A+ A A-

Dalam Hal Bakar Membakar Kertas

  • Written by 
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Tradisi Bakar-bakaran Dalam Kebudayaan Tionghoa

 

Photo Credit : Brianz Liu , Lian Hua Shan

Budaya-Tionghoa.Net|Dalam hal bakar membakar kertas, bangsa Tionghoa adalah bangsa yang mengutarakan banyak pengharapan dengan membakar kertas. Pertanyaan yang harus dipikirkan kenapa mereka membakar kertas ?

 

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa bangsa Tionghoa adalah penemu kertas dan yang membakukan cara pembuatan kertas secara standar adalah Cai Lun. Cai Lun menyempurnakan pembuatan kertas yang sudah ada sejak akhir dinasti Qin dan awal dinasti Han.

Dalam tradisi banyak peradaban purba, sering digunakan benda-benda yang memiliki keterkaitan dengan keadaan kehidupan seperti saat manusia hidup, contohnya adalah peradaban Mesir.

Dan dalam banyak kebudayaan di dunia ini, pandangan tentang alam kematian beragam, seperti misalnya dunia Hades, reinkarnasi,berpindah alam, surga neraka dan sebagainya.

Dunia Hades atau dunia bawah tanah sebenarnya juga dikenal dalam Judaism kuno sebelum mereka mendapat pertemuan budaya dengan Yunani. Walau Yunani mengenal dunia Hades dalam legenda dewa dewi mereka, tapi para filsufnya berdebat dan ada yang percaya dengan tumimbal lahir.

Tradisi Tiongkok purba juga tidak luput akan hal seperti itu, bahkan tradisi Ren Xun atau penguburan manusia dilaksanakan, hingga pada masa CunQiu dan Zhanguo ditentang oleh para filsuf terutama Mo Zi, Kong Zi serta Li Shi dan Han FeiZi. Salah satu hasil penolakan itu adalah Bing Ma Yong atau terracota yang dibuat oleh Qin Shihuang atas saran Li Shi.

Qin Xiao Gong, adipati Qin menolak keras pengorbanan manusia dan kemudian pada masa dinasti Han terutama pada masa pemerintahan Han Wudi, beliau memberikan maklumat pelarangan dan semua itu berkat masukan dari Dong Zhongshu.

Jauh sebelum agama Buddha masuk, kepercayaan mereka terbagi menjadi beberapa tapi secara umum mereka tidak membicarakan tentang reinkarnasi.

Umumnya adalah berpindah alam, roh dan jiwa terpisah, berkumpul di gunung Taishan, berada di langit dan mengawasi serta melindungi keturunan mereka.

Bahkan dalam kitab Li Ji sempat membahas tentang roh yang tersesat atau roh orang meninggal yang belum waktunya, roh yang meninggal jauh dari keluarga, roh orang yang meninggal tapi tidak mendapatkan penghormatan keluarganya. Kemudian dilakukanlah ritual Fu Li atau Pengembalian Harkat dan yang sekarang dikenal dengan isitilah chao du.


Dan dalam budaya Tionghoa ada 3 hal yang terpenting dalam kehidupan manusia yaitu kelahiran, pernikahan dan juga kematian.

Semuanya memegang peranan penting dan juga memiliki tradisi yang amat banyak demi 3 hal itu.Penemuan kertas membuat suatu dobrakan baru dalam budaya Tionghoa tentunya selain hal itu adalah kemajuan lain disegala bidang yang dikarenakan dengan penemuan kertas itu.

Seiring dengan konsep Mo Zi tentang dewa dewi serta kematian dan para setan, maka kerajaan secara tidak langsung maupun langsung menggunakan konsep "alam" dewata dan alam setan untuk menjaga moralitas para pejabatnya, semacam kontrol sosial.

Mo Zi beranggapan bahwa ritual dan segala konsep dewa dan setan merupakan suatu kontrol sosial masyrakat dan para pejabat termasuk raja itu sendiri.

Jauh sebelum kertas ditemukan, para raja dianjurkan oleh Kong Zi untuk melakukan upacara fengshan, dimana salah satu yang melakukannya adalah Qin Sihuang. Tujuannya juga adalah kontrol dan pertanggungjawaban kaisar terhadap para leluhur terutama Guishen yang bermukim di gunung Taishan.

Dengan ditemukannya kertas, maka terjadi perubahan besar terutama untuk kontrol sosial dan dalam banyak ritual lainnya.

Pada masa dinasti Zhou sudah ada penghormatan kepada Cheng Huang atau dewa kota tapi dimasa dinasti utara selatan, penghormatan itu lebih meluas lagi.

Hingga pada masa dinasti Qing juga para pejabat kota harus menghormat Cheng Huang. Sejak dinasti Tang, Cheng Huang dipercaya adalah dewa kota dan merupakan dewa penguasa kematian, setiap orang yang meninggal harus menghadap kepada Cheng Huang.

Para pejabat kota wajib memberikan 2 buah laporan, yang satu diberikan kepada pemerintah pusat dan satunya dibakar di kuil Cheng Huang sebagai pertanggungjawaban pejabat kota kepada dewa Pelindung Kota yang merupakan juga dewa kematian.

Bakar-bakaran kertas sebagai wujud laporan akhirnya berkembang dibanyak ritual, misalnya pada saat orang guiyi atau tisarana baik Buddhism maupun Taoism, biasanya akan dibakar shu wen atau surat doa itu.

Jadi mereka percaya dengan membakar itu artinya mengirimkan surat tersebut kepada mahluk-mahluk adi kodrati. Buddhism Mahayana Tiongkok dan Taoism pasti menggunakan cara membakar kertas sebagai simbol mengirimkan doa mereka.

Hal yang mirip tapi berbeda adalah Tembok Ratapan Yerusalem, dimana banyak orang Yahudi mengirimkan suratnya kepada Tuhan mereka dengan menyelipkan kertas doa atau permohonan di celah-celah tembok mereka.

Doa permohonan juga digunakan seperti membakar kertas Wang Sheng untuk yang meninggal atau juga Shou Sheng kertas untuk yang masih hidup.

Penggunaan kertas sembahyang atau kertas gincoa dan kimcoa yang umum digunakan oleh Taoist maupun Buddhist Mahayana Tiongkok dan Ruist sering disalah artikan sebagai uang dewa dan uang orang mati.

Kosmologi Yin Yang dan 5 unsur sebenarnya ada dalam kertas tersebut. Yin atau gin yang berarti perak adalah sifat yin dan jin atau kim yang berarti emas adalah sifat Yang.

Karena orang meninggal itu adalah unsur Yin maka digunakanlah perak, dan dewata atau orang suci adalah unsur Yang maka digunakanlah emas. Jika kita perhatikan posisi penempatan perak dan emasnya selalu harus ditengah yang sebenarnya memiliki makna Tengah adalah Tanah dan Tanah melahirkan Logam atau Emas Perak.

Itu simbol pengharapan bahwa yang meninggal ( cat: jika menggunakan perak ) akan mendapatkan berkah dan kebajikan serta keluarganya akan dilimpahi pula oleh berkah dan kebajikan.

Dan yang ditinggalkan tidak akan melupakan jasa kebaikan bumi yang menerima jasad yang meninggal dan semoga almarhum bisa mendapatkan tempat yang baik pula.

Emas merupakan logam mulia, semulia para dewata dan mahluk suci lainnya. Dengan membakar kertas emas ini, berarti kita harus memahami bahwa tanah yang menjadi tempat kita berpijak harus dijaga baik sehingga melahirkan emas dengan demikian para dewata akan memberikan berkah kepada mereka yang menjaga baik alam ini.

Kertas Shoujin atau Tiangong Jin sebenarnya adalah kertas pengharapan semoga manusia diberikan kebahagiaan, kejayaan dan kesehatan.

Dimana Fu Lu Shou adalah 3 bintang yang selalu menyinari manusia dan dengan posisi di tengah atau center yang melambangkan bumi serta emasnya, diharapkan manusia bisa berlaku bijak dan bajik.

Secara umum, hanya 2 jenis kertas yang dikenal yaitu emas dan perak tapi variasi yang ada itu hanyalah pernik-perniknya saja. Akhirnya intinya adalah keselarasan 5 unsur dan Yin Yang saja.

XUAN TONG

Last modified onTuesday, 13 August 2013 19:05
Rate this item
(2 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/58-dalam-hal-bakar-membakar-kertas

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto