A+ A A-

Sumber Sumber Sejarah : Dinasti Shang Sebuah Kasus

  • Written by 
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Dinasti Shang (ca 1570-1045) memiliki posisi penting dalam sejarah Tiongkok karena dinasti awal yang meninggalkan sumber tulisan. Memang Oracle Bone Inscriptions ditemukan hanya di sembilan raja terakhir Shang atau disebut late Shang dari masa kekuasaan Wu Ding , raja keduapuluh satu  sampai dengan Di Xin raja terakhir Shang dimana kekuasaan Shang harus tumbang dari Zhou dalam pertempuran Muye yang desisif.

 

Secara kultural , Shang berakar dari kawasan Henan Longshan[1] , salah satu regional kultur neolitikum di Tiongkok.[2]  Kebudayaan Longshan dimasa Neolitikum Tiongkok tersebar di lembah Sungai Kuning sejak milenium ketiga sebelum Masehi. Budaya ini merupakan platform untuk perubahan sosial secara fundamental untuk tiga dinasti awal , Xia , Shang dan Zhou.   Peradaban Tiongkok berkembang dari awalan ini dengan karakterisasi peradaban yang ditopang oleh hirarki politik , religi , manajemen sumber daya dan bentuk-bentuk seni yang terus berkembang dari bentuknya yang sederhana hingga semakin kompleks.  Lantas darimana saja  sumber-sumber sejarah Shang?

[Foto Ilustrasi : Longshan Culture ,23 July 2009, Author Lamassu Design Gurdjieff,Transferred from en.wikipedia]

 

Mengenai catatan tradisional terlihat peran besar Sima Qian. Dimasa sebelumnya para penulis kronik dan para filsuf Zhou Timur mengetahui sedikit saja detail mengenai dinasti Shang. Jikapun iya hanya berupa rekaman perisitwa.  Tetapi sejarahwan Han , Sima Qian dalam Yin Benji (Basic Annals of the Yin) memulai dengan konsepsi menakjubkan mengenai Xie . Sima Qian juga mencatat anekdot-anekdot ,peristiwa-peristiwa , analisis karakter dan penilaian moral terhadap empat belas leluhur pra-dinasti dan tiga puluh raja-raja Shang dari Cheng Tang sang pendiri dinasti sampai ke Di Xin .[3] Sima Qian mengakhiri catatan mengenai Shang dari pemberontakan gagal yang dipimpin oleh anak Di Xin yaitu Wu Geng dalam melawan Dinasti Zhou yang baru berdiri. Sejarahwan besar ini juga menyediakan detail narasi dalam beberapa kasus . Dia juga mencatat mengenai pemindahan ibukota Shang sebanyak lima kali sampai pemindahan terakhir ke Yin dimasa kekuasaan Pan Geng. Tradisi penulisan sejarah Sima Qian yang penuh warna  ini merupakan tonggak penting dalam tradisi penulisan sejarah Tiongkok yang terkenal detail dan kompleks berikutnya ditambah lagi dengan dukungan teknologi kertas . Masyarakat Tiongkok dari kalangan pejabat sampai kaisar menjadi peduli sejarah dan juga memikirkan setiap kontingensi penilaian di generasi mendatang terhadap dirinya. [4]

Sumber lainnya adalah tulisan perunggu. Ribuan peninggalan perunggu Shang telah digali dari masa akhir Shang . Peninggalan ini memberikan informasi berharga tentang luasan budaya Shang, variasi regionalnya dan juga negara-negara rivalnya. Tetapi secara keseluruhan kontribusi tulisan perunggu ini terhadap tulisan sejarah Shang relative kecil. Akatsuka Kiyoshi dalam “chugoku kodai no shukyo to bunka: in ocho no saishi (Tokyo : 1977 – p611-859) menghadirkan sebuah korpus dari 102 tulisan perunggu yang dia temukan dan dianggap berharga untuk diterjemahkan dan didiskusikan.

Sima Qian mendapat informasi dari Shijing dan Shangshu (Shujing) . Kalangan scholar modern juga melacak sumber informasi lain dari sejumlah sumber Zhou dan Han seperti Zuozhuan , Guoyu dan Da Dai Li Ji. Dan yang lebih menarik lagi para scholar modern juga membandingkan Yin Benji dengan oracle-bone inscription atau jiaguwen.      Sistem tulisan telah terbentuk dan memiliki jumlah yang berkisar 5000 buah.[5] Dimasa Dinasti Shang dimensi waktu terhadap masa depan sangat penting dalam merencanakan sesuatu dan juga persetujuan dari kekuatan-kekuatan lain yang mereka yakini. Caranya dengan menerapkan sumber panas untuk membolongi punggung kura-kura dan kemudian menginterpretasi hasilnya sebagai keberuntungan atau ketidakberuntungan.  Aktivitas seperti ini belum diketahui oleh sejarahwan klasik Tionghoa sampai akhirnya masa akhir Qing.[6] Kolektor pribadi dan para arkeolog mengumpulkan sekitar lebih dari 200 ribu tulisan ini dari situs Xiaotun yang terletak 3km dari Anyang. Tulisan ini ditemukan bersama dengan kompleks kuil istana , workshop dan pemakaman elite Shang yang menunjukkan bahwa Xiaotun sudah menjadi pusat administrasi .

Prosedur ramalan ini dimulai ketika para peramal telah membuat dan menginterpretasi crack dan raja mengucapkan ramalannya , bilangan dari setiap crack bersama dengan notasi crack yang sesekali  tentang keberuntungan , akan digores atau diukir. Kemudian , seorang spesialis mengukir sebuah cacatan mengenai keseluruhan ramalan yang kemungkinan disalin dari catatan pendahuluan kepada tulang . Ukiran karakter tersebut seringkali di-isi oleh pigmen warna . Setelah jangka waktu tertentu , tulisan tulang yang kegunaannya sudah lewat masanya dapat dikubur di lubang penyimpanan di kuil istana.  Sebagai gambaran , raja-raja terakhir Shang dilayani oleh lebih dari 120 peramal . Peramal-peramal tersebut masih berada dalam garis silsilah dan status sosial mereka tidaklah rendah. Para peneliti modern telah mengidentifikasi sekitar 10 grup peramal utama , gaya tulisan mereka , bentuk ramalan dan topik-topik ramalan.

Grup peramal dari Bin mempunyai ciri bentuk ramalan tertentu. Mereka tidak bertanya pada sang kuasa , tetapi memformulasi sepasang isi , mingci , satu negative dan satu positive , harapan dan kecemasan. Mereka memasangkan formula mengenai isu tertentu yang telah di-crack dan ditulis  pada sisi kanan dan kiri dari batok kura-kura. Peramal-peramal dimasa Wu Ding memperlakukan berbagai variasi topik dalam cara dualistic seperti panen , pertanda buruk , menangkap tahanan , melahirkan anak , aktivitas Di dan kuasa-kuasa lain, mimpi , banjir , strategi militer . Dari sini sisi kesenian Shang juga dapat terlihat dengan oposisi simetri dan oposisi biner seperti yang diungkap KC Chang dalam “Some Dualistic Phenomena in Shang Society”.  Dari sisi kaligrafi juga ada ciri-ciri disetiap periode dimana pada periode awal bentuk kaligrafi itu besar dan tebal  dan menjadi semakin kecil.

David Keightley menyebutkan usaha peneliti sejarah modern  untuk menentukan kronologi Shang memerlukan kombinasi bukti dari jiaguwen , dan juga tulisan perunggu dari masa Zhou Barat. Uji karbon dapat menyediakan parameter dalam berbagai tahapan sejarah Shang tetapi masih belum cukup presisi untuk memecahkan perselisihan dari kronologis berbasis teks. [7] Seperti dalam contoh kronologis  Perang Muye dimana Sima Qian tidak bisa menentukan tahun dimana Zhou menaklukan Shang. Sarjana Han , Liu Xin (46SM-23M) , mengkalkulasi peristiwa Perang Muye terjadi pada tahun 1112 SM dan dalam versi Liu Xin , Shang berdiri pada tahun 1766 SM. Sementara versi tahun dari Bamboo Annals atau Guben Zhushu jinian menyiratkan bahwa Shang berdiri pada tahun 1523 SM dan jatuh pada tahun 1027SM . Perhitungan berikutnya terus berkembang menjadi 1045 SM.

[ Peta Tiongkok di masa Kampanye Zhou Menundukkan Shang , Courtesy The Cambridge of Ancient China]

 

Jadi dari sini bisa dilihat bahwa menelusuri sejarah Shang melalui berbagai cara seperti melalui catatan tradisional , peninggalan tulisan kuno dan bahkan uji karbon untuk mencari kronologis yang lebih memadai. Untuk menentukan tahun awal berdirinya dinasti Shang ada inisiatif baru dalam bidang arkeo-astronomi. Tentunya sangat menarik bahwa karya Sima Qian yang sudah muncul sebelum Masehi dicocokkan bukti-bukti arkeologis yang diteliti ribuan tahun sebelumnya. Sejarah memang menarik dan melibatkan berbagai bidang ilmu.

 

Ardian Cangianto

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua | Facebook Group Budaya Tionghoa

Photo Ilustrasi : L jooAn artist impression of Yi Jing 义净(635~713), Tang dynasty Buddhist monk. Public Domain

 


[2] K.C. Chang , “Shang Civilization” , Yale University Press , 1980 , p345-48 ; Huang Zhongye , “Con kaogu faxian kan Shang wenhua qiyuan yu woguo beifang”, Beifang wenwu 1990.1:14-19 ;  Zhongguo Shehui kexueyuan Kaogu yanjiusuo , “Yinxu de faxian yu yanjiu” , Beijing , 1994 , p465-9

[4]司 马迁 Sima Qian, seorang penulis sejarah yang hidup di zaman Dinasti Han. sebelum dirinya, penulisan sejarah sudah ada, tapi cenderung berupa rekaman peristiwa saja, Sima Qian lah yang mulai tradisi menulis sejarah dengan menempatkan manusia sebagai pusat perhatian. dengan cara ini, sejarah bukan lagi catatan peristiwa yang kering, tapi sesuatu yang hidup. Tokoh2 dalam " Catatan Sejarah" Sima Qian kaya akan warna, segala tindak tanduk mereka juga selalu diberi penilaian moral. Setelah Sima Qian, semua penulisan buku sejarah Tiongkok mengacu ke tradisi ini. Sejak itulah, semua tokoh masyarakat, dari Raja, menteri, panglima hingga sastrawan, menjadi sangat peduli terhadap penilaian sejarah. Semua orang selalu berpikir : Setelah saya tiada, bagaimana penilaian generasi di kemudian hari terhadap saya? (Zhou Fuyuan , Perbandingan Sastra Tiongkok Dengan Barat)

[6] Sejumlah tokoh late Qing seperti Wang Yirong (1845-1900) , Liu E (1857-1909) , Sun Yirang (1848-1908) , Luo Zhenyu (1866-1940) , Wang Guowei (1877-1927) meneliti dan mengumpulkan “oracle bone inscription”

[7] Keightley , “Sources of Shang History” , p172 , 188 ; Chang , “Shang Civilization” , p322-4

 

 

Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/3541-sumber-sumber-sejarah--dinasti-shang-sebuah-kasus

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto