A+ A A-

Duan Wu jie 端午节 & Legenda Ular Putih 白蛇传

Budaya-Tionghoa.Net| Masih berkaitan dengan Duan Wu Jie , penulis teringat sebuah penggalan kisah dari legenda ular putih yang cukup terkenal. Seperti yang telah kita ketahui bersama, kisah ini menceritakan kisah cinta berlatar pada jaman Dinasti Song Selatan, antara Siluman Ular Putih – Bai Niang 白娘 alias Bai Suzhen 白素貞 yang berbudi dengan Xu Xian 许仙 alias Xu Hanwen 许漢文. Sebuah legenda yang tercatat dalam Jingshi Tongyan 警世通言 karya Feng Menglong pada jaman Dinasti Ming (1368 to 1644) . Tahukah anda bahwa pada saat perayaan Duan Wu inilah Bai Shuzhen menampakkan wujud aslinya?

 

Read more...

BerkeTuhanan menurut Taoisme

BerkeTuhanan menurut Taoisme

 

          Pada umumnya masyarakat Indonesia beranggapan bahwa Taoisme adalah aliran filsafat, hal ini karena pengertian agama yang diyakini banyak masyarakat Indonesia itu berbasis pada pandangan baku tentang pengertian agama yang harus memiliki : nabi, kitab suci, Tuhan,  alam kematian.Selain hal itu juga karena Taoisme sebagai agama tidak bersifat missionaris, dan banyak yang sudah melebur dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa.

Satu pernyataan menarik dari pastur G.Van Schie “keseluruhan mitos,ritus, dan tata hidup yang merupakan pernyataan serta pengungkapan kepercayaan manusia, dan bahwa GAYA MISTERIUS mempengaruhi semua aspek kehidupannya”. Dalam pembahasan yang dibawakan megenai berkeTuahanan ini dari pandangan dari Taoisme sebagai agama dan tetap tidak bisa dipungkiri bahwa pandangan Taoisme sebagai agama itu tetap dipengaruhi oleh filsafat Taoisme.

Dalam makalah ini, penggunaan Dao dengan d huruf besar adalah untuk menunjukkan sesuatu yang absolute, agung, mutlak dan mulia sedangkan dao dengan d huruf kecil untuk menunjukkan arti sebagai jalan, hukum atau dalil.

BerkeTuhanan dalam Taoisme itu luas dan mendalam karena menyerap berbagai elemen. Semoga paparan ini bisa memberikan satu wawasan yang bisa memperluas pandangan kita semua terutama dalam memandang semua yang ada dalam alam semesta ini dan harmonisasinya demi kebaikan semuanya.

 

SEKILAS AGAMA TAOISME

            Taoisme mendapat pengaruh dari kepercayaan shamanisme purba Tiongkok dengan para pendeta yang disebut wuxi[1], kemudian konsep keabadian sebagai xian, dipengaruhi pemikiran Huanglao. Taoisme sebagai agama memiliki dogma bahwa ada 3 tokoh yang membabarkan agama Taoisme, pertama adalah Huangdi ( kaisar Kuning )[2], kedua adalah Lao Zi[3], ketiga adalah Zhang Daoling[4]. Kitab-kitab Taoisme yang utama adalah Daode jing 道德經, kitab Zhuang Zi[5] 南華真經, kitab Taipingjing 太平經, Taishang Ganyingpian 太上感應篇, Qingjing jing 清靜經dan banyak kitab lainnya[6].

Dalam perjalanan sejarahnya, filsafat Taoisme pernah menjadi system pemerintahan pada dinasti Han dan salah satu yang diterapkan adalah : wuwei jingji 無為經濟 ( ekonomi non intervensi ), dimana ini diterapkan oleh Liu Bang 劉邦, kaisar pertama dinasti Han. Hal ini dilakukan atas saran Lu Jia 陸賈 ( 240 BCE- 170 BCE )untuk mengatasi perekonomian negara yang berantakan. Dari filsafat kemudian berkembang menjadi agama dan dalam sejarah Tiongkok,  dan ada dua clan marga yang disegani oleh kerajaan terkait dengan kepercayaan dan agama. Pertama adalah marga Kong 孔, kedua adalah marga Zhang 張. Marga Zhang yang menempati Longhushan 龍虎山 ( gunung Naga Harimau ) adalah keturunan dari Zhang Daoling, sedangkan marga Kong mayoritas di Qufu 曲阜 adalah keturunan Kong Zi. Taoisme terutama aliran Zhengyi menghormati guru langit dan hingga sekarang ini guru langit sudah generasi ke 65. Para guru langit itu harus memiliki darah keturunan langsung dari Zhang Daoling dan Longhu shan hingga kini menjadi tempat pengtasbihan pendeta Tao aliran Zheng Yi.

Lu Xun ( 1881-1936 )[7] mengatakan bahwa akar dari Tiongkok ada di Taoisme dan menurut Josep Needham ( 1900-1995 )[8], peradaban Tiongkok tanpa Taoisme bagaikan pohon tanpa akar. Pernyataan itu bukan dibuat sembarangan tapi memiliki dasar dan kenyataannya bahwa Taoisme memiliki pengaruh yang amat kuat tapi tidak terasa bahwa Taoisme dalam perkembangan sejarah Tiongkok memberikan kontribusi besar dalam pembentukan budaya, iptek, system kepercayaan dan banyak hal lainnya.Dan menjadi salah satu pilar penting dalam peradaban Tiongkok, dimana pilar lainnya adalah  Ruisme[9] yang menjadi dasar negara selama hampir 2000 tahun.

 

Dasar-dasar dalam TAOISME

            Sebelum memasuki dasar-dasar Taoisme, perlu tahu arti kata dao dan de dari sudut etimologi.

Dao adalah gabungan dari dua akar kata, yaitu chuo ( melangkah, jalan )  dan shou ( kepala/pertama). Artinya melangkah dengan kepala tegak, bisa juga diartikan langkah pertama ( utama ), langkah yang memimpin. Dan de 德gabungan dari : chi yang berarti (sedang ) berjalan,zhi yang berarti lurus, xin yang berarti kondisi batin atau hati[10].

            Seperti diungkapkan di atas bahwa Taoisme menyerap berbagai komponen diluar filsafat Tao dan kemudian menjadi dasar mereka terutama dalam memaknai apa yang menjadi adi kodrati atau Tuhan. Kita selalu bertanya-tanya, bagaimana bentuk Tuhan, apa nama Tuhan, mahlukkah, dan beragam pertanyaan yang lainnya meliputi benak manusia dalam menjelajahi dunia spiritual. Tentunya jawaban beragam dan jawaban beragam itu tidak perlu dipertentangkan mana yang benar. Karena sesuai dengan pemikiran para Taoist berdasarkan kitab Daodejing bab 1 : “Nama yang diberikan bukanlah nama yang sesungguhnya”, disini kita bisa melihat bahwa nama itu tidak ada, nama hanya persepsi manusia untuk membedakan dan membangun suatu pemikiran “pembedaan” antara satu dengan yang lain. Bahwa dengan adanya nama maka semua mahluk itu menjadi ada dan itu berada dalam konsep pemikiran manusia. Dalam pengertian bahwa penamaan itu yang membuatnya “seolah-olah” hadir dan hadirnya itu juga masih dalam persepsi si pemberi nama atau juga dalam persepsi yang meyakini “nama” itu.

Semua saat memberi pengertian atau mencoba mendeskripsikan apa yang disebut “Tuhan” dan “berkeTuhanan “ tentunya memiliki dasar-dasar, baik dari sejarah; budaya; system religi dan lainnya. Dan dibawah ini antara lain dasar-dasarnya di Taoisme.

Pertama : Jika Tuhan menjadi sumber segalanya, maka Taoisme juga mempercayai bahwa sumber segalanya adalah Dao. Daodejing bab 25 :

”Ada sesuatu “benda” bercampur baur, sudah ada sebelum langit bumi terbentuk, tak terdengar suaranya dan tak terlihat wujudnya, tak mengandalkan apapun berdiri sendiri ( absolute ), bergerak tiada mengenal henti, dapat disebut bunda langit bumi. Ku tak tahu namanya, (aku ) paksa memberi nama Dao, kupaksakan menyebutnya Da ( besar )[11].”

Kedua : Falsafah yinyang[12], seperti dalam Daodejing bab 1, “tak bernama” ( 無名 ) awal langit dan bumi, “bernama” ( 有名 ) bunda dari segala benda. Penamaan itu memiliki fungsi  pembedaan maka semua bisa menjadi berbeda dan disitulah mulai lahir kategorisasi. Misalnya mengenal cantik maka akan mengenal apa yang disebut buruk. Mengenal panjang maka akan ada lebar, maka ada ruang, dan seterusnya. Salah satu dasar dalam Yijing ( kitab perubahan ), “satu yin dan satu yang itulah yang disebut dao”. Dalam pengertiannya bahwa semua mahluk pasti memiliki unsur yin maupun yang[13]. Dan dalam pertemuan antara yin dan yang itu pasti melahirkan sesuatu yang baru tapi tanpa menegasi atau menghapuskan yang lainnya.

Ketiga : Semua benda memiliki kesadaran ( kehidupan ) atau animisme. Dalam pengembangannya, diperluas lagi oleh Zhuang Zi bahwa semua benda yang ada di alam semesta ini memiliki daya guna. Karena memiliki daya guna, maka semua benda yang ada di alam semesta ini memiliki hak untuk “ada”. Bukanlah hak manusia untuk menilai “berguna” dan “tidak berguna” suatu benda. Dan masing-masing sudut pandang dalam menilai kegunaan bisa beragam.

Keempat : Panentheisme dan pantheisme ada dalam Taoisme, Dao adalah bunda dari segalanya dan juga Dao ada di segala benda di seluruh alam semesta. Semua yang ada adalah emanasi dari Dao. Dao juga bisa berarti dalil atau hukum alam. Dalam komentar Kong Zi untuk kitab Yijing adalah ,“ Taiji ( maha kutub ) berada di segala benda, tidak ada benda yang tidak bisa dimasukinya dan tidak ada benda yang bisa menampungnya”. Dan  selain itu taiji adalah sumber dari segalanya dan juga mencakup segalanya.

Kelima : Dao adalah bentuk luaran dan de[14] adalah bentuk isian, dimana de adalah jejaring yang “tersembunyi” di dalam keseluruhan alam semesta ini yang berkesinambungan. Dao dan de bagaikan dua sisi mata uang dalam satu kesatuan. Jika dao itu adalah alam itu sendiri beserta segala isinya, maka De adalah yang mengisi “ruang-ruang antara” segala yang ada di alam semesta ini.

 

BERKETUHANAN DALAM TAOISME

            Dengan lima point di atas itu mempengaruhi agama Tao dalam membangun system kepercayaan mereka. Umumnya masyarakat melihat umat Tao adalah politheisme, penyembah bintang, bisa saja pandangan ini lahir karena umat Tao sendiri banyak yang bersifat pragmatis dalam kehidupan spiritualnya, dan dalam Taoisme hal itu wajar-wajar saja karena dalam Daodej ing bab 79  : “Jalan Langit tidak memihak ( adil ), abadi bersama  dengan orang yang melaksanakan kebajikan”[15]. Semua benda memiliki daya guna dan layak dihormati serta disembah, semua benda adalah emanasi dari Dao itu, tiada perbedaan antara satu dengan yang lain. Saat langit dan bumi terbentuk, ada kesadaran-kesadaran yang hidup di langit dan bumi, kesadaran yang bagian dari pancaran Tao itu kemudian disebut dewata dan semua memiliki fungsi dan daya guna dalam pergerakan alam semesta ini.

Sesuatu yang absolute; tak terkatakan;  tak terbentukkan, tentunya tidak bisa digambarkan tapi pada prinspinya manusia memerlukan satu “jangkar” dalam pikiran mereka untuk menjadi suatu cara sederhana untuk memahami apa yang disebut Dao. Untuk itu ada sosok yang tertinggi dalam Taoisme, yaitu Taishang laojun ( 太上老君 ). Kata ini diambil dari kitab Daodejing bab 17 “Pemimpin bajik yang teragung dan tertinggi ( 太上 )”[16].  Taishanglaojun ini adalah emanasi dari DAO itu sendiri dan Laozi salah satu inkarnasi dari Taishanglaojun. Dan bab 17 ini berkorelasi dengan Daodejing bab 42[17], sehingga bisa memahami ada sanqing atau trimurni Taoisme[18], dimana Taishanglaojun adalah salah satu dari tiga itu. Jadi konsep dewata tertingginya sendiri tidak lepas dari Daodejing. Karena itu adalah “jangkar” dalam memudahkan manusia memahami Dao, maka perlu direnungkan kata-kata Hui Neng[19] yang kurang lebih ujarnya adalah : “Jari hanya menunjuk rembulan dan dengan demikian jari bukanlah rembulan, hanya sebagai pengarah saja.”

Kata bunda dalam Taoisme disebut berkali-kali dan digambarkan sebagai bunda dari segala benda. Ini menunjukkan Dao itu lembut; keibuan, sehingga menekankan kelembutan sebagai factor penting, selain itu adalah sifat alamiah, tidak memaksa dan merebut. Dan ada dalil  hukum itu bersifat mutlak dan adil terhadap siapapun, jika seseorang terkena virus flu, dan kondisinya memungkinkan virus itu menyerang, maka siapapun dia akan terkena flu. Karena itu dikatakan dao ( virus flu ) tidak memilih hanya karena factor agama, ras, suku, etnis. Untuk tidak terkena hukum seperti itu maka kondisi ideal nan harmonis harus dijaga, diperbaiki dan diperjuangkan. Mereka yang menjaga kondisi-kondisi ideal dan harmonis itu adalah dewata dan siapapun bisa menjadi dewata karena upaya menjaga dan memperjuangkan serta memperbaiki kondisi ideal nan harmonis itu.

Dan umat Tao dalam menjalankan itu harus bisa “Menghormati Langit dan Bumi, para suciwan, leluhur dan menghargai  dan mencintai semua mahluk” (敬天地禮神明祀祖先﹐慈心于物). Hal ini karena semua adalah emanasi dari Dao, jadi semua manusia di bumi ini adalah Taoist, hanya cara mereka memaknai Dao beragam, yang utama adalah dalam memaknainya itu adakah De ? Jika ada maka mereka adalah Taoist sejati dan bisa menyatukan diri dengan Dao. Dan patokannya ada dalam Daodejing bab 67  : “  Ku memiliki tiga pusaka, genggam erat dan jalankan. Pertama adalah welas asih, kedua sederhana ( hemat rendah hati ), ketiga jangan mendahului dunia.”

 Dan Dao adalah  sesuatu yang mutlak, tak terkatakan, tak terbayangkan, jadi jika kata Dao diganti dengan kata Tuhan, tetap memiliki pengertian yang sama. Jadi semua yang ada memiliki unsur berkeTuhanan dan ironisnya manusia menggenggam erat-erat “jangkar-jangkar” itu, bagaikan orang yang memandang jari yang sedang menunjuk bulan itu adalah bulan itu sendiri tanpa mau melihat arah jari yang menunjuk bulan. Semoga dengan paparan ini, kita semakin menyadari bahwa kita semua ada dalam satu jalinan yang maha besar dari sesuatu yang maha agung, dan kita sebut adalah Tuhan.

 

 

           

         



[1] Wuxi 巫覡 adalah para pendeta perempuan ( wu ) dan pria ( xi ) yang bertugas sebagai penghubung antara manusia dengan mahluk adikodrati dan berfungsi sebagai pendoa juga.

[2] Huangdi atau kaisar Kuning ( 2697 BCE ), dipercaya sebagai tokoh purba yang membentuk peradaban Tiongkok dan menjadi bapak bangsa orang Tionghoa ( khususnya etnis Han ).

[3] Lao Zi Lao Zi alias Li Er 李耳, hidupnya diperkirakan antara 571-471 BCE , diyakini oleh umat Tao sebagai penulis kitab Daode Jing.

[4] Zhang Daoling ( 34-156 CE ) adalah pendiri Taoisme sebagai agama dan menjadi guru langit generasi pertama.

[5] Zhuang Zi ( 369-286 BCE ) dalam Taoisme disebut Nanhua manusia sejati 南華真人 dan kitabnya disebut Nanhua zhenjing 南華真經.

[6] Kitab-kitab Taoisme dikanonisasi dan disebut kanon Tao 道藏yang terdiri dari kumpulan kitab-kitab yang dianggap memiliki ajaran Taoisme.

[7] Lu Xun adalah penulis modern dari Tiongkok dan karya-karya memberi inspirasi bagi banyak masyarakat Tionghoa.

[8] Joseph Needham adalah seorang sinolog yang membuat “Science and Civilazation in China” dalam tujuh volume.

[9] Ruism atau Conficiusme.

[10] Dao dan de ditekankan diawal agar memahami bahwa itulah dasar utama dari filsafat maupun agama Taoisme yang menggunakan kitab Daodejing sebagai kitab suci utama mereka.

[11] DDJ bab 25 萬物混成,先天地生。寂兮寥兮,独立而不改,周行而不殆,可以为天地母。吾不知其名,强字之曰:道,强为之名曰:大

[12] Yin yang adalah dua sifat yang berlawanan tapi saling melengkapi, tanpa ada salah satu maka tidak mungkin sesuatu ada.

[13] DDJ bab 42 : “ Semua benda memanggul yin dan memangku yang, ada pertemuan  (benturan ) dua energy itu dan dengan begitu bisa harmonis”万物负阴而抱阳,冲气以为和. Pengertian harmonis ini adalah dengan adanya dua pertemuan itu maka akan sesuatu yang baru dan berharmonisasi.

[14] De , secara umum diartikan kebajikan. Tapi kebajikan ini berkekuatan sehingga bisa berjalan dan berkesinambungan tiada henti.

[15] 天道無情常與善人

[16] Sebenarnya mengacu pada pemimpin yang terbijak dan teragung dan menjadi pertama, keberadaannya tidak disadari rakyat, pemimpin yang menjadi urutan kedua adalah pemimpin bijak dan agung sehingga rakyat berbondong-bondong mendekati dan mengaguminya. Pemimpin kelas ketiga adalah pemimpin yang ditakuti dan pemimpin terendah adalah yang tidak mendapatkan kepercayaan dari rakyatnya. Jadi ini adalah tipe-tipe pemimpin.

[17] “Dao melahirkan satu, satu melahirkan dua dan dua melahirkan tiga, tiga melahirkan semua benda”

[18] Yuanshi tianzun, Lingbao tianzun dan Daode tianzun ( Taishang laojun ). Untuk memahami konsep ini, perlu ditarik dari tanggal lahirnya dari Sanqing ini yang berbeda-beda tapi memiliki makna mendalam. Yuanshi lahir pada tanggal winter solistice dan Lingbao pada summer solistice sedangkan Daode lahir pada tanggal 15 bulan 2, dimana itu adalah saat musim semi.

[19] Hui Neng ( 638-713 ) adalah guru besar Zen Buddhisme.

Read more...

KELENTENG DAN AGAMA BUDDHA MENUJU KEHARMONISAN

KELENTENG DAN AGAMA BUDDHA MENUJU KEHARMONISAN[1]

Ardian Cangianto

IKA Fakultas Filsafat Universitas Parahyangan

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

 

Abstrak

            Sejarah hubungan Tiongkok dan Nusantara sudah tercatat sejak abad ke 1 dimana kemudian diikuti arus migrasi orang Tionghoa ke Nusantara. Migrasi mereka tentunya juga membawa kepercayaan dan budaya mereka sehingga memperkaya budaya Nusantara.

            Peranan orang Tionghoa dan kelenteng dalam mengembangkan agama Buddha tidak terlalu dibahas secara mendetail bahkan sering terjadi kesalahpahaman antara kelenteng dengan institusi agama Buddha. Untuk mengatasi hal itu maka perlu memahami bagaimana system kepercayaan orang Tionghoa pada umumnya serta peranan kelenteng dalam mengembangkan agama Buddha pada abad ke 18 hingga abad 21 ini.

            Jejak rekam peranan kelenteng dalam pengembangan agama Buddha jelas terasa. Bhiksu Benqing yang berkelana dari kelenteng satu ke kelenteng yang lain dalam memberikan pelayanan bagi umat kelenteng atau Buddhist Mahayana bisa dilacak jejak-jejaknya. Selain itu peranan Dizang Yuan di Jakarta dalam mendidik para “bhiksu bunga” sebagai pendoa . Bahkan peranan penyebaran agama Buddha melalui symbol bisa dilihat di berbagai kelenteng. Tentunya peranan ini perlu dibangun lebih baik dan dengan itu diperlukan pemahaman-pemahaman yang lebih mendalam terhadap kepercayaan orang Tionghoa dan fungsi kelenteng sebagai suatu upaya membangun kebersamaan.

            Pembagian jenis kelenteng serta system kepercayaan orang Tionghoa yang bernuansakan “Tridharma” perlu dikaji lebih mendalam sehingga bisa memahami bahwa inti dari semua itu adalah “harmonis”.

Keywords : Buddhism, Kelenteng, Tridharma, harmonis

Read more...

Daodejing bab 62

Daodejing bab 62

道者,万物之奥,善人之宝,不善人之所保。

美言可以市,美言者獨可於市耳。

人之不善,何弃之有?

故立天子,置三公,虽有拱璧以先驷马,不如坐进此道。古之所以贵此道者何?

不曰以求得,有罪以免耶?故為天下貴。

Dao adalah yang menampung semuanya 道者,万物之奥

Read more...

Sutra Kaisar Kuning tentang Bunda Bumi 黃帝地母經dan futurology

Sutra Kaisar Kuning tentang Bunda Bumi 黃帝地母經dan futurology

Futurologi adalah ilmu tentang masa depan atau tepatnya ilmu yang memprediksi kemungkinan yang terjadi di masa dengan dengan berbagai metodologi yang terkait dengan probilitas. Bahkan seorang novelis juga bisa disebut futurology seperti Jules Verne atau Alvin Toffler dengan karyanya yang fenomenal yaitu “Future Shock”. Futurologi bisa disebut sebagai metode ilmiah atau masuk “logika” tapi jika membahas sesuatu yang diluar dari itu seperti misalnya “Sutra Kaisar Kuning tentang Bunda Bumi” selanjutny disebut “kitab bunda bumi” yang berdasarkan probilitas pergerakan ranting langit; cabang bumi;lima unsur dan yinyang bisa disebut ilmiah ? Mungkin saat kita membaca ramalan-ramalan Nostradamus bisa disebut ramalan masa depan dunia atau juga seperti membaca ramalan Liu Bowen. Hanya saja ada ramalan yang ditujukan untuk masyarakat petani dan ramalan itu ada dalam kitab yang disebut di atas dimana ramalan itu adalah siklus yang bergerak berdasarkan tahun ganzhi dan garis edar Taisui.

Siapa pengarang atau pembuat kitab bunda bumi ini tidak diketahui hanya saja sudah ada dalam Yuxiaji 玉匣記 (catatan kotak kumala ) dan isinya tentang berbagai metode peramalan serta mencari hari dimana isinya ada yang menempelkannya pada Xu Xun 許遜 (239-374) seorang Taoist dan salah satu guru langit di Taoisme; Zhuge Liang seorang penasehat militer pada masa peperangan tiga negara; Li Chunfeng dan Yuan Tiangang dua Taoist yg menuliskan buku ramalan masa depan dunia dan lain-lain. Yang jelas buku Yuxiaji ini sudah dikenal pada masa dinasti Ming dan Qing kemudian pada buku-buku primbon dan almanac Tiongkok atau yang sering disebut tongshu juga banyak mengambil dari Yuxiaji ini termasuk juga sutra bunda bumi yang sering dikutip di tongshu.

Menariknya adalah sutra bunda bumi ini pada jaman sekarang ini terutama pada pertengahan abad 20 hingga sekarang ini ada orang-orang yang mengkaitkannya dengan kejadian-kejadian di Tiongkok termasuk kejadian politik maupun bencana alam dan sekarang ini dikaitkan dengan kejadian-kejadian di dunia. Sebenarnya pada awal penggunaan kitab ini adalah memprediksi kemungkinan panen dan efek kegagalan panen karena itu sering dikaitkan dengan sanfu 三伏 atau perubahan panas matahari terutama pada musim panas. Salah satu efek yang paling sederhana ya jika terjadi gagal panen karena serangan hama maka bisa jadi ada pergerakan melawan pemerintah yang sah.

Contoh kutipan syair dalam kitab bunda bumi untuk tahun 2020 ini atau tahun gengzi adalah :

太歲庚子年,人民多暴卒。

春夏水淹流,秋冬頻饑渴。

高田猶及半,晚稻無可割。

秦淮足流蕩,吳楚多劫奪。

桑葉須後賤,蠶娘情不悅。

見蠶不見絲,徒勞用心切。

Taisui tahun gengzi, rakyat banyak yang mati mendadak.

Musim semi dan panas air mengalir menenggalamkan ( banjir), musim gugur dan dingin kehausan ( kekeringan ).

Sawah bertingkat (terasiring) menjadi hanya setengahnya, padi dalam ( 120 hari baru di panen ) tidak ada yang bisa di panen.

Anak sungai qinhuai menggelora, wilayah wu dan chu banyak perampasan.

Daun mulberry ( pangan untuk ulat sutra)menjadi buruk , perempuan yang mengolah sutra tidak senang.

Melihat ulat sutra tidak melihat sutranya, semuanya menjadi sia-sia.

Apakah semua itu tepat ramalannya ? Mungkin ya mungkin juga tidak, apakah ini semua bagaikan siklus ? Bisa jadi.

Yang jelas ini adalah metode memperkirakan apa yang terjadi di tahun 2020 entah apa bisa tepat untuk dunia atau hanya untuk wilayah Tiongkok saja ? Silahkan menilai sendiri. Bagi mereka yang percaya akan ramalan ini ya bisa saja memprediksi ekonomi yang mundur; terjadi peperangan atau perebutan wilayah; bencana alam. Bagi yang lainnya ini lebih pada peringatan untuk para pejabat pemerintah untuk memperhatikan pergerakan ekonomi dan memperbaiki saluran air, menjaga keamanan serta memperhatikan ekonomi.

Atau juga bisa menjadi sekedar omong kosong belaka. Tapi intiplah kebijaksanaan yang ada dalam “ramalan” sutra bunda bumi ini yang meminta kita selalu mawas diri terutama para pejabat-pejabatnya. Apakah ini juga bisa disebut futurologi ? Bisa ya bisa tidak karena sutra bunda bumi ini sifatnya siklis sedangkan futurolog lebih melihat pergerakan ke depan entah jika ada perang dunia ke 3 maka perang dunia ke empat ini manusia menggunakan batu dan kayu lagi untuk berperang.

Read more...

Sinopsis & Review Serial The Longest Day in Chang'an 2019

Budaya-Tionghoa.Net | The Longest Day in Chang’an 2019

~Original Title: Cháng'ān Shí'èr Shíchén 长安十二时辰
~Novel by: Ma Boyong
~Episodes: 48
~Release Date: 27 June 2019

Cast:
~Lei Jiayin as Zhang Xiaojing
~Jackson Yee as Li Bi
~Zhou Yiwei as Long Bo
~Peng Guanying as Qin Zheng
~Wu Xiaoliang as Cao Poyan
~Han Tongsheng as He Zhizhang
~Cai Lu as Cui Qi
~Lu Fangsheng as Yao Runeng
~Yu Ailei as Yuan Zai
~Djimon Hounsou as Master Ge
~Zhao Wei as Xu Bin
~Song Yunhao as Cheng Shen
~Feng Jiayi as Emperor Xuanzong of Tang
~Reyizha Alimjan as Tan Qi
~Xu Lu as Yang Yuhuan
~Wang Herun as Wen Ran
~Ai Ru as Wang Runxiu
~Gao Ye as Li Xiangxiang
~Li Yuan as Yu Chang
~Wang Sisi as Ding Tong'er
~Qu Shanshan as Xu Hezi
~Zhou Lula as Li Yu
~Sukhee Ariunbyamba as Mage'er
~Yin Zhusheng as Lin Jiulang
~Yang Yi as Wen Wuji
~Ge Zhao'en as Prince Yong

Sinopsis:

Pada hari festival lentera, Li Bi, pemimpin Jing'an shi (pasukan pengaman kota) mengetahui ada sekelompok teroris ingin membuat kekacauan di Kota Chang'an. Teroris yang menamakan diri mereka Pasukan Serigala berhasil menyusup ke dalam Kota Chang'an dan berencana membakar kota saat festival lentera berlangsung.
Tidak punya jalan lain, Li Bi memberikan amnesti khusus selama 24 jam kepada terpidana hukuman mati Zhang Xiaojing, untuk memburu pasukan serigala dan menggagalkan rencana mereka.
Tak ada yang mengira kalau waktu 24 jam yang diberikan Li Bi kepada Zhang Xiaojing akan menjadi 24 jam terpanjang dalam hidup mereka ketika konspirasi yang lebih besar menghadang.
Bersama Tan Qi, pelayan setia Li Bi, Zhang Xiaojing berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan Chang'an.

chang an

Review:

Berlatar di masa akhir Dinasti Tang, Serial The Longest Day in Chang'an menyuguhkan detil-detil indah masa Dinasti Tang.
Mulai dari tata kota, administrasi, kostum, dandanan, hiasan rambut dan berbagai ornamen serta budaya asing yang bersinggungan dengan kerajaan Tang, semua disajikan dalam sinematografi yang cantik dan pengambilan gambar yang apik.
Bisa dibilang ini adalah serial layar kaca rasa layar lebar.
Kemudian dari segi cerita, bagi yang mecari romansa dan melodrama tidak perlu buang-buang waktu untuk menonton.
Iseng-iseng mengintip pun ndak perlu, karena serial ini bener-bener zero percintaan. Kalaupun ada percikan-percikan antara Zhang Xiaojing dan Tan Qi, percikan itu langsung menguap di udara saking tipisnya.
Namun bagi penyuka strategi, politik, konspirasi, suspense dan action, serial ini adalah best drama 2019.
Ketegangan, adu strategi serta keindahan Chang'an langsung terasa sejak detik pertama episode pertama. Tanpa pendahuluan, penonton langsung diterjunkan kedalam roller coaster alur cerita.

Rentang waktu 24 jam yang dituangkan sepanjang 48 episode dengan intensitas yang terjaga benar-benar memikat.
Seorang kawan yang sudah mendahului menonton pernah berkomentar kalau tokoh utama serial ini bukanlah Zhang Xiaojing, Li Bi atau Tan Qi, melainkan Kota Chang'an itu sendiri.
Saya setuju dengan pendapat tersebut. Setiap adegan berpusat pada Kota Chang'an, demi Kota Chang'an, cinta dan benci kepada Kota Chang'an, serta bagaimana Kota Chang'an dijadikan alat untuk memperoleh kekuasaan meskipun dengan memelintir kebenaran dan mengorbankan rakyat kota.

Meskipun indah secara visual, jangan mengharapkan adu jurus yang cantik. Disini adegan action yang ditampilkan bukan jenis action dengan koreo yang indah rapi seperti kebanyakan kostum drama. Sebaliknya, adegan actionnya lebih terasa riil karena baku hantam dilakukan ala preman jalanan dan prajurit perang. Sama sekali tidak indah, malah cenderung brutal, tapi justru terasa lebih alami dan nyata. Bagi yang sudah pernah menonton Assasin Creed, pasti akan familiar dengan salah satu karakter pembunuh bayaran di serial ini.
Sayangnya, adanya plot hole di episode-episode akhir merusak kesempurnaan serial ini. kalau saja lubang itu tidak ada, Serial The Longest Day in Chang'an akan berdiri sejajar dengan Serial Nirvana in Fire. Untuk pertama kalinya sejak menonton Nirvana in Fire tahun 2015 lalu, akhirnya ada yang bisa menyaingi dari segi intensitas, akting, plot, dan emosi. Bedanya ada di rasa. Saat menonton Nirvana in Fire itu terasa seperti tersedot kedalam lubang hitam. Sekali terjerat hanya bisa semakin tersedot dalam kesunyiannya, bahkan waktu terasa berjalan setengah lebih lambat dari yang seharusnya. Sedangkan saat menonton Longest Day in Chang'an terasa seperti naik kora-kora, dilempar jauh tinggi keatas hanya untuk dijatuhkan lagi kebawah, dan waktu terasa dua kali lebih cepat dari yang seharusnya, membuat otak tegang dan hati emosional.
Apalagi ditambah dengan akting mumpuni dari para pemerannya, rasa hati diaduk-aduk saking gemas, jengkel, sedih, simpati, gembira, frustasi dan berbagai macam perasaan lain.
Lepas dari segala kekurangannya, Longest Day in Chang'an ini best drama di 2019.

Telah ditayangkan di Kaypang Gallery KaGe, 30 Desember 2019

Penulis : Sdri. Larasasih Jatikusumo

 

Budaya-Tionghoa.Net Mailing-List Budaya Tionghua |  Facebook Group Budaya Tionghoa

Read more...

PEMAHAMAN MAKNA dan HAKEKAT “DOA” (MANTRA) DALAM KEPERCAYAAN TIONGHOA (bag.1)

PEMAHAMAN MAKNA

dan

HAKEKAT “DOA” (MANTRA) DALAM TRIDHARMA

           

 

Bahasa

 

Manusia pada awalnya menggunakan ‘bunyi’ dan ‘isyarat’ sebagai cara berkomunikasi yang kemudian disebut sebagai bahasa. Bahasa adalah alat komunikasi yang digunakan oleh mahluk hidup dimana bahasa yang digunakan beragam, antara lain adalah : bahasa bunyi; bahasa isyarat. Segala bunyi, lahir dari hati manusia. Perasaan bergerak di dalamnya, menjadi suara. Suara menjadi bahasa, itulah bunyi ( yang beragam) ( 凡音者, 生與人心者. 情動與中, 故形與聲. 聲成文, 謂之音). Manusia memiliki indera-indera tubuh sehingga bisa berinteraksi dan memiliki nalar untuk merefleksikan hasil interaksi itu, menggunakan bunyi yang kemudian menjadi kata dan berkembanglah bahasa sebagai alat penghubung ( alat komunikasi ) antara satu dengan yang lain. Seperti tertulis dalam kitab Liji,”sifat alami manusia adalah hening, gerak karena adanya interaksi ( dengan ) benda ( luar )” ( 人生而静天之性也感于物而動). Bahasa bagi manusia itu sifatnya primer, dapat diucapkan, dan menghasilkan bunyi, apakah ini berarti semut tidak memiliki kemampuan berkomunikasi ? Apakah hanya manusia saja yang mengenal bahasa ? Apakah kemampuan empiris manusia yang berdasarkan indra-indra manusia saja sehingga hanya manusia yang memiliki kemampuan berbahasa ? Semut juga memiliki kemampuan berkomunikasi dengan sesame semut melalui senyawa-senyawa kimia. Bahkan bakteri sekalipun memiliki kemampuan komunikasi melalui cairan kimiawi; sinyal listrik.  Dalam makalah ini, kata yang digunakan adalah “doa” dengan tanda kutip untuk memberikan suatu pemahaman mengenai ‘kata’ dan ‘bunyi’ ini yang merupakan bagian dari linguistik. Manusia dalam berinteraksi antara satu dengan yang lain itu menggunakan “bunyi” yang disebut kata, kata ini adalah bagian dari bahasa. Ernst Cassier menuliskan bahwa “Demoskritos-lah orang yang pertama mengajukan tesis bahwa bahasa manusia berasal dari bunyi-bunyi tertentu yang semata-mata bersifat emosional”. Apa yang disebut manusia ? Manusia adalah mahluk yang berkata. “Manusia disebut manusia, adalah ( karena ) kata. Manusia tidak dapat berkata, bagaimana menjadi manusia” (人之所以为人者言也 人而不能言 何以为人). Dengan bunyilah manusia merefleksikan perasaannya yang disebabkan adanya unsur-unsur luar, seperti ditulis dalam kitab Liji “Asal dari bunyi, berasal dari hati manusia. Gerak dari hati manusia, berasal dari benda (pengaruh luar ) ( 凡音之起, 由人心生也. 人心之動, 物使然也)[3] . “Interaksi dengan benda melahirkan gerak, terbentuk dengan suara. Suara saling berinteraksi, itulah melahirkan ragam. Ragam menjadi fang( 5 nada ), itulah bunyi”( 感于物而動, 故形于聲.聲相應,故生變. 變成方,謂之音).

Read more...
Subscribe to this RSS feed

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto