Print
PDF

Tradisi di antara Agama & Politik

Written by Lisa Suroso on .

<

Budaya-Tionghoa.NetEtnis Tionghoa di Papua sama heterogennya dengan suku-suku asli. Walaupun berasal dari daerah moyang yang sama, mereka tidak satu agama, satu tradisi, dan satu pendapat. Agama dan politik telah membedakannya.

Di antara rimbunnya rumpun bambu, Ricky The menyusuri bongkahan-bongkahan nisan yang berjajar. Wakil Ketua Perkumpulan Keluarga Besar Toroa (yang semuanya adalah peranakan Tionghoa-Papua) ini menunjuk sebuah nisan baru terbuat dari porselen merah. Tertulis nama “Tan Kai Tjok” di sana, moyang dari semua keluarga Toroa yang datang dari provinsi Fujian.

 

“Saya yang mengganti nisan ini tahun lalu, supaya cicit-cicit tahu,” katanya. Generasi ketiga keturunan Kai Tjok ini mengganti nisan asli yang tertulis dalam huruf Mandarin di atas batu yang dipahat. Karena sudah tidak ada lagi keturunan Kai Tjok yang mengerti bahasa Mandarin, Ricky berinisiatif menggantinya dengan nisan modern berlapis porselen. Tapi ia membiarkan bagian badan kuburan yang berbentuk oval memanjang, khas kuburan Tionghoa kuno. “Bong pai-nya tidak saya ganti, ini tetap asli.”

Melihat komplek pekuburan itu, tak tampak kuburan khas Tionghoa di sana. Harus melihat lebih jeli ke bentuk bong pai yang berbeda dengan kuburan awam. Nama-nama yang tertera sudah memakai nama keluarga Papua. Letak pekuburan itu pun ada di tengah kota, di pinggir jalan. Bercampur dengan kuburan Kristen dan Muslim.

“Sewaktu kecil, saya ingat masih membawa kue-kue ke kuburan ini pada hari raya tertentu. Sekarang tidak pernah lagi. Imlek pun kami tak merayakan apa-apa,” kata Ricky.

Artikel Terkait:

 

Dulu, saat generasi pertama dan kedua masih hidup, masyarakat Tionghoa Serui masih kental memelihara adat-istiadat Tionghoa. “Zaman engkong dulu ada rumah yang kami sebut Rumah Kong Ek,” kata Renny Raweyai. Rumah Kong Ek adalah bangunan yang didirikan oleh Kong Ek Hwee atau Perhimpunan Kong Ek, yang berfungsi sebagai tempat pertemuan masyarakat Tionghoa sekaligus tempat menginap kerabat yang datang dari kampung-kampung lain. “Mereka masih suka sembahyang Khonghucu di sana,” ingat perempuan bermarga Thung ini.

Belakangan, saat agama Kristen Protestan makin populer, tradisi itu pun lenyap seiring dengan masuknya mereka ke agama Kristen. “Dalam agama Kristen sudah tidak boleh lagi ada kebiasaan itu,” kata Linda Tan Bonai, diikuti oleh anggukan ibu-ibu peserta kebaktian Kristen Ikatan Keluarga Besar Serui (IKBS). IKBS adalah ‘mutasi’ dari Perhimpunan Kong Ek. Saat rumah Kong Ek dipinjamkan pada Angkatan Laut dan Kodim di tahun 1962, Perhimpunan berubah menjadi IKBS yang beranggotakan 148 keluarga dari berbagai marga. Kini kegiatan rutin IKBS adalah kebaktian rumah tangga Kristiani.

“Masih ada satu keluarga yang memakai meja dupa,” kata Linda lagi. Ia menyebut keluarga Merpati, pemilik toko dan hotel Merpati di Serui yang berasal dari keturunan suami-istri asli Tiongkok. Moyang perempuan keluarga ini bahkan berkaki kecil dan dibawa pulang ke Tiongkok sewaktu meninggal. Keluarga ini juga memberi nama modern pada anak-anak mereka, karena tidak ada darah campuran Papua. Berbeda dengan semua anggota IKBS yang sudah mengadopsi nama marga ibu yang asli Papua.

Di Kaimana, kota yang terletak di selatan Papua, saya harus mendaki bukit untuk sampai ke kuburan khusus Tionghoa. Sesampainya di atas bukit, terhampar pemandangan luas ke arah lautan. Konon, masyarakat Tionghoa percaya letak kuburan yang terbaik adalah di perbukitan yang menghadap lautan atau air. Kuburan-kuburan berbentuk bulat besar terjajar rapi. Semuanya dalam bahasa Mandarin. Terlihat beberapa bekas dupa masih menancap di tempatnya. Di depan tiap kuburan ada sebuah bangunan nisan kecil. “Itu adalah tempat bagi arwah penjaga kubur. Namanya toa di kong. Di sana kami membakar dupa dan uang kertas Cina,” kata Ang Kim Hie, sesepuh Tionghoa tertua di Kaimana.

Berbeda dengan masyarakat Tionghoa Serui, masyarakat Tionghoa di Kaimana masih menjaga tradisi penghormatan kepada arwah orang mati. Di ruang keluarga tiap-tiap rumah, terpampang tempat dupa yang berisi hio. Di atasnya ada foto-foto moyang mereka.

Mereka juga punya rumah kongsi, sebuah gedung pertemuan bercat merah-bergambar naga yang masih ada sampai saat ini. Dua kali setahun rumah ini dibuka untuk merayakan Ceng Beng dan Cit Gwee Poa. “Pada pukul dua, upacara untuk menghormati orang mati dimulai, jam enam semua warga makan-makan,” kata John Ang, warga Tionghoa Kaimana yang cukup senior. Upacara ini ha¬nya boleh diikuti kaum pria dan anak-anak. Kaum perempuan hanya boleh bergabung saat makan-makan. Sembahyang dimulai dengan mempersiapkan meja altar, dupa dan makanan-makanan untuk para leluhur. Mereka kemudian berdoa dipimpin oleh pemuka yang disebut Laocu dan Taoke yang jabatannya diundi tiap tahun.

Etnis Tionghoa Kaimana menganut agama Katholik. Ini dipengaruhi oleh persebaran agama Katholik yang memang berpusat di Papua Selatan, sementara agama Kristen Protestan berpusat di wilayah utara pulau. Agama Katholik memperbolehkan umatnya memelihara tradisi nenek moyang, seperti membakar dupa. “Dalam agama Katholik ada juga sembahyang arwah,” kata John Ang.

Beberapa warga Tionghoa Kaimana masih fasih berbahasa dan menulis Mandarin. “Saya masih bisa, dulu sempat belajar di sekolah,” kata Kim Hie. Ia lalu menorehkan huruf-huruf Mandarin di atas kertas.

Di Kaimana, sempat ada sekolah Tionghoa. Kegiatannya dilakukan di rumah kongsi. “Satu tahun ada dua kelas. Gurunya datang dari Hongkong. Kami sekolah tidak bayar,” tambahnya. Berbeda dengan sekolah Tionghoa yang terorganisir di Jawa, sekolah Tionghoa di Papua berdiri atas dasar urunan dana atau sponsor dari warga yang paling kaya. Sekolah Tionghoa yang sempat berdiri ada di kota Biak, Sorong, Kaimana dan Manokrawi. Masing-masing berdiri secara mandiri dan tidak berafiliasi. Sekolah bisa buka dan tutup tergantung dana dan sponsor yang tersedia. Seperti sekolah Mandarin di Sorong, yang berdiri sampai dua buah. Salah satunya berdiri atas sumbangan Po En Liong, warga Tionghoa terkaya di Sorong. Karena bersaing, sepupu En Liong ikut mendirikan sekolah juga. “Setiap hari Senin kami ada upacara bendera,” kata Kim Hie lagi. “Kami hormat ke bendera Taiwan.”

Ketika Jepang masuk ke Papua tahun 1942, sekolah-sekolah ini di tutup. “Jepang sangat kejam. Rumah dan toko dibakar. Rumah kongsi dijadikan markas mereka, jadi kami tak bisa sekolah. Kami juga harus mengungsi ke desa lain.” Sejak saat itu perempuan yang lahir tahun 1931 ini tak pernah sekolah lagi.

Meskipun beberapa kegiatan adat tradisional Tionghoa masih terjaga, masyarakat Kaimana tidak lagi merayakan Imlek sejak zaman Soeharto. “Karena dilarang, kami memindahkan tanggal Imlek ke tanggal 1 Januari. Tradisi membagi-bagi angpaonya tetap kami laksanakan,” kata John. Meskipun Imlek kini sudah boleh dirayakan, mereka tetap tidak mengadakan kegiatan apa-apa. “Dua tahun lalu karena Wakil Bupati kami, Bapak Mathias Maemura adalah peranakan dari marga Sing, Imlek kami rayakan. Tapi penduduk Tionghoa di Kaimana ini tidak kompak karena persaingan bisnis, maka tak pernah ada lagi perayaan Imlek bersama.”

Di balik perbedaan dan keunikan etnis Tionghoa di beberapa wilayah Papua, ada satu kesamaan yang mereka punya: pantang makan ikan lasi. Ikan dengan nama latin scomberoides commersonianus ini adalah ikan yang biasa disantap di Papua. Bahasa umumnya ikan talang-talang. Ikan ini dipercaya pernah menolong nenek moyang mereka, seorang raja dari Tiongkok, saat pertama kali datang ke bumi cendrawasih. “Waktu perahu bocor, ikan ini menutupi lubang kapal dengan tubuhnya, sehingga kapal tak jadi tenggelam,” kata Ricky. Sebagai ungkapan terimakasih, raja bersumpah bahwa ia dan keturunannya tidak akan makan ikan ini. Bila makan akan terserang gatal-gatal. Raja pun menekan tangannya pada ikan itu sebagai ‘materai’ sumpah. Itu sebabnya kita bisa melihat tanda lima sidik jari manusia di tubuh ikan lasi. ** (Lisa Suroso)

 

Budaya-Tionghoa.Net |


Pihak yang ingin mempublikasi ulang tulisan dalam web ini diharapkan untuk menyertakan link aktif : www.budaya-tionghoa.net dan link aktif yang berada didalam tulisan atau membaca lebih jauh tentang syarat dan kondisi . Mempublikasi ulang tanpa menyertakan tautan internal didalamnya termasuk tautan luar ,  tautan dalam , catatan kaki , referensi , video , picture , sama dengan mengurangi konten dalam tulisan ini.



Add this page to your favorite Social Bookmarking websites
 

blog comments powered by Disqus

Kalender

Prev Next

2012.05.08 Seminar Nasional : "Pera…

Rekan2 Yth, Mohon kehadiran Anda yg berdomisili di Bandung dan sekitarnya. Kehadiran Anda semua akan sangat berarti bagi kami. Terimakasih dan salam budayaDidi ...

Didi Kwartanada - avatar Didi Kwartanada 07 May 2012 Event Budaya Tionghoa

Read more

21-22 April 2012 | Acara Kirab Ritu…

Forward : Informasi dari Wajah Kota Lasem di Facebook Page Budaya Tionghoa ** ACARA KIRAB RITUAL BUDAYA dan  H.U.T MAKCHO THIAN SIANG BO di Tiongkok Kecil (LA...

Wajah Kota Lasem  - avatar Wajah Kota Lasem 18 Apr 2012 Event Budaya Tionghoa

Read more

Tradisi

Prev Next

Pernak-pernik Budaya Tionghua: Papa…

Budaya-Tionghoa.Net | Papan ini sebenarnya adalah juga menghalangkan suatu doa atau pengharapan, yakni:

Ivan Taniputera - avatar Ivan Taniputera 23 May 2012 Dewa Dewi - Pantheon Tiongkok

Read more

Bhutan , Diantara Tiongkok dan Indi…

Budaya-Tionghoa.Net | Orang Bhutan dikenal juga sebagai Bhote , Bhotia , Bhutia , etc yang tinggal di negara Bhutan. Negara kecil ini seluas 47 ribu kilom...

Huang Dada - avatar Huang Dada 19 May 2012 Dialek

Read more

Sejarah

Prev Next

Perjanjian Nanking (1842) Antara Qi…

Budaya-Tionghoa.Net | Perjanjian Nanking mengakhiri Perang Candu [1839-1842] dan Tiongkok menyerahkan Hong Kong ke Inggris , membuka sejumlah pelabuhan untuk pe...

Huang Dada - avatar Huang Dada 15 May 2012 Dinasti QIng

Read more

Tuduhan Dr. Geoffrey Wade Bahwa Zhe…

Budaya-Tionghoa.Net | Dr. Geoffrey Wade sebenarnya adalah sebuah nama misterius yang belum dikenal (nobody) dan baru muncul diantara para peneliti dan penulis s...

Golden Horde - avatar Golden Horde 13 May 2012 Tiongkok & Indonesia

Read more

Filsafat

Prev Next

Menyusun Altar Menurut Tradisi Tion…

Budaya-Tionghoa.Net | Jika menyusun altar menurut tradisi Tionghoa, sebenarnya mereka sedang menyusun alam semesta kecil di altar. Filsafat Tionghoa terka...

Xuan Tong & Ardian Cangianto - avatar Xuan Tong & Ardian Cangianto 12 May 2012 Filsafat Lain

Read more

Kitab Taiping jing 太平经

Budaya-Tionghoa.Net | Taiping jing太平经 adalah suatu kitab penting bagi Taoism yang isinya antara lain adalah masalah Taiping atau kedamaian yang agung. Kita perl...

Xuan Tong - avatar Xuan Tong 16 Apr 2012 Tao

Read more

Sains

Prev Next

Ketika Sistem Pengobatan Barat Dan …

Budaya-Tionghoa.Net | Sistem pengobatan Tionghua sering dianggap kuno dan ditinggalkan oleh sebagian orang Tionghua sendiri yang beralih ke dokter dengan ...

Kaipang - avatar Kaipang 17 May 2012 Pengobatan

Read more

Varian Rudal Panggul Darat Ke Udara…

Budaya-Tionghoa.Net | Banyak yang bilang Tiongkok adalah tukang meniru , ada benarnya juga seh. Tetapi apa salah meniru yang baik, dan akhirnya dapat me...

Heri Tanta - avatar Heri Tanta 17 May 2012 Militer

Read more

Tionghoa

Prev Next

Riwayat Liem Koen Hian (IV)

Budaya-Tionghoa.Net |  Toean Liem Pegang Sin Tit Po (2 September 1929 sampe – 19 Desember 1932) 3 taon sadja ia pegang Sin Tit Po atawa satoe taon lebih s...

Tjamboek Berdoeri (Djoelia 28) - avatar Tjamboek Berdoeri (Djoelia 28) 18 May 2012 Sejarah Tionghoa

Read more

Benny Mok Sau Chung : Profil

Budaya-Tionghoa.Net | Max Mok Sau Chung dilahirkan di Hong Kong pada tahun 1960. Dia juga dikenal sebagai  Benny Mok Sau Chung  . Mok adalah  seorang arti...

Kaipang - avatar Kaipang 17 May 2012 Sosialita

Read more

Data

Prev Next

Nasehat Pernikahan Jaman Dulu : Bag…

Budaya-Tionghoa.Net | Berikut ini nasehat pernikahan jaman dulu , dimuat di Liberty pada bulan November 1931 , dalam bahasa masa itu. Tentunya nasehat ini belum...

Tjiong Djie Nio (via Tjendela)  - avatar Tjiong Djie Nio (via Tjendela) 12 Apr 2012 Arsip || Dokumen | Artikel

Read more

Tabel Variasi Linguistik

Budaya-Tionghoa.Net | Variasi linguistik dikalangan Han-Chinese merujuk pada istilah fangyang 方言 , yang umum diterjemahkan sebagai "dialek" atau "topolect". D...

 - avatar 14 Jan 2012 Tabel

Read more

Seni

Prev Next

Wu Rujun Sang Pangeran Jinghu

Budaya-Tionghoa.Net |  Wu Rujun (吳汝俊) , tidak banyak orang yang mengenal musikus ini. Ia dilahirkan di Nanjing pada tahun 1963, ayahnya juga seorang mus...

Chendra Ling Ling - avatar Chendra Ling Ling 12 May 2012 Seni Musik

Read more

Kajian Film : “Curse Of The Golden …

Budaya-Tionghoa.Net | Curse Of The Golden Flower adalah film epik kolosal yang disutradai Zhang Yimou.  Skenario film ini diadaptasi dari sebuah drama tra...

 - avatar 11 May 2012 Sinematografi

Read more

Buku

Prev Next

Review Buku : "Mao The Unknown Stor…

Budaya-Tionghoa.Net | Seorang kawan (SML) meminjami saya buku Jung Chang yang ditulisnya bersama suaminya Jon Halliday, (seorang sejarawan), terjemahan bahasa B...

Ibrahim Isa  - avatar Ibrahim Isa 16 May 2012 Buku

Read more

Polemik Dan Perdebatan Seputar Buku…

Budaya-Tionghoa.Net | Buku Gavin Menzies yang terbit pertama kalinya ditahun 2002 ini, telah menimbulkan polemik dan perdebatan yang yang sengit antara pihak-pi...

Golden Horde - avatar Golden Horde 13 May 2012 Buku

Read more