A+ A A-

Sejarah Perkembangan dan Seluk Beluk Agama Tao [7] - Berkembangnya Taoisme Alkimia

  • Written by  Jaya Selalu + Xuan Tong
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Alkimia merupakan nenek moyang dari ilmu kimia, dan telah diterapkan pada sebagian besar belahan dunia ini jauh sebelum ilmu kimia yang berdasarkan metode ilmiah berkembang. Aliran Taoisme yang menitik-beratkan pada alkimia ini juga disebut sebagai Taijing.

Artikel Terkait:

{module [201]}

Aliran Taijing membagi alkimia menjadi dua, yakni alkimia eksternal dan internal. Alkimia eksternal berarti penggunaan rempah- rempah dan mineral-mineral tertentu untuk menjaga kesehatan, memperpanjang usia, atau bahkan menjadikan orang yang meminumnya tidak dapat mati. Rempah-rempah dan mineral tersebut kemudian diolah menjadi pil.


Alkimia internal menunjukkan bahwa segala macam unsur untuk menjadikan seseorang sehat, panjang umur, atau bahkan hidup abadi telah terdapat dalam tubuh manusia itu sendiri. Sehingga alkimia internal lebih bertujuan untuk mengembangkan energi hidup di dalam tubuh tanpa bantuan obat-obatan dari luar.

Sesungguhnya, perhatian Taoisme pada kesehatan dan umur panjang dapat ditelusuri pada karya-karya Laozi dan Zhuangzi.

Sebagaimana yang telah kita bahas sebelumnya, terdapat dua golongan kaum fangshi. Yang pertama mengkhususkan diri pada penggunaan jimat- jimat untuk kesembuhan dan mereka merupakan pendahulu dari Aliran Dianshi Dao.

Sementara kelompok lainnya menekankan pada teknik-teknik utuk memperpanjang usia, menjaga kesehatan, dan mencapai kehidupan abadi dengan bantuan ramuan-ramuan dan merupakan pendahulu bagi Aliran Taoisme Alkimia (Taijing).

Tokoh terkenal aliran ini adalah Wei Boyang yang hidup pada masa Dinasti Han Timur. Ia bereksperimen menciptakan pil hidup abadi. Ketika yakin telah berhasil, ia memberikan pil tersebut pada anjingnya. Anjing tersebut terjatuh dan nampaknya telah mati. Wei Boyang sendiri kemudian menelan pil tersebut dan juga terjatuh tak sadarkan diri.

Wei Boyang mempunyai dua orang murid, yang seorang setelah melihat kejadian tersebut menjadi kehilangan kepercayaan dan meninggalkan tempat tersebut. Sementara itu murid lainnya yang memiliki keyakinan kuat, menelan pil terakhir dan juga jatuh bagaikan mati. Tak lama kemudian mereka bertiga hidup kembali, merasakan tubuhnya ringan dan selanjutnya terbang ke langit menjadi dewa. Wei meninggalkan sebuah kitab yang berjudul Cantongqi (Kesatuan Rangkap Tiga).


Sama dengan ajaran yang terdapat pada Aliran Taoisme sebelumnya, Candongqi menyebutkan bahwa Tao adalah sumber segala sesuatu, termasuk kehidupan. Ketika alam terus menerus memperbaharui dirinya sesuai dengan Tao, begitu pula manusia dapat memperbaharui dirinya terus menerus dan mencapai keabadian dengan cara
menyelaraskan diri dengan prinsip-prinsip ini.

Tokoh lainnya adalah Ge Hong, yang juga merupakan tokoh Aliran Shangqing. Sebagaimana yang telah diungkapkan di atas, ialah yang memperkenalkan penggunaan mineral dan rempah-rempah ke dalam Aliran Shangqing.

Pada perkembangan selanjutnya para kaisar dari Dinasti Tang (618-906) benar-benar tergila-gila pada pil yang dapat membuat hidup abadi. Jumlah kaisar Dinasti Tang yang mati keracunan obat-obatan pembuat hidup abadi melebihi dinasti-dinasti lainnya. Obat pembuat hidup abadi menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial kemasyarakatan dan kerajaan menunjang eksperimen untuk menciptakan obat semacam itu.

Pada masa akhir Dinasti Tang, orang mulai bertanya-tanya apakan pembuatan pil semacam itu merupakan hal yang masuk akal. Hal ini menyebabkan orang untuk memikirkan kembali mengenai makna keabadiaan. Salah satu makna keabadian ini disumbangkan oleh Agama Buddha: keabadian merupakan hasil dari lingkaran kelahiran dan kematian yang tanpa akhir. Definisi lainnya adalah umur panjang dan kesehatan yang baik.

Pandangan-pandangan baru tersebut di atas yang menyebabkan para penganut Aliran Taijing berpaling pada yoga dan meditasi. Setelah runtuhnya Dinasti Tang, usaha manusia untuk mencari keabadian dengan jalan mengkonsumsi dan mengolah berbagai rempah- rempah dan mineral berakhir sudah, dan dengan demikian alkimia eksternal turut pula berakhir.

Keruntuhan Dinasti Tang diikuti masa kacau selama 50 tahun, dan sesudahnya Dinasti Sung (960 ?1279) berhasil mempersatukan Tiongkok kembali. Masa pemerintahan Dinasti Sung ini merupakan jaman keemasan ilmu alkimia internal. Tokoh terkenal alkimia internal pada masa ini adalah Lu Dongbin yang merupakan murid Zhongli Quan. Lu Dongbin mewariskan ajarannya pada berbagai muridnya.

Salah satu dari mereka adalah Chen Xiyi yang terkenal dengan pelatihan Qigongnya, di mana teknik ini merupakan penggabungan Yijing serta usaha untuk melanjarkan aliran energi. Murid lainnya adalah Wang Chongyang yang mendirikan Aliran Realitas Sempurna. Wanglah yang menggabungkan Ajaran Tao, Buddha, dan Konfusianisme (sebagaimana yang akan dibahas pada bagian 7.7).

Tokoh-tokoh alkimia internal berikutnya adalah Zhang Boduan, Qiu Changchun, Wang Zhe atau yang dikenal sebagai Wang ChongYang, Qiu Chuji, dan Zhang Sanfeng. Zhang Sanfeng inilah yang menggabungkan antara alkimia internal dan ilmu bela diri, di mana ia merupakan pencipta Taiqichuan.

Wang Zhe (1123 ?1170) merupakan pendiri Aliran Quanzhen, meskipun aliran tersebut baru dinamakan dinamakan demikian setelah kematiannya. Salah seroang penerusnya adalah Qiu Chuji (1148 ?237) yang diundang oleh Genghis Khan, karena tertarik oleh obat keabadian. Ia mengatakan pada sang Khan, bahwa obat semacam tersebut sebenarnya tidak ada dan kebenaran terunggul adalah penyatuan Tao dengan dunia ini.

Penggabungan antara Tao, Buddhisme, dan Konfusianisme (1000 - sekarang)

Pada masa akhir Dinasti Tang, impian untuk menciptakan pil keabadian berakhir sudah. Masa kacau yang mengakhiri Dinasti Tang (907 ?960) menyebabkan banyak sarjana melarikan diri untuk menjadi pertapa. Mereka meresapi filsafat Tao serta mengagumi Ajaran Buddhisme Zen, namun tidak mau meninggalkan ajaran Konfusianis mereka. Untuk itulah mereka menciptakan sintesa antara ketiga ajaran tersebut.

Kosmologi Tao

Setelah membahas sejarah perkembangan Taoisme, kini tibalah saatnya kita membahas mengenai kosmologi Tao. Taoisme membagi alam kedewaan menjadi 36 tingkatan sebagai berikut:

Surga tingkat 1 sampai dengan tingkat 6 sering disebut surga Yu , yang mana surga tersebut masih memiliki keinginan , bentuk, jenis kelamin. Surga tingkat 7 sampai dengan tingkat  24 disebut surga Shi , masih memiliki bentuk tapi keinginan sudah mulai padam. Surga tingkat 25 sampai dengan 28 , disebut juga surga Wu Shi,tidak berbentuk dan tidak berkeinginan. Surga tingkat 29 sampai dengan tingkat 32 disebut surga Fan Tian. Surga tingkat 33 sampai dengan tingkat 35 disebut surga San Qing. Surga 36 disebut surga Da Luo. Surga Da Luo dan san Qing disebut 4 surga suci.

Tamat

Budaya-Tionghoa.Net |Mailing-List Budaya Tionghua

 

Last modified onTuesday, 07 August 2012 11:16
Rate this item
(2 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/740-sejarah-perkembangan-dan-seluk-beluk-agama-tao-7-berkembangnya-taoisme-alkimia

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto