A+ A A-

Resensi Buku : Kembang Gunung Purei

  • Written by  Hernadi Tanzil
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Lan Fang, penulis muda kelahiran Banjarmasin, walau terlahir dalam keluagra keturunan Cina yang cukup konservatif dan lebih berkonsentrasi kepada dunia bisnis, Lan Fang lebih suka menulis dan membaca sejak usia sekolah dasar. Kesukaaannya menulis membuatnya ia mencoba-coba mengirim cerita pendek pertamanya ke Majalah Anita Cemerlang pada tahun 1986 dan langsung dimuat sebagai cerita utama di halaman depan majalah tersebut. Semenjak itu Lan Fang jadi ketagihan menulis. Periode 1986-1988 ia cukup banyak menulis cerpen remaja yang dimuat diberbagai majalah remaja seperti Gadis, terutama Anita Cemerlang. Sejak 1997 Lan Fang mememangkan berbagai lomba penulisan yang diadakan majalah Femina. Dua buah novelnya Reinkarnasi (2003) dan Pai Yin (2004) telah diterbitkan oleh Gramedia. Pada tahun 2003 Lan Fan berhasil menyelesaikan novelnya "Kembang Gunung Purei" yang telah mengendap selama hampir lima tahun lamanya dan novel ini memperoleh pengharaan Lomba Novel Femina 2003. Dan kini novel tersebut kembali diterbitkan oleh Gramedia pada tahun 2005 ini.

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

 

Judul : Kembang Gunung Purei
Penulis : Lan Fang
Penerbit : Gramedia
Cetakan : April, 2005
Tebal : 227 hal
ISBN : 979-22-1295-7



Tidak seperrti dua novelnya terdahulu "Reinkarnasi" dan "Pai Yin" yang kental dengan budaya Cina, rupanya dalam novel terbarunya ini Lan Fang mencoba keluar dari pengkotakan spesifikasi budaya Cina dan mencoba mencari unsur budaya lain yang akan dijadikan setting ceritanya. Akhrinya karena Lan Fang lahir dan dibesarkan di Banjarmasin-Kalimantan Selatan maka ia memilih budaya Kalimantan untuk membungkus novel terbarunya ini.

Kembang Gunung Purei berkisah tentang kisah cinta seorang pemuda Banjarmasin Nanang Syam yang baru saja mendapatkan promosi sebagai area manager disebuah perusahaan penebangan hutan yang beroperasi di Hutan Bumban-Kalimantan. Namun promosi ini mengharuskan dirinya terikat kontrak selama dua tahun di hutan Bumban, hal ini memicu permasalahan dengan Ida, tunangannya. Ida rupanya mempertanyakan rencana pernikahan mereka dan keberatan jika dirinya harus tinggal di hutan setelah menikah nanti. Namun ambisi Nanang mengalahkan rencana pernikahannya. Ia tetap menjalankan kontrak penebangannya. Tanpa disangka, Nanang mendapatkan kecelakaan kerja yang mengakibatkan kehilangan pergelangan tangan kanannya.

Kehilangan salah satu pergelangan tangannya membuat Nanang terpukul, apalagi ketika ia harus menerima kenyataan Ida, tunangannya membatalkan pertunangan mereka. Alih-alih ketertekanan jiwanya karena menjadi cacat dan kehilangan kekasih Nanang menenggelamkan dirinya kedalam pekerjaannya di hutan Bumban, ia memperpanjang kontraknya untuk dua tahun lagi. Namun ditengah kesibukan pekerjaannya, dalam hatinya masih tersimpan bayang-bayang hitam akan masa depannya yang sewaktu-waktu muncul kala dirinya menyendiri. Dalam kesedihan dan patah semangat itulah Nanang bertemu dengan Bua, seorang gadis Dayak Ngaju dari dusun pedalaman Gunung Purei yang kerap ditemuinya kala Bua menjajakan dagangannya diatas perahu di sungai Barito. Akhirnya Nanang lambat laun terpikat dan mencintai Bua. Hubungannya dengan Bua memulihkan dirinya dari kesedihan dan menyembuhkan jiwanya yang tertekan.

Bua sendiripun memiliki kehidupan yang kelam. Dirinya harus hidup dalam kutukan akibat ia pernah menolak dikawinkan dengan seorang pemuka adat di kampungnya. Dan kutukan inipun berlaku pula untuk pria yang mencoba mendekati Bua. Namun karena cintanya Nanang tak menghiraukan kutukan itu. Bua pun tak tinggal diam iapun mencoba memunahkan kutukan tersebut melalui sebuah upacara adat. Singkat cerita akhirnya Nanang Syam tanpa diketahui oleh kedua orangtuanya menikah secara adat di Desa Gunung Purei tempat Bua berasal.
Namun ketika kebahagiaan baru saja direguk dan Bua telah mengandung. Tiba-tiba ayah Nanang meminta putranya untuk mencoba menjalin kembali hubungannya dengan Ida yang baru saja mengalami kecelakaan dan telah menjadi buta. Terhenyak oleh berita tersebut Nanang mengunjungi Ida. Rupanya di satu sisi Nanang masih menyimpan rasa terhadap Ida. Tapi di sisi lain, ia juga amat mengasihi Bua, yang saat itu telah mengandung anaknya. Cinta masa lalu dan masa depan membuat Nanang Syam terombang-ambing dalam pilihannya sampai akhirnya suatu peristiwa memantapkan Nanang akan pilihan cintanya.

Yang menarik dari Novel Kembang Gunung Purei ini. Novel ini tak hanya menyajikan cerita fiksi imajinatif, namun novel ini bisa dikatakan akan menambah wawasan pembacanya karena dibalut dalam seting pedalaman Hutan Bumba Kalimantan Selatan dan Suku Dayak Ngaju lengkap dengan kondisi sosial budayanya ditampilkan dalam novel ini. Tak kalah menariknya novel ini juga menampilkan suasana dan proses kerja perusahaan penebang hutan dan perasaan para pekerjanya yang dihadapkan pada garangnya medan dan kondisi psikologis mereka ditempat terpencil.

Sebetulnya novel Kembang Gunung Purei karya Lan Fang ini memiliki potensi yang cukup besar untuk menjadi novel cultural yang menyajikan potret lengkap salah satu budaya Kalimantan jika saja Lan Fang bisa lebih mengeksplorasi segi sosial budaya masyarakat Suku Dayak Nagaju lengkap dengan tradisi-tradisi yang dimilikinya. Namun sejauh apa yang telah dihasilkan Lan Fang dalam novel terbarunya ini tentu patut dihargai karena novel ini telah menghadirkan sebuah upaya mengenalkan budaya Kalimantan sekecil apapun ke dunia luar.

@h_tanzil

Catatan Admin :

  1. Tulisan ini dimuat ulang dengan seijin dan sepengetahuan H.Tanzil , pemilik tulisan dan blog dibawah ini.
  2. http://bukuygkubaca.blogspot.com/

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/307-resensi-buku--kembang-gunung-purei

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto