A+ A A-

Kisah sedih tentang puisi Li Mochou „Aku bertanya pada dunia, apakah cinta itu?“

Kisah sedih tentang puisi Li Mochou „Aku bertanya pada dunia, apakah cinta itu?“
 
Li mochou adalah karakter dalam novel cerita silat terkenal "The Return of the Condor Heroes".
Dalam ceritanya, Li mochou adalah seorang wanita cantik yang luar biasa, tapi dengan hati yang kejam. Dia jatuh cinta pada seorang pria. Keduanya sangat mencintai satu sama lain.
Read more...

Li Bai (Li Tai Po) Pujangga Termasyhur

Li Bai (Li Tai Po)
 
Pujangga Termasyhur Tiongkok dari Dinasti Tang lahir pada sekitar tahun 701, di Suyab (sebuah daerah di Asia Tengah dekat Tiongkok, yang sekarang menjadi negara Kyrgyzstan).
Dalam autobiografinya, Li Bai menulis tentang kehidupan bebas di masa mudanya di Sichuan :
“Saat aku berusia lima belas tahun, aku sangat menyukai permainan pedang, dan dengan itu aku bisa menantang beberapa pria yang juga mahir.”
Read more...

Pan An sastrawan dinasti Jin Barat

Pan An
Pan Yue (247–300), atau dikenal juga dengan nama Pan An, adalah seorang sastrawan terkenal pada masa Dinasti Jin Barat. Tidak hanya terkenal karena bakat sastranya, ia juga terkenal dengan wajahnya yang paling elok rupawan di seantero Tiongkok kuno.
Reputasinya menyebar begitu luas sehingga orang-orang di masa itu menyebut “setampan Pan An” (Mào ruò pan an) sebagai sanjungan untuknya, dan sekarang dikenal sebagai idiom untuk menggambarkan ketampanan seorang laki-laki. Kisah tentang keelokan rupanya juga meluas dari sebuah cerita dari mulut ke mulut tentang Pan An sendiri, yaitu “melempari kereta dengan buah-buahan hingga penuh” (zhì guo yíng che).
Read more...

Istilah Kelenteng dalam bahasa Indonesia

Istilah Kelenteng dalam bahasa Indonesia

 

 

Ardian Cangianto 

 

 

 

           

Pendahuluan

Bahasa merupakan bagian dari budaya. Bahasa Indonesia terutama bahasa-bahasa daerahnya memiliki kekhasannya yang unik dalam memberikan penamaan terhadap benda-benda atau warna. Contoh kategorisasi warna : kuning langsat; merah jambu; kuning gading; merah darah. Sedangkan “bunyi” ( onomatope ) juga sering digunakan untuk menunjukkan benda. Contohnya : kentongan; gong; mie tek-tek; meong[1].
Bahasa itu dilihat bukan hanya sebagai sarana untuk mengkomunikasikan ide dan pemikiran, tetapi sebagai intrinsik terhadap informasi mereka ( Berry, Portinga dkk, 2002 : 149 ). Dengan begitu kita bisa melihat bahwa penggunaan “bunyi” ( onomatope ) sebagai kata penunjuk benda merupakan hal yang wajar dalam bahasa Indonesia.

Dalam perkembangan lintas budaya seringkali menemukan kata-kata serapan dari bahasa asing tapi dalam masalah istilah warna dalam bahasa Indonesia itu ada yang menarik, yaitu warna “coklat” yang berasal dari bahasa Belanda  ialah chocolade  yang sebenarnya menunjukkan jenis makanan coklat. Sedangkan warna coklat dalam bahasa Belanda adalah bruin . Apakah ini berasal dari pohon coklat atau makanan coklat sulit ditelusuri lebih mendalam asal muasal kata warna coklat ini. Tapi yang jelas hal ini menunjukkan bahwa indeks istilah warna itu berdasarkan budaya suatu kelompok masyarakat dalam mempersepsikannya ( lih. Berry, Portinga dkk, 2002 : 154 ). Menurut penulis hal tersebut juga berlaku untuk “bunyi” ( onomatope [2]).

 

Read more...

Mudan Ting (The Peony Pavilion)

Mudan Ting (The Peony Pavilion)
Mudan Ting yang berarti pavilyun bunga peony, mengisahkan cinta abadi dengan "Happy End" yg juga sering disebut sebagai „Romeo dan Julia Tiongkok" karya Tang Xianzu (1550–1616).

Du Liniang (Si Cantik Du), putri Gubernur Du Bao, meskipun hidup dipingit seperti umumnya putri bangsawan yg belum menikah, diam-diam pergi dengan pelayannya Chunxiang berjalan jalan di Kebun bunga.

Terpesona oleh buaian keindahan alam musim semi dia tertidur dan bermimpi bertemu kekasih hati dalam bentuk sarjana Liu Mengmei. Mereka bercumbu dan bercinta di bawah pohon Prem dekat Pavilion Peony.

Ketika Du Liniang terbangun dari mimpinya, dia jatuh dalam kesedihan yg mendalam atas kehilangan kekasih hatinya. Sakit rindu yg mendalam dan kesadaran `kekasih hati dalam mimpinya' tidak akan ketemu lagi, akhirnya Du Liniang meninggal dunia.

Setelah kematian Du Liniang, Liu Mengmei, yg juga pernah masuk kedalam mimpinya Du Liniang dan mendapat pesan wanti2 `Temukan lah daku`, benar2 mendatangi ke kebun indah yang diingatnya dari mimpi dan menemukan sebuah potret dirinya yg dilukis oleh Du Liniang sebelum kematiannya.

Tiba-tiba muncullah Du Liniang sebagai hantu dan mengungkapkan cintanya. Liu Mengmei jatuh cinta pada Du Liniang yg cantik, dia membuka kuburnya dan si cantik Du Liniang pun hidup kembali.

Namun kedua sejoli itu belum dapat menikmati kebahagiaannya. Untuk dapat menikah mereka masih harus menghadapi orang tua Du Liniang yg menolak pinangan Liu Mengmei, sampai akhirnya Kaisar pun campur tangan

Opera Peking (Jingjù):
Mudan Ting (The Peony Pavilion) pernah di tayangkan oleh Opera Peking di TV Jerman pada awal th 2000-an sebanyak 13 Episode (18 Jam), ketika digelarkan di „Grande Halle de la Villette“ di kota Paris, Prancis

by aldithe
http://www.aldisurjana.com/2016/12/mudan-ting.html

Read more...
Subscribe to this RSS feed

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Tionghoa

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto