Print
PDF

Antara Korban Aceh Dengan G30SPKI

Written by Akhmad Bukhari Saleh on .

<

Budaya-Tionghoa.Net| Banyaknya korban tewas di Aceh, yang mencapai 100 ribuan, telah menjadi heboh yang mendunia. Collin Powell pun, yang pernah menjadi panglima tentara terkuat di dunia, dengan pengalaman perang di berbagai tempat di belahan bumi ini, sempat terlongong-longong melihat begitu banyak mayat di Aceh.

ARTIKEL TERKAIT :

Bondan Winarno, Pemred "Sinar Harapan", menceritakan dalam perjalanan kapal TNI-AL, KRI Teluk Peleng, di route Medan-Meulaboh, dua kali melihat ratusan mayat hanyut di laut. Pertama offshore Banda Aceh / Lhok Nga. Kedua di offshore Meulaboh, tetapi kapal LST itu tidak berdaya apa-apa untuk memungut mayat-mayat itu (dan menanganinya).

Relawan dari berbagai penjuru dunia, termasuk anggota palang-merah dan tentara yang terlatih, nyaris tak berdaya menangani mayat dalam jumlah yang besar itu.
Kalau mereka bisa menguburkan 1000 mayat sehari (suatu kapasitas kerja yang besar sekali), untuk Banda Aceh saja dua minggu pun kerja besar itu belum akan selesai.

Tidak heran kalau pemandangan mayat dikeruk dengan excavator lalu diuruk massal sempat terlihat.

Bahkan wacana untuk membakar saja mayat-mayat itu bersama reruntuhan rumah yang menimbuni mereka, sempat mencuat. Ini terjadi di Aceh, tersebar di daerah yang cukup luas, jauh melebihi luasnya propinsi-propinsi di Jawa.


Sekarang coba kita flashback sebentar, mengingat-ingat issue, yang juga pernah disinggung di milis ini (walau secara OOT), tentang pembantaian massal tahun 1966 yang konon terjadi dibeberapa tempat di Jawa Timur yang katanya mencapai 600 ribu orang.
Setelah sekitar 10-20 tahun rumor itu beredar, angka 600 ribu itu, entah bagaimana caranya, menggelembung menjadi katanya 1 juta. Lalu akhir-akhir ini menggelembung lagi menjadi katanya 1,5 juta. Okay, janganlah kita pikirkan yang 1 juta dan 1,5 juta itu, kita pegang saja angka minimal yang 600 ribu.

Coba kita bandingkan luasnya Jawa Timur dengan Aceh. Coba kita bandingkan kehebohan tentang hanyutnya mayat yang katanya sempat terlihat di sungai-sungai Jawa Timur ketika itu, dengan hanyutnya mayat di laut yang dilihat sampai 100 kilometer lepas pantai Aceh oleh kapal-kapal yang lewat di situ.

Coba kita bandingkan kehebohan penanganan mayat yang sempat terdengar terjadi di Jawa Timur ketika itu, dengan apa yang ditangani para relawan seluruh dunia di berbagai tempat Aceh.
Kalau kita bandingkan 100 ribu dengan 600 ribu, seharusnya kehebohan di Jawa Timur ketika itu 6 kali lebih dahsyat dari kehebohan di Aceh sekarang ini.

Tentu saja pembandingan itu harus memperhitungkan perbedaan situasi dan kondisi antara keduanya.

Liputan pemberitaan (media coverage) misalnya. Kecanggihan teknologi media antara 1966 dengan sekarang sudah jauh berbeda. Begitu pula pembatasan terhadap pemberitaan di masa Orde Baru sangat mencekik.

Tetapi di lain segi, justru karena pembatasan media itu, di jaman Soeharto desas-desus menjadi sangat ampuh, tersebar cepat dan dipercaya orang.

Kasus pembunuhan peragawati Ditje misalnya, desas-desus segera merebak ketika itu, dan sampai sekarang, puluhan tahun setelah kasus itu, orang masih meyakini bahwa Ditje dibunuh atas suruhan Tutut yang cemburu karena Ditje itu selingkuhan suaminya, Indra Rukmana. Begitu pula, adanya mayat korban pembantaian 1966 bergelimpangan di berbagai tempat, juga merupakan desas-desus yang lumayan heboh ketika itu.

Pada aspek situasional dan kondisional lainnya, penanganan mayat di Aceh bebas ditangani oleh semua orang dari seluruh dunia, dan nyatanya ribuan orang datang menolong. Dan ditunjang semua prasarana dan sarana yang dapat dikerahkan.


Sebaliknya, penanganan mayat pada kasus 1966 ketika itu hanya dapat ditangani oleh keluarga dekat si korban saja, para petani sederhana yang tidak terlatih menghadapi bencana. Secara politis tidak mungkin ada relawan membantu mereka, begitu pula sarana kerja yang dapat mereka pergunakan, excavator misalnya,  boleh dikatakan nihil.


Sehingga kapasitas kerja penanganan mayat ketika itu sangat jauh lebih rendah. Kalau keluarga dekat korban pembantaian ini mampu menangani 600 mayat per hari, suatu angka yang sudah sangat ditinggi-tinggikan (50 mayat per jam, kerja 12 jam/hari), toh masih diperlukan waktu 3 tahun untuk menangani 600 ribu mayat! Itu pun kalau mereka berkerja tiap hari, tidak ada hari libur, tidak berkerja lain. Artinya ada pihak-pihak lain lagi yang mencukupi gaji dan sandang-pangan mereka, yang nyatanya tidak ada yang demikian itu di jaman tersebut.

Nah, kalau perbandingan antara kedua magnitude kehebohan penanganan mayat itu, sekarang kita cernakan dengan kepala dingin, akal sehat, dan tanpa prejudice, rasanya untuk angka jumlah korban pembantaian tahun 1966, angka 10.000 (sepuluh ribu) pun sudah terlalu tinggi.
Mungkin kalau 6000 (enam ribu), seperseratus dari angka 600 ribu itu, yah itu masuk akal lah...

Wasalam.



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
 

blog comments powered by Disqus

Kalender

Prev Next

2012.05.08 Seminar Nasional : "Pera…

Rekan2 Yth, Mohon kehadiran Anda yg berdomisili di Bandung dan sekitarnya. Kehadiran Anda semua akan sangat berarti bagi kami. Terimakasih dan salam budayaDidi ...

Didi Kwartanada - avatar Didi Kwartanada 07 May 2012 Event Budaya Tionghoa

Read more

21-22 April 2012 | Acara Kirab Ritu…

Forward : Informasi dari Wajah Kota Lasem di Facebook Page Budaya Tionghoa ** ACARA KIRAB RITUAL BUDAYA dan  H.U.T MAKCHO THIAN SIANG BO di Tiongkok Kecil (LA...

Wajah Kota Lasem  - avatar Wajah Kota Lasem 18 Apr 2012 Event Budaya Tionghoa

Read more

Tradisi

Prev Next

Bhutan , Diantara Tiongkok dan Indi…

Budaya-Tionghoa.Net | Orang Bhutan dikenal juga sebagai Bhote , Bhotia , Bhutia , etc yang tinggal di negara Bhutan. Negara kecil ini seluas 47 ribu kilom...

Huang Dada - avatar Huang Dada 19 May 2012 Dialek

Read more

Kwee Pang [2] - Anggapan Tahayul

Budaya-Tionghoa.Net | Jika point 1 sampai 4 yang menjadi penyebab umum terjadinya kweepang dan lebih kearah hubungan horizontal antar manusia. Maka point...

Ardian Cangianto - avatar Ardian Cangianto 19 May 2012 Adat Istiadat

Read more

Sejarah

Prev Next

Perjanjian Nanking (1842) Antara Qi…

Budaya-Tionghoa.Net | Perjanjian Nanking mengakhiri Perang Candu [1839-1842] dan Tiongkok menyerahkan Hong Kong ke Inggris , membuka sejumlah pelabuhan untuk pe...

Huang Dada - avatar Huang Dada 15 May 2012 Dinasti QIng

Read more

Tuduhan Dr. Geoffrey Wade Bahwa Zhe…

Budaya-Tionghoa.Net | Dr. Geoffrey Wade sebenarnya adalah sebuah nama misterius yang belum dikenal (nobody) dan baru muncul diantara para peneliti dan penulis s...

Golden Horde - avatar Golden Horde 13 May 2012 Tiongkok & Indonesia

Read more

Filsafat

Prev Next

Menyusun Altar Menurut Tradisi Tion…

Budaya-Tionghoa.Net | Jika menyusun altar menurut tradisi Tionghoa, sebenarnya mereka sedang menyusun alam semesta kecil di altar. Filsafat Tionghoa terka...

Xuan Tong & Ardian Cangianto - avatar Xuan Tong & Ardian Cangianto 12 May 2012 Filsafat Lain

Read more

Kitab Taiping jing 太平经

Budaya-Tionghoa.Net | Taiping jing太平经 adalah suatu kitab penting bagi Taoism yang isinya antara lain adalah masalah Taiping atau kedamaian yang agung. Kita perl...

Xuan Tong - avatar Xuan Tong 16 Apr 2012 Tao

Read more

Sains

Prev Next

Ketika Sistem Pengobatan Barat Dan …

Budaya-Tionghoa.Net | Sistem pengobatan Tionghua sering dianggap kuno dan ditinggalkan oleh sebagian orang Tionghua sendiri yang beralih ke dokter dengan ...

Kaipang - avatar Kaipang 17 May 2012 Pengobatan

Read more

Varian Rudal Panggul Darat Ke Udara…

Budaya-Tionghoa.Net | Banyak yang bilang Tiongkok adalah tukang meniru , ada benarnya juga seh. Tetapi apa salah meniru yang baik, dan akhirnya dapat me...

Heri Tanta - avatar Heri Tanta 17 May 2012 Militer

Read more

Tionghoa

Prev Next

Riwayat Liem Koen Hian (IV)

Budaya-Tionghoa.Net |  Toean Liem Pegang Sin Tit Po (2 September 1929 sampe – 19 Desember 1932) 3 taon sadja ia pegang Sin Tit Po atawa satoe taon lebih s...

Tjamboek Berdoeri (Djoelia 28) - avatar Tjamboek Berdoeri (Djoelia 28) 18 May 2012 Sejarah Tionghoa

Read more

Benny Mok Sau Chung : Profil

Budaya-Tionghoa.Net | Max Mok Sau Chung dilahirkan di Hong Kong pada tahun 1960. Dia juga dikenal sebagai  Benny Mok Sau Chung  . Mok adalah  seorang arti...

Kaipang - avatar Kaipang 17 May 2012 Sosialita

Read more

Data

Prev Next

Nasehat Pernikahan Jaman Dulu : Bag…

Budaya-Tionghoa.Net | Berikut ini nasehat pernikahan jaman dulu , dimuat di Liberty pada bulan November 1931 , dalam bahasa masa itu. Tentunya nasehat ini belum...

Tjiong Djie Nio (via Tjendela)  - avatar Tjiong Djie Nio (via Tjendela) 12 Apr 2012 Arsip || Dokumen | Artikel

Read more

Tabel Variasi Linguistik

Budaya-Tionghoa.Net | Variasi linguistik dikalangan Han-Chinese merujuk pada istilah fangyang 方言 , yang umum diterjemahkan sebagai "dialek" atau "topolect". D...

 - avatar 14 Jan 2012 Tabel

Read more

Seni

Prev Next

Wu Rujun Sang Pangeran Jinghu

Budaya-Tionghoa.Net |  Wu Rujun (吳汝俊) , tidak banyak orang yang mengenal musikus ini. Ia dilahirkan di Nanjing pada tahun 1963, ayahnya juga seorang mus...

Chendra Ling Ling - avatar Chendra Ling Ling 12 May 2012 Seni Musik

Read more

Kajian Film : “Curse Of The Golden …

Budaya-Tionghoa.Net | Curse Of The Golden Flower adalah film epik kolosal yang disutradai Zhang Yimou.  Skenario film ini diadaptasi dari sebuah drama tra...

 - avatar 11 May 2012 Sinematografi

Read more

Buku

Prev Next

Review Buku : "Mao The Unknown Stor…

Budaya-Tionghoa.Net | Seorang kawan (SML) meminjami saya buku Jung Chang yang ditulisnya bersama suaminya Jon Halliday, (seorang sejarawan), terjemahan bahasa B...

Ibrahim Isa  - avatar Ibrahim Isa 16 May 2012 Buku

Read more

Polemik Dan Perdebatan Seputar Buku…

Budaya-Tionghoa.Net | Buku Gavin Menzies yang terbit pertama kalinya ditahun 2002 ini, telah menimbulkan polemik dan perdebatan yang yang sengit antara pihak-pi...

Golden Horde - avatar Golden Horde 13 May 2012 Buku

Read more