A+ A A-

Kisah : Won , Orang Yang Tanpa Keadilan

  • Written by  Jamal Senjaya
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net| Ada seorang anak bernama Won. Ia cukup besar, suka bersaing, dan suka pamer. Ia mempunyai seorang adik laki-laki bernama Yo, ia berumur sebelas, dua tahun lebih muda dari Won. Won mempunyai teman bernama Suo. Ia jago lari dan cukup cerdik. Mereka tinggal di desa kecil di barat laut Guangzhou. Orang tua Won pekerja keras dan baik. Mereka memanjakan Won dan adiknya. Mereka memberinya makanan enak, daging terbaik, nasi terenak, dan kue-kue alamond yang paling besar. Mereka juga sering diajak berjalan-jalan ke berbagai tempat termasuk kota kuno Xian dan ibukota Beijing.

Artikel Terkait :

{module [201]}

Suatu hari Suo bertemu Won dan Yo di taman terdekat. Won mendekati Suo dan berkata, “Kamu tidak bisa berlari lebih cepat dariku, Saya dapat mengalahkanmu saat makan daging sapi ala Yunan diatas tempurung kura-kura.” Suo berpikir sebentar dan segera menyetujui tantangannya.

Di esok harinya dipagi hari, Ibu Won dan Yo pergi ke pasar. Won bebas melakukan keinginannya. Ia mendekati kuli-kulinya, naik ricksaw, dan pergi melewati jalan berdebu. Segera, ia tiba di taman mencari Suo. Bambu-bambu tumbuh disekitar kaki Suo, saat Won melihat ke daerah disekeliling Suo. Pagoda-pagoda mengelilingi sebuah danau didekat mereka. Kolam beriak-riak saat ikan berkejar-kejaran didalamnya. Sebuah kursi bambu berada didekat mereka, dimana sebuah batu menyangganya. Banyak orang sedang bersenam Tai-Chi. Balap lari dimulai dan Won berlari didepan dengan kecepatan penuh. Namun ia segera tersusul tertinggal jauh dibelakang. Ia kalah tertinggal sekitar dua li dibelakang Suo.

“Baiklah, larimu lebih cepat dariku. Ohhhhhhhhhh, ahhhhhhhhhhhhh. Tetapi saya dapat membuat layang-layang yang lebih baik darimu dengan tangan terikat dibelakang!” Suo kembali menerima tantangan ini.

Di hari berikutnya Suo menemui Won di rumah Won. Mereka berjalan ke bengkel dimana ayah Won menunggu untuk menemani kedua anak itu. Mereka mulai membuat layang-layang mereka. Suo menggambar naga pada layang-layang kecilnya, Won membuat layang-layang yang besar tanpa gambar diatasnya, hanya ada sebuah lobang kecil bekas gigitan serangga. Tampaknya layang-layang Suo lebih bagus daripada layang-layang Won. Dan saat mereka mulai menerbangkannya, milik Suo terbang lebih tinggi dan lebih cepat daripada milik Won.

“Kamu berlatih, saya tidak. Tetapi saya dapat memasak nasi lebih baik darimu saat membuat kue alamond terbaik di Cina.” Suo kembali menerima tantangan ini.

Mereka bertemu di rumah Suo. Yo sebagai juri. Ia akan menentukan masakan siapa yang paling baik. Suo mulai membuat nasi goreng yang enak dengan sobetan ayam, cabai, kecap dan bumbu yang enak. Won membuat nasi putih yang kering dan mutung. Yo lebih suka masakan Suo. Won selalu memperoleh segala sesuatu yang sudah disiapkan untuknya, maka ia tidak mempunyai pengalaman memasak nasi.

Won mati sebagai orang tua biasa, tetapi suo mati sebagai pelajar dan guru yang baik. Mengetahui hidupnya telah memenuhi pepatah kuno Cina “Berbicara tidak akan mematangkan nasi.”

Oleh Adam

Diterjemahkan oleh : Jamal Senjaya

8029 , 19 Oktober 2004

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghoa


Pihak yang ingin mempublikasi ulang tulisan dalam web ini diharapkan untuk menyertakan link aktif : www.budaya-tionghoa.net , NAMA PENULIS dan LINK aktif yang berada didalam tulisan atau membaca lebih jauh tentang syarat dan kondisi . Mempublikasi ulang tanpa menyertakan tautan internal didalamnya termasuk tautan luar ,  tautan dalam , catatan kaki , referensi , video , picture , sama dengan mengurangi konten dalam tulisan ini.


Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1393-kisah--won--orang-yang-tanpa-keadilan

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto