A+ A A-

Menjaga Makam Leluhur Sampai Ribuan Tahun

  • Written by  Liang U
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net |Di bulan Agustus tahun 2008 , saya menonton acara di CCTV Internasional. Saya melihat usaha team pencaharian makam Huangdi (Kaisar Kuning) yang dianggap sebagai leluhur orang Tionghoa.

Artikel Terkait :

{module [201]}

 

Sebetulnya ada tiga tokoh leluhur Tionghoa, selain Huangdi, yang dua lagi adalah Yandi dan Chiyou. Yandi dan Huangdi yang sering dianggap leluhur orang Tionghoa, khususnya orang Han, yang sering disebut Anak-cucu Yan-Huang (Yan-Huang zhi sun).

 

Chiyou sering dianggap tokoh kontraversial yang kejam, dan dianggap leluhur orang Baiyue, atau suku non Han yang banyak di bagian tenggara dan selatan Tiongkok.  Yandi akhirnya dikalahkan Huangdi sedang Chiyou berhasil ditangkap dan dihukum mati. Itu adalah legenda, sebab waktu itu belum ditemukan adanya tulisan.

Ketika team pencari makam Huangdi itu sampai ke sebuah desa (saya terlambat melihatnya, tak tahu desa apa dan di propinsi mana), rombongan berdialog dengan penduduk kampung, para petani. Mereka bertanya-tanya apakah menurut pengetahuan orang kampung pernah mendengar ada tempat yang disebut Makam Huangdi.

Seorang petani menjawab, makam Huangdi saya tak tahu, makam Chiyou saya tahu, katanya. Rombongan bertanya lagi, dimana? Bisa kami diantar ke sana? Petani yang satu dan ber-sne  Zhou itu menjawab lagi. Saya tanya anda dulu, "Chiyou itu orang baik atau orang jahat?"

"Tentu orang baik, ia kan salah seorang dari tiga leluhur kita, orang Tionghoa," jawab pemimpin rombongan. "Kalau saya tunjukkan, anda jamin tidak akan merusaknya?" katanya lagi. Setelah dijamin berkali-kali, si petani itu bilang, makam itu masih mulus karena dijaga terus. Ketika ditanya siapa penjaganya, rombongan tahu, tak ada yang namanya kuburan Chiyou yang dijaga di Tiongkok, sebab memang kuburannya di manapun tak ada yang tahu. "Saya penjaganya." jawabnya. Ketika ditanya lagi, siapa yang menugaskan ia menjaga, jawabnya ayah, yang menyuruh ayah adalah kakek, yang dia tahu menurut ayah dan kakeknya mereka menjaga di sana sudah sejak zaman dahulu kala, karena mereka adalah turunan Chiyou.

Yang lainnya adalah urusan para ahli purbakala, yang saya ingin tunjukkan adalah: " Menjadi makam leluhur sampai ribuan tahun, turun temurun. Inilah salah satu budaya Tionghoa. Saya sendiri jadi tertarik, untuk mengetahui lebih lanjut, tentu hanya dengan menelusuri di internet, apakah ini akan membuka lebih jelas sejarah Huangdi, Yandi dan Chiyou?
 
Ketika setahun yang lalu saya dibawa ke Qing Xi Ling (makam kaisar Qing di sebelah barat), saya bahkan tercengang ketika ditunjukkan bahwa penjaga makam yang berumah di luar komplek makam adalah orang Manchu yang sudah menjaga turun temurun, mereka suka rela menjaga makam tanpa pamrih.
 
Sekarang mereka  diberi gaji oleh pemerintah karena makam itu termasuk peninggalan sejarah yang perlu perlindungan. Di situ, ada makam Yongzheng (Yongceng) , Jiaqing dll. Sayang karena terlalu sore, dan cuaca sangat buruk, jam 5 sudah hampir tak kelihatan, kami hanya sebentar masuk melihat, huruf di bongpay sudah tak terbaca, lalu keliling makan dibelakang bangunan yang berupa bundaran yang sangat luas. Saya tidak menyangka makam kaisar Qing dilindungi demikian sempurna. Sayang hari sudah gelap, jalan kereta api yang ke daerah situ dari Beijing juga dulunya khusus dibangun untuk Ibusuri Cixi--tokoh kontroversial ini,--kalau datang bersembahyang ke sana. Menurut yang mengantar, Kaisar Dinasti Qing yang terakhir Aisingioro Pu Yi akhirnya dimakamkan di sana meskipun dalam bentuk makam yang sederhana.
 
Kunjungan ke sini di luar rencana, karena saya tak tahu bahwa Qing Xi Ling ada di situ, kabupaten Yi Xian propinsi Hebei Tiongkok Utara. Yang saya tahu ada Qing Dong Ling atau makam timur kabarnya di Tangshan, di sana dimakamkan kaisar-kaisar awal dinasti Qing.

Karena sudah ada rencana lain di Beijing, saya menginap semalam di Yi Xian, pagi-pagi kembali ke Beijing.

Sangat menarik, budaya menghormati leluhur yang di kalangan Tionghoa Indonesia sudah terbang entah kemana, bahkan di Tiongkok sendiri terutama di perkotaan. Jangankan makamnya, orangnya (orang tua ayah, ibu, nenek dan kakek) yang masih hidup saja banyak yang tidak dirawat, kecuali yang banyak duitnya.....

Apakah kebangkitan kembali budaya Tionghoa sekarang, bisa memulihkan semangat ini?Hanya sejarah yang akan membuktikan.

 

Salam . Liang U

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing List Budaya Tionghua

Last modified onThursday, 01 November 2012 11:36
Rate this item
(1 Vote)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/konten/esai/item/1058-menjaga-makam-leluhur-sampai-ribuan-tahun

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto