A+ A A-

Rekaan Belaka Kisah 3 x 8 = 23 dan Confucius

  • Written by  Suma Mihardja
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Maaf, saya sudah lama tidak ngikutin milis Budaya Tionghoa karena kesibukan yang sangat tinggi. Tapi belakangan karena ada yang forward ke saya dan mengatakan bahwa ini cerita yang bagus, saya komentari saja, yaaa. Saya tidak menyalahkan anda atau penulis sebelumnya (saya lihat ada juga message sebelumnya yang dikomentari oleh pe Chan Chun Tak [red , Chan CT ] yang memuji-muji cerita itu)  . Mendahului cerita ini, saya pernah menyampaikan keberatan saya terhadap sejumlah rohaniwan aliran Matakin mengenai kisah Yanhui ini. Semula saya berharap mendapatkan diskusi mengenai sumber dan otentifikasi, namun ternyata saya malah bingung dengan respons yang diberikan. Saya melihat ada problem pemahaman cerita. Karena itu, saya lempar saja ke rekan-rekan, agar setidaknya bisa memberikan wawasan yang baru. Bagi saya, cerita ini adalah cerita rekaan belaka. Siaoshuo, dongeng, kisah yang tidak bisa dijamin keakuratannya, lebih-lebih ketika membawa-bawa nama Konghucu (Confucius) di dalamnya.

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

 

Saya sendiri termasuk Rushi yang mendalami klasik rujia. Jadi saya familiar dengan mazhab-mazhab aliran dalam rujia. Dan dari penyelidikan saya, saya berani bilang bahwa ini kisah rekaan yang dibikin belakangan. Lucunya, kisah ini kelihatannya dikembangkan di Indonesia atau setidaknya Asia Tenggara dan bukan dari kalangan akademisi rujia. Apa motif pembuatan cerita ini? Saya cuma bisa menebak, tapi saya lebih kawatir kepada kesalahan tafsir yang sangat fatal yang bisa dibawakan oleh cerita ini. Literasi yang saya pakai mengandung peristilahan hanyu pinyin, dan untuk memudahkan bagi yang kurang familiar, saya tambahkan istilah populernya (meskipun ejaannya masing-masing menjadi tidak standar akibat banyaknya sistem transliterasi)

PENJELASAN [RED , LIHAT LAMPIRAN ]


1. Dari sudut filosofis: Kalangan Rujia pada umumnya sangat memperhatikan etika, kebijaksanaan, kemanusiaan dan keadilan, namun semua itu harus dibungkus dengan kesusilaan. Bukti mengenai ini dapat diperiksa dari kitab-kitab yang dipakai kalangan Rujia, entah itu mulai dari kitab-kitab sebelum dan semasa Khonghucu (Kongzi, Confucius) dalam berbagai bentuknya seperti Sishu [Susi] minus Mengzi [Beng Cu, Mencius], wujing [go keng], yijing [yakking, iching], dan sebagainya, meskipun banyak juga isisnya yang baru dihimpun setelah Kongzi sudah tiada (termasuk juga restorasi belakangan yang dilakukan setelah era pembakaran buku pada dinasti Qin; Chin). Selain itu kita bisa memeriksa isi kitab-kitab selepas KHC, yaitu misalnya tulisannya Mengzi, Xunzi (Shuncu), Zhu Xi (Cu hie), Wang Yangming, Yan Yuan, Dai Zhen, dst, termasuk misalnya tafsir yang dibuat oleh Han Yu, Dong Zhongshu, Lu Jiuyuan, Wang Shouren, Zengzi, Zhang Zai, dsb yang jelas sangat banyak dan saya tidak bisa jelaskan satu demi satu. Pada dasarnya mazhab-mazhab itu pertama kalinya terbentuk secara umum menjadi empat jaman, yaitu masa pengajaran langsung (generasi pertama Rujia; Confucianism [meskipun istilah ini juga agak salah kaprah]), masa seratus aliran (hingga awal dinasti Han), masa pengukuhan (sepanjang dinasti Han) dan kemudian masa interaksi sanjiao (terutama tumbuhnya apa yang disebut Neo-Confucianism di jaman dinasti Song). Selepas empat tahapan ini, umumnya yang dijadikan pedoman Rujia adalah hasil dari dinasti Song tersebut (yang memasukkan kosmologi Taois-Mahayana). Harus dicatat bahwa selepas ini pun banyak ditemui tokoh-tokoh Rujia yang sangat ternama, khususnya mengingat bahwa Rujia pada dasarnya adalah ortodoksi negara dan sarana untuk menjaring kelas Sarjana yang akan menempati jabatan negara di semua tingkatan. Tentu saja muncul juga para penyamun yang menyimpangi sistem ujian negara yang berlangsung saat itu menjadi kroniisme dan pungli (korupsi). Tidak heran ada karya monumental jaman Ming yang dikenal sebagai the Scholar (rulinwaishi) yang mengkritik penyelewengan dalam sistem ujian negara. Saya tidak hendak berpanjang di sini, jadi saya ambilkan kesimpulannya saja. Dari sisi ini kalangan Rujia tidak pernah lepas dari tradisi akademik, sangat memegang kesusilaan dan tidak lepas dari kemanusiaan. Perdebatan yang ada antar mazhab atau pemikir Rujia tidak pernah lepas dari konteks tadi. Kalau sudah tidak mengindahkan tradisi akademik, tidak memegang susila atau tidak berfokus kepada kemanusiaan, dapat dikatakan itu tidak mewakili Rujia atau setidaknya dianggap Rujia sempalan. kalaupun pada suatu jaman terhadi penyelewengan, tradisi kalangan Rujia tetap beranggapan bahwa nama Rujia hanya "ditunggangi" dan bukan Rujia sejati. Itu seperti penjahat yang mengklaim dirinya adalah Hakim Bao hanya karena memakai pakaian hakim seperti rupa Hakim Bao, namun jelas bukan Hakim Bao itu sendiri.

Dari sisi itu, kisah ini TIDAK DIKENAL DALAM TRADISI RUJIA. Saya juga mengakui ada beberapa versi kisah yang menjadi perdebatan, misalnya mengenai apakah KHC pernah berjumpa sungguhan dengan Laozi (Locu), namun secara umum kisah ini memang diakui meskipun apa yang dibicarakan tidak benar-benar diketahui. Adapun kisah-kisah lainnya seperti Han Yu menolak relik, Kongzi bertemu nenek di pegunungan yang banyak macan buas, Kongzi membohongi pejabat dengan alasan sakit karena tidak mau bertemu pejabat yang tidak disukainya karena licik; kesemuanya dianggap valid. Adapun kisah mengenai Kongzi bertemu seorang anak yang memperhatikan belalang sembah sedang mengintai serangga, sementara di belakangnya ada burung yang mengamati belalang sembah tersebut, kemudian kisah mengenai penampakan Khilin; kesemua itu sudah dianggap sebagai legenda atau setidaknya cerita rakyat yang untungnya masih bisa mewakili mazhab pemikiran dalam Rujia, yaitu masing-masing mazhab berpikir kenegaraan (Cheng) dan mazhab agama Ru (Khongkauw; Khonghucu sebagai agama). Kesemuanya memberikan alasan yang logis sesuai tradisi Rujia, atau setidaknya menganggapnya sebagai legenda rakyat (dalam pembelahan mazhab Rujiao yang jelas sangat dipengaruhi cerita-cerita alam semesta Taois dan kosmologi Mahayana)

2. Dari sudut etika Rujia: Kalangan Rujia sangat memperhatikan kesusilaan (Li). Sebagai akibatnya, kadang muncul tudingan bahwa penganut Rujia sering bertele-tele, kurang praktis dan kolot. Pada kenyataannya, kalangan Rujia juga sangat banyak yang progresif dan berwawasan modern. Meski demikian, mereka pada umumnya tidak mau melanggar aturan moral. Progresif tidak berarti menjadi kasar, takabur ataupun individualis. secara umum, mereka ini tetap memegang sistem hubungan masyarakat: hubungan orangtua dan anak, pemimpin dan bawahan, tua dan muda, suami dan isteri dan antara teman (wulun). Dengan memperhatikan hal ini, jelas cerita ini TIDAK MEWAKILI KEBIJAKSANAAN ALA RUJIA. Apa buktinya?
Bagi kalangan Rujia, intelektualitas adalah utama: aritmetika adalah salah satu hal yang menjadi syarat seorang junzi (bangsawan; budiman atau sebenarnya tujuan kalangan Rujia). Jelas 8x3 adalah 24.

TIDAK MUNGKIN KHC MEMBENARKAN HASILNYA ADALAH 23. Pedomannya jelas, lebih baik mati berkalang tanah ketimbang menciptakan ketidakbenaran. Apa yang akan terjadi kalau si Pembeli tiu berkoar-koar bahwa dirinya sudah mendapatkan legitimasi dari KHC bahwa 8x3 adalah 23? Tujuan utama Rujia adalah membetulkan kesalahan nama-nama. Dengan kata lain KHC sangat perpegangan kepada aturan yang benar dan karenanya hasil yang benar juga. Apalagi, melihat logika cerita ini yaitu ;pilihan antara Yanhui atau Pembeli yang akan dibenarkan KHC, ada satu bagian yang tidak mungkin dibenarkan KHC. kenapa harus memilih jawaban yang salah? Jawabannya terlalu maksa! Seandainya cerita ini benar, quod non, KHC akan mengambil jalan yang di satu sisi menyelamatkan nyawa si Pembeli, di sisi lain tidak membenarkan jawaban ngaco itu!

Selain itu, taruhannya juga sangat tidak kontekstual. Di jaman itu, bagaimana mungkin Yanhui mempertaruhkan jabatan dan menyerahkannya begitu saja kepada si Pembeli? Mau dipenggal Raja Lu? Yanhui selain murid kesayangan KHC (yang natinya mati muda di usia 32), pernah memegang jabatan atas pertimbangan kemampuannya. Mengikuti padanan etika saat itu TIDAK MUNGKIN YANHUI MAIN-MAIN JABATAN. Yang ada adalah pejabat yang mundur karena merasa malu, tidak sanggup atau pertimbangan logis lain. Itu pun dilakukan di hadapan raja dengan menyerahkan jabatan mengikuti formalitas yang dibuat oleh kalangan Rujia awal itu. Koq bisa gila-gilanya Yanhui bertaruh jabatan untuk sesuatu yang tidak jelas? Apa jadinya kalau si Pembeli ini memegang pos yang seharusnya ditempati orang yang berkemampuan. Di satu sisi, hal ini tidak logis menuruti mazhab KHC yang ada, di sisi lain, hal ini tidak sesuai dengan setting ritual yang ada di jaman itu.

3. Dari sisi sistem kekeluargaan: Berdasarkan setting cerita itu, Yanhui (521-490 BCE) sudah menjabat dan punya isteri, jadi bisa diasumsikan usianya sudah akil balik, ditambah belum sampai 32 tahun sehingga ada rentang sekitar maksimal 15 tahun, minus di saat KHC sedang mengembara ke luar negara Lu (semenjak 498 BCE dan hanya mendengar bahwa Yanhui sudah meninggal saat KHC masih mengembara) artinya hanya mungkin di usia 16(?)-24, ditambah dengan posisinya (namanya juga ngarang, tentunya jabatan Yanhui juga tidak dijelaskan) tentunya rumahnya adalah rumah pejabat. TIDAKLAH WAJAR APABILA IPARNYA TIDUR BERSAMA DENGAN ISTERINYA, MESKIPUN MEREKA BERSAUDARA. Menurut aturan li, ruangan rumah dari pasangan adalah terpisah. Kalaupun rumahnya kecil (tapi ini aneh), umumnya tetap ada ruang tamu (atau ruang buku) dan ruang lain yang biasa dipakai untuk keluarga (sistem luar dan dalam). Iparnya laki atau perempuan? Asumsinya adalah perempuan, meskipun tidak tertutup anak laki-laki juga bisa masuk ke ruang dalam. Tapi ini juga tidak sesuai. Kerabat isteri dan khususnya Isteri Yanhui tentunya tahu aturan ini, apalagi melihat jabatan Yanhui. Bagimana cerita seperti ini bisa mewakili kebajikan yang dibawakan oleh aliran Rujia?

4. Dari sisi sejarah: dengan asumsi Yanhui menyebut KHC sudah uzur, adalah aneh bahwa dia masih berada di Lu. KHC pada usia 55 tahun Tionghoa (54 tahun barat), sudah meninggalkan Lu dan mengembara. Dia baru kembali 14 tahun kemudian, tapi Yanhui sudah meninggal 8 tahun lalu, saat KHC masih di negara Wei. Setelah itu, dikatakan yanhui mengikuti gurunya ke manapun. Semakin gila aja nih cerita. Sudahlah saya cuma mau memperlihatkan kepada rekan-rekan bahwa cerita ini TIDAK LAYAK DISEBUT KISAH KEBAJIKAN, LEBIH-LEBIH KEBAJIKAN RUJIA (KHONGHUCU).

Saya tidak hendak mengomentari hal-hal lainnya yang juga tidak pas (misalnya kenapa Yanhui yang tergolong Sarjana membawa-bawa pedang?, kenapa Yanhui yang memegang jabatan harus pake bertaruh segala dan menghadap kepada KHC? bagaimana mungkin KHC yang sangat ketat dengan li memerintahkan Yanhui memberikan jabatannya? kenapa si Pembeli tidak diproses saja di dinas kerajaan?)
Terlalu banyak kejanggalan.

Yang pasti, penegasan saya sederhana saja:


1. Kisah ini hanya DONGENG yang memanfaatkan nama KHC, tapi TIDAK MEWAKILI PEMAHAMAN ALIRAN RUJIA (FILSAFAT KHONGHUCU) yang manapun juga. Meskipun KHC adalah orang hebat dan layak menjadi guru bangsa, cerita bahwa persoalan ini harus dipecahkan oleh KHC sudah sangat berlebihan. Karena itu mohon tidak terkecoh dan menganggap cerita ini adalah contoh kebijakan/kebajikan/kebijaksanaan versi KHC. Bisa jadi ada orang yang kreatif membuat cerita ini dengan maksud baik, namun karena kekurangan pemahamannya mengenai makna dan filsafat di balik Rujia, maka ceritanya bisa menjadi pedang bermata dua. Cerita ini malahan bisa menyebakan tafsir yang keliru bahwasanya Rujia demi menyelamatkan nyawa seseorang (ngaco pula), lebih mementingkan untuk berbohong. Rujia punya cara untuk melakukan kebajikan kecil TANPA MENINGGALKAN KEBENARAN dan tentunya juga Rujia tidak mungkin membenarkan pemberian jawaban yang konsekuensi akhiornya justru merugikan, lebih banyak mudaratnya (si Pembeli akan sombong, akan memegang jabatan, akan memang bertaruh hanya karena alasan konyol, dsb). Rujia tidak semata-mata membela yanhui atau takut bahwa karena Yanhui kehilangan jabatan maka dia akan tidak makan, dst. Sejarah kalangan Rujia penuh derita, tapi tidak menyesalinya. Tokoh seperti Hairui dan Zheng Zenggong adalah dua orang Rujia dari generasi belakangan yang membuktikan konsekuensi kebenaran bagi kalangan Rujia. Jadi kalau ada orang Matakin yang membawa-bawa cerita ini pun (terbukti dari beberapa tulisan mengenai itu), saya tegas saja bilang bahwa pemahaman mereka sudah keliru. Mereka tidak paham, tidak mendalam dan tidak mengkaji isi cerita ini, Mentang-mentang ada nama KHC, dianggap cerita bijak. Aduuh, kacau deh.

2. Okelah, bahwa sudah sangat jelas cerita ini TIDAK MEWAKILI KEBIJAKAN ALA RUJIA (KONGHUCU), tapi apakah kebijakan ini bisa dianggap mewakili kebijakan Tionghoa? Saya tidak mau berpolemik panjang. Kenyataan bahwa ada beribu aliran adalah fakta. Kalangan Mozi mungkin saja menawarkan untuk mengasihi semua, atau pengikut Guanyin juga akan berbicara mengenai pentingnya menjaga nyawa. Namun saya cukup yakin bahwa mereka tidak akan gegabah demi menyelamatkan nyawa si pembeli akan memberikan jawaban konyol seperti tersebut dalam cerita di bawah tersebut. setidaknya pasti akan ada penjelasan yang lebih rasional atau setidaknya metafisis (misalnya Yanhui akan menghindari kemelekatan, atau si pembeli tiba-tiba tercerahkan). Kebijakan Tionghoa yang pada akhirnya dan pada dasarnya adalah kombinasi kebijakan Rujia dan aliran lainnya, saya pikir akan membeirkan hasil yang berbeda ketimbang apa yang disuguhkan dalam cerita di bawah tersebut. Misalnya KHC bisa saja akan bilang bahwa: "Buat apa bertaruh, Yanhui kamu salah karena bertaruh. Karena itu kamu harus mempertanggungjawabkan jabatanmu dengan bekerja lebih giat bagi negara dan rakyatnya tanpa harus menyerahkan jabatanmu; Pembeli, kamu juga salah karena bertaruh dengan pejabat. mengenai hasilnya 8x3 itu berapa, kamu sebaiknya belajar lebih baik. Buat apa membuang nyawa sia-sia dan menyebabkanmu tidak bisa berbakti kepada orang tuamu dan negaramu? Belajarlah yang tekun, dan kalau sudah tahu hasilnya, datang lagi kepadaku agar aku bisa memberikan pengarahan kepadamu." Kalau mengikuti Zen, apakah tidak mungkin pada saat itu si Pembeli dan Yanhui juga tercerahkan?

Kacau, sejarah Tionghoa penuh dengan cerita kebijakan yang sangat berharga, sekaligus rasional dan berwawasan. Mengapa sih orang-orang suka membuat cerita yang membawa-bawa nama tokoh atau mazhab tertentu tapi tidak mengenali maknanya? Saya sudah melihat gejala ini sejak lama, bahkan dilakukan oleh seorang "pimpinan" organisasi keagamaan yang baru diakui kembali. Apa kita kekurangan cerita yang baik sampai harus mengarang-ngarang cerita yang menimbulkan bias persepsi di masyarakat? Saya memahami kalau banyak yang terkecoh, karena memang tidak mendalami filosofi KHC dan Rujia. Jadi dalam hal ini saya cuma hendak memberikan masukan kepada rekan Kania, Chan Ct, dst yang saya lupa nama-namanya.

Yang pasti, kalau ada yang mau buat cerita kebajikan, lebih baik secara tanpa nama saja atau mempergunakan nama yang sangat umum sehingga tidak menimbulkan salah persepsi mengenai isi filossofis dalam setiap aliran.

Saya tidak berpanjang kata lagi, ini saja sudah terbilang panjang.  Banyak cerita berjudul "bajik", bisa jadi menimbulkan tafsir yang tidak bajik. (lihat saja misalnya tambahan di bagian bawah cerita itu yang saya pikir juga banyak kelemahannya dan memberikan tambahan persepsi keliru.) karena itu, cernalah, pertimbangkan secara rasional dan jangan mudah menganggap bahwa mentang-mentang ada nama-nama beken di sana, itu sudah menjadi kebajikan atau kebijaksanaan.

***

LAMPIRAN 3 X 8 = 23

Yan Hui adalah murid kesayangan Confucius yang suka belajar, sifatnya baik. Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang dikerumuni banyak orang. Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat.

Pembeli berteriak: kenapa kamu bilang ?

Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: tidak usah diperdebatkan lagi. Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusus. Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan.

Yan Hui: Baik, jika Confucius bilang kamu salah, bagaimana?
Pembeli kain: Kalau Confucius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu.Kalau kamu yang salah, bagaimana?
Yan Hui: Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu.

Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confucius. Setelah Confucius tahu duduk persoalannya, Confucius berkata kepada Yan Hui sambil tertawa: Yan Hui, kamu kalah.Berikan jabatanmu kepada dia. Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya. Ketika mendengar Confucius berkata dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain.Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas. Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confucius tapi hatinya tidak sependapat. Dia merasa Confucius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajardarinya. Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga. Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya.


Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confucius memintanya cepat kembali setelah urusannya selesai, dan memberi Yan Hui dua nasihat :

- Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon.
- Dan jangan membunuh.

Yan Hui menjawab, Baiklah, lalu berangkat pulang. Di dalam perjalanan tiba-tiba angin kencang disertai petir, kelihatannya sudah mau turun hujan lebat. Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba-tiba ingat nasihat Confucius dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu. Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur. Yan Hui terkejut, nasihat gurunya yang pertama sudah terbukti.


Apakah saya akan membunuh orang?

Yan Hui tiba di rumahnya saat malam sudah larut dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. Sesampai di depan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seorang di sisi kiri ranjang dan seorang lagi di sisi kanan. Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya. Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasihat Confucius, jangan membunuh.

Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah adik istrinya.

Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confucius, berlutut dan berkata: Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?

Confucius berkata: Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan petir, makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon. Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru mengingatkanmu agar jangan membunuh

Yan Hui berkata: Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum.

Jawab Confucius : “Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku. Cobalah kamu pikir. Kemarin guru bilang adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu. Tapi jikalau guru bilang adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa. Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih penting?
Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun. Murid benar2 malu.
Sejak itu, kemanapun Confucius pergi Yan Hui selalu mengikutinya.

Suma Mihardja , 46540

N.B. Saya bukannya tidak mau berdiskusi, namun karena saya sudah sangat jarang buka milis, harap maklum kalau saya tidak sempat tanggapi lebih lanjut.


Last modified onMonday, 15 October 2012 04:43
Rate this item
(2 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/konten/esai/item/863-rekaan-belaka-kisah-3-x-8-=-23-dan-confucius

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto