A+ A A-

Film Cloud Atlas dari Perspektif Barat dan Timur

Budaya-Tionghoa.Net | Menyaksikan Cloud Atlas berarti menyaksikan sebuah karya yang selangkah lebih “kurang ajar” dari “Babel”-nya Brad Pitt. Dahulu Babel (2006) mereduksi kompleksitas sosial dengan mencomot satu persatu manusia dari akar kulturnya dan dipertemukan dalam dunia yang mengkerut yang jaraknya tidak lebih dari enam langkah keterpisahan sosial (sixth degree of separation). Seperti kibasan seekor kupu-kupu di Hawaii yang menyebabkan badai di Karibia demikian pula sebuah peluru nyasar di Maroko terhubung secara ko-insidental dengan manusia-manusia lain Jepang , Meksiko dan Amerika Serikat yang jaraknya berjauhan satu sama lain.

Read more...

Ajaran Kepercayaan Rakyat Tiongkok

Dibalik mengepulnya asap Hio dari Vihara, Kuil Taoism; dibalik banyaknya jamaat lagi solat di Masjid dan berbunyinya lonceng yang dipukul di Gereja. Perlu diingat juga bahwa masih ada kumpulan penganut ajaran kepercayaan rakyat yang terdiri dari ratusan juta orang yang tersebar dimana-mana.

Read more...

Sejarah Perkembangan Tao [1] - Periode Awal Dan Tradisi Shamanistik

 
Budaya-Tionghoa.Net | Confusianisme juga membahas mengenai Tao ini. Hanya saja masing-masing ahli filsafat memiliki pengertian yang berlainan. Di Tiongkok, Taoisme merupakan salah dari apa yang dinamakan "Tiga Ajaran" (bersama-sama dengan Buddhisme dan Konfusianisme). Taoisme mengalami perubahan secara bertahap secara perlahan dan merupakan penyatuan yang terus menerus antara berbagai macam aliran pemikiran kuno.
Read more...

Review Film : What The Bleep Do We Know

Budaya-Tionghoa.Net| Film “What Bleep Do We Know” sarat dengan nilai-nilai filsafat yang selalu dipertanyakan terus menerus, seperti apakah bentuk alam ini ? Dimana dalam film tersebut dikatakan bahwa alam semesta itu dibentuk oleh ilusi, seperti holographic projection. Dimana sebelumnya filsafat barat terutama Materialisme dan Empirisime mengutamakan bahwa alam ini nyata adanya.

Read more...

Jenderal Wen (溫元師 = Wen Yuanshi)

Budaya-Tionghoa.Net| Hari ini saya ingin meriwayatkan mengenai Jenderal Wen. Beliau merupakan salah satu di antara sepuluh jenderal penjaga Gunung Timur. Nama asli Beliau adalah Wen Qiong dan berasal dari Distrik Wenzhou. Beliau hidup semasa Dinasti Han. Ayah Beliau yang bernama Wen Wang merupakan seorang sarjana Konfusianis yang berhasil lulus ujian negara. Ibu Beliau bermarga Zhang.

Read more...

Mengenai Toleransi

Budaya-Tionghoa.Net | Adapun prinsip ini saya tulis ulang : "Di empat samudra dan lima danau, semua manusia bersaudara" dan "Para pemeluk jalan suci dilarang saling menghina" menurut Kong Zi

Bicara mengenai Tionghoa, tentunya harus mau dan mengakui kata-kata Kong Zi sebagai guru besar orang Tionghoa. Jika dua pernyataan Beliau saja tidak bisa dituruti, apakah ia adalah orang Tionghoa ?

Read more...

Bugan wei Tianxia xian

  • Published in Tao

Budaya-Tionghoa.Net|  Bugan wei tianxia xian 不敢为天下先 ,adalah salah satu dari tiga pusaka dalam Daode Jing yang artinya tidak mendahului, maknanya adalah mengalah dan tidak memaksakan kehendak membuat kita bisa menjadi pemimpin secara alamiah

Read more...

Notulensi Seminar Pengusiran Setan (Eksorsisme) Menurut Kejawen , Katolik & Daoisme

  • Published in Tao

 

Budaya-Tionghoa.Net | Pada tanggal 24 Juni lalu saya menghadiri seminar menarik yang diadakan di TITD Sinar Samudera (Tek Hay Bio) Semarang. Seminar ini membahas tentang pengusiran setan (eksorsisme) ditinjau dari Kejawen, Katolik, dan Daoisme, yang diawali dari kurang lebih pukul sepuluh hingga 17.00. Pertama-tama Dr. Purwo Susungko membawakan konsep pengusiran setan menurut Kejawen. Beliau mendapatkan ajaran Kejawen sebagaimana termuat dalam Suluk Abdul Jalil Syeh Siti Jenar, yang dikenal sebagai ajaran Kapitaya. Poin-poin yang disampaikan Beliau adalah sebagai berikut. Dituturkan bahwa budaya Jawa dewasa ini mendapatkan pengaruh dari banyak unsur, seperti blangkon dari Timur Tengah dan jas dari Belanda. Peradaban Jawa sendiri menurut penuturan Beliau dimulai di Laut Jawa tahun 700 SM, sewaktu Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sumatera masih menjadi satu, di mana manusia masih belum seperti sekarang.

Read more...

Zhang Daoling

Budaya-Tionghoa.Net | Dinasti Zhou memanfaatkan jasa para shaman untuk melakukan upacara keagamaan bagi mereka. Lambat laun makna dari upacara keagamaan tersebut menjadi tidak dikenal lagi, sehingga upacara tersebut merosot menjadi semacam rutinitas belaka, sehingga akhirnya upacara- upacara semacam itu tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan spiritual masyarakat pada jaman itu.   Akhir dari upacara-upacara yang diorganisasi perusahaan, terjadi pada masa Dinasti Han, di mana kaisar memutuskan untuk menganut Taoisme, dengan mendirikan altar pada tahun 150 M guna menghormati Laozi. Posisi para shaman penyelenggaran upacara ritual kerajaan digantikan oleh para fangshi.

Read more...
Subscribe to this RSS feed

Latest Articles

  1. Trending
  2. Feature
  3. News
  4. Random

Sejarah

Budaya

Seni

Filsafat

Sains

Esai & Opini

Resensi Buku

Album Foto