A+ A A-

Courtyard, Si He Yuan

  • Written by  Sugiri Kusteja
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Dalam alam pikiran budaya tradisional masyarakat Tionghoa; kegiatan segala segi kehidupan selalu diusahakan memperoleh suatu keseimbangan harmonis dengan alam semesta macrocosmos, demikian juga dengan pembangunan selalu berawal dari pemilihan lokasi ideal yang selaras dengan pergerakan daya alam (chi).

Langkah berikut ialah menentukan arah orientasi bangunan, bangunan kerajaan dan bangunan dikota-kota dianjurkan menghadap ke selatan, bagi masyarakat umum arah bangunan bebas; disesuaikan dengan tanggal kelahiran pemiliknya. Orientasi bangunan terlihat pada arah sumbu utama bangunan yang sangat tegas, membagi bangunan menjadi simetris.

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

 Selama proses pembangunan pada kebiasaan tradisional dilakukan beberapa upacara ritual yang dimaknakan sebagai ﹍mengkosmologikan﹎ mensucikan area yang dibangun, ritual diawal peletakan pondasi, kemudian saat mendirikan kolom, dan saat pemasangan balok atap wuwungan.

Pada masa prasejarah; ritual telah dimulai saat persiapan membersihkan lokasi, peletakan pondasi dan saat pemasangan pintu utama. Tujuan ritual inisiasi ini utamanya adalah ﹍mensucikan﹎ bangunan, suatu proses menciptakan microcosmos dalam bangunan baru itu, serta harapan kelancaran proses pembangunan dan kesejahteraan bagi para penghuninya kelak.

Dalam proses mengaplikasikan tiruan model ujud semesta alam ini, bermacam konsep filosofi diterapkan. Yin-yang, 5 elemen, bintang terbang (fei sing), yang cai, yin cai, feng sui, konsep langit bulat bumi persegi, serta beragam aliran pendapat lain yang muncul selama kurun sejarah budaya Tionghoa.

Semuanya bertujuan akhir memperoleh bentuk model sesuai dengan order semesta alam(cosmos) seideal mungkin, agar manusia mendapatkan kebaikan dan kebahagiaan dalam kehidupannya.

Bagian terpenting bagi kepercayaan masyarakat tradisional dalam pemaknaan spiritual ruang dalam bangunan ialah ruang penghormatan leluhur (didalam bangunan terlindung atap) biasa pada bagian tengah bangunan; yang berdampingan dengan ruang terbuka (tanpa atap) untuk penghormatan pada langit dan bumi (alam secara totalitas), bentuk ini menghasilkan denah bangunan courtyard, si he yuan .

Bentuk tipe bangunan tradisional yang bertahan selama sejarah peradaban Tionghoa. Bagian tengah ini dimaknai paling sakral dalam bangunan; selalu dilengkapi dengan ornamen dan bahan bangunan yang terbaik. Pengetahuan mengenai pengerjaan ruang utama ini bagi para tukang tradisional merupakan rahasia khusus yang hanya diturunkan secara lisan pada keluarga terdekatnya.

Ruang terbuka dalam bangunan courtyard disebut sebagai sumur langit﹎, tianjing merupakan prasarana untuk berhubungan dengan penguasa alam semesta. Penelitian bangunan prasejarah dari artefak meyakini sejak dahulu kala adanya lubang bukaan dipuncak atap chung liu , atau yen liu tempat keluarnya asap dari bakaran persembahan yang naik membawakan pesan harapan doa penghuni.

Membatasi ruang bagi yang hidup dan yang telah meninggal, dalam budaya Tionghoa pada dua alam berbeda ini tetap berlangsung kehidupan. Ruang dalam bangunan sebagai microcosmos khusus untuk yang hidup, untuk pencegahan roh halus masuk dipintu dipasang beragam rintangan dan penjaga: pagar, tembok, patung, gambar, ukiran, palang ambang pintu dsb.

Dalam budaya masyarakat tradisional terdapat bayangan persepsi ruang yang terbagi secara spesifik: ritual bagi penghormatan arwah leluhur dilakukan didalam ruang utama hunian, ritual bagi penguasa langit dan bumi serta para anggotanya diselengarakan di ruang terbuka si he yuan, sedang ritual menenangkan arwah-arwah tidak dikenal dilakukan dipintu masuk terluar bangunan.

Dwifungsi bangunan untuk hunian dan ritual kepercayaan menghasilkan bentuk denah yang serupa bagi bangunan klenteng dan bangunan hunian. Type denah bangunan courtyard si he yuan menjadi bentuk tunggal standar untuk bangunan berarsitektur Tionghoa.

Dalam teori arsitektur diyakini bahwa pada setiap wujud riil selalu memiliki konsep yang menjadi latar belakangnya. Suatu bentuk elemen arsitektur bangunan yang terdapat pada bangunan tradisional, selanjutnya dapat dijadikan indikator adanya nilai budaya masyarakat tertentu yang tersirat didalamnya (socio cultural). Ini ditengarai mengakibatkan elemen bangunan tersebut dapat bertahan dan selalu digunakan berulang sepanjang sejarah. Bahkan; ketika bangunan klenteng tradisional ini didirikan diluar habitat aslinya pun, unsur-unsur serta bentuk yang sama tetap dapat dijumpai.

Diketahui juga bahwa seluruh elemen arsitektur klenteng senantiasa berhubungan dengan tradisi masyarakatnya. Tradisi ini umumnya terbentuk oleh budaya masyarakat penggunanya. Unsur-unsur yang membentuk tradisi merupakan ekspresi gabungan dari sikap hidup, adat istiadat, kebiasaan, kepercayaan, dan filosofi masyarakat umum. Sebagai contoh, misalnya ajaran etika Confucius sangat dominan dalam kehidupan masyarakat Tionghoa, hal ini tersirat juga pada bangunan tradisional berdenah courtyard; si he yuan 四合院. Terlihat suatu order hirarki pada ketinggian atap bangunan, bertahap meninggi kearah bagian dalam bangunan.

Ini berkenaan dengan penataan ruang (spatial organization) kearah daerah terdalam bangunan diperuntukan khusus bagi warga yang tertua. Demikian juga dengan ketinggian lantai yang bertingkat bertambah tinggi kearah ruang dalam. Merupakan penerapan tata krama kehidupan masyarakat keseharian yang ditransformasikan pada bentuk bangunan courtyard.

Simbolik lain juga diterapkan pada bentuk courtyard dari segi kepercayaan masyarakat Tionghoa tradisional, yang meyakini bahwa semesta alam selalu bergerak dengan pola tertentu sebagai totalitas makrokosmos (daya chi). Untuk memperoleh keharmonisan dengan alam; bangunan dibentuk merupakan microcosmos yang harus selaras; sehingga chi dapat seimbang mengalir didalamnya. Bukaan courtyard kearah langit merupakan penghubung hunian dengan alam diluar.

Denah klenteng umumnya secara garis besar dibentuk berdasarkan falsafah pemikiran Loshu 9 kotak 洛書. Pada masa dinasti Qin  ( 221 BC – 206 BC) hingga dinasti Han ( 206 BC - 220 AD ) merupakan masa pembentukan penyatuan kekaisaran Tiongkok. Berbarengan juga merupakan masa tergabungnya bermacam arus pemikiran falsafah kuno kedalam budaya Tionghoa: Yin-yang 陰陽 ( liang yi 兩儀), 5 elemen wuxing 五行 , aturan bentuk kan yu 堪輿, dsb.

Gabungan bermacam faham dalam kosmologi budaya Tionghoa ini sangat mempengaruhi teori bangunan berarsitektur Tionghoa. Perkembangan falsafah budaya ini mencapai puncaknya pada masa dinasti Tang( AD 618 – 907). Berupa faham kosmologi yang sangat dominan terus berpengaruh sehingga akhir masa bangunan tradisionil.

Tradisi bangunan ini terpelihara dan senantiasa diteruskan dari generasi ke generasi selanjutnya oleh 3 kelompok masyarakat: kelompok terpelajar(cendekiawan; scholar; termasuk peramal), sejarahwan, dan para tukang ahli bangunan. Pada masa dinasti Han ; ajaran Lao Zi 老子 dan Zhuang Zi 莊子 mendapat banyak dukungan dari keluarga kerajaan. Sehingga menjadi sangat berpengaruh dalam kebudayaan dan masyarakat, pada masa ini terbentuk pelambangan simbol-simbol falsafah alam yang dapat bertahan sehingga akhir dinasti Chin.

Kosmologi bangunan masa dinasti Han mencakup:

  1. Konsep kubah langit yang bulat dan bumi segi empat, 天圓地方. Langit yang senantiasa berubah dan bumi yang besifat stabil; tetap.
  2. Konsep 9 benua di bumi, dan 9 ruang dalam aula cahaya, Ming Tang 明 堂.

Dengan menerapkan penggunaan Luo Shu 洛書 (tulisan Luo, bagian dari falsafah Yijing 易經) pada 9 ruangan akan didapat angka simbolik bagi tiap ruang tsb. Ruang yang terletak tepat ditengah-tengah -bersimbol angka 5- merupakan titik pusat penghubung bumi dan langit; axis mundi.

Penerapan ruang tengah ini pada bangunan merupakan daerah tianjing 天 井, skywell, sumur langit. Dengan bagian atap terbuka kearah langit diatasnya. Bentuk denah bangunan dengan courtyard demikian, dinamai si he yuan 四 合 院 . pada bangunan klenteng dapat dijumpai pada 4 klenteng tua di Jawa Barat, Xie Tian Gong; Bandung, Hok Tek Bio; Bogor, Tiauw Kak Sie dan Klenteng Talang di Cirebon.

Sugiri Kusteja

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua

Photo Credit :

1. Willem vdh A hotel converted from a classic XIXth century traditional courtyard house in Beijing, China , 2008

2. Wiki Media , A model of a Siheyuan - a traditional Chinese courtyard house.


Last modified onFriday, 05 October 2012 01:59
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/629-courtyard-si-he-yuan

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto