A+ A A-

Persiapan Nikah Ala Tionghoa [2] - Sangjit

Budaya-Tionghoa.Net | Setelah melewati acara lamaran, berikutnya ditentukan kapan mau tukar
baki/ sang djit . Biasanya hari untuk tukar baki juga ditanyakan dulu kepada yang
berwenang. Yang bisa menghitung hari baik begitu. Setahu saya sih pegangan utama itu buku TONG SU, dimana mengitung tanggal dan jam lahir kedua calon pengantin, lalu dipilih hari yang baik untuk sangjit, angkat koper, dan hari pernikahan.

Read more...

Pesta Pernikahan Dengan Perjamuan Ciakciu

Budaya-Tionghoa.Net | Seorang member forum yang berasal dari Bandung pernah mengaku sudah lama sekali tidak menghadiri pesta "makan meja" atau "ciak-ciu". Pesta ciak-ciu itu bukan undangan pernikahan yang seperti prasmanan. Dalam pesta ciakciu,  tamu duduk disekeliling meja , sementara makanan datang satu persatu. Dia tahu dibanyak daerah , perjamuan nikah seperti ini masih banyak dilakukan, tetapi saya yang tinggal diantara Bandung dan Jakarta sudah lama tidak menemukan gaya perjamuan seperti itu. Biasanya undangan pesta pernikahan yang saya hadiri dalam wujud perjamuan prasmanan dimana tamu "mengantri" di meja prasmanan yang berisi beragam perjamuan dan saat tamu memakannya pun ada yang posisi berdiri ada yang duduk jika tempat tersedia. Itu sebabnya ketika suatu saat dia diundang pesta ciakciu , malahan dia jadi risih dan seperti tidak tahu adat.

Read more...

Tata Cara Sebelum Dan Sesudah Pernikahan

Budaya-Tionghoa.Net |Berhubung kemaren baru ke "kondangan" [red pesta pernikahan] , jadi hendak bercerita mengenai tata cara perkawinan adat Tionghua. Ya sebenarnya tidak adat-adat amat sih, soalnya disini sana banyak "penyesuaian" dan "mix n match" memakai budaya barat, dan dicampur lagi sama budaya Jawa [setahu saya]. Jadi terpikir bahwa budaya Tionghua di Indonesia sebetulnya adalah "budaya gado gado". Di Singapura yang gado gado disebut "Peranakan" atau "Nonya", satu istilah yang akrab di telinga, sebab Oma saya suka menyebut diri sebagai "Cina Peranakan" maksudnya adalah Keturunan yang lahir atau tumbuh dewasa di Indonesia, sudah tidak akrab dengan bahasa Mandarin, dan ciri khas satu lagi adalah koleksi kebayanya itu loh. Yang disebut "kebaya encim" itu barangkali yah. Tapi belakangan koleksi kebaya si Oma udah tinggal jadi koleksi doang sebab Oma lebih suka pakai blus dan celana panjang yang lebih praktis. Balik lagi ke tata cara perkawinan.

Read more...

Adat Istiadat Pernikahan Dalam Budaya Tionghoa

Budaya-Tionghoa.Net | Masyarakat Tionghoa di Indonesia adalah masyarakat patrilinial yang terdiri atas marga / suku yang tidak terikat secara geometris dan teritorial, yang selanjutnya telah menjadi satu dengan suku-suku lain di Indonesia. Mereka kebanyakan masih membawa dan mempercayai adat leluhurnya. Tulisan ini membahas dua upacara adat yang cukup dominan dalam kehidupan yaitu tentang adat pernikahan dan adat kematian.

Read more...

Upacara Pernikahan Tradisional – Chio Thau

Budaya-Tionghoa.Net | Upacara Chio Thau adalah upacara pernikahan tradisional Peranakan lengkap dengan segala pernak-pernik upacara yang menyertainya. Disebut Chio Thau 上頭―artinya ‘mendandani rambut/kepala’ (to dress the hair), bukan ‘naik ke kepala’―karena, dalam bagian terpenting upacara ini, di atas sebuah tetampah besar warna merah terlukis yin-yang 陰陽 dan menghadap sebuah gantang (dou 斗, tempat menakar beras), pengantin (laki-laki dan perempuan) disisiri oleh ibunya sebanyak tiga kali; setiap sisiran dibarengi dengan doa-doa tertentu: misalnya: sisiran pertama agar si pengantin diberi jodoh yang panjang, sisiran kedua: banyak rejekinya, sisiran ketiga: anak-anaknya semua menjadi orang yang membanggakan, dan sebagainya.

Read more...

Upacara Pernikahan Tradisional - Chio Thau

Budaya-Tionghoa.Net | Upacara Chio Thau adalah upacara pernikahan tradisional Peranakan lengkap dengan segala pernak-pernik upacara yang menyertainya. Disebut Chio Thau 上頭―artinya ‘mendandani rambut/kepala’ (to dress the hair), bukan ‘naik ke kepala’―karena, dalam bagian terpenting upacara ini, di atas sebuah tetampah besar warna merah terlukis yin-yang 陰陽 dan menghadap sebuah gantang (dou 斗, tempat menakar beras), pengantin (laki-laki dan perempuan) disisiri oleh ibunya sebanyak tiga kali; setiap sisiran dibarengi dengan doa-doa tertentu: misalnya: sisiran pertama agar si pengantin diberi jodoh yang panjang, sisiran kedua: banyak rejekinya, sisiran ketiga: anak-anaknya semua menjadi orang yang membanggakan, dan sebagainya.

Read more...
Subscribe to this RSS feed

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto