A+ A A-

Hao Lei : Kebanggaan Menjadi Seorang Guru Relawan

  • Written by  Xiaolongni
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Laporan Final Hasil Kerja Hao Lei – Seorang Guru Relawan Pengajar Bahasa Mandarin (Hanyu) Asal Tiongkok Selama Bertugas Di Indonesia
Tahun 2007 – 2008.

Nama saya Hao Lei berasal dari Shijiazhuang RRT, semenjak tahun 2007 saya datang ke Indonesia dari Tiongkok sebagai guru relawan pengajar bahasa Mandarin, sampai saat ini saya masih tercatat sebagai mahasiswa di bidang penelitian pendidikan di IKIP Provinsi Hebei angkatan tahun 2006. Sebagai seorang yang mendapatkan kehormatan sebagai guru relawan Tiongkok untuk mengajar bahasa Tionghoa di level Internasional, sepanjang satu tahun ini sangat banyak suka-duka dan kenang-kenangan yang saya peroleh selama bertugas mengajar.

Artikel Terkait :

{module [201]}

Biodata Hao Lei :
Asal : 中国四川省珙县 Kabupaten Gong (“Kung”) Provinsi Sichuan – RRT.
Sekolah : IKIP Provinsi Hebei – RRT
Riwayat Pendidikan : Jurusan Peneliti
Pekerjaan : Pengamat Pendidikan
Hobi : menulis artikel, menyanyi, menari, naik gunung, wisata, filateli.

Kondisi Lokasi Tempat Mengajar.

Saya ditempatkan untuk mengajar di SMA Negeri 1 Turen, Desa Sedayu Kabupaten Malang– Jawa Timur – Indonesia. Saya bertugas mengajar murid-murid dari kelas 1 sampai 3 SMA sejumlah 10 kelas dengan total lebih dari 350 orang murid untuk belajar bahasa Mandarin. Setiap minggu saya mengajar sebanyak 18 kali mata pelajaran, selain itu
masih memberikan pelajaran tambahan di sore hari untuk murid-murid SMA kelas 3 program Bahasa.

Perbedaan yang saya alami dibandingkan dengan rekan-rekan guru relawan Tiongkok lainnya, saya tidak ditempatkan di kota besar atau di lokasi dimana banyak bermukim masyarakat Tionghoa setempat. Seluruh kecamatan ini sangat sedikit warga Tionghoa yang bermukim, tetangga saya, rekan-rekan, maupun murid-murid semuanya adalah penduduk setempat bersuku Jawa. Kalau dipandang dari kacamata orang Tiongkok lokasi disini tergolong miskin dan agak terbelakang. Disini tidak dijumpai perlengkapan / peralatan modern, kurangnya perlengkapan sanitasi yang memadai, juga tidak terdapat sarana hiburan layaknya masa kini, yang ada hanyalah kehidupan sederhana,
tenang dan tenteram.

Meskipun tergolong sebagai SMA Negeri, sebenarnya lokasi sekolah ini cukup jauh beberapa kilometer dari lokasi pemukiman. Belum lagi kalau dibandingkan dengan sekolah di kota atau sekolah swasta yang didirikan masyarakat Tionghoa, sarana dan prasarana di sekolah saya mengajar bisa dikatakan “sederhana”. Seluruh guru pengajar berkumpul di satu ruangan yang berfungsi sebagai kantor untuk bertugas. Di dalam ruang kelas cuma ada peralatan paling mendasar yaitu papan tulis. Begitu musim hujan tiba langit-langit bocor, ruang kelas seketika dipenuhi air seperti “sungai”. Sepanjang musim hujan yang berlangsung 6 bulan lamanya, saya sering mengalami kondisi yang sulit untuk mengajar. Karena sarana yang serba kurang itulah, banyak materi pelajaran maupun compact disc yang saya bawa dari Tiongkok tak bisa dipergunakan sesuai manfaatnya. Ditambah lagi semua murid yang saya ajar adalah penduduk lokal setempat yang belajar bahasa Mandarin mulai dari nol. Dengan kondisi sarana dan prasarana yang semacam itu,
upaya untuk mengatasi kesulitan dan menghadapi tantangan adalah suatu hal yang sangat luar biasa.

Sebenarnya, semua ini cuma pandangan obyektif semata, dengan kata lain masih bisa diatasi. Masalah yang paling mengganggu yaitu: pendahulu saya (guru relawan terdahulu) agak kurang luwes berhadapan dengan pihak sekolah, rekan-rekan guru ataupun tetangga, sehingga saat saya pertama kali datang, mereka menumpahkan semua uneg-unegnya kepada saya. Oleh sebab itu pada permulaan saya mulai bertugas, timbul perasaan sehari laksana setahun lamanya.

Menghadapi kondisi yang serba pasif seperti itu tentu saya juga tak bisa ikut-ikutan bersikap pasif atau menunggu, saya harus berinisiatif untuk melakukan upaya-upaya yang bermanfaat. Selain sungguh-sungguh memberikan pelajaran, giat dalam bertugas sehingga memperoleh pengakuan dan pujian dari rekan- rekan guru; juga bersikap hangat kepada semua orang, berkomunikasi dengan ramah tamah, sehingga saya mendapatkan kesan baik dan kepercayaan dari orang-orang di sekitar saya. Sepanjang ada
waktu luang, saya selalu mengunjungi rumah murid-murid saya, juga sering mengunjungi para tetangga maupun rekan-rekan guru; bila ada warga setempat yang melaksanakan hajatan, pernikahan atau sedang berduka maka saya selalu sekuat tenaga untuk membantu; bilamana ada yang sedang sakit, saya selalu memberikan perhatian dan memberikan obat-obatan dari Tiongkok yang saya bawa; di waktu senggang saya juga membimbing para tetangga untuk belajar memasak masakan Tionghoa, sebaliknya saya juga belajar membuat aneka makanan Indonesia. Dengan mempererat hubungan, sering berkomunikasi, menghormati adat istiadat setempat, tidak sungkan bertanya, dengan cepat saya bisa membalikkan suasana yang kurang kondusif tadi, pada akhirnya saya bisa diterima menjadi bagian dari mereka. Saat menjalin kehidupan persahabatan yang menyenangkan ini, bahasa Indonesia yang saya pelajari juga mengalami kemajuan pesat, dengan kata lain sekali mendayung maka dua pulau terlampaui.



LAPORAN HASIL KERJA

Selama setahun ini, saya akan membagi pekerjaan saya menjadi 2 bagian besar yaitu, yang pertama bertugas untuk memperkuat pengajaran bahasa Mandarin di sekolah; yang kedua yaitu bertugas untuk mengembangkan budaya Tionghoa di masyarakat luas.

I. Memperkuat Pengajaran Bahasa Mandarin.

I.1 Metode Pengajaran
Bagaimana mengajarkan bahasa Mandarin kepada murid-murid dari saudara- saudara kita yang bukan dari etnis Tionghoa, saya berpandangan sebagai berikut “ Memandang Dari Poin Besar” serta “Bertindak Dari Poin Kecil”. “Memandang Pada Poin Besar” artinya seorang guru haruslah secara jelas dan gamblang memahami dan memposisikan diri
pada struktur / komposisi pengajaran yang menjadi kewajibannya. “Bertindak Dari Poin Kecil” artinya setelah memahami dengan jelas arah dan tujuan pengajaran, secara konkrit mengambil metode dan cara apa yang paling tepat guna mencapai tujuan pengajaran, memperoleh hasil yang lebih tinggi dalam pengajaran.

  1. Menjadikan kebiasaan, memasuki kehidupan.  Cara paling cepat agar bisa mempelajari suatu bahasa adalah dengan sering menggunakannya, selalu diulang dan diulang; metode untuk memahami suatu budaya dengan gampang yaitu dengan memasuki kehidupannya, menjadikan kebiasaannya. Saya mempergunakan bahasa Mandarin yang saya ajarkan, untuk mengucap salam, menyampaikan isi hati, berterima kasih, mengucapkan kata perpisahan dan lain-lain yang saya praktekkan dalam kehidupan sehari-hari, selain itu juga dengan sering berkomunikasi dengan murid-murid, saling berucap kata. Sehingga tanpa disadari mereka sudah menuai kesan mendalam dan mampu menguasai.
  2. Materi Pengajaran Yang Kaya Dan Bervariasi. Mengajar menyanyikan lagu lagu Tiongkok, mengajarkan puisi Tiongkok, memperkenalkan hari-hari peringatan dalam tradisi Tiongkok, adat istiadat Tiongkok, makanan kecil dengan rasa / aroma khusus khas Tiongkok, barang-barang produksi Tiongkok termasuk iklim dan suhu di Tiongkok, lokasi wisata terkenal di Tiongkok dan lain-lain. Dari makanan dan minuman tradisional Tiongkok, sejarah dan geografi Tiongkok sehingga membangkitkan minat murid-murid untuk giat belajar bahasa Mandarin, sehingga murid-murid dari berbagai sudut pandang bisa menerima budaya Tionghoa yang telah mengalir selama berabad-abad dan kaya.
  3. Mencari Respons Budaya. Budaya Tionghoa adalah salah satu sumber utama budaya Indonesia, semenjak dahulu kala sudah masuk dalam lingkaran budaya Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari saya saya menemukan beraneka macam kesamaan budaya, dan segera saya tunjukkan dan sebarkan, sehingga murid-murid bisa mengerti bahwa di negerinya ini semenjak dahulu kala sudah tertanam unsur-unsur kebudayaan Tionghoa. Dengan melalui pengenalan mereka atas budaya Tionghoa, keramah-tamahan, kesamaan persepsi dan respons, sehingga bisa menjadi pendorong untuk mempelajari bahasa Mandarin.
  4. Setiap Saat Dan Di Manapun Menunjuk Untuk Membenarkan Saat mengajar atau dalam kehidupan sehari-hari, saat menjumpai beraneka masalah ataupun kesalahan pada murid saat belajar bahasa Mandarin, seketika itu juga harus diingatkan, setiap saat dibetulkan. Jangan sampai ada kelalaian atau kesalahan sekecil apapun.


I.2  Pekerjaan Di Sekolah

  1. Bimbingan & Pelatihan Guru.  Setiap minggu saya selalu menyediakan waktu 2 jam di luar jam pelajaran untuk membimbing / melatih guru-guru untuk belajar bahasa Mandarin, memperkenalkan budaya daan adat-istiadat Tionghoa, memperkenalkan kemajuan dan perkembangan Tiongkok masa kini. Terhadap kegiatan bimbingan / pelatihan ini ternyata para guru menyambut dengan semangat dan penuh antusias, seringkali setelah bimbingan selesai mereka masih meminta pelatihan tambahan satu demi satu, agar mereka bisa belajar lebih banyak, lebih cepat dan lebih baik.
  2. Mengadakan Aneka Kegiatan.  Untuk mengembangkan kegiatan para murid, mengarahkan para murid agar berminat mempelajari bahasa Mandarin, memperkaya suasana kehidupan mereka, maka di sekolah saya adakan beraneka macam kegiatan. Misalnya : lomba menulis huruf Mandarin, lomba menyanyi lagu Mandarin, lomba baca puisi Mandarin, lomba menulis artikel Mandarin dan lain lain. Dengan adanya aneka kegiatan yang menyenangkan ini, bukan cuma menggairahkan suasana kehidupan di sekolah, namun terbukti mampu mempertinggi antusias mereka untuk belajar, ditambah lagi dengan hasil aneka lomba tadi bisa meningkatkan rasa percaya diri mereka, memperdalam kesan baik mereka terhadap budaya Tionghoa, mendorong rasa persaudaraan dan toleransi.



II Pekerjaan Untuk Menyebarkan Dan Mengembangkan Budaya Tionghoa

  1. Menyebarkan ke lingkup eksternal. Sebagai seorang guru relawan bahasa Mandarin, juga mengikuti aneka kegiatan / pertemuan yang berkaitan dengan pengajaran bahasa Mandarin, selain bisa meningkatkan standar kemampuan diri sendiri untuk mengajar, disaat yang sama juga bisa menggunakan kesempatan untuk menyebarkan budaya Tionghoa dan kegiatan dari para guru relawan bahasa Mandarin. Awal bulan Desember tahun 2007 saya mewakili guru relawan bahasa Mandarin mengikuti [ Konferensi Pendidikan Bahasa Mandarin Tingkat ASEAN Yang Ke-7 ] – suatu konferensi akbar yang dihadiri oleh delegasi / kalangan pendidikan bahasa Mandarin dari seluruh negara- negara ASEAN; kemudian bulan Januari tahun 2008 mengikuti kegiatan dialog interaktif antara para guru relawan bahasa Mandarin yang diselenggarakan di Yogyakarta; lantas pada bulan April tahun 2008 mengikuti rapat pertemuan para guru relawan bahasa Mandarin se-Jawa Timur. Selain itu, disaat yang sama di sela-sela melaksanakan tugas mengajar saya sempatkan untuk menulis lebih dari 10 artikel yang berhubungan dengan kegiatan mengajar , pekerjaan, kehidupan sehari-hari guru relawan bahasa Mandarin, dan semua artikel ini telah dimuat di 2 surat kabar berbahasa Mandarin terbesar di Indonesia yaitu (Guo Ji Ri Bao / International Daily News) terbitan Jakarta serta (Qian Dao Ri Bao / Harian Nusantara) yang terbit di Surabaya dan memperoleh tanggapan antusias.
  2. Bimbingan Untuk Warga Sekitar.  Saya tidak hanya membimbing / melatih para guru belajar bahasa Mandarin di sekolah saja, saya juga masih sempatkan mengajar bahasa Mandarin untuk warga setempat, di malam hari mengadakan kelompok kecil bagi peminat bahasa Mandarin, menyerap murid-murid yang amat berminat untuk belajar bahasa Mandarin serta tetangga-tetangga sekitar rumah untuk mempelajari budaya Tionghoa, semua ini bertujuan untuk memperluas cakupan pengaruh budaya Tionghoa.
  3. Mendorong Aneka Kegiatan.  Sebagai seorang duta / utusan kebudayaan, “Duta / Utusan Rakyat” untuk menjalin persahabatan, kalau hanya menguasai bidang pengajaransaja tentu jauh dari cukup. Selain harus mengajar dengan baik, juga harus mengikuti aneka kegiatan yang berhubungan dengan pengajaran bahasa Mandarin, juga harus sekuat tenaga memeras otak, harus pintar mencari jalan / terobosan, bekerja keras merencanakan aneka kegiatan organisasi, sehingga bisa memperluas khalayak yang menerima budaya Tionghoa, memperluas bidang pengaruh budaya Tionghoa, meningkatkan hubungan persahabatan yang erat antara Tiongkok dan Indonesia.


Demi mewujudkan tujuan ini, saya berinisiatif untuk mengadakan sebuah acara “Sarasehan Serta Dialog Budaya Tionghoa Dan Indonesia”. Dikarenakan kondisi ekonomi sekolah tidak mencukupi, saya berkeliling kesana kemari sampai akhirnya bisa menemukan pihak donatur / sponsor acara, agar acara ini bisa terselenggara dengan sukses pihak donatur rela menyediakan dana yang cukup besar. Juga melalui berbagai jalur, akhirnya bisa menggerakkan berbagai organisasi / perkumpulan Tionghoa di Malang Raya agar antusias mengikuti acara, membantu serta mendukung. Selain daripada itu, untuk untuk meningkatkan bobot dan gaung acara di wilayah dan tingkatan elemen masyarakat yang lebih luas, saya mengundang kehadiran Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Surabaya Bapak Fu Shuigen, Para Pejabat di Dinas Pendidikan Jawa Timur, Beberapa Pejabat dari Dinas Kebudayaan, Ketua Lembaga Koordinator Pendidikan Bahasa Tionghoa di Surabaya, Bupati Malang, Rektor Perguruan Tinggi di Surabaya dan
Malang, Wakil Kalangan Pendidikan Bahasa Mandarin di Malang Raya, serta wartawan media baik televisi dan surat kabar.

Kegiatan Sarasehan ini selain bisa menampilkan kemampuan / prestasi para murid yang belajar bahasa Mandarin, seperti menyanyikan lagu berbahasa Mandarin, pekerjaan tangan, baca puisi dan lain-lain, juga dengan tampilnya aneka pertunjukan seni budaya Tionghoa yang kaya dan beraneka ragam dari masyarakat
Tionghoa bisa meninggalkan kesan mendalam baik bagi para murid maupun orang tua mereka, sehingga mereka bisa lebih memahami, mempertinggi minat untuk mempelajari budaya Tionghoa, sehingga memperluas cakupan pengaruh budaya Tionghoa di wilayah ini.



III Kendala Yang Muncul


  1. Masalah Yang Timbul Di Pihak Sekolah. Sesuai dengan naskah perjanjian antara kedua negara, pihak sekolah di Indonesia harus memenuhi berbagai kewajibannya, namun sampai saat ini pihak sekolah masih belum memenuhinya. Misalnya belum menyediakan antena parabola-- selain itu televisinya juga rusak, belum menyediakan air conditioner (AC) , belum menyediakan surat kabar berbahasa Mandarin, serta tidak ada fasilitas asuransi dan lain- lain.
  2. Masalah Yang Dihadapi Keluarga . Sekitar tahun baru yang lalu, saya mendapat kabar buruk dari keluarga di Tiongkok, kakak perempuan saya yang tinggal di Kanada terserang penyakit kanker usus, dan disampingnya selain anak satu-satunya yang masih sekolah di sekolah menengah tidak ada anggota keluarga lain yang bisa diharapkan untuk bersandar. Sedangkan kedua orang tua saya juga sudah tua dan sakit-sakitan, selain itu masih harus merawat kakek berusia 80 tahun lebih yang sudah pikun dan lumpuh terbaring di tempat tidur. Di tengah kondisi seperti ini, saya juga sempat berpikir untuk mengajukan ijin pulang lebih awal untuk merawat kakak saya. Namun ditengah kebimbangan antara memikirkan kehormatan negara, tanggung jawab mengajar bahasa Mandarin, harapan dari sekolah induk saya, juga masa depan dari murid-murid kelas tiga yang akan lulus, akhirnya saya tetap membulatkan tekad untuk bertahan, tidak mengorbankan yang besar untuk hal yang lebih kecil, saya harus bertahan sampai kewajiban saya bisa tertunaikan sampai akhir. Meskipun didera masalah dan kesulitan bertubi-tubi, namun tidak sampai mempengaruhi performa saya untuk mengajar seperti biasa. Dari awal sampai akhir saya tetap bekerja sungguh-sungguh, hidup dengan kegembiraan.


IV. Prestasi Yang Diraih

Dari kondisi awal dimana saya sempat syok, lantas bisa menerima keadaan, kemudian sampai saat membahagiakan seperti sekarang ini, ini semua merupakan masa-masa dimana penderitaan dan kebahagiaan datang silih berganti. Untungnya saya tidak sampai menyerah / menundukkan kepala atas berbagai halangan / kesulitan, serta tidak sampai
kehilangan sifat periang dan terbuka saya, selain juga terus menerus berupaya meraih kemajuan.

  1. Bulan September tahun 2007 saat mengikuti acara selamat datang yang dilaksanakan oleh Departemen Pendidikan Republik Indonesia, saya mewakili guru relawan Tiongkok bersama Duta Besar Tiongkok Bapak Lan Lijun dan Menteri Pendidikan Republik Indonesia Bapak Bambang Sudibyo bersama-sama melaksanakan acara serah terima.
  2. Awal bulan Desember tahun 2007 saya mewakili guru relawan Tiongkok mengikuti [ Konferensi Pendidikan Bahasa Mandarin Tingkat ASEAN Yang Ke-7 ] - suatu konferensi akbar yang dihadiri oleh delegasi / utusan dari seluruh negara-negara ASEAN, juga membuat jurnal tulisan untuk materi konferensi. Selain itu juga berbicara mewakili para guru relawan, semua ini juga mendapatkan perhatian luas serta memperoleh pandangan positif.
  3. Murid-murid kelas 3 semuanya lulus dengan gemilang mengikuti “Standar Ujian Nasional Kurikulum Bahasa Mandarin”, dan mereka sukses memasuki perguruan tinggi.
  4. Saya memikirkan, merancang, merencanakan, mengkoordinir, mengatur “Sarasehan Serta Dialog Budaya Tionghoa dan Indonesia” yang pada tanggal 24 Mei 2008 sukses dilaksanakan di SMAN 1 Turen – Kabupaten Malang. Melalui kegiatan ini, tidak hanya memperluas pengaruh budaya Tionghoa di wilayah ini, juga mempererat hubungan antara masyarakat Tionghoa dengan warga setempat, saling berkomunikasi, sebagai jembatan untuk saling membantu.
  5. Prestasi yang paling membuat saya merasa bangga yaitu suksesnya 8 orang murid yang giat belajar bahasa Mandarin meraih tiket masuk ke perguruan tinggi yaitu Universitas Widya Kartika di Surabaya serta Universitas Ma Chung di Malang dimana semua murid ini mendapatkan bea siswa penuh dari pihak Universitas. Cita-cita para murid ini adalah berkarir di bidang pendidikan bahasa Mandarin, setelah lulus kelak mereka akan kembali ke SMA Negeri 1 Turen untuk menjadi tenaga pengajar bahasa Mandarin. Ini semua selain meringankan beban ekonomi para murid tersebut, juga bisa memberikan prospek karir yang bagus bagi mereka, dapat dikatakan sekali rengkuh dayung dua pulau terlampaui.
  6. Disela-sela kesibukan mengajar, tak lupa untuk terus menulis, terus menerus membuat catatan tentang pengalaman mengajar dan perasaan kehidupan. Di Indonesia dimana ada 2 surat kabar berbahasa Mandarin besar yaitu (Guo Ji Ri Bao / International Daily News) terbitan Jakarta dan (Qian Dao Ri Bao / Harian Nusantara) terbitan Surabaya, saya telah menulis 12 artikel, dimana 6 artikel berkaitan dengan pengajaran bahasa Mandarin, 6 artikel yang lain berkaitan dengan kehidupan guru relawan Tiongkok, juga suka-duka dan perasaan selama bertugas di Indonesia.
  7. Merekomendasi hasil karya tulis siswa sebanyak 12 artikel, dimana semuanya juga telah dimuat di harian (Guo Ji Ri Bao) dan (Qian Dao Ri Bao). Di kalangan murid ini membangkitkan respons antusias, sehingga meningkatkan minat belajar bahasa Mandarin dan rasa percaya diri mereka.


Mengingat kembali masa mengajar sepanjang 1 tahun ini, saya sungguh bisa bernapas lega. Meskipun kesulitan dan masalah setiap saat bisa menghadang di depan kita tanpa bisa diprediksi, namun sejak awal saya tak pernah takut atau mundur. Karena “Menjadi Duta / Utusan Rakyat Yang Bisa Diandalkan” adalah cita-cita yang tertanam di dasar hati saya, adalah motto yang selalu tertanam di benak saya. Dengan mengatasi berbagai masalah dan kesulitan yang timbul, saya tidak hanya meningkatkan standar mengajar saya, melatih segenap kemampuan saya, juga terus-menerus mencari dan menciptakan peluang, meningkatkan dan mengembangkan lingkup pengaruh budaya Tionghoa.

Sebagai seorang guru relawan Tiongkok yang datang bertugas di Indonesia, adalah suatu keputusan yang seumur hidup tidak pernah saya sesali, malah sebaliknya merupakan suatu kebanggaan dan kehormatan tertinggi dalam hidup saya. Saya telah mengerahkan segenap potensi dan kerja keras, sukses menunaikan tugas kehormatan sebagai guru relawan bahasa Mandarin, sebagai duta persahabatan Tiongkok dan Indonesia serta sebagai duta budaya Tionghoa, saya telah menunaikan sumbangsih saya.

Hao Lei
2008.5.26


Kata Mutiara : Harus bisa memberi tepuk tangan untuk diri sendiri, menyemangati diri sendiri dengan keberhasilan yang berturut-turut guna mempertinggi keyakinanmu, sekuat tenaga maju ke depan dari sinilah keberhasilan dapat diraih / dicapai.

Ungkapan perasaan guru relawan Tiongkok:

Terima kasih kepada diri sendiri yang telah memilih keputusan yang tepat, memilih menjadi seorang guru relawan yang terhormat ! Bila mengingat kembali masa setahun ini, saat sibuk, saat senggang, saat khawatir, saat bahagia dan lain-lain. Tak peduli betapa masa itu begitu menderita, sekarang yang terkenang semuanya adalah keramah-tamahan dan kehangatan. Beruntung diri sendiri sejak awal tidak ada rasa takut atau mundur, sejak awal tidak pernah berkecil hati. Saya tidak hanya mengembangkan budaya Tionghoa, juga menyampaikan misi persahabatan antara Tiongkok dan Indonesia ! Pengalaman selama setahun ini merupakan harta tak ternilai yang takkan habis sepanjang hidup saya, suatu episode kehidupan yang selamanya menjadi kebanggaan saya. Kini dengan penuh kebanggaan saya bisa mengucapkan sepatah kalimat :

“Saya Adalah Duta / Utusan Rakyat Yang Terhormat !”

Dikutip dan diterjemahkan dari harian berbahasa Mandarin Qian Dao Ri Bao terbitan Surabaya edisi hari Sabtu tanggal 14 Juni 2008.

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghoa [November 2008]


Pihak yang ingin mempublikasi ulang tulisan dalam web ini diharapkan untuk menyertakan link aktif : www.budaya-tionghoa.net , NAMA PENULIS dan LINK aktif yang berada didalam tulisan atau membaca lebih jauh tentang syarat dan kondisi . Mempublikasi ulang tanpa menyertakan tautan internal didalamnya termasuk tautan luar ,  tautan dalam , catatan kaki , referensi , video , picture , sama dengan mengurangi konten dalam tulisan ini.



Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(1 Vote)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/konten/esai/item/1036-hao-lei--kebanggaan-menjadi-seorang-guru-relawan

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Tionghoa

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto