Gambang Kromong Dan Wayang Cokek
Budaya-Tionghoa.Net | Etnis Tionghoa Indonesia pada umumnya dan Cina Benteng pada khususnya mempunyai budaya yang unik. Salah satunya tradisi pernikahan adat tradisional yang disebut Ciotao. Kebanyakan Cina Benteng mengadakan resepsi pernikahan dengan diiringi hiburan gambang kromong (cokek ngibring) . Ada beberapa anggapan bahwa gambang kromong adalah kebudayaan Betawi. Anggapan ini muncul dari salah satu member diskusi di Facebook Group kami . Seperti biasanya , diskusi menarik ini akan kami rangkum.
Admin
*******
|
||||
Anggapan bahwa gambang kromong ini adalah kebudayaan Betawi , tidak tepat. Justru etnik Betawi-lah yang mengadopsi Gambang kromong dan Wayang Cokek yang asalnya dari kaum peranakan di Betawi, bukan sebaliknya ! Etnis Cina Bentenglah yang mempertahankan kesenian yang asalnya dari Jakarta , sewaktu masih bernama Batavia. Kesenian ini kemudian tersebar sampai ke Bogor, Tangerang dan Bekasi (Botabek).
Wayang cokek--sering disingkat “cokek” atau “wayang” saja--berasal dari akar kata “wayang” dan “cokek”. “Wayang” berasal dari kata bahasa Melayu “anak wayang” (aktor atau artis), kata ini masih dikenal di Semenanjung Melayu (Malaysia). “Cokek” berasal dari kata Hokkian “c’niou k’ek”, artinya “menyanyi”. Jadi dari namanya saja kita tahu bahwa Wayang Cokek bukan penari, tapi penyanyi! Namun pada akhir abad ke-19, ketika Wayang Cokek juga bertugas menemani tamu menari saat menyanyikan lagu Dalem, maka lambat-laun orang beranggapan bahwa Wayang Cokek adalah “penari yang juga menyanyi”, bukan penyanyi lagi. Anggapan ini terus berlaku sampai sekarang.
Lagu-lagu gambang kromong tertua yang masih diketahui jejaknya sampai sekarang adalah lagu-lagu berirama instrumentalia, dan dikenal dengan nama lagu Pobin. Lagu-lagu ini masih memakai nama Cina, suatu bukti asal usulnya yang Cina: Kong Ji Liok, Cu Te Pan, Cay Cu Teng, Seng Kiok, Ma To Jin, Ban Kim Hoa, etc.
Lagu Pobin ini diikuti lagu gambang kromong generasi kedua, dikenal sebagai lagu dalem dan dinyanyikan--tidak diibingkan---oleh Wayang Cokek (artis penyanyi) dalam bahasa Melayu-Tionghoa: Pecah Piring, Mas Nona, Gula Ganting, Semar Gunem, Mawar Tumpah, Poa Si Li tan, Sip Pat Mo, Centeh Manis Berdiri, Gunung Payung, Tanjung Burung, etc.
Sekarang ini hanya tinggal wayang cokek senior Masnah alias Pang Tjin Nio yang mampu menyanyikan lagu-lagu klasik gambang kromong, itu pun dalam kondisi kesehatan yang tidak prima, karena usia beliau yang sudah lanjut. Cuma sayang, panjak (pemusik) gambang kromong yang sekarang masih mampu memainkan lagu Pobin dan lagu dalem tidak banyak lagi, kalau tidak mau dikatakan hampir habis.
Generasi ketiga dan terakhir, karena lagu yang dinyanyikan oleh Suhaeri Mufti-Lilis Suryani, Benyamin Suaeb-Ida Royani adalah lagu pop Betawi, bukan lagu gambang kromong--adalah jenis lagu Gambang Kromong yang disebut lagu sayur. Lagu-lagu seperti: Jali-Jali (Ujung Menteng, Pasar Malem, Jalan Kaki, Bunga Siantan etc), Stambul (Satu, Dua, Jengki, Lama, Sirih Wangi, dll), Kramat Karem (pantun dan biasa), Persi (rusak dan jalan), Centeh manis, Gelatik Ngunguk, Onde-Onde, Balo-Balo, Akang Haji, Renggong Manis, Renggong Buyut, Kue Mangkok, etc - termasuk kategori lagu pop gambang kromong ini.
Berbeda dengan lagu Pobin dan lagu dalem, lagu sayur bisa diibingkan. Di sinilah peran Wayang Cokek sebagai penyanyi berubah, penyanyi sekaligus penari. Peran sebagai penyanyi ini lama-kelamaan menghilang. Wayang Cokek sekarang hanya berfungsi sebagai penari. Untuk penyanyinya, sudah ada penyanyi khusus di panggung. Generasi sekarang hanya mengenal wayang cokek sebagai PENARI Gambang Kromong, kebanyakan mereka pun tidak lagi mampu menari dengan baik, tapi hanya menggeliat-geliatkan tubuh mereka macam cacing kena abu…
Page 1 of 2




