A+ A A-

Ketika Para Leluhur Menghadapi Banjir

  • Written by  Ardian Cangianto
  • font size decrease font size increase font size
  • Print
  • Email

Budaya-Tionghoa.Net | Banjir yang terjadi baru-baru ini di Jakarta sungguh memunculkan pertanyaan apakah sebuah bangsa siap mengatasi permasalahan dan menaiki tingkatan peradaban yang lebih maju daripada sebelumnya – sebagaimana  dimasa kini Belanda yang berukuran kecil namun berhasil mengatasi permukaan laut dan Jepang terus bersiaga menghadapi tantangan alam seperti gempa bumi dan tsunami.

ARTIKEL TERKAIT :

{module [201]}

Jika kita bercermin pada leluhur . Peradaban Tiongkok yang berkesinambungan selama ribuan tahun ini terlahir dari dua sungai besar yang melintas di daratan Tiongkok. Seperti misalkan Huanghe dianggap sebagai tempat lahirnya peradaban (the cradle of Chinese civilization) dimana aktivitas pertanian bermula. Tiongkok sejak jaman purba sering tertimpa bencana banjir.

Ironisnya  selain berkontribusi dalam memberi nafas kehidupan bagi rakyat disekitarnya , sungai seperti Huang He juga bagaikan malaikat pencabut nyawa kambuhan melalui katastrofi banjir besar yang datang lagi dan lagi sehingga sungai ini juga dijuluki "China's Sorrow".[1]Lalu apa yg mereka lakukan ? Tidak memohon pada para dewata atau Tuhan melainkan  bekerja dengan baik dan benar untuk mengatasi banjir itu agar tidak terulang-ulang atau paling tidak meminimalkan resiko dengan mitigasi purba

 Lihatlah cara kerja mereka dengan membangun kanal, kolam penampungan dan sebagainya. Mulai dari Gun,Yu hingga Qin Shihuang sebagai salah satu contoh figur yang mana selain bertujuan mengatasi banjir juga untuk membangun jaringan transportasi.Li Bing (abad 3 SM) seorang administrator Qin dimasa Zhanguo yang termashur karena membangun system irigasi Dujiangyan . Kepemimpinan Li Bing mencerminkan kebijakan kerajaan terhadap mereka yang melakukan pengorbanan-pengorbanan manusia untuk memohon agar tidak banjir.

 Salah satu cara Li Bing itu adalah dengan  melakukan semacam "membunuh" naga banjir dengan menyuruh anaknya Er Lang untuk menangkap seekor ular air dan menaruhnya di dasar sungai .  Kemudian Er Lang terjun ke sungai seolah-olah sudah membunuh "naga banjir" alias jiaolong itu.Atas tindakan Li Bing itu dan upayanya memperbaiki system irigasi Dujiangyan maka dibangunlah Erwang Miao. Dan jangan melupakan bahwa banyak patung kerbau perunggu di sepanjang sungai Huanghe sebagai pemberitahuan akan bahaya banjir. Itu semacam instrumen meteran untuk mengukur ketinggian air. Jika patung kerbau perunggu itu terendam, maka rakyat sekitar harus waspada.Selain itu ada cara unik untuk mengatasi bencana kekeringan yang boleh diblang merupakan geniusnya kaum petani. Kebiasaan itu ada dimasa Dinasti Han  dan berkembang cukup lama.

 Teknologi kanal awal di Tiongkok adalah  Hung Kou dikonstruksi pada abad 6 SM. Atas perintah Qin Shi Huang maka dibangunlah kanal Lingqu (Magic Canal) , kanal kontur pertama dibangun di abad 3 SM dibawah pimpinan engineer Shih Lu.Sima Qian mengatakan bahwa  Kaisar mengutus komandannya  untuk memimpin pasukan ke selatan dan menaklukkan ratusan suku Yue. Kaisar juga mengutus pengawas  Lu untuk memotong satu kanal agar beras dapat dikirim lebih jauh ke dalam wilayah Yu. Konstruksi kuno ini masih digunakan sampai sekarang sepanjang 20 mil  . Konstruksi Magic Canal ini menghubungkan dua sungai , Xiang dan Li dimana arus mengalir dengan arah berlawanan membuat transportasi dalam daratan menjadi mungkin untuk jarak yang harus ditempuh sepanjang 1250 mil dalam satu garis lurus yang lebih singkat.[2]

Kepemimpinan Sui Yangdi di masa Dinasti Sui yang singkat juga terkenal dengan proyek rintisan Grand Canalnya.   Tentang Grand Canal merupakan  arteri gigantik bagi transportasi dibangun selama berabad-abad dengan panjang 1100 mil dengan perbandingan jarak New York - Florida.  Mega konstruksi ini baru selesai di tahun 1327. Tidak ada yang bisa mendekati ukuran ini di Eropa .[3]

So ? Berangkat dari sikap menghargai alam maka para leluhur telah memperlihatkan kerja keras dan tindakan yang diperlukan untuk mengatasi permasalahan dimasanya. Segala kemajuan teknologi dimasa sekarang semestinya lebih mudah untuk mengatasi setiap permasalahan . Tetapi seringkali teknologi itu sendiri yang melahirkan sampah dan limbah . Jangan membiasakan diri membuang sampah di segala tempat sejauh mata memandang . Cobalah mulai menghargai hak-hak alam [4]. Jangan menimbun danau , rawa dan memperkecil lebar sungai dengan membangun apa saja yang bisa dibangun di bantaran sungai.

Ardian Cangianto

Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghua | Facebook Group Budaya Tionghoa

Further Reading :

  1. Robert Temple , " The Genius of China , 3000 Years of Science Discovery and Invention", 2007
  2. World Heritage Convention , UNESCO , " Lingqu Canal , Xiang'an County , Guangxi Zhuang Autonomous Region Qin Dynasty" , 2008
  3. Randall Dodgen , “Controlling The Dragon “ , 2001

Catatan Kaki : 

 


 

Rate this item
(0 votes)
back to top
http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/konten/esai/item/2652-ketika-para-leluhur-menghadapi-banjir

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto