A+ A A-

Chinatown Di Mancanegara

  • Written by  Golden Horde
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Di tahun 2007 Kota Seoul, Korea Selatan merencanakan untuk membangun sebuah Chinatown dikotanya (Chosun Ilbo , 25 Januari 2007). Lokasi Chinatown ini dibangun di Yeonamdong, Mapo-gu, Seoul yang sudah terkenal dengan restoran-restoran Tionghoanya dan dihuni oleh banyak penduduk Tionghoa selama ini, rencananya juga untuk meletakkan konsulat Tiongkok disana.

Artikel Terkait :

{module [201]}

Proyek ini dinamakan "Yeonam-dong Chinatown Building Project" dan sekiranya pemerintahan kota Seoul menyetujuinya maka projek ini akan dimulai sebelum akhir tahun 2007 ini. Ide untuk membangun Chinatown timbul, ketika pada kejuaraan dunia sepakbola tahun 2002 (World Cup 2002), dimana ketika itu kota Seoul dikunjungi turis dari mancanegara. Dari sekitar 24,000 penduduk yang tinggal di Yeonam-dong, 4,400 diantaranya terdiri dari etnis Tionghoa Korea, jumlah ini akan berjumlah 9000 orang kalau dihitung dengan warga etnis Tionghoa yang tinggal kawasan hunian tetangganya.

Kawasan Yeonam-dong dan Yeonhee-dong di kota Seoul
itu dikunjungi setiap harinya hampir sekitar 1000 turis asing dari Tongkok, Taiwan, Hongkong, Singapura dan Malaysia. Direncanakan bahwa Chinatown itu akan dibangun dengan gaya arsitektur Tionghoa dengan segala ornamen, dekorasi, simbol-simbol dan atribut budaya Tionghoa lengkap dengan ciri-ciri khasnya warna merah dan lampion-lampion penerangan lampu jalnnya.

Disamping restoran (di negara-negara Asia Tenggara, hadirnya sebuah
kelenteng menjadi ciri khas sebuah Chinatown), hotel, bank, supermarket, department store, toko buku Mandarin, karaoke & bar, toko obat Tradisionil, bioskop (show film silat), teater, fitness centre (Kung Fu akademi), klinik akupunktur, toko musik mandarin, serta tea & coffe shop untuk kongkow-kongkow, serta koran Mandarin, adalah ciri-ciri khas sebuah Chinatown. Tempat telpon umum dan perhentian bus atau subway biasanya juga akan didisain sesuai dengan gaya unik arsitektur Tionghoa..

Chinatown juga akan berfungsi sebagai pusat kebudayaan Tionghoa. Di
beberapa negara seperti salah satunya di Kuching (Malaysia), malah dibangun sebuah musium sejarah kedatangan orang Tionghoa ke negara tersebut yang mendokumentasikan tentang masa lalu dan peranannya di negara tersebut, karena warga Tionghoa juga merupakan bagian dari sejarah kota atau negara tersebut.

[Foto Ilustrasi :
Henri Bergius , "Salah satu Chinatown di Korea Selatan , Busan Chinatown Gate" . 17 September 2008 , This file is licensed under the Creative Commons Attribution-Share Alike 2.0 Generic license.]

Tapi tak jarang Chinatown juga kerap diasosiasikan dengan citra negatif, seperti tempat perjudian, pelacuran, penyelundupan imigran gelap, triad (mafia Tionghoa), narkoba (drug trafficking), pemerasan dll. Citra ini sering menjadi tema film (action film) atau latar belakang (background) film Holywood yang sering dilebih-lebihkan untuk kepentingan komersil produser filmnya.

Sepertinya kurang lengkap atau "afdol", kalau sekiranya sebuah kota
Metropolitan yang berkarakter kosmopolitan dan multikultural tidak memiliki sebuah Chinatown Di Chinatown modern, budaya, bangunan arsitektur dan simbol-simbol Tionghoa sengaja di konservasi sebagai objek turis yang unik yang tak jarang merupakan sebuah jantung kota yang penuh vitalitas kehidupan pada malam harinya. Jadi Chinatown bukan saja sebagai pusat pemukiman dan komersial bagi orang Tionghoa saja, melainkan juga sebagai tempat hiburan, tempat perbelanjaan yang murah dan tempat restoran Tionghoa yang populer.

Lima tahun kemudian masih diharian yang sama , memberitakan bahwa penduduk lokal di distrik Mapo membentuk satu komite untuk menentang rencana pemerintah Seoul untuk membangun China Town ( Chosun Ilbo , 19 Januari 2012)


BAB II



CHINATOWN DALAM PUSARAN POLITIK
DIMANCANEGARA

Akhir-akhir ini banyak kota-kota besar dunia merenovasi,
merehabilitasi atau membangun Chinatown-Chinatown baru, seperti di Seoul (Korea), Dubai (Uni Emirat Arab), Havana (Cuba), St. Petersburg (Russia, sebelumnya bernama Leningrad), Dublin (Irlandia), tetapi rencana ini ditentang oleh kelompok nasionalis yang anti kaum imigran, Aberdeen (Scottlandia), Darwin (Australia) yang direncanakan selesai tahun 2010, dan Dobroiesti, Bucharest (Rumania). Pada saat sekarang Chinatown sedang mengalami kembangkitan kembali (renaisance) dan populer di beberapa negara, sebagai salah satu elemen dan daya tarik kota.

Chinatown-Chinatown di beberapa negara sebelumnya juga mengalami
pasang surut dan jatuh bangun seiring dengan perkembangan dan gejolak politik yang terjadi di negara tersebut, seperti di Indonesia dengan PP 10, 1960, pogrom Mei 1998, dan yang selama kekuasaan Suharto segala bentuk ekspresi dan bahasa Tionghoa dilarangnya.

Di Vietnam, ketika terjadi konflik Sino-Vietnam, banyak orang
Tionghoa atau Hoa (boat people) yang melarikan diri keluar negeri, karena dimusuhi dan dicurigai.

Di India ketika terjadi perang perbatasan antara Tiongkok dan India
pada tahun 1962 , banyak orang Tionghoa India dari Kalkutta, didiskriminasi dan dicurigai yang akhirnya harus berimigrasi ke negara lainnya. Dari 20,000 penduduk warga Tionghoa yang tinggal di Kalkutta, sekarang hanya tinggal sekitar 2000 orang saja.

[Foto Ilustrasi :
jliptoid , "Perayaan Imlek di Kolkata India " , 28 Juni 2008 , Chinese New Year , This file is licensed under the Creative Commons Attribution 2.0 Generic license.]

Di Korea Selatan ketika jaman kekuasaan Park Chung Hee orang Tionghoa dikenakan peraturan yang diskriminatif dan dilarang memiliki tanah, sehingga banyak yang meninggalkan Korea Selatan pada tahun 1960 s/d 1970-an. Dari 120,000 orang Tionghoa yang pernah tinggal di Korea Selatan, sekarang tinggal hanya 21,000 orang, tetapi belakangan jumlah orang Tionghoa (terutama dari etnis Korea yang berasal dari Manchuria, Yanbian autonomy), bertambah kembali sesudah membuka hubungan diplomatik antara kedua negara dan hubungan perdagangannya yang bertambah intensif.

Di Burma (Myanmar) semasa kekuasaan diktaktor Ne Win (yang ironisnya
berasal dari keturunan Tionghoa juga) banyak warga Tionghoa yang meninggalkan Burma selama tahun 1967-1970, karena politik "Burmese Way of Socialism" yang sempit, radikal serta anti asing (Tionghoa), dan pada tahun 1960 telah pecah kerusuhan anti Tinghoa disana.

Di Kamboja selama kekuasaan Pol Pot dari Khmer Merah, warga Tionghoa
Kamboja tidak berbeda nasibnya dengan penduduk aslinya yaitu dibunuh, sehingga banyak yang melarikan diri keluar negeri.

Di Cuba, ketika Fidel Castro memenangkan revolusi, banyak orang
Tionghoa harus meninggalkan tokonya dan banyak yang pindah ke Amerika, karena perdagangan privat dianggap tidak sesuai dengan sistim sosialisme-nya. [Tionghua Kuba 1] [Tionghua Kuba 2]



[Foto Ilustrasi : Wilder Mendez , " Dragones Street Havana's Chinatown Core" , 2000 , Public Domain]

Di Peru, ketika pada jaman kekuasaan diktaktor Juan Velasco Alvarado (1968-1975), banyak warga Tionghoa Peru meninggalkan negerinya, karena politiknya yang radikal kekiri-kirian yang merusak perekonomian Peru.

Di Jerman, sebelum perang rezim Nazi berkuasa, di kota pelabuhan
Hamburg sudah ada Chinatown sejak lama, yaitu didaerah lampu merah sekitar St. Pauli atau sering disebut Reeperbhan, tetapi Chinatown tersebut dihancurkan oleh polisi rahasianya Gestapo sebelum perang dunia kedua.

Di kepulauan Solomon pada tahun 2006, dimana para pengunjuk
rasa yang menentang PM. Snyder Rini membakar pertokoan Chinatown di ibukota Honiara. Di Tonga hal yang hampir sama terjadi disana, dimana pertokoan Chinatown di Nuku'alofa, ibukota Tonga dijarah dan dibakar, ini berawal dari konflik politik dikalangan elit pribuminya. Kedua negara tersebut terletak di kawasan Pasifik Selatan.

Banyak Chinatown di beberapa negara yang sebelumnya pernah ada,
telah tidak ada lagi, punah, beralih fungsi atau ditinggalkan, seiring dengan pergolakan dan konflik politik dalam dan luar negeri, dimana tidak jarang bahwa warga Tionghoa setempat dijadikan kambing hitam dengan beraneka ragam tuduhan, alasan dan dalih seperti, tuduhan komunis (di Indonesia), tuduhan kapitalis (Vietnam, Kamboja, Cuba, dll). Mereka juga ada yang menjadi korban konflik antara Tiongkok-India, Tiongkok-Indonesia dan Tiongkok-Vietnam. Selain itu juga sering dituduh ingin mendominasi perekonomian nasional.

Walaupun warga Tionghoa setempat telah tinggal lama beberapa generasi
di negara tersebut dan tidak ada sangkut pautnya lagi dengan negeri Tiongkok, tetapi mereka tetap diidentikkan dengan warga Tiongkok, seperti misalnya di Indonesia, India dan Vietnam, dll. Mereka sering menjadi sasaran korban dari konflik itu sendiri, semua jenis "isme" sering dituduhkan kepadanya seperti pengikut paham Komunisme atau Kapitalisme, tergantung dari kebutuhannya, termasuk menjadi korban Nasionalisme sempit atau Sosialisme radikal dan utopia.

Jadi hubungan antara Tiongkok dengan negara-negara tersebut tetap
ikut menentukan dan mempengaruhi nasib minoritas Tionghoa di negara tersebut, walaupun warga etnis Tionghoa ini telah menjadi warganegara negara setempat, tidak ada hubungan lagi dengan Tiongkok, loyal terhadap negara dimana mereka tinggal dan hidup, sudah ganti nama, dan sudah beberapa generasi tinggal di negara tersebut serta tidak tidak dapat berbahasa Mandarin lagi.

Sepertinya percuma atau sia-sia saja untuk meyakinkannya, walaupun
sudah mengaku dan membuktikan dirinya telah memberikan kontribusi terhadap negaranya.. Mungkin tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa nasib minoritas ini sering dijadikan sandera politik kalau sekiranya terjadi konflik antara negara dimana nenek moyangnya berasal dengan negara yang mereka tinggal sekarang.


BAB III



CHINA TOWN MODERN

Tetapi pandangan ini mengalami perubahan sekarang, seiring dengan status dan pengaruh Tiongkok di panggung dunia. Apresiasi terhadap bahasa dan kebudayaan Tionghoa mulai tumbuh di beberapa negara, seperti di Korea Selatan yang sebelumnya mendiskriminasi warga Tionghoanya dan sekarang mulai membangun Chinatown kembali yang sebelumnya telah punah (seperti di Incheon), dimana Tiongkok sekarang adalah partner dagang yang terbesar Korea Selatan, melampaui volume perdagangan dengan Amerika Serikat.

Maka Korea Selatan berkepentingan memelihara h ubungan baiknya
(ekonomi, politik dan budaya) dengan Tiongkok dan malah banyak mahasiswanya yang belajar di Tiongkok, sesudah Amerika yang menjadi tujuan negara untuk melanjutkan pendidikan tingginya, demikian juga dengan beberapa negara lainnya yang telah mengubah pandangan dan kebijaksanaan politiknya terhadap etnis minoritas warga Tionghoa yang sering dengan keliru mengkaitkannya dengan negara Tiongkok.

Di Timur Tengah-pun akan dibangun Chinatown yang modern seperti yang
akan dibangun di Dubai, Uni Arab Emirat. Chinatown modern ini dibangun pada tahun 1984 diatas lahan 34 ha yang dinamakan Distribution Center for Chinese Commodity (Dubai), dengan biaya investasi sebesar $300 juta dan dapat menampung sekitar 4000 perusahan Tiongkok, lengkap dengan shopping mall, apartment dan fasilitas lainny

Dubai dikenal sebagai pelabuhan bebas (free port for entreport
trade), dan serng dijuluki sebagai Hongkong-nya Timur Tengah. Proyek ini adalah proyek kerja sama antara pemerintah Tiongkok dengan Uni Emirat Arab, yang akan berfungsi sebagai ajang promosi barang-barang ekspor Tingkok ke Timur Tengah dengan penduduknya yang berjumlah sekitar 400 juta orang (People's Daily, April 08, 2004).

Apakah Chinatown-Chinatown modern ini akan dapat berfungsi seperti
dengan Chinatown lainnya yang berkembang secara alamiah, harus dilihat nanti hasilnya, karena Chinatown modern yang tumbuh belakangan ini, dibuat secara artifisial atau sintetis. Kadang- kadang Chinatown ini dibuat sebagai "marketing gimmick", seperti kawasan "kampoeng Cina" di real estate Kota Wisata, Cibubur, Jakarta.

Tumbuhnya Chinatown tradisionil di negara-negara Asia Tenggara
awalnya pertama-tama terletak pada kota-kota sekitar pelabuhan, dimana orang Tionghoa datang untuk pertama kalinya datang ke negeri baru itu, sebagai pedagang, tenaga buruh pertambangan atau kuli, dll, seperti di Batavia, Semarang, Medan, Bangka, Kalimantan Barat, Malaka, Manila, Saigon (Ho Chi Minh City), Singapura, Bangkok, dll. Biasanya Chinatown terletak di lokasi berdekatan dengan pelabuhan yang harga sewa atau belinya (bangunan atau tanah) relatif murah , kadang-kadang malah berdekatan dengan kawasan lampu merah kota pelabuhan seperti Chinatown di Belanda, Amsterdam (Zeedijk).

Chinatown di Asia Tenggara mempunyai ciri-ciri khas bangunan
(terutama gaya atapnya) yang mengikuti gaya arsitektur Tionghoa, yaitu rumah deret yang berhimpitan dan hampir tanpa halaman samping, seperti bangunan Ruko sekarang atau bangunan modern Town Houses yang bertingkat dua, sedangkan bangunan-bangunan Chinatown di negara lainnya seperti di Amerika dan Eropah, pada umumnya mereka membeli, mengontrak atau menyewa bangunan yang telah ada dan jarang pada awalnya membangun sendiri seperti Chinatown di Asia Tenggara, sehingga bangunan di Chinatown mereka arsitekturnya sama dengan bangunan lainnya yang sudah ada, kecuali hiasan, dekorasi, tulisan mandarin, warna, ornamen dan simbol budaya Tionghoa lainnya, misalnya Chinatown di San Francisco.Tetapi ini bukan berarti tidak ada sama sekali bangunan yang bergaya arsitektur Tionghoa disana.



[Foto Ilustrasi : Wikimedia ,  "China Town di San Fransisco " ,
This file is licensed under the Creative Commons Attribution-Share Alike 1.0 Generic license.]

Di Kanada dan Amerika, karena banyak pendatang relatif baru yang beruang yang berasal dari Hongkong dan Taiwan, maka banyak dari mereka yang tinggal di kawasan pemukiman-pemukiman Chinatown modern dan mahal, terpisah antara tempat tinggal dan kerjanya, jadi bukan Chinatown dalam pengertian klasik lagi.



[Foto Ilustrasi :
Arnold C (Buchanan-Hermit) , " China Town Modern , Radisson President Hotel , Richmond , Canada " , 1 May 2006 ]


Secara tradisionil, tempat tinggalnya sekaligus merangkap sebagai
tempatnya berdagang juga, jadi dua fungsi (rumah dan tempat berkerja) digabung satu. Halaman rumah biasanya hampi tidak ada, karena langsung menghadap jalanan, kalau ada ruangan terbuka maka diletakkan di tengah (cemceh) atau belakang rumah.

Dengan demikian mereka dapat berhemat tanpa mengeluarkan uang lagi
untuk biaya transportasi perjalanan dan dapat membuka tokonya sampai jauh malam tanpa batas waktu kerja, serta anggauta keluarga lainnya dapat dilibatkan dalam kegiatan usaha dagangnya.

Pemukiman orang Tonghoa di Chinatown tradisionil ini biasanya
mempunyai kepadatan tinggi dan kadang-kadang kondisi sanitasi dan hygeninya buruk. Di rumah ini suka dijumpai sejenis industri kecil atau home industry.

Ciri-ciri khas lainnya dari Chinatown tradisionil adalah selalu
sibuk, padat dengan manusia dan bangunan, agak kotor, bau hio dan masakan, penuh warna-warni, berisik, tetapi skalanya tetap manusiawi, karena semuanya dapat dicapai dengan berjalan kaki dan bernuansa eksotis serta unik

Biasanya didalam kawasaan Chinatown tradisionil tersebut, dibangun
semua fasilitas pendukungnya seperti, kelenteng, sekolahan, toko buku, pusat perbelanjaan, klinik, toko obat, bioskop, pasar, pusat jajan, dll. Jadi benar-benar seperti perkampungan mini seperti di Tiongkok, dalam skala kecil. Disini mereka dapat memelihara identitas budayanya dan berinteraksi sesamanya serta saling mendukung.

BAB IV



CHINA TOWN INDONESIA


Kurang tepat kalau Chinatown klasik ini disamakan dengan Ghetto orang Tionghoa, yang total terisolasi dengan masyarakat lainnya, karena kegiatan bisnis mereka dilakukan sebagian besar dengan penduduk atau pribumi setempat, karena mereka berfungsi sebagai pedagang perantara yang memasarkan hasil bumi setempat dan mengimpor serta menjual barang-barang kebutuhan kepada penduduk setempat. Pada
festival budaya, mereka bermain Barongsy dan Liong dll.sebagai sarana ekspresi seninya.

Di Jakarta umumnya Glodok atau Pancoran dikenal sebagai Chinatown-nya
Jakarta, dan Princen Park di Mangga Besar, atau belakangan bernama Lokasari, dahulu juga berfungsi sebagai Chinatown-nya Jakarta. Princen Park sebenarnya lebih dikenal dengan tempat hiburannya, dengan banyaknya Bioskop yang memutarkan film-film Tionghoa. Awalnya Princen Park diperuntukkan sebagai tempai hiburan kaum elit Belanda, tetapi selama perkembangannya, tempat ini lebih dikenal sebagai tempat hiburan warga Tionghoa Jakarta, dan terutama sesudah Belanda meninggalkan Indonesia.

Di Princen Park juga terdapat bar dan restoran yang terkenal seperti
Happy World, dimana para selebriti Tionghoa pada waktu itu dapat berdansa disana. Restoran-restoran lainnya yang pada hari Minggu digunakan juga sebagai tempat acara pernikahan dan tak jauh dari Princen Park juga terdapat pusat olahraga renang "Chung Hwa", jadi serba Tionghoa, dari mulai bioskop, restoran, toko buku, kolam renang, toko musik, tukang photo, tukang koyo yang ahli kuntaw, sampai tukang kwamia dan tempat plesir lainnya, termasuk rumah sakit Tionghoa "Jang Seng Ie" (harus ganti nama menjadi Husada) di Mangga Besar yang berjarak sekitar 1 km dari Princen Park.

Tetapi Princen Park yang penuh dengan kehidupan dan vitalitas
dimalam harinya yang dikenal pada waktu dahulu sudah tidak dirasakan lagi denyut kehidupannya sekarang, walaupun telah dibongkar dan dimodernisasi dengan pertokoan dan pusat perbelanjaan modern seperti sekarang. Tetapi walaupun begitu, kawasan Mangga Besar Raya tetap saja dianggap sebagai Chinatown juga, dimana kehidupan berjalan hampir 24 jam tanpa henti, terutama dimalam hari (night life), maka ada yang menamakannya dengan Las Vegas-nya kota Jakarta.

Jakarta yang mempunyai penduduk dari etnis Tionghoa yang jumlahnya
besar, amat disayangkan tidak memiliki sebuah "Chinatown" yang tertata rapi dan terencana seperti di Singapura, dimana Chinatown-nya (sebenarnya seluruh Singapura adalah sebuah Chinatown raksasa) telah menjadi salah satu objek wisata yang populer seperti Little India.

Glodok atau Pancoran yang disebutkan sebagai Chinatown-nya Jakarta
keadaannya kini sangat memprihatinkan, amburadul, kotor, macet lalu lintasnya, tak nyaman, kalinya bau dan terpolusi, udaranya tercemar, tidak ada penghijauan, dan hampir tidak ada bangunan-bangunan yang berarsitektur Tionghoa lagi, tak ada gerbang (Paifang) yang menjadi ciri khas Chinatown dinegara lain serta jarang turis yang berkunjung kesana. Apalagi sebagian pernah dijarah dan dibakar pada waktu kerusuhan anti Tionghoa di tahun 1998.

Glodok juga hampir tidak memiliki identitas bangunan bergaya
arsitektur Tionghoa atau ciri-ciri budaya Tionghoa lagi, dan satu- satunya (setelah kedutaan besar Tiongkok dekat Glodok dihancurkan) bangunan yang tersisa adalah gedung Sin Ming Hui ( harus ganti nama juga menjadi Chandra Naya), dan inipun hampir digusur oleh sebuah developer (pengembang) yang ironisnya adalah berasal dari pengembang etnis Tionghoa sendiri (Modern Group), bangunan Sin Ming Hui sendiri telah dikangkangi oleh bangunan lain diatasnya, bangunan- bangunan lainnya yang bergaya arsitektur Tionghoa disekitarnya juga telah hilang.

Sebuah hal yang ironis lagi adalah bahwa seorang senior pimpinan
sebuah organisasi Tionghoa yang terkenal di Jakarta juga mendukung ide penggusuran bangunan Sin Ming Hui tersebut, dengan dalih akan dipindahkan ke Taman Mini Indonesia yang lebih besar lahannya dan yang dimiliki oleh keluarga Soeharto.

Tetapi untungnya hal ini tak sampai terlaksana, karena Dinas
Kebudayaan dan Permusiuman DKI Jakarta menentangnya, karena bangunan Sin Ming Hui ini dikategorikan sebagai bangunan cagar budaya kota Jakarta yang bersejarah dan harus dilestarikan, karena merupakan bagian daripada sejarah kota Jakarta seperti gedung Arsip Nasional yang terletak di jalan Gajah Mada. Untuk usahanya ini, maka Pemprov DKI Jakarta layak mendapatkan penghargaan.

Sebenarnya kalau Glodok (karena sejarahnya) dan daerah sekitarnya,
ditata dan direhabilitasi kembali sesuai dengan konsep perkembangan kota Modern, maka Glodok dapat menjadi Chinatown modern dengan "City Walk-nya " yang nyaman dan menjadi objek wisata baru yang berpotensi. Chinatown Glodok dapat diintegrasikan dengan bangunan bersejarah lainnya seperti Musium Fatahilah, Musium Wayang, Pelabuhan Sunda Kelapa dengan Musium Baharinya, Stasiun Kota, serta bangunan-bangunan bersejarah lainnya di sepanjang Kali Besar.

Ide-ide seperti ini sebenarnya sudah ada tetapi belum dapat
direalisasi. Selama ini sebenarnya sudah ada program rehabilitasi infrastruktur di Glodok, seperti perbaikan saluran pembuangan, jalanan dll. tetapi untuk membangun citra Glodok sebagai Chinatown yang modern dan sebagai pusat wisata modern, diperlukan usaha, dana, manajemen, tenaga profesional dan kemauan politik yang serius dari pihak penyelenggara kota Jakarta.

Mungkin ide-ide rehabilitasi Chinatown kota Jakarta ini, dapat
menjadi salah satu tema pembangunan kota Jakarta yang sepatutnya dipertanyakan kepada calon-calon Gubernur DKI Jakarta mendatang, apakah mereka telah memperhatikannya? Ataukah sudah masuk dalam visi program pembangunan kota Jakarta mendatang ?

G.H.

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua

Last modified onSaturday, 04 August 2012 06:25
Rate this item
(0 votes)

Related items

back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1985-chinatown-di-mancanegara

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto