin.

***

Pada satu hari minggu waktu makan siang, kami utarakan kemauan kami pada suami istri keluarga Tan, aku berkata: ”koh Tan dan enso, kami sekeluarga mengucapkan banyak kamsia pada kalian yang begitu baik untuk menerima kami sekeluarga pada hari hari pertama kami datang ke Hongkong. Sekarang uwee (saya) sudah mendapatkan penghasilan dari akupuntur, maka kami merencanakan untuk pindah.” Istrinya seorang totok Hokkian lalu berkata: ”Tacik (kakak) dan Han Yi-Sen (dokter Han) jangan tergesa-gesa, tunggu sebulan atau dua bulan sampai Han Yi-sen sudah mendapatkan hasil yang cukup.” Saudara Tan lalu menyambung: ”kami tidak keberatan kalian tinggal disini, kami toh pagi sudah pergi ke kantor dan malam baru pulang. Kami tidak merasakan gangguan apa-apa dengan keberadaan dokter Han.” Saya sambil tertawa mengatakan: ”kami sudah menerima kebaikan kalian lebih dari cukup, di Hongkong orang tidak gampang menerima, meskipun teman, sekeluarga dirumah kalian, apalagi apartemen disini mahal tetapi kecil, lain halnya di Indonesia yang umumnya rumah dan besar.” Istriku juga menyambung: ”terima kasih, tetapi kami merasa sudah cukup untuk bisa berdiri sendiri. Kami akan mencari sebuah flat yang tidak terlalu mahal. Waktu yang paling susah sudah kami lalui, karena bantuan dari tacik dan koh Tan.” Mereka mungkin tahu bahwa ini sudah tekad kami, maka mereka tidak lagi memaksa agar kami tunggu sampai saya betul-betul sudah cukup kuat untuk berdikari. Koh Tan lalau berkata: ”beri tahulah kalau Anda sudah dapat apartemen, dan katakan apa yang bisa kami bantu.” Kami berdua mengucapkan terima kasih sekali lagi atas kesediaan mereka untuk menerima kami tinggal di rumahnya dan semua bantuan-bantuan mereka yang besar.

Sorenya jam tiga siang kami diundang oleh seorang pedagang untuk pergi ke rumahnya di Pei-jiao, North Point sekalian makan malam. Waktu bercakap-cakap kami katakan kepada mereka bahwa kami mencari apartemen untuk pindah.  Tidak tersangka teman itu berkata pada kami: ”kemarin putra sulungku mengatakan bahwa apartemen temannya di Cheyuchong yang ditinggali, kontraknya belum habis namun dia akan pindah. Dua iparnya chuguo ke Hongkong, apartemennya kekecilan. Dia akan menyewa apartemen yang lebih besar.” Pada kesempatan ini aku minta tolong pada anaknya agar ditelepon kapan aku dan istriku dapat melihat apartmennya. Ternyata hari inipun mereka dapat menerima kami pada malam hari. Mereka juga berharap agar apartemennya bisa cepat disewakan. Kami minta alamatnya dan kutulis di sebuah kertas. Istriku berkata padaku: ”kau boleh telepon koh atau enso Tan, kalau kita mungkin pulang agak malaman, karena kita akan melihat satu apartemen di Cheyuchong.” Aku menelepon dan diterima oleh enso Tan, kami beritahukan pada Beliau dan mereka berharap agar tidak terburu-buru, harus diperhatikan kontraknya berapa tahun dan harga apartemen itu.” Nyonya Tan juga mengatakan: ”Han Yi-sen, pergilah tenang-tenang, nanti anak kalian ku atur makannya dan tidur pada waktunya.”  Aku mengucapkan terimaksih atas bantuannya.

Kami agak emosi, karena berbagai hal, ingin secepatnya melihat apartemen itu, tantangan untuk berdikari, dan gembira bisa mendapatkan apartemen , keraguan. Di hatiku timbul perasaan yang janggal: gembira bercampur dengan  keraguan dan kesedihan, sebagai seorang yang bertanggung jawab terhadap keluarga. Kongkow kadang-kadang menjadi tidak di hati sepenuhnya dan hidangan yang beraneka macam yang mestinya enak untuk disantap, tetapi karena dalam situasi yang emosional, semua makanan tidak dapat kurasakan dengan nikmat.

Jam 19.30 kami berdua pamitan dan naik tram listrik berangkat kesana; jarak North Point ke Cheyuchong tidak begitu jauh, hanya memakan waktu kira-kira 15 menit lamanya sambil menunggu kedatangan tram ke jurusan yang kami tuju. Ternyata saudara Yung kami kenal baik, Beliau tinggal di Hua Chiao Shin Chuen (perumahan chusus untuk Hua Chiao) tidak jauh dari rumah yang kutinggali. Sampai disana kami melihat di lantai bawah sangat ramai seperti pasar disiang hari, karena orang yang baru pulang dari kantor harus belanja. Banyak sekali toko dari supermarket yang kecil, toko obat, berbagai restoran sampai toko buku, pokoknya serabutan seperti kata orang Surabaya. Sangat kontras dengan rumah keluarga Tan yang dibawahnya semua adalah apartemen untuk tempat tinggal. Aku dan istriku melihat apartemen tsb dan ternyata terdapat dua kamar tidur dan satu kamar tamu. Dari cendela kita dapat melihat pemandangan gunung dan hutan, memang benar yang dikatakan orang bahwa pemandangan di Hongkong sangatlah bagus.

Harga sewanya HK$ 750, dan servisnya HK$ 100. Istriku senang dengan apartemen itu, karena kemampuan kita hanya sampai situ saja, tak ada pilihan lain, kalau mau pindah yah inilah satu-satunya jalan!. Maka kami setuju untuk menyewanya, meskipun kita harus mengikat perut kita untuk mencukupi penghidupan, tetapi kita dapat lebih bebas untuk bergerak tanpa sungkan-sungkan. Kami putuskan untuk menyewa apartemen saudara Yung dan kita lalu merundingkan kapan kami bisa pindah. Saudara Yung berkata: ”Dokter Han, kami juga sudah melihat apartemen digedung ini yang lebih besar, saya kira dua minggu lagi kalian bisa pindah.” Istriku bicara dengan istrinya bahwa kami juga harus membeli mebel dahulu dan persiapan lainnya agar apartemen itu bisa ditinggali. Kami pamit dengan suami istri Yung dan dengan berbagai perasaan yang susah dijelaskan dalam tulisan ini kami meninggalkan suami istri Yung.

Di tram aku memikirkan apakah istriku tidak terlalu berani untuk secepatnya pindah, karena kami tidak mempunyai cukup uang untuk beli mebel dan keperluan lainnya. Apakah ini bukan suatu adventurisme ataukah suatu tantangan penghidupan? Tetapi aku tidak mengutarakan pikiranku padanya, aku takut kalau dia juga ragu-ragu. Istriku adalah seorang yang independen, dapat berdikari dan bebas, dahulu dia sekolah di sekolah menengah Tionghoa Khai-Ming, di Surabaya dan disamping itu mengurus adik-adiknya enam orang sekolah di Zhungkuo Nishioh, karena ayah ibunya membuka toko emas dan toko kain di kota Cepu. Saya mendapatkan banyak dukungan dari dia terutama dalam mengambil keputusan-keputusan yang penting. Juga dalam keputusan kami kelak untuk beremigrasi ke Holland, kalau dia sebagai anaknya totok, dimana kedua orangtuanya kelahiran Tiongkok, tidak setuju atas keputusanku untuk bekerja di Holland, maka kami tetap tinggal di Hongkong, entah apa kerjaaanku, karena diplomaku dari universitas Airlangga tidak diakui di Hongkong. Mereka hanya mengakui diploma Hongkong,  Inggris serta mungkin beberapa negara bekas bekas jajahan Inggris.

Sampai di rumah, kami katakan kalau kita dua minggu lagi akan pindah ke Cheyuchong, dan saudara Tan sambil tertawa mengatakan: ”jangan sungkan-sungkan, kalau perlu kalian bisa tinggal lebih lama disini.” Untungnya kami mendapatkan pekerjaan atas kenalan saudara Tan memeriksa pelaut-pelaut dari perusahaan perkapalan dari saudara Zhang (Thio). Aku bekerja sama dengan dokter Goei, dari Indonesia tetapi lulusan universitas Hongkong, maka Beliau dapat berpraktek di Hongkong. Dr. Goei pindah ke Hongkong pada tahun 1967. Saya yang memeriksa pelaut-pelautnya dan dia yang menandatangani surat kesehatannya dan penghasilannya dibagi dua.

Kita beli mebel-mebel yang saderhana tidak berkelebihan cukup untuk tidur, meja makan dan kursinya, lemari dari plastik dan satu sofa. Lalu kami pergi ke pasar untuk membeli alat-alat dapur dan barang-barang pecah belah, sendok dsb.nya untuk makan dan minum. Kami tidak beli lemari es atau mesin cuci. Semuanya dikerjakan dengan tangan. Kami dua hari sibuk di apartemen yang kami sewa, membersihkan sambil menunggu kedatangan kiriman mebel-mebel. Sesudah semua beres, hari Minggu pagi kami sudah bangun berkemas-kemas, lalu kami siap untuk pindah. Kami berpamitan dengan keluarga Tan. Kita semua terharu karena rasa kesetiakawanan di antara kami. Sesudah semua seremoni sebagai keharusan terima kasih menurut adat orang Tionghoa kami berangkat dengan dua taxi menuju ke apartemen kami yang “baru”.

***

Pada pertengahan bulan November 1972, kami pindah sekeluarga di Cheyuchong dan siangnya karena kami belum bisa belanja, maka kami makan di restauran kecil di bawah gedung. Kami merasa capai dan lega duduk di restauran. Istriku pesan tiga macam masakan dan nasi putih, anak-anakku minum Coca Cola dan aku berdua minum teh hijau. Sambil makan, aku melihat anak-anakku yang merasa senang pindah dan tinggal di apartemen sendiri. Ternyata mereka sudah membagi-bagi dimana mereka tidur dan berjanji nanti memasang alat-alat elektronika dan TV untuk melihat program kungfu dan putriku akan mendengarkan lagu-lagu dengan kaset yang mereka beli sebelumnya. Di RRT, kami tidak punya TV dan tidak pernah melihat kaset. Istriku kelihatan bersyukur anak-anaknya merasakan kehidupan yang lebih bebas dan muka mereka melihatkan lebih bercahaya, tidak lagi merasa minder.
Dalam pikiran dan jiwa yang agak tenang ini kami baru bisa melihat dan sadar bahwa gedung apartemen yang kami tinggali ini sangat besar dan disebelahnya masih ada dua gedung lainnya yang dapat tembus satu dengan lainnya. Setiap gedung ada 26 tingkat. Kalau setiap gedung ada 200 lebih apartemen, maka jumblah apartemen dari tiga gedung ini ada kira-kira 600 – 700 buah. Kalau setiap apartemen ditinggali tiga atau empat orang , maka jumblah manusia yang tinggal di ketiga gedung ini bisa menyapai antara  duaribu lebih orang! Kami tinggal di tingkat yang ke 24. Karenanya tidak mengherankan kalau dibawah gedung itu selalu ramai seperti pasar di waktu pagi dan banyak toko dari berbagai barang penjualan.
Mungkin tanah gedung ini dahulunya adalah bukit-bukit batu yang disamaratakan dengan tanah agar dapat dibuat gedung-gedung besar. Di depan gedung yang kami tinggali juga terdapat gedung-gedung yang besar dan tinggi-tinggi. Inilah hebatnya arsitek Hongkong, dimana RRT kelak dapat belajar tehnik membangun. Kami memang sekarang merasakan kebebasan tinggal di apartemen yang kusewa sendiri. Malam harinya diranjang, istriku berkata: “aku pandang penting pindah rumah, bagi perkembangan jiwa anak-anak kita. Selama ini baik di RRT maupun di Hongkong kita tidak punya rumah sendiri, di Shanghai betul kita tinggal sekeluarga sendiri, namun tokh itu rumah pinjaman, mau tidak mau kebebasan kita terbatas, kita harus hati-hati karena jangan sampai mengotori dan merusak  rumah orang. Dan di Hongkong kita harus hati-hati bicara harus pelahan-lahan, jangan menganggu ketenangan suasana orang lain. Mereka juga tidak boleh lari, karena takut merusak atau menjatuhkan barang orang. Kalau terlalu lama mereka bisa mempunyai “perasaan minder” dan tertekan karena tidak boleh ini atau itu.” Aku membenarkan pandangan istriku, meskipun kita harus berhemat.

Kebebasan kami pertama-tama dapat kita lakukan ialah, hawa udara kalau pagi segar, jendela dapat kami buka menurut kemauan kita, agar hawa udara segar bisa masuk. Anak-anak bisa bebas menonton TV semau mereka menonton program apa. Kita juga bebas kapan kita mau tidur dan makan apa. Kebebasan ini betul-betul bagi kita merupakan satu kemewahan, kekayaan dalam jiwa, meskipun materiil kita kurang. Untung bagi kami karena kesulitan mengenai keuangan agak baikan, karena disamping akupuntur, kami mendapatkan pekerjaan memeriksa pelaut-pelaut.dari perusahan perkapalan dari saudara Thio. Kerja sama aku dengan dokter Goei kemudian diperluas; aku mengerjakan operasi-operasi kecil seperti membuang tumor-tumor yang tidak ganas dan yang letaknya hanya di lengan dan kaki serta sunatan. Penghasilan ini kami bagi dua, karena dia yang diakui oleh pemerintah Hongkong. Sesudah dioperasi tumor itu untuk safenya dikirim oleh dokter Goei ke laboratorium untuk menentukan bahwa tumor itu memang adalah tumor yang tidak ganas. Bulan december aku dapat hasil kira-kira HK 2000, dan setiap bulan meningkat.

Setiap hari pukul 07.00 pagi dijalanan masi sepih aku sudah mulai berangkat ke dua pasiën yang ingin di acupunctur sebelum mereka masuk kekantor jam 10.00. Kalau jaraknya jauh antara pasiën yang satu ke pasiën yang bisa membuat aku stress, untungnya karena jalanan masih sepi sehingga kebanyakan aku bisa mengunjungi mereka pada waktu yang sudah ditetapkan. Karena praktik aku mondar mandir dan keramaian lalu lintas Hongkong, maka semuanya harus dicatat dengan betul dalam buku kecil saku. Buku ini harus disimpan dengan baik, jangan sampai hilang. Aku pulang rumah biasanya antara jam enam sampai jam tujuh malam. Makan siang aku kerjakan dijalanan antara jam satu siang. Cari makanan di Hongkong tidak susah, hampir disetiap jalanan ada banyak restoran yang menjual fastfood seperti Hamburger atau masakan Tionghoa seperti Mie pangsit, nasi goreng etc. Meskipun ramainya pengunjung yang mau makan namun pelayananny sangat efektif, sehingga dengan cepat orang sudah dapat gilirannya.

Sampai dirumah sesudah makan malam aku membuat planning dibantu dengan istriku mengenai waktu, jam berapa aku memeriksa pelaut pelaut dan jam berapa mengerjakan operasi kecil kecil itu. Istriku lalu menulis di suatu buku besar dirumah, dan setiap hari aku lihat sebelum tidur. Apa kerjaanku besok dan kalau ada gangguan yang tidak tersangka aku atau istriku cepat menilpon pasiën untuk merobah waktunya. Pekerjaanku tambah lama memang tambah sibuk tetapi semuanya membuahkan kepuasan jiwa bagi kami sekeluarga.
[Breda, 19-3-2004 ]

Budaya-Tionghoa.Net |


Pihak yang ingin mempublikasi ulang tulisan dalam web ini diharapkan untuk menyertakan link aktif : www.budaya-tionghoa.net dan link aktif yang berada didalam tulisan atau membaca lebih jauh tentang syarat dan kondisi . Mempublikasi ulang tanpa menyertakan tautan internal didalamnya termasuk tautan luar ,  tautan dalam , catatan kaki , referensi , video , picture , sama dengan mengurangi konten dalam tulisan ini.


Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/konten/esai/item/759-kehidupan-kami-di-hongkong-1972-1973-1-mengenal-kehidupan-adalah-bijaksana

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto