Logo
Print this page

China Have A Dream

Budaya-Tionghoa.Net | Masa hanya Martin Luther King Jr saja yg boleh bermimpi sedangkan China tidak? Mimpinya China; paling lambat sebelumnya tahun 2040 sudah bisa menjadi Negara nomer wahid di kolong langit ini bahkan melebihi Amerika. Prestasi yang ingin dicapai terutama dalam bindang: Ekonomi - Teknologi - Olahraga. Jadi mirip dengan ketiga Dewa: Fu - rezeki, Lu - jabatan tinggi, Shou - umur panjang.

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

Impian ini bukannya hanya sekedar impian di siang hari bolong, atau sekedar khayalan saja, karena keberhasilan untuk mewujudkan cita2nya ini telah di konfirm oleh beberapa pakar ekonomi maupun para ilmuwan2 kaliber dunia, seperti dari investment bank Goldman Sachs.

Gross Domestic Product (GDP) China meningkat sebanyak 9% dibandingkan dengan tahun
2003 atau hampir dua kali lipat lebih tinggi daripada Amerika 4,7 % atau tiga kali lipat daripada Jepang 3%. Dan dalam jangka waktu 3 tahun terahir ini jumlah konglomerat (OKB) di China naik lebih dari 30%, dan salah satu orang terkaya di China adalah Li Ka Shing dengan jumlah kekayaan pribadi yang dimilikinya 12,4 milyar AS$.

Jumlah mahasiswa di Amerika 5% dari jumlah total penduduknya 300 juta,
tetapi ini hanya 1,5 juta orang saja dibandingkan dengan China walaupun hanya 1% saja dari jumlah total penduduknya, tetapi mereka memiliki lebih dari 12 juta orang mahasiwa.

Setiap tahunnya ratusan ribu mahasiswa China dikirim keluar untuk menimba
ilmu di AS, Autralia, Jepang, Jerman, England dan sebagai-nya. China sendiri menyediakan lebih dari 2,2% GDP khusus untuk bidang pendidikan melebihi Jepang dan Korea. Maklum China ingin mempraktekkan filosofie ajarannya Kong Hu Chu: "Jika engkau ingin hidup hanya tiga tahun, maka cukup berbekal tanaman jagung. Tetapi jika engkau ingin hidup tiga abad, maka engkau harus berinvestasi dalam bidang pendidikan."

Menurut pendapat Prof. Dr. Zedtwitz dari bank Dunia, yang menyatakan bahwa
paling lambat pada th 2008 dari segi ilmu pengetahuan China sudah akan lebih maju daripada Jepang, sedang pada saat ini saja sekitar 367 juta penduduk
China usianya berada dibawah 18 th yang sedang dipersiapkan di sekolahan2 dasar maupun SMU untuk dijadikan tulang punggung High Tech China.

Kemampun mereka tidak perlu diragukan, karena ini telah terbuktikan secara
internasional. Berdasarkan hasil riset Programme for International Student Assessment (PISA, 2003). Test ini dilakukan oleh murid2 SMU usia 15 th dari
40 Negara, dimana Indonesia juga turut berpartisipasi. Dalam bidang matematika China menduduki peringkat pertama dan Amerika berada di peringkat ke 28. Dalam bidang sains China menduduki peringkat ketiga - Amerika peringkat ke 22. Sedangkan Indonesia sendiri berada di rangking 3 paling bawah atau peringkat ke 38 (Majalah Spiegel 50/2004).

Maka tidaklah salah kenapa Bill Gates memilih China, bukan negara lainnya
entah India atau Jepang, untuk dijadikan pusat penelitiannya yang kelima sebagai "Microsoft Research Asia", perlu diketahui Microsoft tidak pernah mau mendirikan research center lainnya dinegara manapun juga selainnya tiga di USA dan satu di England.

Microsoft Research Asia di Peking dibangun dgn biaya 80 juta AS$ dan hanya
memiliki 150 orang karyawan saja, tetapi telah diakui kemampuannya sebagai pusat research yg paling canggih dan inovativ di seluruh dunia oleh majalah
komputer Amerika "Technology Review". Begitu juga dengan Siemens yang telah terlebih dahulu memindahkan pusat research center nya dari Jerman ke China juga Nokia, Motorolla, Hewlett-Packard maupun perusahaan2 multi national
lainnya.

Di tahun 1957 Mao Tse Tung telah menyatakan keinginannya untuk dapat memiliki
Sputnik seperti Rusia, baru 46 th kemudian keinginannya menjadi kenyataan, tepatnya pada tgl 16.10.2003 China menjadi negara ketiga setelah Rusia dan Amerika yg mampu mengirimkan manusia - Taikonaut (Taikong = ruang angkasa) keluar angkasa selama 21 jam dgn pesawat "Shenzhou 5" (Kapal Dewa).

Rusia baru bisa melaksanakan pengiriman manusia ke angkasa setelah melakukan
7 kali test dan Amerika setelah melakukan 20 kali test terlebih dahulu, sedangkan China hanya membutuhkan 4 kali test saja. Pada saat ini "Shenzhou
6" sdgn di persiapkan oleh lebih dari 100.000 karyawan dengan biaya sekitar 2 milyar AS$.

Maka tidaklah salah apa yg dinyanyikan oleh Bob Dyland dlm lagunya: "The
Times They Are A-Changin"

Bersambung


Maranatha

Mang Ucup , 10176
Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
Homepage: www.mangucup.org

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghoa

 


Last modified onSaturday, 05 January 2013 09:07
Rate this item
(0 votes)
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/konten/esai/item/1455-china-have-a-dream?tmpl=component&print=1
Budaya Tionghoa Copyright © 2003 - 2013 .