A+ A A-

Dunia Melayu Yang Tersirat Dalam Tetralogi Bumi Manusia Pramoedya

Dunia Melayu Yang Tersirat Dalam Tetralogi Bumi Manusia Pramoedya
Koh Young Hun
Bumi Manusia-Satu Tonggak Baru


Pramoedya merupakan seorang novelis Indonesia yang terkemuka dan sering
dibicarakan oleh pengkritik sastera dalam dan luar negara Indonesia. A. Teeuw pula pernah mengungkapkan bahawa Pramoedya adalah penulis yang muncul hanya sekali dalam satu generasi, atau malah dalam satu abad (1980: 242). Di antara hasil-hasil karya sastera Indonesia, barangkali karya-karya sastera yang dihasilkan oleh Pramoedya merupakan karya yang paling banyak diterjemahkan dalam bahasa-bahasa asing di luar Indonesia. Justeru hakikat inilah yang membuat Pramoedya sebagai novelis Indonesia yang terkenal dalam arena sastera internasional. Di samping itu, jejak kehidupannya yang bersengsara pada masa yang lalu pula mengambil perhatian golongan pembaca di luar negara. Akan tetapi sebagaimana yang diketahui di Indonesia nama Pramoedya semakin terlupa dalam kalangan pembaca, khususnya para pembaca muda, kerana karya-karyanya dilarang
beredar.

 

Read more...

Tokoh dari Surabaya: Wawancara Dengan Pak Oei Him Hwie, Pendiri Perpustakaan Medayu Agung

Budaya-Tionghoa.Net | Jika ada yang bertanya siapakah salah seorang tokoh di Surabaya yang memiliki sumbangsih besar dalam dunia perpustakaan, maka jawabannya adalah Pak Oei Him Hwie. Penulis sudah lama mengenal Beliau, namun baru pada tanggal 10 September 2011 berkesempatan mewawancarai Beliau. Waktu itu penulis mengunjungi perpustakaan yang Beliau dirikan, namun Pak Oei sedang pulang ke rumahnya yang terletak tak jauh dari sana. Oleh karenanya, penulis menyusul Beliau ke tempat kediamannya dan setelah itu bersama-sama kembali ke perpustakaan.

Read more...

Sastra Tionghoa dan Prasangka "Politik Identitas"

Via : Mailing List Budaya Tionghoa No 2415

Budaya-Tionghoa.Net| Perhatian publik sastra saat ini tampaknya tertuju pada bangkitnya genre sastra Tionghoa, tepatnya Melayu-Tionghoa, kembali ke kancah sastra Indonesia modern. Gejala kebangkitan ini merupakan sesuatu yang layak disambut luas. Seyogianya memang demikian, karena kita sudah lama kehilangan "saudara kembar" (twin sister) dalam genre sastra kita, yang umumnya didominasi sastra Melayu saja. Ini penting dimengerti, sebab selama ini perkembangan sastra modern kita seolah-olah berjalan terlepas dari konteks sejarah, yang dulu melahirkannya. Yaitu, saat-saat di mana sastra kita masih bergulat dengan tema-tema pemerdekaan dan penjajahan, yang tentu melibatkan genre sastra Tionghoa juga. Atau, kalau mau dilacak lebih awal lagi, yang sering terlupakan adalah peran masyarakat Tionghoa dalam proses akulturasi budaya antara bangsa pribumi dengan kaum pendatang.

Read more...

SEBUAH CATATAN LAIN - Goenawan Mohamad

source: SiaR

Ketika Pramoedya Ananta Toer menerbitkan Hoakiau di Indonesia dan kemudian ditangkap, saya baru datang ke Jakarta. Umur saya 19. Saya datang dari sebuah sekolah menengah di udik, di Jawa Tengah. Di tahun 1960 itu, saya tak tahu apa saja yang terjadi di dunia. Saya tak tahu bahwa sebuah buku dilarang dan seorang pengarang terkenal dipenjarakan. Minat saya waktu itu agak terbatas. Kini saya bersyukur dapat membaca buku ini, yang hampir 40 tahun tersembunyi sebagai buku yang dilarang. Kini saya tahu apa yang terjadi, kurang-lebih.

Read more...

Bantulah Saya! Saya Memang Memerlukan Bantuan

Budaya-Tionghoa.Net | Suatu kali saya menginap di rumah adik saya di Hoofddorp - Holland. Menginap begini sudah beberapa kali. Dan kami ngomong - ngobrol - disamping melepas kekangenan. Kami yang dulu 7 bersaudara, kini tinggal tiga. Murad, abang kami yang di Depok, Asahan Alham ( dulu Asahan Aidit ) dan saya. Tiga saudara ini dengan tiga kewarganegaraan. Abang kami warga RI - adik saya warga Belanda, dan saya warga Perancis. Tragis kan! Semua ini ada sejarahnya - ada asalnya. Yaitu sejarah-gelap-bangsa tahun 1965 itu, yang penciptanya sampai kini masih segar-bugar, satu-satunya diktator di dunia ini yang paling beruntung!

Read more...

Dewi Uban - Opera Pramoedya Ananta Toer dari He Tjing-ce & Ting Ji

Budaya-Tionghoa.Net | TAKHAYUL tentang Dewi Uban yang seluruh rambut panjangnya memutih, berkeliaran di barat laut Hepei, perbatasan dengan Sansi dan Cahar, di pedalaman Tiongkok. Dewi ini menyatroni kelenteng tua di luar dusun dan mengangkut sesajian dari penduduk.Sampai tibalah Tentara Route Ke-8 (nama baru Tentara Merah) yang membebaskan penduduk dari kekuasaan tuan tanah. Dua tentara muda menjebak dan menembak ‘hantu’ itu. Si hantu yang berdarah lari bersembunyi dalam gua. Terungkap sebenarnya ia seorang wanita dusun yang teraniaya.

Read more...
Subscribe to this RSS feed

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto