Logo
Print this page

KELENTENG DAN AGAMA BUDDHA MENUJU KEHARMONISAN

KELENTENG DAN AGAMA BUDDHA MENUJU KEHARMONISAN[1]

Ardian Cangianto

IKA Fakultas Filsafat Universitas Parahyangan

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

 

Abstrak

            Sejarah hubungan Tiongkok dan Nusantara sudah tercatat sejak abad ke 1 dimana kemudian diikuti arus migrasi orang Tionghoa ke Nusantara. Migrasi mereka tentunya juga membawa kepercayaan dan budaya mereka sehingga memperkaya budaya Nusantara.

            Peranan orang Tionghoa dan kelenteng dalam mengembangkan agama Buddha tidak terlalu dibahas secara mendetail bahkan sering terjadi kesalahpahaman antara kelenteng dengan institusi agama Buddha. Untuk mengatasi hal itu maka perlu memahami bagaimana system kepercayaan orang Tionghoa pada umumnya serta peranan kelenteng dalam mengembangkan agama Buddha pada abad ke 18 hingga abad 21 ini.

            Jejak rekam peranan kelenteng dalam pengembangan agama Buddha jelas terasa. Bhiksu Benqing yang berkelana dari kelenteng satu ke kelenteng yang lain dalam memberikan pelayanan bagi umat kelenteng atau Buddhist Mahayana bisa dilacak jejak-jejaknya. Selain itu peranan Dizang Yuan di Jakarta dalam mendidik para “bhiksu bunga” sebagai pendoa . Bahkan peranan penyebaran agama Buddha melalui symbol bisa dilihat di berbagai kelenteng. Tentunya peranan ini perlu dibangun lebih baik dan dengan itu diperlukan pemahaman-pemahaman yang lebih mendalam terhadap kepercayaan orang Tionghoa dan fungsi kelenteng sebagai suatu upaya membangun kebersamaan.

            Pembagian jenis kelenteng serta system kepercayaan orang Tionghoa yang bernuansakan “Tridharma” perlu dikaji lebih mendalam sehingga bisa memahami bahwa inti dari semua itu adalah “harmonis”.

Keywords : Buddhism, Kelenteng, Tridharma, harmonis

 

 

 

 

Pendahuluan

Hubungan diplomatik Tiongkok dengan kerajaan Nusantara pada khususnya pulau Jawa dengan kerajaan Java Dvipa ( Yetiao guo 葉調國 )tercatat pertama kali pada masa dinasti Han dalam “Buku Han Lanjutan” ( houhanshu  後漢書 )[2] ( Huang Kunzhang, 2007 ). Dalam catatan “Buku Han Lanjutan” ditulis bahwa pada masa kaisar Shundi 順帝 tahun pemerintahan Yongjian 永建 ke enam ( 131 C.E )[3]  kedatangan utusan dari kerajaan Java Dvipa. Catatan-catatan dan kronik Tiongkok menuliskan arus kedatangan orang Tionghoa ke Nusantara dan sebaliknya. Sebagai contoh adalah catatan Yi Jing 義淨 ( 635-713 CE ) yang menuliskan bahwa sudah banyak bhiksu[4] dari Tiongkok tinggal di kerajaan Sriwijaya Sumatra dan mereka sudah tinggal lama serta menguasai bahasa Kunlun 昆侖語[5] [6]

Gelombang sejarah kedatangan orang Tionghoa ke Asia Tenggara ( termasuk Nusantara- penulis )  menurut Zhu Jieqin ada tiga masa kedatangan : pertama dari awal pra Masehi dan pasca Masehi hingga abad ke 15 ( antara dinasti Han ( 202 BCE – 220 CE ) hingga dinasti Ming ( 1368-1644 ); kedua, dari abad ke 16 hingga pertengahan abad ke 19; ketiga, dari pertengahan abad ke 19 hingga pertengahan abad 20. Dari awal abad Masehi hingga pertengahan abad ke 16 itu tidak tercatat adanya ketegangan antar etnis Tionghoa dengan Pribumi, pasang surut hubungan antar etnis Tionghoa dengan Pribumi tercatat sejak pasca perang Jawa 1740[7].

            Walau terjadi bencana peperangan di Tiongkok sejak akhir abad ke tiga hingga abad ke 6 Masehi kemudian dilanjutkan kekacauan pada akhir abad ke 10 kemudian penjajahan Mongol di abad ke 13, migrasi Tionghoa ke Nusantara tidak terjadi secara massif hingga pada abad ke 17. Abad ke 17 ini mengubah peta migrasi Tioonghoa di Nusantara, hal ini bisa terjadi dikarenakan adanya kebutuhan kuli untuk membangun Batavia oleh Jan Pieter Coon di tapi masih dalam jumlah terbatas. Seiring dengan berkembangnya kota Batavia juga memerlukan orang-orang yang bisa membantu mengembangkan kota Batavia dan yang paling sering digunakan adalah orang Tionghoa, baik dalam bidang perniagaan hingga menjadi buruh pabrik terutama pabrik gula.

            Gelombang migrasi susulan yang berjumlah cukup besar terjadi pada medio abad ke 19 dimana Tiongkok mengalami banyak masalah dalam negri serta kemerosotan wibawa negara dengan timbulnya berbagai pemberontakan serta perang dengan negara-negara barat yang berujung pada kekalahan dinasti Qing dan tuntutan ganti rugi dari negara barat yang membuat rakyat Tiongkok menderita sehingga mereka eksodus ke Asia Tenggara dengan menggenggam harapan di tanah baru. Gelombang migrasi orang Tionghoa ini juga sekaligus membawa kepercayaan serta budaya mereka.

Kelenteng-kelenteng masyarakat Tionghoa diperkirakan sudah ada di Indonesia sebelum abad ke 18 seiring dengan kedatangannya mereka.  Setiap kelenteng memiliki dewa utama dan dewa-dewa lain yang juga dipuja dalam suatu kelenteng. Kebanyakan kelenteng menggunakan nama berdasarkan dewa utama yang dipuja dalam kelenteng tersebut seperti Lu Ban Gong atau kelenteng Lu Ban; Guanyin Ting atau kelenteng Guanyin; dan juga banyak yang menggunakan kata Fude atau Hoktek, misalnya Hok Tek Bio Bogor. Keberadaan kelenteng atau sering disebut dengan tepekong/toapekong (dialek Hokkian) pada umumnya berada di pusat kota di mana pada awalnya orang Tionghoa berasal dari kaum pedagang yang datang dan menetap di suatu daerah dan menyebar ke daerah-daerah sekitarnya di Indonesia terutama pesisir pulau Jawa.

 

Agama dan Kepercayaan Tionghoa

Menurut Van Schie, agama adalah : “keseluruhan mitos,ritus, dan tata hidup yang merupakan pernyataan serta pengungkapan kepercayaan manusia, dan bahwa “gaya misterius” mempengaruhi semua aspek kehidupannya”[8] dan menurut Olaf Herbert Schuman bahwa: “komponen dasar agama adalah adanya yang disembah dan menyembah, dimana yang disembah itu adalah faktor primat sehingga memiliki kuasa atau paling tidak memiliki pengaruh dalam relasi itu”. Seperti kita ketahui bahwa definisi agama atau kepercayaan[9] itu beragam dan dalam pandangan penulis sebenarnya tidak memiliki perbedaan-perbedaan mendasar antara keduanya jika menilik pada pengertian agama dari Schie dan Schuman.

Agama tradisional dan kepercayaan masyarakat Tionghoa memiliki perbedaan menyolok dengan agama-agama Abrahamic. Salah satu perbedaan itu adalah bersifat inklusif dalam artian bisa menerima “dewa-dewi” di luar budaya Tionghoa dan bisa menyerap komponen-komponen di luar kepercayaan mereka. Dan di sisi lain, tempat ibadah orang Tionghoa juga memiliki fungsi struktural juga memiliki fungsi-fungsi sosial, antara lain adalah : kontrol sosial; fungsi pendidikan; pertahanan keamanan; panti asuhan; panti jompo; penginapan gratis dan berbagai macam hal lainnya[10]. Tapi fungsi yang terutama adalah ekspresi budaya Tionghoa yang dituangkan dalam tempat ibadah mereka seperti misalnya : seni kaligrafi; seni pertunjukan; seni ukir; sastra; origami; arsitektur. Joachim Wach membagi dua jenis kelompok agama : natural groups dan specifically religious, oleh C.K Yang diperluas pemahamannya menjadi : diffused religions dan institutional religion [11]. C.K Yang mengatakan bahwa : penyembahan leluhur memiliki seluruh kualitas utama  agama yang disebarkan ke dalam struktur institusional (ancestor worship had all the primary qualities of religion diffused into the institutional structure)[12]

Agama dalam bahasa Mandarin modern ini adalah zongjiao 宗教 yang memiliki arti adalah : “kembali ke ajaran sesepuh” yang berasal dari terms agama Buddha Mahayana Tiongkok[13] dan zongjiao ini digunakan untuk sebagai translasi religion ke dalam bahasa Mandarin[14] . Sedangkan dalam bahasa Mandarin klasik ada dua kata yang bisa mengacu pada pengertian agama. Pertama adalah jiao 教 yang dalam pengertian jaman sekarang ini adalah “ajaran”. Sebagai contoh penggunaan kata jiao untuk agama antara lain : Jingjiao 景教 untuk menyebut agama Kristen Nestorian yang berkembang di daratan Tiongkok pada abad ke tujuh Masehi; Qingzhen jiao 清真教 yang berarti agama Islam; Fojiao 佛教untuk agama Buddha;Rujiao 儒教 ( agama Konghucu atau Ruism ); Daojiao 道( agama Tao )[15]. Penulis mencoba menggali pengertian agama menurut kitab Zhongyong 中庸  :“Anugrah/ mandat Langit itu disebut sifat asali, mengikuti sifat asali ini disebut Dao ( jalan ), mengembangkan Dao ini disebut “Ajaran”天命之謂性,率性之謂道,修道之謂教  -中庸 “.Ming memiliki makna : mandat itu adalah konsep keseimbangan keharmonisan, keselarasan , keseimbangan( yinyang, lima unsur ). Xing memiliki makna lima sifat luhur manusia. 仁义礼智信 ( kemanusiaan, keadilan, etika, kebijaksanaan dan integritas ), dao adalah jalan atau cara.  Jadi pengertian agama menurut penulis adalah : agama adalah suatu ajaran untuk mengembangkan hakekat asali manusia yang baik adanya dan agar selalu berjalan dalam koridor 5 kebajikan utama.

Orang-orang yang beribadah di kelenteng pada umumnya bernuansakan ”Samkauw atau Tridharma”, yaitu tiga ajaran : Buddha, Konghucu dan Tao. Kelenteng khususnya di daerah Jawa Tengah dan Timur, Sumatera dikenal dengan nama Tempat Ibadah Tridharma (TITD). Istilah Tridarma ini hanya ada di Indonesia, pada umumnya disebut baishen atau menyembah shen (leluhur dan dewa). Kelenteng secara singkat dapat dikatakan sebagai  bangunan tempat ibadah umat Buddhisme;Taois maupun Ruisme atau yang sering disebut samkauw (Tridharma).

 

Peranan Kelenteng

            Istilah kelenteng adalah istilah yang pertama kali dikenal di pulau Jawa dan meluas. Secara umum istilah kelenteng ditujukan pada tempat ibadah yang bernuansakan arsitektur budaya Tionghoa, baik itu tempat ibadah Buddhisme Mahayana, Taoisme atau juga kepercayaan masyrakat Tionghoa. Sebenarnya dari nama kelenteng-kelenteng itu bisa dipilah-pilah mana yang merupakan tempat ibadah Buddhisme atau Taoisme bahkan kepercayaan rakyat. Selain itu juga bisa dilihat susunan altarnya serta pernik-pernik yang ada di dalam “kelenteng” itu. Tapi perlu digarisbawahi bahwa pembagian itu tidak selalu bisa digunakan karena terkadang “dewa-dewi” di dalam kelenteng itu bisa dari tiga agama utama di Tiongkok atau juga kepercayaan rakyat. Sebagai contoh tempat ibadah Buddhisme yang sering rancu antara lain : Jinde yuan 金德院 Jakarta, Chaojue si 朝覺寺 Cirebon, Dajuesi 大覺寺 Semarang dan lain-lain. Penulis memperkirakan dari pernik-pernik yang ada di Baoan gong 保安宮 Solo, adalah kelenteng Taoism.  Kelenteng-kelenteng yang penulis sebut di atas pada umumnya juga memiliki altar dari Taoisme; Ruisme atau kepercayaan rakyat.

            Secara umum pemilahan kelenteng adalah sebagai berikut[16] :

1)     Buddhisme, secara umum disebut siyuan 寺院 .

1.1) Si 寺, secara umum tempat ibadah agama ‘asing’ yang masuk Tiongkok menggunakan kata  si[17]. Di Indonesia banyak kelenteng yang menggunakan kata si atau sie dalam dialek Hokian.

1.2) Yuan , pengertian ini lebih luas daripada si vihara, karena mencakup tempat pendidikan, pelatihan diri untuk para bhiksu atau biara. Contoh Jinde yuan 金德院 Jakarta.

1.3 ) An , secara umum bisa diartikan an 庵 adalah biara untuk biarawati, tapi an tidak harus untuk bhiksuni saja. An 庵 bisa untuk : daogu 道姑[18] bisa zhai jie 齋姐[19] 

1.4 )Ta  ( pagoda ), bangunan ini bernuansakan Buddhisme, dimana pagoda ini adalah tempat untuk penyimpanan relics Buddha, kitab suci atau juga para bhiksu-bhiksuni yang sudah parinibbana[20].

2.) Taoism, secara umum disebut gong guan 宮觀

2.1) Gong , artinya adalah istana. Xihe gong 西河宮  ( See Hoo Kiong ) adalah salah satu contoh yang berada di kota Semarang.

2.2 ) Guan  , artinya adalah mengamati, penyebutan ini terkait dengan panggung obervasi langit 觀臺 pada jaman pra dinasti Tang. Fungsinya mirip dengan yuan  .

2.3) Dong , artinya adalah gua. Biasanya adalah tempat para pertapa. 2.3) Dian 殿, artinya aula. Statusnya lebih rendah dari gong 宮. Contoh : Baoan dian保安殿 Pekalongan.

3) Ruism ( Agama Konghucu )

3.1) miao , artinya adalah tempat penghormatan leluhur. Kadang juga digunakan untuk tokoh yang berjasa, seperti misalnya Kong Miao 孔廟, kelenteng untuk menghormati Kong Zi[21].  Contoh : Wen miao 文廟 Surabaya

3.2) ci , secara umum diartikan rumah abu, dimana bisa menjadi rumah abu yang bersifat ke margaan atau juga untuk tokoh yang dihormati. Atau juga bisa bersifat umum seperti Gongde ci 功德祠 ( Kongtek Siu ) Semarang.

3.3) Li tang 禮堂, secara umum artinya adalah aula penghormatan. Penulis belum menemui  li tang sebagai tempat ibadat Ruism di negara lain kecuali di Indonesia.

4) Kepercayaan rakyat, pada umumnya mereka menggunakan istilah miao , tapi dalam banyak tempat ibadah kepercayaan rakyat, kita bisa melihat penggunaan gong; ci; tang.  Istilah lain adalah tang (aula), biasanya itu adalah kelenteng kecil bersifat pribadi. Yang lainnya adalah shentan 神壇 yang berarti “altar dewata”  ; dian 殿 (aula). Tang dan shentan kadang dimiliki oleh pribadi tapi terbuka untuk umum dan umumnya memiliki fungsi pelayanan sebagai pendoa. Tang pada umumnya orang mengkaitkan dengan Fotang 佛堂tapi ini juga tidak selalu karena ada yang dari Taoisme menggunakan istilah tang ini. Sedangkan shentan pasti bernuansa Taoisme atau kepercayaan rakyat.

 

Mircae Eliade mengatakan, The man of the traditional societies is admittedly a homo religiosus, but his behavior forms part of the general behavior of mankind and hence is of concern to philosophical anthropology, to phenomenology, to psychology.[22] Chen Zhihua menulis bahwa,”Kelenteng sebenarnya memiliki banyak fungsi, tidak hanya sebagai sarana penyembahan atau kegiatan shamanism. Karena kelenteng memiliki banyak fungsi public, karena itu kelenteng seringkali sangat secular (profane) dan realistis.”(廟宇的用途其實是很多方面的,不僅僅用於崇祀或巫術迷信活動。正因為它們有許多公共性的功能,所以它們常常是很世俗化,很現實化的。)[23].Dengan demikian maka kelentengsebagai bentuk sakral dan profan dalam spatial yg sama /dimensi ruang.

Mayoritas kelenteng-kelenteng di Asia Tenggara dapat dikatakan bersifat diffused religions. Diffused religion menurut penulis adalah istilah yang sering didengar di Indonesia adalah “Samkaw” (三教) dimana penyembahan leluhur adalah salah satu cirri khasnya. Dalam hal ini di Indonesia kata “samkaw” mengacu pada tiga kepercayaan orang Tionghoa, yaitu :

  1. Ruisme atau yang dikenal dengan sebutan agama Konghucu di Indonesia. David Jordan mengatakan sebenarnya bukan Ruisme [24]. Tapi di Indonesia agama yang diakui oleh negara adalah Ruisme bukan Taoisme.  Pengaruh Ruisme terutama pada penghormatan leluhur.
  2. Buddhisme Mahayana Tiongkok. Penulis menekankan Buddhisme Mahayana Tiongkok (漢傳大乘佛教) untuk membedakan dengan Buddhisme Theravada (小乘佛教)atau dalam bahasa mandarin sering ditulis “Buddhisme yang berkembang di selatan” (南傳佛教). Ini perlu dipertegas agar tidak rancu antara Buddhisme mana yang memberikan pengaruh pada kepercayaan orang Tionghoa. Buddhisme sendiri memberikan pengaruh besar pada budaya Tionghoa.
  3. Taoisme sebagai agama tradisional yang lahir dan tumbuh di Tiongkok, memiliki karakteristik yang khas budaya etnik Tionghoa.  作為中國土生土長的傳統宗教,道教具有鮮明的民族文化特征。 (Chen & Xu 2007 : 17). Luxun 魯迅 (1881-1936) pernah mengatakan bahwa :”akar dari budaya Tionghoa semua ada di agama Tao” 魯迅先生曾經指出,‘中國根底全在道教’( dlm Chen& Xu 2007:17).  Dari pernyataan Luxun ini kita bisa ketahui bahwa Taoisme memiliki pengaruh yang mendalam pada kebudayaan Tionghoa.

Secara umum mayoritas orang Tionghoa menganut agama Buddha Mahayana Tiongkok (漢傳佛教)dan Tao (道教), selain dua agama tradisional itu ada yang disebut kepercayaan rakyat (民間信仰), kadang disebut juga animisme (精靈崇拜), terkadang disebut agama ‘populer’ (大眾宗教)[25]. Kepercayaan rakyat ini juga mengandung unsur Shamanisme selain Taoisme dan Buddhisme. Shamanisme ini adalah inti spiritual dari budaya klan/marga, mewujudkan dan merealisasikan semangat kolektivisme yang berorientiasi klan .“薩滿教是氏族文化的精神內核。它所弘揚和體現的氏族至上的集體主義精神[26].

Selain itu kelenteng dengan altar abu leluhur menjadi pengikat bagi perantauan dan menjadi juga dasar dari kelompok masyarakat Tionghoa  untuk bisa melakukan kegiatan-kegiatan sosialnya dengan pemenuhan kebutuhan mendasar terutama bagi satu klan atau daerah[27]. Menurut Jean DeBenardi, ”kelenteng komunitas ini selanjutnya berfungsi sebagai markas besar untuk para kapitan Tionghoa, pemimpin yang ditanamkan oleh penguasa kolonial dengan tanggungjawab mengatur komunitas mereka, dan juga menjabat sebagai pengarah kelenteng, penjaga pendupaan (these community temple further served as the headquarters for the chinese kapitans, leader whom colonial authorities invested with responsibility for governing their communities, and who also served as the temple's directors, the keepers of the incense urn.)[28].

Kita perlu melihat daya guna cult  terutama pada dewa-dewi orang Tionghoa, seperti yang dikatakan oleh Robert W.Crapps bahwa : agama (penulis menggunakan istilah cult agar lebih jelas) adalah sekaligus kepercayaan dan perasaan, organsime dan organisasi, berbuat dan berada[29]. Nicholas Berdyaev lebih cemerlang berpendapat bahwa agama (cult-penulis) merupakan : usaha untuk mengatasi keheningan guna melepaskan ego dari ketertutupannya, untuk mencapai kebersamaan dan keterakhiran.[30]” . Kita bisa melihat hal-hal itu pada kelenteng-kelenteng yang bersifat komunitas. Jadi penulis berpendapat bahwa cult pada dewa-dewi lebih bertujuan untuk mengikat orang  Tionghoa di sekitarnya agar menjadi lebih menggalang kebersamaan dan melepaskan ego individu terutama di wilayah yang baru bagi mereka. Bagi mereka , pendupaan tidak hanya sebagai representasi  sebuah titik untuk berhubungan dengan dewa-dewa tapi juga sebagai identitas kolektif (the incense urn represented a point of contact with the gods but also a collective identity)[31].

Agama atau kepercayaan bisa memberikan “perlindungan” rasa aman terutama mereka yang merantau. Pada umumnya orang Tionghoa di perantauan “membawa” dewa-dewi mereka, baik dewa yang bersifat profesi, misalnya Lu Ban 魯班;komunitas, misalnya Kaizhang Shengwang 開漳聖王 ;umum, contoh : GuanGong 關公. Pada umumnya dewa-dewi dalam kelenteng merupakan  apotheosis atau mengangkat seseorang menjadi suci terutama bagi mereka yang menjadi pahlawan atau juga hidup tragis merupakan hal yang umum dalam budaya Tionghoa[32]. Tujuannya beragam dan salah satu tujuannya dapat penulis katakan  “membangun altar  membangun ajaran” (設壇設教). Dimana penyembahan leluhur merupakan ajaran tentang bakti kepada senior dan juga setia serta menjaga nama baik komunitas. Kelenteng sebagai tempat ibadah juga bisa menyerap kepercayaan setempat. Dewa-dewa yang dipuja di kelenteng tidak hanya dewa Tionghoa saja tetapi juga tokoh setempat yang dikeramatkan, seperti Eyang Suryakencana, Eyang Jugo, Raden Mangunjaya, Eyang Jayadiningrat,  Prabu Suryakencana, dan lain-lain. Masuknya tokoh-tokoh setempat tidak perlu diherankan karena sifat inklusif kepercayaan orang Tionghoa serta juga sebagai suatu “pengingat” dan “penghubung” masyarakat Tionghoa akan tempat baru yang ditinggali. Dalam psikologi sosial, skema adalah kerangka mental yang berpusat pada tema-tema spesifik yang dapat membantu kita mengorganisasi informasi sosial dan pengaruh skem terhadap kognisi sosial memiliki tiga hal, yaitu : atensi (attention), pengodean (encoding), dan mengingat kembali (retrieval)[33].

Banyak aktifitas ritual kelenteng melibatkan berbagai komponen masyarakat Tionghoa dan non Tionghoa tanpa tersekat SARA. Misalnya pada saat “gotong toapekong” bisa kita lihat kerjasama dan “rasa keterlibatan” baik mereka yang membantu kegiatan tersebut atau juga sebagai penonton. Bisa kita lihat sebagai suatu bentuk ikatan keharmonisan seperti yang digambarkan Geertz:”keyakinan bahwa orang (khususnya kalau mereka itu bertetangga) harus rukun, yaitu kerjasama dan tolong-menolong (hampir tak seorangpun yang sama sekali menghindarkan diri dari mengadakan slametan), bahwa kepercayaan orang lain hendaknya dipandang secara relativistis[34]. Orang Jawa mengenal slametan dan merupakan semacam wadah bersama rakyat, yang mempertemukan berbagai aspek kehidupan sosial dan pengalaman perseorangan, dengan memperkecil ketidakpastian, ketegangan dan konflik[35]. Atau bisa juga seperti yang dilukiskan oleh Jean Debenardi terbentuknya kolaborasi baru antaretnis pada komunitas diaspora these diasporic communities new forms of interethnic collaboration[36].

            Kelenteng juga bisa menjadi “alat” pelatihan diri umat-umat atau tokoh-tokoh dari tiga agama utama Tiongkok untuk meredam “nafsu memiliki” kelenteng sebagai milik satu golongannya saja. Di kelenteng inilah belajar berbagi “ruang” dan “waktu” bagi Buddhisme; Taoism dan Ruism secara berimbang.

 

Jejak Agama Buddha dalam Kelenteng

Agama Buddha adalah agama dari India yang mengalami sinifikasi (漢化佛教) tapi proses ini melalui riak gelombang besar. Salah satunya pada masa dinasti Tang dimana oleh sebagian Ruist menganggap bhiksu tidak menghormati orangtua dan kaisar sehingga pada tahun 631 kaisar Tang Taizong (598-649) menerbitkan dekrit untuk para bhiksu agar menghormati orang tua tapi kemudian mendapatkan tentangan, permasalahan ini terjadi berkali-kali sehingga kadang bisa lahir lagi dekrit penghormatan orang tua dan gerakan menentang dektrit tersebut [37]. Selain itu juga pertarungan politik untuk memperbutkan dukungan kerajaan kepada taoist atau bhiksu, tapi seringnya diskusi antara taoist dan bhiksu di istana menghasilkan hal-hal yang positif seperti misalnya menyadari titik kesamaan ajaran diantara mereka[38].

Tiga kaisar dinasti Tang, yakni : Tang Gaozu (566-635);Tang Taizong (598-649)  dan Tang Ruizong (662-716) mencoba meredakan “pertarungan” antara Ruism, Taoism dan Buddhism dengan mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang intinya adalah : “Tiga ajaran adalah sama dan sederajat; memiliki sifat welas asih dalam ajaran-ajarannya”[39]. Selain itu juga mengadakan diskusi tiga agama dengan mengundang tokoh-tokoh dari : Buddhisme; Ruisme dan Taoisme, yang sebagian dilaksanakan di istana dimana tiga agama itu adalah “senjata” yang penting untuk mengatur dan menentramkan negara[40]. Diskusi-diskusi ini menjadi dasar konsep “Sanjiao heyi” dan “Sanjiao pingdeng” pada periode berikutnya[41]. Tapi kritik dan tentangan keras dari beberapa tokoh Ruisme kembali timbul pada dinasti Song (960-1279) seperti Sun Fu 孫復 (992-1057), Shi Jie 石介 (1005-1045), Li Gou 李覯 (1009-1059), Ouyang Xiu 歐陽修 (1007-1072) terhadap agama Buddha membuat dua tokoh bhiksu Buddhisme yaitu : Qi Song 契嵩 (1007-1072) dan Zhiyuan 智圓(976-1022) mengusung sanjiaoheyi[42].  Wang Chongyang 王重陽 (1113-1170) seorang taoist pendiri Taoisme sekte Quanzhen 全真派 juga menekankan konsep sanjiaoheyi. Tujuannya membangun keharmonisan dengan saling menghormati dan saling mempelajari dan hasilnya adalah minimnya gesekan-gesekan antar umat bahkan masyarakat Tionghoa bisa dengan “tanpa beban” menjalankan hidup yang berpedoman pada tiga agama tersebut. Kelenteng-kelentengnya bisa dengan damai “menampung” tiga agama tersebut.

Pertentangan tiga agama di Tiongkok itu jelas merugikan banyak pihak dan untuk itu diperlukan kemauan untuk berdialog dan membuka diri. Dinasti Tang sudah melakukan dialog-dialog resmi atas nama negara walau demikian dialog belum menyelesaikan masalah. Kemauan institusi keagamaan dan tokoh-tokohnya untuk mendekonstruksi ulang habitus sehingga bisa melahirkan habitus toleransi di umat-umatnya.  Hasil dari para sesepuh Buddhisme Mahayana Tiongkok dan Taoisme melahirkan tokoh-tokoh toleran yang tidak memiliki “beban” saat membahas kitab agama Tao atau Buddha. Misalnya bhiksu Jingkong 淨空法師(1927- ), daoist Chen Liansheng 陳蓮笙 (1917-2008). Apa yang terjadi pada tulisan di atas itu kemudian melahirkan konsep “Samkaw” (Tridharma) yang dijewantahkan pada kelenteng-kelenteng di Indonesia.

“Dewa-dewi” agama institutional  dari Tiongkok seperti :  Guan Yin; Buddha; Maitreya; Bodhidharma dari agama Buddha, Taishang Laojun 太上老君; Xuantian Shangdi 玄天上帝; Gantian dadi  感天大帝(Xu Xun 許遜) dari Taoisme seringkali dipuja dalam kelenteng baik kelenteng yang bernuansakan Buddhisme Mahayana Tiongkok atau juga Taoisme. Kesemuanya itu digambarkan di kelenteng dalam bentuk lukisan (gambar); patung (ruphang); kaligrafi, yang sering disebut sebagai budaya material oleh para antropolog.   Tapi kita perlu menyadari bahwa kelenteng tidak hanya ruang fisik yang digunakan sebagai aktifitas manusia belaka tapi berbagai artefak itu mengandung nilai filosofi refleksi sejarah sebagai aspirasi hidup manusia agar lebih baik lagi.

 

Sebuah simbol pada mulanya adalah sebuah benda, sebuah tanda, atau sebuah kata, yang digunakan untuk saling mengenali dan dengan arti yang sudah dipahami[43] . Bagaimana simbol itu berhubungan dengan manusia bisa dilihat dari pandangan Cassier. Cassirer memberi petunjuk kepada kodrat manusia mengenai simbol, yakni selalu berhubungan dengan : (1) ide simbol (didasarkan pada pertimbangan prinsip-prinsip empirik untuk memvisualisasikan ide dalam bentuk simbol), (2) lingkaran fungsi simbol dan (3) sistem simbol (sebagai sistem, memuat bermacam-macam benang yang menyusun jaring-jaring simbolis)[44].

Ernst Cassirer menyatakan bahwa : “Bahasa pertama-tama bukanlah ekspresi pikiran atau gagasan, melainkan ekspresi perasaan-perasaan, afeksi-afeksi”[45]. Kita bisa melihat kelenteng-kelenteng banyak yang dipenuhi dengan symbol Buddhisme Mahayana Tiongkok. Perkembangan pesat agama Buddha Mahayana di Tiongkok bisa dikatakan dimulai pada masa dinasti Sui (581-619). Bahkan oleh Fang Litian disebut sebagai kejayaan Buddhisme rakyat dimana kepercayaan pada “tanah suci” (淨土) dan menjadi faktor penting di kalangan rakat jelata, pada masa itu pembuatan ruphang Amitabha Buddha paling banyak kemudian diikuti oleh ruphang Maitreya Buddha; Avalakotesvara bodhisattva dan Sakyamuni Buddha[46].  

Kita bisa melihat ruphang-rupang yang disebut di atas di berbagai kelenteng terutama ruphang Avalokitesvara bodhisattva atau yang ditranslasi ke dalam bahasa mandarin sebagai Guan Yin pusa mohesa 觀音菩薩摩訶薩. Guanyin ini adalah symbol welas asih yang menjadi salah satu doktrin agama Buddha yang dalam penyebaran ajaran welas asih itu lebih mengutamakan konsep “pengajaran tanpa kata[47]”.

Banyak yang tidak mensadari bahwa kelenteng sebenarnya juga banyak ajaran Buddhisme Mahayana Tiongkok dan “dewa-dewi” Buddhisme ada dalam kelenteng.  Contoh dewa-dewi Buddhisme yang sering dipuja dalam kelenteng[48] :

  1. Avalokitesvara bodhisattva atau Guanyin pusa 觀音菩薩.
  2. Maitreya Buddha (Mile Fo)彌勒佛
  3. Vaisravana( Pishamen tianwang毗沙門天王). Dikenal dengan nama lain yaitu Lijing Tuota Tianwang 李靖托塔天王 ( raja langit yang membawa pagoda).
  4. Raja Yama (Yanluowang閻羅王).
  5. Nalakuvara (Nezha 哪吒) adalah anak ke tiga dari Vaisravana[49]

Selain “dewa-dewi” di atas masih banyak tokoh-tokoh Buddhist yang terkenal kemudian dipuja di kelenteng-kelenteng. Antara lain adalah : bhiksu Jigong 濟公(1130-1207); bhiksu Guangji 廣濟和尚(784-876)[50]; Qingshui zushi 清水祖師 (1047-1101)[51] dan lain-lain.

Tradisi dan kebiasaan Buddhisme Mahayana Tiongkok yang sering dijumpai pada umat kelenteng :

  1. Anjali. Tradisi Tionghoa atau etnis Han pada umumnya adalah gongshou 拱手 atau soja.[52]
  2. Vegetarian. 
  3. Persembahan tidak menggunakan barang berjiwa.
  4. Mengundang bhiksu untuk upacara Ulambana atau berbagai ritual lainnya.

 

Point- point di atas masih belum banyak yang penulis paparkan. Selanjutnya penulis mencoba memaparkan beberapa hal yang terkait dengan penyebaran agama Buddha melalui kelenteng. Paparan ini menggali kegiatan penyebaran agama Buddha Mahayana Tiongkok di Nusantara.

Pertama adalah peranan bhiksu Benqing 本清老和尚 (Y.A Sanghanata Aryamula 1878-1962) dalam penyebaran agama Buddha. Beliau menyebarkan agama Buddha Mahayana di berbagai kota, seperti Jakarta; Bandung; Semarang; Cirebon; Kerawang. Tempat ibadah yang beliau gunakan untuk menetap sementara itu sekarang disebut kelenteng dan ada beberapa kelenteng itu tidak menggunakan kata si 寺 (vihara yang berarsitektur Tionghoa). Kelenteng di Bandung tempat beliau tinggal itu adalah Xietian gong 協天宮 dan sering disebut sebagai kelenteng besar. Guandi miao 關帝廟 di Kerawang juga sempat beliau kelola hingga menjadi besar[53].  Perjalanan bhiksu Benqing dalam menyebarkan agama  Buddha Mahayana melahirkan generasi bhiksu yang ditasbihkan di Indonesia.  Bhiksu Ashin Jinarakkhita murid bhikshu Benqing, bernama Tizheng 體正. Generasi selanjutnya: menggunakan Yuan 圓 , antara lain bhiksu Yuanshan 圓善. Generasi berikutnya adalah Ding 定. Umumnya bhiksu2 generasi ini menggunakan nama Sansekerta dengan nama generasi: Dharma atau Arya. Contohnya: Bhiksu Aryamaitri 定盛 (Dingcheng) dan Bhiksu Dharmasagaro 定海 (Dinghai) Generasi berikutnya adalah Xue (学). Bhiksu-bhiksu Sangha Agung Indonesia dari generasi ini menggunakan nama Sansekerta: Nyana. Generasi berikutnya adalah Xian (贤)[54].

 

Kelenteng lain yang penulis sedang teliti adalah kelenteng Dizang yuan 地藏院 atau yang dikenal dengan sebutan vihara Triratna di jalan Laotze, Jakarta.  Kelenteng itu dahulu dan hingga kini adalah kelenteng yang menampung anak yatim piatu dan mereka dididik menjadi “bhiksu”[55] dengan tata cara ritual dengan dialek Hakka[56].  Salah satu murid dari Dizang yuan, yaitu suhu Moi Cin menjadi “pendoa”  di kelenteng Lingguang si 靈光寺 Bandung.  Berdasarkan pengamatan penulis, kelenteng itu adalah sekte Linji Buddhisme 佛教臨濟宗 dan di kelenteng Zhenguo si 鎮國寺 Solo sempat penulis temui papan leluhur para bhiksu di kelenteng tersebut dari sekte Linji.

Peranan kelenteng dalam penyebaran ajaran Buddha tentunya tidak hanya hal-hal di atas saja. Kita bisa menemukan berbagai tulisan yang bernuansakan Buddhisme, kitab-kitab sutra (jing 經) bahkan “ujar-ujar” kebajikan yang mengatasnamakan Guanyin.

Kesimpulan

              Sejarah kedatangan Tionghoa membawa filosofi yang mengusung keharmonisan dalam beragama juga menaruh hormat pada kepercayaan-kepercayaan setempat. Peranan kelenteng sebagai “wadah materi” yang menampung berbagai kegiatan orang Tionghoa baik yang bersifat sakral maupun profane juga sebagai kolaborasi lintas etnis. Pengaruh arsitektur Tionghoa pada tiga agama utama Tiongkok membuat masyarakat tidak bisa membedakan walau bisa dibedakan berdasarkan penamaan tapi pembedaan itu melebur ke dalam “wadah” toleransi kebersamaan.

            Friksi antar tiga agama di Tiongkok sudah berlangsung lama hingga melahirkan konsep kesetaraan dan prinsip saling menghormati itu melalui keterbukaan dari berbagai tokoh agama pada masa itu dengan kekuatan politik yang dimiliki kaisar. Saling menerima antar satu dengan yang lain malah bisa memperkaya khazanah masing-masing. Kebersamaan yang harmonis dalam perbedaan-perbedaan itulah yang bisa dirasakan dalam kelenteng dengan belajar membagi “ruang” dan “waktu” secara seimbang dan mengontrol “ego sektarian”.

Disadari atau tidak, kelenteng sudah mengandung ajaran-ajaran Buddhisme yang “praktis” dimana salah satunya adalah ajaran welas asih melalui GuanYin. Peranan kelenteng juga ada dalam penyebaran Buddhisme di Indonesia dalam hal ini adalah Buddhisme Mahayana Tiongkok yang melahirkan tokoh-tokoh Buddhist dari era abad 20 hingga sekarang.

Indonesia tidak perlu membangun “kelenteng” untuk mengatasi gesekan antar umat beragama tapi bisa membangun kebersamaan melalui dialog dan penerimaan satu dengan yang lain. Membangun “pusat komunitas” untuk belajar berbagi “ruang” dan “waktu” bagi umat beragama untuk melakukan kegiatan dan mempertemukan masyarakat dari berbagai golong untuk menghidupkan kolaborasi antar etnis. Belajar menahan ego sektarian karena agama bisa memegang peranan penting membangun negara dan menentramkan negara.

 

Daftar Pustaka

Ardian Cangianto ( 2012 ). Menghayati Kelenteng Sebagai Ekspresi Masyarakat  

Tionghoa. Paper. Tidak diterbitkan. Fakultas Filsafat Universitas

Parahyangan :Bandung.

Baron, A Robert & Bryne Don (2003) .Psikologi Sosial ( vol.1 10th edition).(Ratna Juwita

et.al translate).Jakarta : Penerbit Airlangga.

陳志華 & 李秋香 (主編).(2006).廟宇-鄉土瑰寶系列.北京:生活·讀書·新知 三聯書店.

陳支平&徐泓(主編).(2007). 閩南宗教. 福建:福建人民出版社.

Crapps, W Robert (1993).Dialog Psikologi dan Agama-Sejak William James hingga

Gordon W.Allport (A.M Harjana-penterjemah).Yogyakarta : Penerbit Kanisius.

Cassier, Ernst. (1987). Manusia dan Kebudayaan : Sebuah Esei Tentang Manusia.

(Penerjemah Alois A.Nugroho). Jakarta : PT. Gramedia.

Dillistone, F. W(2002).The Power of Symbol-Daya Kekuatan Simbol.(A.Widayamartaya-

penterjemah. Yogyakarta: Kanisius

DeBenardi, Jean(2006).The Way That Lives in The Heart: Chinese Popular Religion and

Spirit Mediums in Penang, Malaysia. California : Stanford University Press.

Eliade, Mircea.(1968).The Sacred and the Profane-The Nature of Religion( William

R.Trask, translator).New York: Harcout, Brace&World,Inc.

方立天 主編( 2001 ).中國佛教簡史. 北京 : 宗教文化出版社.

郭淑云&王宏剛 主編.(2001).活著的薩滿-中國薩滿教. 沈陽:遼寧出版社.

Geertz, Clifford (1981).Abangan,Santri,Priyayi Dalam Masyrakat Jawa (Aswab Mahasin-trans).Jakarta : PT Dunia Pustaka

(美)Jordan K , David(焦大偉).(2012).·鬼祖先:一個台灣鄉村的民間信仰(丁仁傑

譯).台北:聯經出版事業股份有限公司.

King, Pamela Ebstyne ( 2003 ). Religion  and Identity : The Role of Ideological,

Social, and Spritual Contexts. Applied Developmental Science, vol.7, No.3, hal.197-204.doi:https://pdfs.semanticscholar.org/9344/19332d8cd2c5e1fa6c57f1738a60b7870139.pdf.

Liang Liji ( 2012 ). Dari Relasi Upeti ke Mitra Strategis 2000 tahun Perjalanan

            Hubungan Tiongkok- Indonesia. Jakarta : PT Kompas Media Nusantara.

Lubis, Ridwan ( 2015 ). Sosiologi Agama- Memahami Perkembangan Agama

dalam Interaksi Sosial. Jakarta : Prenada Media.

馬西沙,韓秉東 ( 2004 ).中國民間宗教史. ( Vol.1-2 ) . 北京:中國社會科學出版社.

馬書田(1999).華夏諸神.北京:北京燕山出版社.

Oppong, Steward Harrison ( 2013 ). Religion and Identity. American

International Journal of Contemporary Research, vol.3, no.6: June 2013, hal.10-16. doi : http://aijcrnet.com/journal/index/476.

Setiadi, Elly.M dan Kolip, Usman ( 2011 ). Pengantar Sosiologi Pemahaman Dan

Gejala Permasalahan Sosial : Teori, Aplikasi, dan Pemecahannya. Cet.II. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.

Schie, van G (1994).Rangkuman Sejarah Gereja Kristiani dalam Konteks Sejarah Agama-

agama Lain. Jakarta : Penerbit Obor.

薛克翔著·季祥林主編(2006).佛教與中國文化.北京:昆侖出版社.

Yang C.K(1967).Religion in Chinese Society-A Study of Contemporary Social Functions of

Religion and Some of Their Historical Factors.Los Angeles : University of California Press.

朱傑勤(2008).東南亞華僑史(外一種).北京:中華書局.

 

Sumber Internet :

http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/3831-istilah-kelenteng-dalam-bahasa-indonesia



[1] The 4th International Confrence on Buddhism-Indonesia 4-6 November 2019

[2] Buku Sejarah dinasti Han atau yang disebut Hanshu 漢書 merupakan salah satu bagian dari 24 buku catatan sejarah Tiongkok dan “Buku  Lanjutan”  dikompilasi oleh Fan Ye 范曄 ( 398-445 CE )  yang menuliskan bahwa pada masa dinasti Han Timur tahun pemerintahan Yongjian 永建 ke 6 ( 131 CE ) datang utusan dari kerajaan Yetiao atau Java Dvipa . Sedangkan “Buku Catatan Geografis Han” 漢書地理志 menulis hubungan antara Tiongkok dengan kerajaan-kerajaan hingga semenanjung Melaya dan adanya pejabat perdagangan kerajaan Han yang ikut dengan kapal-kapal dagang.

[3] Sistem kalender Tiongkok pada masa lampau adalah menggunakan tahun era pemerintahan ( reign years ). Pada umumnya mengacu pada masa kaisar berkuasa hingga mangkat atau berhenti menjabat.

[4] Penggunaan kata ‘bhiksu’ ini digunakan untuk menunjukkan istilah pendeta dalam agama Buddha Mahayana sedangkan kata ‘bhikku’ adalah istilah pendeta dalam agama Buddha Theravada.

[5] Bahasa Kunlun adalah sebutan orang Tiongkok pada masa dinasti Tang ( 618-907 CE ) untuk bahasa Melayu kuno.

[6] Liang Liji .Dari Relasi Upeti ke Mitra Strategis 2000 tahun Perjalanan Hubungan Tiongkok- Indonesia. (Jakarta : PT Kompas Media Nusantara.2012),63-68.

[7] Zhu Jieqin朱傑勤.東南亞華僑史(外一種).(北京:中華書局.2008),5

[8] G.Van Schie.Rangkuman Sejarah Gereja Kristiani Dalam Konteks Sejarah Agama-agama Lain.(Jakarta:Penerbit Obor ,1994),44.

[9] Masyarakat Tionghoa memiliki kepercayaan ( cult ) kedaerahan yang tidak selalu terkait dengan agama-agama insititusional seperti agama Taoisme, Buddhisme ataupun agama Konghucu.

[10] Lih. Ardian Cangianto ( 2012 ). Menghayati Kelenteng Sebagai Ekspresi Masyarakat

Tionghoa. Paper. Tidak diterbitkan. Fakultas Filsafat Universitas Parahyangan : Bandung.

[11] Yang C.K.Religion in Chinese Society-A Study of Contemporary Social Functions of Religion and Some of Their Historical Factors.(Los Angeles : University of California Press,1967),294

[12] Ibid.296

[13] Peneliti menekankan kata Tiongkok untuk agama Buddha Mahayana yang berkembang di Tiongkok karena sudah mengalami sinifikasi.

[14] Chen Zhiping 陳支平,徐泓.閩南宗教.(福州:福建人民出版社,2007),4. Dalam tulisan Chen dikatakan tulisan 宗教 sudah ada dalam kitab Buddhisme Mahayana. Yang memiliki arti sekte-sekte dalam agama Buddha.

[15] Pada umumnya masyarakat sering mengartikan agama Konghucu maupun agama Tao adalah sebagai ajaran atau filsafat. Dalam terms bahasa Mandarin, kata jia yang arti umum adalah rumah adalah mahzab filsafat. Contoh : Fojia 佛家  ( mahzab filsafat Buddhisme ); Daojia 道家 ( mahzab filsafat Tao ); Rujia 儒家  ( mahzab filsafat Ru atau Konghucu ).

[16] Pembagian ini di Indonesia tidak berlaku secara ketat karena ada banyak “kelenteng-kelenteng” sudah bercampur baur antara Taoisme atau juga Buddhisme kadang ada unsur Ruismenya juga. Fenomena ini juga bisa ditemui di tempat ibadah orang Tionghoa di negara-negara diaspora Tionghoa terutama Asia Tenggara atau di pedesaan Tiongkok.

[17] Asal kata si  adalah wisma untuk tamu negara asing yang kemudin digunakan sebagai sebutan untuk tempat ibadah agama yang masuk Tiongkok. Sebagai contoh : Fosi  佛寺 (vihara), Jingsi 景寺 (gereja Nestorian), Qingzhensi 清真寺(mesjid). 

[18] Daogu adalah sebutan untuk biarawati Taoisme.

[19] Zhaijie adalah para perempuan yang bersumpah untuk hidup selibat dan umumnya mereka memberikan pelayanan spiritual bagi yang memerlukan. Pada umumnya zhaijie ini berasal dari subetnis Hakka. Di beberapa kota besar  Indonesia bisa ditemukan an 庵 untuk zhaijie.

[20] Kelenteng Ling Guang si 靈光寺 Bandung memiliki dua pagoda kecil untuk mengenang suhu (bhiksu atau bhiksuni ) yang sudah meninggal. Pagoda bisa ada dalam lingkup vihara atau berdiri sendiri.

[21] Tapi tidak semua miao termasuk kategori Ruism. Wenmiao 文廟 dan wumiao 武廟dikategorikan sebagai kelenteng agama Konghucu.

[22]Mircea Eliade. The Sacred and the Profane-The Nature of Religion( William R.Trask, translator).New York: Harcout, Brace&World,Inc,1968),15.

[23]陳志華 & 李秋香 (主編).廟宇-鄉土瑰寶系列.(北京:生活·讀書·新知 三聯書店,2006),50.

[24] (美)David K Jordan(焦大偉).·鬼祖先:一個台灣鄉村的民間信仰(丁仁傑譯).(台北:聯經出版事業股份有限公司,2012), 41.

[25] (美)David K Jordan(焦大偉).·鬼祖先:一個台灣鄉村的民間信仰(丁仁傑譯).(台北:聯經出版事業股份有限公司,2012), 42.

[26]郭淑云&王宏剛.活著的薩滿-中國薩滿教. (沈陽:遼寧出版社,2012),1.

[27] Bdk C.K Yang dalam “Religion in Chinese History” hal.29.

[28] Jean DeBenardi.The Way That Lives in The Heart: Chinese Popular Religion and Spirit Mediums in Penang, Malaysia. (California : Stanford University Press,2006),17.

[29] Robert W.Crapps.Dialog Psikologi dan Agama-Sejak William James hingga Gordon W.Allport (A.M Harjana-penterjemah). (Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 1993),16.

[30] Ibid.16

[31] Jean DeBenardi. The Way That Lives in The Heart: Chinese Popular Religion and Spirit Mediums in Penang, Malaysia.p.20

[32] Dewa-dewa apotheois dalam kepercayaan Tionghoa antara lain : Guangong (Guanyu關羽);Kaizhang Shengwang (Chen Yuanguang 陳元光); Tianshang Shengmu(Lin Moniang 林默娘); Sanbao daren 三保大人(Zheng He 鄭和) dan lain-lain.

[33]Robert A Baron & Don Bryne.Psikologi Sosial ( vol.1 10th edition).(Ratna Juwita et.al penterjemah).(Jakarta : Penerbit Airlangga,2003),81.

[34] Geertz, Clifford (1981).Abangan,Santri,Priyayi Dalam Masyrakat Jawa (Aswab Mahasin-trans).(Jakarta : PT Dunia Pustaka,1981),490.

[35] Ibid.13

[36] Jean DeBenardi. The Way That Lives in The Heart: Chinese Popular Religion and Spirit Mediums in Penang, Malaysia.p.20

[37]薛克翔著·季祥林主編.佛教與中國文化.(北京:昆侖出版社,2006), 177-178

[38] Ibid. 175-177

[39] Ibid 178

[40] Ibid179

[41] Sanjiao heyi 三教合一 (tiga agama menjadi satu) dan Sanjiao pingdeng 三教平等 (tiga agama setara) adalah suatu filosofi orang Tionghoa pada umumnya dalam melihat tiga agama ( Taoisme;Buddhisme dan Ruisme) adalah setara, tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah. Memiliki akar kebenaran yang sama. Jadi bukan menjadi satu sekte yang baru. Berbeda dengan sekte agama rakyat Sanyi jiao 三一教 (agama TriEka) yang didirikan oleh Lin ZhaoEn 林兆恩 (1517-1598)adalah sinkretisme tiga agama dan membuat kitab-kitab baru diluar canon Taoisme maupun Buddhisme.

[42] Ibid.267-270

[43] F.W Dillistone(2002).The Power of Symbol-Daya Kekuatan Simbol.(A.Widayamartaya-penterjemah). (Yogyakarta: Kanisius, 2002),21.

[44] Ernst Cassier. Manusia dan Kebudayaan : Sebuah Esei Tentang Manusia. (Penerjemah Alois A.Nugroho). (Jakarta : PT. Gramedia, 1987),36-40.

[45] Ibid.40

[46]方立天 主編.中國佛教簡史. (北京 : 宗教文化出版社,2001),135.

[47] Konsep “pengajaran tanpa kata” ini berasal dari kitab Daodejing, dimana yang dimaksudkan adalah tidak menggunakan bahasa verbal tapi lebih pada bahasa simbol.

[48]薛克翔著·季祥林主編.佛教與中國文化.(北京:昆侖出版社,2006),238-245.

[49] 馬書田.華夏諸神.(北京:北京燕山出版社,1999),630.

[50] Pemujaan pada bhiksu Guangji bisa ditemukan di kelenteng Wende miao 文德廟 Tangerang.

[51] Salah satu kelenteng khusus beliau ada di Tanjung Kait.

[52]薛克翔著·季祥林主編.佛教與中國文化.p.223

[53] http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1148-riwayat-singkat-ya-sanghanata-aryamula-maha-bhiksu-pen-ching  diakses : 2019-09-15

[54] http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1153-bhiksu-ben-qing-yang-terlupakan-1878-1962 diakses : 2019-09-15.

[55] Penulis memberi tanda kutip karena berdasarkan pengamatan penulis, mereka termasuk “xianghua heshang” 香花和尚.

[56] Bhiksu Benqing menggunakan dialek Hokian.

Last modified onMonday, 20 January 2020 11:12
Rate this item
(0 votes)
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/3847-kelenteng-dan-agama-buddha-menuju-keharmonisan?tmpl=component&print=1
Budaya Tionghoa Copyright © 2003 - 2013 .