A+ A A-

Review Film : The Four (2012)

  • Written by  Bentara
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

 

 

Budaya-Tionghoa.Net |Ada banyak film bergenre wuxia tetapi The Four menawarkan sesuatu yang lain . Diadaptasi dari Sida Mingbu 四大名捕 mengkisahkan empat polisi rahasia dengan kemampuan luar biasa dibawah dalam satu lembaga kecil Divine Constabulary tetapi langsung dibawah Kaisar yang dipimpin Zhuge Zhengwo.

 

Film ini dibuka ketika anak buah Zhuge Zhengwo sedang memburu tersangka uang palsu. Hal ini membawa konflik dengan Departemen Enam Panel dibawah pimpinan Komandan Liu yang juga sedang menangani kasus yang sama dan merasa sebagai satu-satunya yang paling berwenang menangani kasus ini.

Disebuah keramaian tersangka tidak sadar menjadi sasaran dari dua lembaga negara yang powerful ini. Zhuge Zhengwo mengatur anak buahnya untuk menangkap tersangka dan Wuqing atau Heartless (Liu Yifei) dengan kemampuan telepatinya dapat membaca situasi dengan menelusuri peserta acara sampai ke isi hatinya. Heartless berhasil mengenali kemampuan dua master yang juga datang ke acara tersebut , Lengxue (Dengchao) dari Divine Constabulary dan Zhuiming atau Hunter (Ronald Cheng) sebagai debt collector.

Suasana menjadi panas ketika Lengxue mulai beraksi dan saling baku hantam dengan Zhuiming. Sementara Heartless dan Tieshou atau Iron Fist (Collin Chou) menangkap tersangka. Tak lama kemudian Six Department datang dengan kekuatan penuh. Komandan Liu mempertanyakan apa otoritas Zhuge Zhengwo mencampuri kasus yang sedang ditangani Six Department. Sebelum kondisi makin panas , pangeran kekaisaran (Waise Lee) datang untuk melerai.

Ternyata Zhuge Zhengwo mendapat mandat langsung dari kaisar yang membuat Komandan Liu iri dan menugaskan salah satu petugas terbaiknya Lengxue atau Cold Blood (Deng Chao) untuk menyusup ke Divine Constabulary. Disisi lain dalang dibalik penyebaran uang palsu juga sudah menyusupkan gadis-gadis cantik yang berkemampuan tinggi kedalam Departemen Enam Panel.  Zhuge Zhengwo juga menggunakan pengaruhnya untuk membebaskan Zhuiming yang berada ditangan Six Department dan menawarkan pertukaran dengan menyerahkan tersangka ke Six Department.

Zhuimin yang terbiasa dengan profesinya sebagai debt collector dengan kemampuan memburu tingkat tinggi terlihat kikuk dengan suasana dalam Divine Constabulary yang hangat seperti dalam satu keluarga. Semula dia enggan untuk masuk menjadi petugas tetapi akhirnya dia terpincut oleh arak berkualitas tinggi milik Jiaoniang atau Aunt Poise (Sheren Tang).

Zhuge Zhengwo dan Heartless dapat menerka maksud kedatangan Lengxue yang pura-pura di usir dan dipecat oleh Komandan Liu. Tetapi Zhuge Zhengwo melihat bakat dari Lengxue dan menerimanya sebagai anggota Divine Constabulary. Seiring waktu Lengxue merasa sebagai bagian dari “keluarga” Divine Constabulary. Suasana kerja dalam lembaga kecil ini begitu hangat , suasana informal , penuh semangat kekeluargaan dan sanggup bekerja efisien. Jelas kondisi ini sangat berbeda dengan suasana Six Departmen yang kaku dan dingin.  Lengxue juga tertarik dengan Heartless yang tentu saja dapat membaca isi hatinya .

Menonton film ini sebenarnya cukup menarik, menawarkan sesuatu yang lain dari film wuxia pada umumnya. Dari karakter Zhuge Zhengwo dapat dilihat bagaimana kepemimpinan yang menghargai bakat betapapun buruknya reputasi orang tersebut. Zhuge Zengwo selalu memberikan kesempatan kedua untuk berkarya.

Beberapa penonton atau pengamat mungkin akan membandingkan “The Four” dengan “X-Men” dan “Resident Evil” . Kemampuan Heartles mirip Professor Xavier dan Magneto . Karakter Lengxue mirip Wolverine termasuk Tie Shou yang punya kemampuan seperti Iron Man dan Wolverine dalam X-Men. Tetapi rasanya berlebihan juga kalau dibilang ide “The Four” ini hanya proses imitasi dari X-Men dan Resident Evil. Tema necromancy itu sesuatu yang umum dalam film Chinese dan kemampuan super seperti Lengxue itu tidak ada bedanya dengan kemampuan Zhou Xun sebagai siluman rubah dalam Painted Skin.

Saya tidak begitu bermasalah dengan isu imitasi ini karena adegan-adegan dalam “The Four” ini cukup artistik terkecuali kekurangannya berupa alur cerita yang terlalu sederhana untuk film bertema agen polisi atau detektif rahasia. Mudah-mudahan dalam The Four II dan III kekurangan ini bisa diperbaiki.

KARAKTER UTAMA

1. LIU YIFEI sebagai Heartless (Emotionless) , Wuqing . Sejak kecil Wuqing terseret ke kasus kekerasan yang mengakibatkan kakinya lumpuh kemudian diadopsi oleh Zhuge Zhengwo. Dia punya kemampuan untuk membaca pikiran orang lain termasuk melihat seseorang itu punya pikiran jahat . Dia juga punya kemampuan untuk menggerakkan benda-benda dengan pikirannya termasuk menangkis serangan dan  menggerakkan dirinya sendiri hingga melayang melawan gravitasi.

2. DENG CHAO sebagai Lengxue aka Coldblood . Dia dibesarkan oleh serigala sejak kecil kemudian menjadi petugas di Six Panel Departmen dibawah pimpinan Komandan Liu. Dengan latarnya dia punya kemampuan dan kekuatan serigala dan juga punya indra penciuman yang tajam dalam memburu sasaran. Ketika marah besar dia bisa berubah wujud menjadi serigala yang mengerikan

 

3. RONALD CHENG sebagai Zhuiming . Sejak kecil dia sudah menuntaskan kasus hutang piutang sebagai debt collector yang tidak pernah gagal . Kemampuan berburunya luar biasa dan pada saat dia bergabung dalam Divine , anggota2 lain meminta bimbingannya dalam ilmu berburu. Zhuiming anggota yang paling berpengalaman daripada anggota-anggota lainnya.

4. COLLIN CHOU sebagai Tieshou aka Iron Fist . Dia mantan narapidana yang diampuni dan mengabdi kepada Zhuge Zhengwo . Dia punya kepalan tangan sekuat besi dan juga punya kecerdasan dalm membuat mesin dengan latar belakangnya sebagai pandai besi brilian.

RATING : 6.5/10

oleh : Bentara

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing List Budaya Tionghua

Last modified onMonday, 25 February 2013 13:45
Rate this item
(0 votes)
More in this category: Beijing Film Academy »
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/2637-review-film-the-four-2012

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto