A+ A A-

Meluruskan Sejarah Pao An Tui

  • Written by  Ivan Taniputera
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net |Pao An Tui adalah pasukan penjaga keamanan keturunan Tionghua yang dibentuk pada masa awal kemerdekaan RI. Beberapa buku sejarah menyudutkan Pao An Tui sebagai musabab kebencian terhadap etnis Tionghua. Benarkah demikian? Kita akan mengulas kasus berdasarkan apa yang terjadi Sumatera Utara.

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

Pada era 1945-1947 terjadi situasi yang tidak aman di Sumatera Utara. Ketika itu, terjadi transisi antara pemerintah pendudukan Jepang yang sudah kalah dengan pemerintah RI, yang saat itu telah mengangkat T. Moh Hasan sebagai gubernur Sumatera. Sementara itu, Belanda yang datang kembali untuk menegakkan kekuasannya turut bermain di air keruh.

Untuk memahami Pao An Tui, kita perlu memahami bagaimana sikap para sultan dan raja terhadap republik, dimana sikap mereka berbeda-beda. Raja-raja dan sultan di Sumatera Timur (Deli, Serdang, Langkat, Kualuh, Bilah, Panei, dll) memang bersikap menunggu. Mereka ingin mengetahui bagaimanakah kebijakan republik terhadap kedudukan mereka. Setelah ada jaminan bahwa kedudukan daerah swapraja akan dihormati berdasarkan pasal 18 UUD 45, barulah mereka menyatakan dukungan terhadap Republik.

Malangnya kondisi yang kacau itu dimanfaatkan oleh orang-orang tak bertanggung jawab yang dikenal sebagai Barisan Harimau Liar (BHL). Mereka inilah yang melakukan pengacauan keamanan. Lebih malangnya lagi mereka mengatas-namakan Republik dan "rakyat." Kaum keturunan Tionghua juga kerap merasakan teror barisan liar yang memang liar ini. Demikian juga para raja dan sultan, karena slogan BHL adalah "ganyang feodalisme." Di sinilah timbul peran Pao An Tui, yakni sebagai penjaga keamanan bagi etnis Tionghua.

Mereka sering dituduh antek Belanda, padahal yang dikehendaki adalah ketertiban. Memang patut diakui bahwa otoritas Republik masih lemah di saa itu. Etnis Tionghua bukanlah pro Belanda, tetapi yang mereka kehendaki adalah ketertiban. Buktinya tidak sedikit pemuda2 Tionghua yang ikut berjuang di pihak tentara Republik (TRI).

Agar adil dan jangan menyudutkan etnis Tionghua semata, beberapa raja pernah dengan terang2an menolak Republik. Sebagai contoh, raja Klungkung, Dewa Agung Oka Geg, pernah menolak mengibarkan bendera merah putih. Raja Gianyar Anak Agung Gde Agung pernah menyuruh agar bendera republik diturunkan. Tetapi kita jangan menuduh mereka anti Republik. Alasannya adalah para pejuang terlalu kebablasan. Mobil Anak Agung Gede Agung sampai dicoret2 "milik Republik." Wajar bila raja2 merasa bahwa Republik ingin merebut kekuasaan mereka. Namun akhirnya ditegaskan bahwa UUD 45 menjamin kekuasaan raja-raja dalam bentuk daerah swapraja.
 
Mengetahui mobilnya dicoret2, Anak Agung Gede Agung marah sekali. Beliau sampai memacu mobilnya kencang2. Jadi sikap etnis Tionghua ini hanyalah ingin ketertiban. Tidak ada maksud pro Belanda.

 

Beberapa keturunan raja yang penulis kontak juga membenci BHL ini karena gara2 mereka warisan2 khazanah sejarah turut terbakar, termasuk istana2 di Simalungun.

Sumbangsih pemuda2 Tionghua dalam perjuangan tidaklah kecil. Semoga tulisan singkat ini dapat meluruskan sejarah Pao An Tui.

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua | Facebook Group Budaya Tionghoa | Facebook Group Tionghoa Bersatu

 

Last modified onTuesday, 23 October 2012 05:57
Rate this item
(11 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/konten/esai/item/962-meluruskan-sejarah-pao-an-tui

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto