Print
PDF

Serial Pemikiran Tiongkok (1) - Filosofi Legalis (Fajia) versus Konfusianisme Dalam Teori dan Praktik

Written by Ivan Taniputera & Ardian Cangianto on .

<

Budaya-Tionghoa.Net | Hari ini saya tertarik mengupas mengenai Legalisme dan Konfusianisme, terutama dalam teori dan praktiknya. Khususnya yang menarik perhatian saya adalah semasa Kaisar Han Wudi dari Dinasti Han. Barangkali kita perlu menyebutkan dulu kaum Legalis pertama di Tiongkok, yakni Guan Zhong yang hidup pada abad 7 SM. Meskipun demikian, Guan Zhong tak selamanya digolongkan sebagai penganut Legalisme. Tokoh lainnya adalah Shen Buhai (meninggal 337 SM), yang pernah menjabat sebagai perdana menteri Negeri Han (bukan dinasti Han, melainkan salah satu negeri pada masa Perang Antar Negeri). Meskipun demikian, karyanya dianggap sebagai pemalsuan. Shen Dao yang hidup sezaman dengan Mengzi juga dianggap sebagai legalis, tetapi pemikirannya juga mencerminkan Daoisme. Masih terdapat lagi Shang Yang dan Gongsun Yang.

ARTIKEL TERKAIT :

Lalu masih ada lagi Han Feizi, yang hasil karyanya dianggap paling "otentik." Han Feizi menulis sebagai berikut:

"Kemaharajaan hanya dapat diperintah dengan memanfaatkan kodrat manusia. Manusia mempunyai tabiat suka dan tidak suka; mereka dapat dikendalikan dengan jalan memberi ganjaran dan hukuman. Atas dasar ini larangan dan amar dapat dilaksanakan, dan dapat dibentuk sebuah sistim pemerintahan yang lengkap. Penguasa hanya perlu secara teguh memegang kendali-kendali ini (ganjaran serta hukuman), agar dapat mempertahankan keunggulannya... Kendali-kendali ini merupakan kekuasaan atas hidup dan mati. Kekerasan merupakan bahan untuk membuat rakyat kebanyakan tetap tunduk."

Barangkali kutipan di atas yang paling baik menggambarkan mengenai intisari ajaran legalisme. Yakni bahwa rakyat harus diperintah berdasarkan sistim hukum yang teguh. Ini berbeda dengan ajaran Kongzi yang menekan pemerintahan berdasarkan “kesadaran” dan “kebajikan.” Hal ini merupakan pembeda mendasar antara Legalisme dan Konfusianisme dalam hal penyelenggaraan sistim pemerintahan. Konfusianisme lebih menekankan pada “ketulusan” ketimbang pada “ganjaran” dan “hukuman.”

Banyak orang menganggap bahwa Han Wudi merupakan pelindung Konfusianisme, tetapi pada dasarnya ia merupakan seorang penganut legalis. Ia merupakan seorang penguasa cerdik yang berhasil membungkus legalisme dengan Konfusianisme. Sebagai contoh, dalam titah-titahnya, ia terkadang mengutip dari kitab Han Feizi, namun dengan hati-hati tidak menyebutkan sumbernya. Ia memberikan kedudukan hormat pada keturunan Kongzi, tetapi tanpa kekuasaan berarti. Ia menambah undang-undang dan menjatuhkan hukuman yang lebih kejam, tetapi pada saat bersamaan mengutip ajaran-ajaran Kongzi.

Semasa pemerintahan Beliau terdapat seorang penganut Konfusianisme bernama Dong Zhongshu yang dengan berani menuduh kaisar telah menerapkan ajaran-ajaran legalis. Kaisar Wudi tentunya sangat marah, namun demi menjaga citranya ia tidak menghukum mati Dong dan dengan cerdik mengutusnya pada seorang raja taklukan yang kejam. Kaisar berharap agar raja kejam tersebut menghabisi nyawa Dong. Alih-alih menghabisi nyawa Dong, justru raja taklukan itu menjadikannya sebagai orang kepercayaan. Han Wudi merasa kecewa, ia menarik Dong dan mengirimkannya pada raja yang lebih kejam lagi. Karena tahu diri, Dong lalu mengundurkan dirinya dan memilih menghabiskan masa pensiunnya dengan tenang. Kaisar Wudi dengan cerdik mengirimkan utusan guna meminta “nasihat” Dong. Dengan demikian, ia menjaga citranya sebagai kaisar “bijaksana.”

Salah seorang tokoh lain adalah Gongsun Hong. Ia sebenarnya adalah pengikut legalisme. Saat mengikuti ujian negara, tesisnya hanya kulitnya saja bernuansa Konfusianis, tetapi isinya bercorak legalis. Para sarjana (baca: penganut Konfusianis) yang memeriksa kertas ujiannya menjadi berang, dan memberinya nilai atau peringat terendah. Ketika kaisar membaca hasil ujian itu sendiri, ia merasa kegirangan dan merasa bahwa Gongsun Hong-lah sarjana “Konfusianis” yang didambakannya. Serta merta hasil ujian Gongsun Hong dinyatakan sebagai peringkat pertama oleh kaisar. Gongsun Hong lalu diangkat sebagai perdana menteri.

Menurut hemat saya Konfusianisme dan Legalisme tidaklah bertentangan, melainkan merupakan dua hal yang berjalan seiring dengan perkembangan masyarakat. Jika masyarakat telah mencapai kesadaran yang tinggi, maka tidak perlu ada “ganjaran” dan “hukuman” yang terlampau ketat. Sebagai contoh, adalah masyarakat Jerman modern yang dengan sadar memisahkan berbagai jenis sampah agar memudahkan proses daur ulang. Tidak diperlukan hukuman bagi mereka yang tidak memisahkan sampah. Mereka melakukannya berdasarkan kesadaran. Pada kenyataannya, tidak ada negara yang tidak mempunyai hukum. “Ganjaran” dan “hukuman” masih ada di negara manapun. Hanya saja intensitasnya akan bertambah di negara yang masyarakatnya kacau. Meskipun demikian, pemerintah yang bijaksana hendaknya mengupayakan pendidikan demi menumbuhkan kesadaran di tengah masyarakat.

Ajaran Konfusianisme dan Legalisme sebenarnya adalah bagaikan dua sisi mata uang, yang dapat diterapkan tergantung kondisinya. Mengapa pemerintah yang seburuk apapun kondisi masyarakatnya perlu menggalakkan pendidikan? Karena penegakan aparat-aparat dan lembaga untuk mengawasi masyarakat itu membunuhkan dana yang tidak sedikit. Sebagai contoh adalah GESTAPO di zaman Nazi dan Securitate di masa Rumania-Ceausescu. Semua organisasi seperti itu membutuhkan dana besar. Selain itu, jika terlalu banyak orang yang masuk penjara, hal itu membutuhkan biaya besar pula. Jadi alangkah baiknya mengupayakan agar masyarakat ideal menurut Kongzi dapat terwujud. Tetapi sebelum sampai ke sana tetap diperlukan sistim hukum yang kuat (Fajia).

Tambahan dari Bpk. Ardian Cangianto (1):

Guan Zhong adalah penganut pragmatisme legalisme, Xun Zi sama Meng Zi bersama2 mengklaim sebagai pewaris ajaran Kong Zi. Awalnya dinasti Han itu gunakan prinsip ganda, pertama 3 aturan yg dbuat Liu Bang waktu masuk Guan Zhong, trus jg waktu awal dinasti han berdiri gunakan faham taoism di ekonomi, paham legalis di uu dan jg mengusung kata ren zheng alias pemerintahan yg berperikemanusiaan/berkebajikan. tapi sejak adanya pemberontakan 7 raja muda, itulah masa kelam penggunaan faham2 filsafat yg telah ada krn adanya perpecahan.

Tambahan dari Bpk. Ardian Cangianto (2):

karena adanya pemberontakan 7 raja muda itu maka semua aliran dihapus dan ajaran Kong Zi dimodifikasi termasuk jg oleh Dong Zhongshu sendiri.

Tambahan dari Bpk. Ardian Cangianto (3):

pengawasan paling sederhana yg dicoba diterapkan itu adalah dalam keluarga sebagai pengawas dan jg sebagai fungsi control sosial tapi prakteknya ya melindungi masing2

Tambahan dari Bpk Ardian Cangianto (4):

fa jia akan rontok saat menjepit rakyat terlalu keras, misalnya qin shihuang tapi bisa berjalan waktu shang yang dgn qin xiaogong toh.

 

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing List Budaya Tionghua 1958



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
 

blog comments powered by Disqus

Kalender

Prev Next

2012.05.08 Seminar Nasional : "Pera…

Rekan2 Yth, Mohon kehadiran Anda yg berdomisili di Bandung dan sekitarnya. Kehadiran Anda semua akan sangat berarti bagi kami. Terimakasih dan salam budayaDidi ...

Didi Kwartanada - avatar Didi Kwartanada 07 May 2012 Event Budaya Tionghoa

Read more

21-22 April 2012 | Acara Kirab Ritu…

Forward : Informasi dari Wajah Kota Lasem di Facebook Page Budaya Tionghoa ** ACARA KIRAB RITUAL BUDAYA dan  H.U.T MAKCHO THIAN SIANG BO di Tiongkok Kecil (LA...

Wajah Kota Lasem  - avatar Wajah Kota Lasem 18 Apr 2012 Event Budaya Tionghoa

Read more

Tradisi

Prev Next

Bhutan , Diantara Tiongkok dan Indi…

Budaya-Tionghoa.Net | Orang Bhutan dikenal juga sebagai Bhote , Bhotia , Bhutia , etc yang tinggal di negara Bhutan. Negara kecil ini seluas 47 ribu kilom...

Huang Dada - avatar Huang Dada 19 May 2012 Dialek

Read more

Kwee Pang [2] - Anggapan Tahayul

Budaya-Tionghoa.Net | Jika point 1 sampai 4 yang menjadi penyebab umum terjadinya kweepang dan lebih kearah hubungan horizontal antar manusia. Maka point...

Ardian Cangianto - avatar Ardian Cangianto 19 May 2012 Adat Istiadat

Read more

Sejarah

Prev Next

Perjanjian Nanking (1842) Antara Qi…

Budaya-Tionghoa.Net | Perjanjian Nanking mengakhiri Perang Candu [1839-1842] dan Tiongkok menyerahkan Hong Kong ke Inggris , membuka sejumlah pelabuhan untuk pe...

Huang Dada - avatar Huang Dada 15 May 2012 Dinasti QIng

Read more

Tuduhan Dr. Geoffrey Wade Bahwa Zhe…

Budaya-Tionghoa.Net | Dr. Geoffrey Wade sebenarnya adalah sebuah nama misterius yang belum dikenal (nobody) dan baru muncul diantara para peneliti dan penulis s...

Golden Horde - avatar Golden Horde 13 May 2012 Tiongkok & Indonesia

Read more

Filsafat

Prev Next

Menyusun Altar Menurut Tradisi Tion…

Budaya-Tionghoa.Net | Jika menyusun altar menurut tradisi Tionghoa, sebenarnya mereka sedang menyusun alam semesta kecil di altar. Filsafat Tionghoa terka...

Xuan Tong & Ardian Cangianto - avatar Xuan Tong & Ardian Cangianto 12 May 2012 Filsafat Lain

Read more

Kitab Taiping jing 太平经

Budaya-Tionghoa.Net | Taiping jing太平经 adalah suatu kitab penting bagi Taoism yang isinya antara lain adalah masalah Taiping atau kedamaian yang agung. Kita perl...

Xuan Tong - avatar Xuan Tong 16 Apr 2012 Tao

Read more

Sains

Prev Next

Ketika Sistem Pengobatan Barat Dan …

Budaya-Tionghoa.Net | Sistem pengobatan Tionghua sering dianggap kuno dan ditinggalkan oleh sebagian orang Tionghua sendiri yang beralih ke dokter dengan ...

Kaipang - avatar Kaipang 17 May 2012 Pengobatan

Read more

Varian Rudal Panggul Darat Ke Udara…

Budaya-Tionghoa.Net | Banyak yang bilang Tiongkok adalah tukang meniru , ada benarnya juga seh. Tetapi apa salah meniru yang baik, dan akhirnya dapat me...

Heri Tanta - avatar Heri Tanta 17 May 2012 Militer

Read more

Tionghoa

Prev Next

Riwayat Liem Koen Hian (IV)

Budaya-Tionghoa.Net |  Toean Liem Pegang Sin Tit Po (2 September 1929 sampe – 19 Desember 1932) 3 taon sadja ia pegang Sin Tit Po atawa satoe taon lebih s...

Tjamboek Berdoeri (Djoelia 28) - avatar Tjamboek Berdoeri (Djoelia 28) 18 May 2012 Sejarah Tionghoa

Read more

Benny Mok Sau Chung : Profil

Budaya-Tionghoa.Net | Max Mok Sau Chung dilahirkan di Hong Kong pada tahun 1960. Dia juga dikenal sebagai  Benny Mok Sau Chung  . Mok adalah  seorang arti...

Kaipang - avatar Kaipang 17 May 2012 Sosialita

Read more

Data

Prev Next

Nasehat Pernikahan Jaman Dulu : Bag…

Budaya-Tionghoa.Net | Berikut ini nasehat pernikahan jaman dulu , dimuat di Liberty pada bulan November 1931 , dalam bahasa masa itu. Tentunya nasehat ini belum...

Tjiong Djie Nio (via Tjendela)  - avatar Tjiong Djie Nio (via Tjendela) 12 Apr 2012 Arsip || Dokumen | Artikel

Read more

Tabel Variasi Linguistik

Budaya-Tionghoa.Net | Variasi linguistik dikalangan Han-Chinese merujuk pada istilah fangyang 方言 , yang umum diterjemahkan sebagai "dialek" atau "topolect". D...

 - avatar 14 Jan 2012 Tabel

Read more

Seni

Prev Next

Wu Rujun Sang Pangeran Jinghu

Budaya-Tionghoa.Net |  Wu Rujun (吳汝俊) , tidak banyak orang yang mengenal musikus ini. Ia dilahirkan di Nanjing pada tahun 1963, ayahnya juga seorang mus...

Chendra Ling Ling - avatar Chendra Ling Ling 12 May 2012 Seni Musik

Read more

Kajian Film : “Curse Of The Golden …

Budaya-Tionghoa.Net | Curse Of The Golden Flower adalah film epik kolosal yang disutradai Zhang Yimou.  Skenario film ini diadaptasi dari sebuah drama tra...

 - avatar 11 May 2012 Sinematografi

Read more

Buku

Prev Next

Review Buku : "Mao The Unknown Stor…

Budaya-Tionghoa.Net | Seorang kawan (SML) meminjami saya buku Jung Chang yang ditulisnya bersama suaminya Jon Halliday, (seorang sejarawan), terjemahan bahasa B...

Ibrahim Isa  - avatar Ibrahim Isa 16 May 2012 Buku

Read more

Polemik Dan Perdebatan Seputar Buku…

Budaya-Tionghoa.Net | Buku Gavin Menzies yang terbit pertama kalinya ditahun 2002 ini, telah menimbulkan polemik dan perdebatan yang yang sengit antara pihak-pi...

Golden Horde - avatar Golden Horde 13 May 2012 Buku

Read more