A+ A A-

Timbangan Dacing Dan Sejarah Perdagangan Di Nusantara

  • Written by  Huang Dada
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Era baru ekonomi global menggunakan kayu ukuran - menggunakan dacing timbangan di peringkat global. [Abdullah Ahmad Badawi , 2005]

Budaya-Tionghoa.Net | Timbangan adalah salah satu bagian terpenting dari perdagangan . Ketika orang Tionghoa merantau ke daerah jauh dan ada yang terjun ke perdagangan , timbangan yang sekarang sudah dianggap sebagai timbangan  adalah instrumen vital dalam perdagangan.

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

Orang Tionghoa memang sudah memainkan peranan penting dalam perdagangan internasional . Mereka sudah hadir lebih awal dari bangsa Barat di Nusantara. Mereka sedemikian pandai berdagang sehingga Fernand Braudel dalam "Civilization And Capitalism" menyebutkan bahwa orang Tionghoa sudah berkeliling ke berbagai negri , dengan timbangan di tangan, membeli semua rempah yang ditemui . Setelah menimbang mereka dapat menentukan kuantitas seperti berat dan kemudian menawarkan pembayaran . Banyaknya tergantung pada kebutuhan si penjual . Dengan cara ini orang Tionghoa dapat mengakumulasi komoditas yang diperlukan dengan kapasitas kapal yang datang dari Tiongkok dan menjualnya senilai lima puluh ribu caixas [sapekes] padahal modalnya hanya 12 ribu. Tak kurang dari Marcopolo sendiri memperkirakan bahwa konsumsi Tiongkok terhadap rempah-rempah dimasanya ratusan kali daripada Eropa. [Braudel , p130]

Dalam buku "Jaringan Asia" [Dennys Lombard] , disebutkan bahwa para pedagang membawa dua alat yang khas , yaitu timbangan bernampan satu dan sipoa . Yang satu perannya untuk menimbang , satu lagi untuk menghitung.

Timbangan bernampan satu itu disebut dacing [Dacheng] yang tercatat hadir di nusantara sejak abad 16. Frederick de Houtman menyebut alat untuk menimbang lada di Aceh pada tahun 1588 , saat itu di Tiongkok sedang memasuki akhir masa Dinasti Ming.

De Houtman menyebutkan kedua timbangan didalam buku pelajaran bahasa Melayu sehari-hari. Dalam suntingan Lombard , "Le Spraeck ende Woordboek de Frederick de Houtman PEFEO LXXIV , Paris 1970" , halaman 91 disebutkan :

"De timbang ken naratja attoeu deng'an d'ajing? Dengan d'ajing , iang sakaly ting'a bhara de timbang , agar lecas souda"

Apakah kita menimbang dengan neraca atau dengan dacing? Dengan dacing , yang dapat menimbang setengah bahar sekaligus , agar lebih cepat selesai. [Dennys Lombard , p495]

Timbangan yang dimaksud alat besar dan harus digantung pada sebuah penyangga yang dapat mengukur berat setengah bahar atau ekuivalen 70 kg.

Dalam kamus bahasa Aceh Indonesia disebutkan bahwa neuraca , nuraca , noraca adalah neraca , dacing atau timbangan.[Abu Bakar , p633]. Demikian juga dalam bahasa Indonesia . Dacing berarti timbangan , batu untuk menimbangnya disebut batu dacing. [Poerwadarminta , p175]. Selain dacing bisa juga disebut dacin saja .  Sedangkan aktivitas mendacin artinya menimbang dengan dacing. [Poerwadarminta , p253]. Jadi selain instrumennya yang terserap di masyarakat Indonesia , nama instrumennya juga turup terserat ke bahasa Indonesia.

Di Malaysia , kegiatan perdagangan telah bermula sejak awal abad 15 melalui aktivitas jual beli dan barter. Pedagang awal menggunakan kulit siput sebagai mata uang sebelum mengenal mata uang logam. Pengenalan sistem timbangan memudahkan urusan jual beli dengan menggunakan dacing dan pikul.

Referensi :

1. Dennys Lombard , "Jaringan Asia" , 1996

2. Abu Bakar ,"Kamus Bahasa Aceh-Indonesia" , Balai Pustaka, 2001

3. Poerwadarminta , "Kamus Umum Bahasa Indonesia" , 2003

4. Fernand Braudel , "Civilization And Capitalism : 15th-18th Century :The Wheels Of Commerce" , 1992

 

Budaya-Tionghoa.Net | Facebook Group Budaya Tionghoa

Last modified onWednesday, 25 July 2012 10:33
Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/konten/esai/item/1722-timbangan-dacing-dan-sejarah-perdagangan-di-nusantara

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto